Jurnal Intelektual

Pabrikan Motor Legendaris Jerman Lirik Indonesia!?

Posted on May 24, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , |

Berawal dari ngeliat CBR kok agak2 beda eh ternyata merknya MINERVA, pabrikan asal cina yang you know lah secara cina itu sering sekali bikin produk2 yang mirip ama merk terkenal. Nggak di Hape, nggak dimotor semua sama. Lirik punya lirik, i’m not surprised ketika tau hargane cuma 13 jutaan. Soalnya taun lalu pernah juga ditawarin motor trail Minerva. Nah, selidik punya selidik, abis googling, egh ketemu kalo SACHS (Sachs Fahrzeug Und Motorentechnik Gmbh Germany), pabrikan legendaris dari Jerman ngegandeng PT Minerva Motor Indonesia untuk “Joint Manufacturing & Co Branding” dimana produk pertama adalah meluncurkan sepeda motor Sachs MadAss 125 pada tanggal 28 April 2008 di hotel Borobudur Jakarta, yang di co branding dengan nama Minerva Sachs MadAss 125. Infonya bisa dilihat di berbagai media online, misalnya Gatra, Gatra, juga di okezone. Sachs juga optimis mau menjadikan Indonesia basis bagi industri motor Sachs di Asia Tenggara. Tentunya bersama dengan Minerva. Ini memang preseden bagus, sebab konsumen tidak hanya dibuai oleh motor Jepang, namun ada pilihan motor-motor berdesain dan teknologi eropa. Semakin ketat saja persaingan di Indonesia.. selain hape, seperti yang saya tulis di awal, motor juga makin ketat. Hanya kalo Industri hape saya lum liat ada produk made ini India seperti Bajaj hehe..

Selang sebelumnya, Minerva Riders Community juga terbentuk. Sepertinya sukses Bajaj dengan Pulsarnya membuat pabrikan lain mau mendulang hal yang sama. Apalagi, kenaikan BBM menyebabkan prediksi penjualan motor akan meningkat tajam bahkan hingga 60% (baca di koran Media Indonesia, tanggal lupa, judulnya tentang tidak ada revisi target penjualan. Bahkan ATPM cenderung optimis banyak masyarakat membeli motor sebab mahalnya cost apabila memakai mobil).

Konsumen di Indonesia memang sasaran empuk bagi bisnis global. Entah dari sudut pandang apa Anda menilai, ada kapitalisme, ada gombalisasi, ada pemiskinan, ada Kebangkrutan Indonesia (bukan Kebangkitan Indonesia), ada yang menyebut penjajahan gaya baru, entahlah. Yang pasti, tahun-tahun ke depan saya ngeri saja, membayangkan wajah Indonesia.. lain waktu akan saya bahas dari sudut pandang bisnis dan manajemen ah.. Tentunya berpindah seksi, dari sekedar “Catatan Intelektual” menjadi “Jurnal Intelektual”. Sampai ketemu!

Read Full Post | Make a Comment ( 20 so far )

Salah-salah Berita Televisi dan Membaca Berita di Televisi

Posted on April 21, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , |

Sebagai bahasa pengantar di sekolah, kampus, pertemuan formal di institusi yang formal pula.. bisa juga pada saat menulis surat formal. Serta banyak lagi yang judulnya selalu diakhiri kata-kata FORMAL. Lalu, menarik sekali ketika kuping (formalnya telinga) saya mendengar penyiar di stasiun televisi menggunakan bahasa yang tidak “benar” walau mungkin “baik”. Entah kenapa, namun menurut saya, insan televisi apalagi membawakan (MEMBACA) berita kok ada yang salah. Siapa yang salah? bukan si Penyiar tapi si penulis berita. Mungkin istilah kerennya Script writer (walau saya nggak tau pasti artinya ini apaan).

Contoh :
1. Penyiar mengatakan Paska Sarjana.. padahal harusnya yang benar itu Pasca sarjana. Ada yang mau menyanggah? Silakan cari literaturnya. Ada teman yang bilang Paska itu dari Pasca, bahasa inggris. Padahal, Bahasa inggrisnya Pasca itu sendiri BUKAN Pasca, melainkan POST. Misal, post doctoral. Saya nggak mau membahas masalah ini lebih panjang, biar yang berkompeten saja. Misalnya orang-orang dari Pusat bahasa or Polisi EYD sayang sudah ndak aktif lagi..

2. Di sebuah siaran langsung sepakbola, yaitu Final Copa Djisamsoe juga komentaror berbicara : “Akankah kedua trofi ini di bawa oleh salah satu kesebelasan yang bertanding.. ” Ya eyaaalaah.. emang tu piala nggak ada yang mau bawa pulang? setiap pertandingan pasti ada menang ada kalah, ya yang menanglah yang bawa tu piala.. koknanya? Nah kalo ini tidak “baik” bahasanya..

3. Barusan, tadi siang di berita siang entah di stasiun televisi mana.. kan hari ini hari Kartini ya (hayooo ada yang nggak tau kan? ) beritanya banyak tuh.. nah salah satunya adalah usaha PT KAI. kurang lebih beritanya ” PT KAI Daops Jabotabek juga menyambut hari kartini dengan memberikan tempat duduk bagi penumpang perempuan..” Heheh.. kalo Anda langganan KRL ekonomi or even Pakuan ekspress, perasaan yang MEMBERIKAN tempat duduk ke penumpang perempuan itu MURNI dari Penumpang. Ngga ada andil PT KAI.. konsumen dan sepenuhnya berdasar etiket, toleransi dsb. Apa ada sidak dan akhirnya penumpang pria pada berdiri.hehe..

4. Ada lagi berita, distasiun televisi yang sama hari yang sama. Masih mengenai hari kartini yang jatuh 21 April alias hari ini post ini ditulis. beritanya tentang ibu2 guru sekolah yang jadi petugas upacara bendera dengan berbusana kebaya. Berita menyebutkan, bahwa “mereka banyak yang lupa sehingga harus latihan dua hari sebelumnya, sebab sudah TIDAK PERNAH Upacara bendera”. Seharusnya sih tidak pernah jadi petugas upacara kali ya.. sebab parah banget klo guru-guru tsb tidak pernah upacara bendera lagi.. berarti tu sekolah udah ga ada upacara bendera selama ini–atau siswa saja yang disuruh upacara, gurunya gak ada. Nah, kesalahan kalimat ini sepertinya ya itu tadi, si penulis berita bukan pembaca berita yg bertanggung jawab.. atau, ada pihak lain yang harus bertanggungjawab??

Menurut saya pribadi sih, kalo sudah di broadcast ke seantero negeri, ya harus hati-hati.. paling males itu penyiar yang ngomong gak bener seperti contoh no.1. Jadinya kan orang menganggap itulah yang “baik dan benar”.. anyway ini cuma opini saya saja..

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Bahasa Madura Masuk ‘Kamus Besar BI’

Posted on October 25, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , , , |

Demikian headline pada kolom ‘Sekilas’ di Koran Media Indonesia hari ini (25-10-07). Memang, menurut berita tersebut sebanyak 300 kosakata Bahasa Madura disetujui digunakan sebagai kosakata resmi dan dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kosakata baru itu akan menggantikan kosakata bahasa Indonesia yang dianggap kurang komunikatif dan mengandung pemborosan kata. Menurut Ketua Badan Pertimbangan Bahasa Depdiknas, Mien A Rifa’i di Sumenep, Jawa Timur, Selasa (23/10) sejumlah kosakata bahasa beberapa daerah di Indonesia juga telah disetujui untuk KBBI yang diperkirakan akan terbit Oktober 2008. Seperti dikutip harian Media Indonesia, Mien menyatakan bahwa Madura sebagai bahasa yang terbesar ketiga setelah Jawa dan Sunda, memiliki banyak kosakata melebih bahasa daerah lain yang dimasukkan ke KBBI. Hmm.. apa benar pak?

Yang pasti, berita di atas ini mendukung tulisan saya sebelumnya mengenai kasus ‘luruhnya huruf P’, yang berpedoman dengan KBBI lama dan baru. KBBI, yang menurut saya kurang sosialisasi, eh tau-tau sudah akan muncul KBBI versi baru. Nah, Anda mau ikut KBBI ‘versi’ mana?

Read Full Post | Make a Comment ( 9 so far )

Luruh atau Tidak si Huruf ‘P’

Posted on October 25, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , , |

Sejak lama saya bingung mengenai huruf ‘P’ dalam kaidah tata bahasa Indonesia apakah luluh atau tidak. Misalnya “memperhatikan” atau “memerhatikan”? “Memperoleh” atau “memeroleh”?.

Alhamdulillah, Majalah Tempo edisi khusus, 19 Agustus 2007 sedikit banyak menjawab keraguan saya. Penulis di majalah sempat dibredel tersebut, Bambang Bujono, menyebut referensi Ayu Utami pada rubrik ‘Bahasa!’ di majalah Tempo yang menyebut praktik penulisan memperhatikan, mempersamakan, mempersatukan bukanlah kesalahan ataupun ketololan pendahulu kita. Menurut Ayu, mereka menerapkan ‘tertib yang lebih kompleks’.

Pendahulu kita mengajarkan bahwa huruf yang bisa luluh karena mendapatkan awalan adalah huruf pertama pada kata dasar; sedangkan awalan tidak luruh. Jadi benarlah ‘mempersamakan’ dan ‘mempersatukan’ karena kata dasarnya ‘sama’ dan ‘satu’.

Nah perkembangan selanjutnya, kita sadari ternyata diantara para awalan, ‘per’ memiliki keistimewaan. Ia selalu bertautan dengan untuk digandeng dengan awalan yang lain. Jadi ada memperbudak, diperbudak, memperdaya, diperdayai, diperdayakan. Sedangkan awalan lain (me, di, be, dan selanjutnya) itu menyelesaikan dengan baik kata seperti ‘menyunting’ misalnya, tidak akan ditambah menjadi ‘bermenyunting’, ‘termenyunting’ namun ada ‘mempersunting’. Lalu, kesimpulannya apakah ada kata dasar ‘sunting’, ditambahkan kata awalan ‘per’ dulu menjadi ‘persunting’ baru ditambahkan ‘mempersunting’?

Ternyata KBBI mencatat di edisi ketiga cetakan pertama 2001 saya ambil contoh kata ‘hati’ tidak ada bentukan ‘perhati’. Jadi, perhati itu adalah lema tersendiri sebagai kata kerja. Yang akan membentuk tiga kata bentukan yaitu ‘berperhatian’, ‘pemerhati’, dan ‘memerhatikan'(bukan memperhatikan!). Namun ternyata lagi, pada edisi sebelumnya pada edisi ketiga cetakan pertama 1990 tidak memasukkan ‘perhati’ sebagai lema. Yang ada hanya ‘hati’ dan bentukannya menjadi ‘memperhatikan’.

Seperti yang disebut pada Madong Lubis mengenai awalan ‘per’ pada bukunya Paramastastera Landjut (W. Verluys N.V., Amsterdam-Jakarta, cetakan keempat 1952) dan dijadikan baku oleh KBBI saat ini sebagai “kata asal yang baru” kalau diberi awalan ‘per’. Jadi ada kata dasar ‘perhati’, ‘peraduh, ‘percepat’, ‘perlambat’, ‘peroleh’ dst maka memang seyogyanya kata tersebut akan serta merta huruf ‘p’ akan luruh jika disandangkan dengan awalan. Jadi memerhatikan dan memeroleh adalah benar.

Oke, intinya kalau Anda disiplin dengan aturan, seperti para pendahulu yang disebut di awal tulisan, maka itu benar. Kalaupun Anda ingin mengikuti perkembangan kaidah tata bahasa Indonesia yang baik seiring dengan diperbaharui terus menerus kesempurnaan bahasa, maka meluruhkan huruf ‘p’ adalah juga benar. Saya masih mendukung ‘ketidakluruhan’ tersebut dan mendukun Bambang Bujono penulis rubrik yang saya kutip dan Ayu Utami yang juga mengampanyekan dan mendukung penggunakan kata ‘memperhatikan’ daripada ‘memerhatikan’ karena kata ‘peraduh’, ‘perkalau’, ‘permeja’ menurut saya belum akrab di dengar dan membutuhkan kreativitas tersendiri.

Ohya, Menurut Bambang Bujono, ihwal memunyai atau mempunyai di duga kata ‘punya’ adalah kata baru yang aslinya ‘empunya’. Dengan awalan “me” dan dan akhiran “i”, jadilah mempunyai. Dalam hal ini juga KBBI edisi 1990 tidak meluruhkan. Pada lema “punya” langsung disebutkan “empunya” dalam tanda kurung. Jelas, tanpa luruh. Mudah-mudahan teman-teman lain juga tidak bingung lagi menentukan penggunaannya. Memang sih, KBBI ini saya pikir kurang sosialisasi. Coba, ada kah diantara pembaca yang sudah pernah baca KBBI? Sedangkan kalau Kamus Bahasa Inggris pasti pada punya kan ? Belum lagi kita baca versi 1990, eh sudah ada rujukan versi KBBI lain yang lebih baru, dan celakanya berbeda dengan versi sebelumnya. Banyak hal baru yang ditambahkan disana. Jadi jika seorang pakar A berpedoman di KBBI B, maka KBBI C dijadukan acuan oleh pakar D.

Nah, kalau masih bingung dari penjelasan saya, saya sarankan membaca Majalah Tempo edisi khusus hari kemerdekaan, halaman 178 di Rubrik “Bahasa!”. Selamat berbahasa dan berkarya tanpa ragu!

Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )

19 Tanda Gagal Ramadhan..

Posted on September 20, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The God-power | Tags: , , , |

Dari sebuah milis.. Cocok buat renungan Tuk Intelektual yang sering kontemplasi di blog ini …

19 Tanda Gagal Ramadhan

Di bulan Ramadhan, pintu neraka ditutup dan pintu syurga dibuka lebar-lebar. Namun banyak orang gagal mendapatkan kemuliaannya.

Rasulullah Bersabda : ” Banyak Sekali orang yang Berpuasa hanya mendapatkan Lapar dan Dahaga”, Dihadits yang Lain beliau bersabda : ” Orang yang Paling Merugi Adalah ketika Allah mendatangkan Ramadhan baginya dan dia melewati Ramadhan tanpa mengambil apapun darinya”

Di bawah ini kiat-Kiat menghindarinya gagalnya Ramadhan :

1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya`ban.

Misalnya, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Syaåban, sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu Åalaihi wa sallam. Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu Åanha berkata,

Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Syaåban.ö

2. Gampang mengulur shalat fardhu.

ôMaka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih.ö (Maryam: 59)

3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah.

Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuå kepada Kami.ö (Al-Anbiya:90)

ôDan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya. (Hadits Qudsi)

4. Kikir dan rakus pada harta benda.

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama shiyam agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.

Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa taåala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).

5. Malas membaca Al-Quråan.

Ramadhan juga disebut Syahrul Quråan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quråan. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Quråan.

ôIbadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Quråan.ö (HR Baihaqi)

Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Quråan sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.

6. Mudah mengumbar amarah.

Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: ôOrang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.ö

Dalam hadits lain beliau bersabda: ôPuasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.ö (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

7. Gemar bicara sia-sia dan dusta.

ôBarangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur, maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.ö (HR Bukhari dari Abu Hurairah)

Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: ôPuasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.ö (Al Muhalla VI: 178) Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: ôBicara dulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.ö

8. Memutuskan tali silaturrahim.

Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: ôBarangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nyaùö Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta.

Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.

9. Menyia-nyiakan waktu.

Al-Quråan mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

“Allah bertanya: Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?”
Mereka menjawab: Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.”

Allah berfirman: Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. “Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ÅArsy yang mulia. (Al-Mu’minun: 112-116)

Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

10. Labil dalam menjalani hidup.

Labil alias perasaan gamang, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw:

ôSesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya.ö (HR Ahmad, Nasaåi, Baihaqi dari Abu Hurairah)

Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.

11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam.

Salah satu ciri utama alumnus Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang meroket. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan Åamar maåruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.

12. Khianat terhadap amanah.

Shiyam adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabk an di hadapan-Nya kelak.

Shiyam itu ibarat utang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.

13. Rendah motivasi hidup berjama`ah.

Frekuensi shalat berjamaåah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba- Nya yang berjuang secara berjamaåah, yang saling menguatkan.

ôSesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.ö (Ash-Shaf: 4) Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjamaåah.

14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk.

Hawa nafsu dan syahwat yang digembleng habis-habisan selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.

15. Tidak ada perubahan amal dan perilaku sebelum dan sesudah Ramadhan.

Ramadhan merupakan bulan dimana Allah memberikan kesempatan manusia untuk melatih diri meningkatkan amal dan ibadahnya serta mengurangi hal-hal yang merugikan kehidupan manusia itu sendiri. Fase dan kesempatan ini allah berikan juga kepada makhluk-makhluknya yang Lain. Ibarat Fase Metamorfosis, makhluk ulat yang awalnya merugikan, buruk akhlak dan egois menjadi kupu-kupu yang bermanfaat untuk makhluk lain, memilih dan menjaga makanannya yang hala- dan baik dan tidak merugikan -malah disenangi makhluk lainnya.

16. Tidak mencintai kaum dhuafa.

Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba- Nya dengan kasih sayang ekstra. Shiyam Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan.

Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

18. Sibuk mempersiapkan Lebaran.

Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelah Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati.

Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.

19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan.

Secara harfiah makna Idul Fitri berarti ôhari kembali ke fitrah. Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari ôpenjaraö Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, syahwat dan birahi diumbar sebanyak-banyaknya. Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peran khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional.

Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )

Lilin Pada Mi Instan ternyata Hoax

Posted on September 20, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , |

Sengaja saya taroh ini di blog utk pengetahuan baru bagi kita. Ini berita di ambil dari situs yang membahas tentang berita-berita bohongYang juga ada pada “Sumber Intelektual” yang bisa kamu kunjungi.

Silakan di nikmati..

Lilin Pada Mi Instan

Beritanya menyatakan bahwa mi instan mengandung lapisan lilin.
Sempat juga masuk ke koran PR 2 Nov 2006. (yang katanya : Dan, pada hari kamis (9/11) tulisan yang memperbaiki tulisan sebelumnya sudah terbit dalam halaman kampus.)

Tanggapan saya:
To: kampus_pr@yahoo.com
Cc: redaksi@pikiran-rakyat.com

Yth. Bpk.Agus Rakasiwi & redaksi ‘PR’

Menanggapi artikel yang ditulis oleh Bpk.Agus Rakasiwi, ‘Hindari Makan Mi Instan Setiap Hari’ di ‘PR’ hari Kamis, 2 November 2006 halaman 21 (’Kampus’). Ada beberapa kesalahan yang fatal dimuat di artikel tersebut yang dibaca oleh sangat banyak orang.

Saya tahu kalau artikel tersebut bertujuan baik, namun banyak isi artikel tersebut yang dikutip dari sumber-sumber yang tidak jelas, termasuk e-mail yang di-forward dari milis ke milis yang isinya sebagian besar adalah bohong & penulisnya tidak jelas (tergolong ’spam’), misalnya soal isu mi instan yang dilapisi lilin, padahal setahu saya, itu sama sekali tidak benar.
Kalau betul begitu, maka di air rebusan mi instan ketika dimasak akan ‘mengapung’ lilin cair. Juga, di daftar komposisi mi tidak dicantumkan apapun yang berkaitan dengan lilin.

Hal ini dapat menimbulkan masalah hukum berupa tuntutan dari para produsen mi instan terhadap ‘PR’ & penulis artikel (Bpk. Agus). Atau, jika tuduhan itu berdasar (ada hasil analisis dari lab), maka dapat diajukan tuntutan pada para produsen mi instan karena membuat label yang tidak benar.

Hal lain yaitu tulisan Bpk.Agus yang di paragraf 3 yang menyebutkan ‘namun, informasi kedokteran menyebutkan terdapat kandungan zat-zat adiktif’. Saya sebagai dokter ingin bertanya, informasi kedokteran dari mana? Dari jurnal apa atau textbook mana? Harap disebutkan, karena saya belum pernah membaca hal semacam itu. Juga, ada kesalahan fatal ketika penulis tidak bisa membedakan bedanya ‘aditif’ dengan ‘adiktif’, 2 hal yang sangat berbeda.

Kalau garam, gula, cabai merah, dst (yang disebutkan Bpk.Agus) itu termasuk ‘zat adiktif’, maka ’sembako’ bisa disamakan dengan ‘narkoba’ yang memang berbahaya bagi kesehatan, otomatis pula kita akan sulit makan dengan rasa yang enak karena semua itu adalah bumbu dapur & sebagian besar adalah ‘bahan alami’ yang justru disarankan digunakan oleh Bpk.Agus.
Juga harus disebutkan mendapat data/hasil penelitian dari mana kalau tubuh membutuhkan waktu lebih dari 2 hari untuk membersihkan lilin & perilaku makan ‘yang demikian’ meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker (paragraf 4).

Yang justru lebih penting tapi tidak dibahas oleh Bpk.Agus adalah kandungan pewarna kuning (tartrazin) yang justru lebih berbahaya bagi kesehatan dibandingkan hal-hal di atas. Pewarna tersebut setahu saya bisa membuat kekambuhan pada penderita penyakit asthma & efek-efek negatif lainnya pada kesehatan.

Yang harus dilakukan justru adalah advokasi supaya produsen mi menghentikan penggunaan pewarna tartrazin pada produk-produk mi instan sehingga mi instan berwarna putih saja atau menggantinya dengan pewarna lain yang lebih aman, seperti beta karoten untuk warna kuning. Juga, membuatproduk khusus mi instan untuk anak-anak yang tidak menggunakan MSG & pewarna buatan.

Baiknya, segera dibuat klarifikasi atau tulisan lain yang meralat tulisan Bpk.Agus tersebut & diharapkan lebih berhati-hati di masa depan untuk memuat tulisan-tulisan semacam ini.

Terima kasih.
salam
Billy N.

Dokter & mahasiswa pascasarjana hukum kesehatan Unika Soegijapranata
Semarang, tinggal di Bandung

Read Full Post | Make a Comment ( 7 so far )

Vivat Academia, Vivant Professores!

Posted on September 13, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , , , , , , , |

Ingat lagu Gaudeamus Igitur? ya, El Himno Universitario. Hymne Universitas/Akademi/Sekolah Tinggi. Yach, mahasiswa lah judulnya :)
Lagu tersebut pasti kamu ingat ketika mengiringi prosesi wisuda di universitasmu masing-masing. Entah dalam bentuk lagu atau hanya alunan simfoni saja.

Kalau nggak ingat, paling tidak kalau lagu tersebut diperdengarkan, pasti pada bilang gini deh “eh, itu lagu yang pas kita wisuda dulu!” nah, itu lah lagu “kebangsaan” intelektual kampus..

Tapi, ternyata itu bukan judul lagu nya loh. Hanya lebih populer sebab lirik pertama adalah “gaudeamus igitur..” ya, sama saja seperti adek saya kalau nyebut surat Al Ikhlas itu surat “Qulhu” hehehe.. sebab ayat pertama berbunyi Qulhuallahu Ahad..

Lalu, apa sih judulnya yang sebenarnya? kenapa diubah? Nama lagu tersebut De Brevitate Vitae (On The Shortness of Life), pada Kehidupan yang Singkat. Itu tuh aslinya.. Wiki pun berkata demikian hehe.. pas kita minta Gaudeamus, langsung di redirect ke De Brevitate Vitae.. bukan Curriculum Vitae loh hhihi..

dan lagu ini pun tidak se “Khidmat” dari yang kita dengar kalau melihat liriknya. It is about Sex (gender) dan Death (kematian). Wah.. nggak banget kan? memang begitu loh. Coba perhatikan lirik nya :

Original Latin

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus
Post jucundum juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.

Ubi sunt qui ante nos
In mundo fuere?
Vadite ad superos
Transite in inferos
Hos si vis videre.

Vita nostra brevis est
Brevi finietur.
Venit mors velociter
Rapit nos atrociter
Nemini parcetur.

Vivat academia
Vivant professores
Vivat membrum quodlibet
Vivat membra quaelibet
Semper sint in flore.

Vivant omnes virgines
Faciles, formosae.
Vivant et mulieres
Tenerae amabiles
Bonae laboriosae.

Vivant et republicaet qui illam regit.
Vivat nostra civitas,
Maecenatum caritas
Quae nos hic protegit.

Pereat tristitia,
Pereant osores.
Pereat diabolus,
Quivis antiburschius
Atque irrisores.

Nggak ngeri? ya iyaa laah.. hehe.. becanda nih yang versi inggris (terjemahan) nya :

English Translation

Let us rejoice therefore
While we are young.After a pleasant youth
After a troublesome old age
The earth will have us.

Where are they
Who were in the world before us?
You may cross over to heaven
You may go to hellIf you wish to see them.

Our life is brief
It will be finished shortly.
Death comes quickly
Atrociously, it snatches us away.
No one is spared.

Long live the academy!
Long live the teachers!
Long live each male student!
Long live each female student!
May they always flourish!

Long live all maidens
Easy and beautiful!
Long live mature women also,
Tender and loveable
And full of good labor.

Long live the State
And the One who rules it!
Long live our City
And the charity of benefactors
Which protects us here!

Let sadness perish!
Let haters perish!
Let the devil perish!
Let whoever is against our school
Who laughs at it, perish!

Coba lihat, ada ngomongin cewek (maiden) ngomongin ibu (mature women). Intinya sih paling nggak di lagu ini mengingatkan kalo “eh hidup itu singkat. Ayo kita mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan berkontribusi”.. Kesian ibu udah melahirkan dah capek2.. lagian kalo loe pinter.. kan banyak cewek-cewek mendekat..~halah~ hehe.. maksudnya mungkin di jaman lagunya diciptakan pendidikan masih monopoli kaum lelaki kali yee..

Anyway, setelah pada abad 12 diciptakan.. jadi anthem nya universitas secara luas di abad pertengahan.. ya.. secara pelopor pendidikan tinggi modern seperti universitas adanya di eropa, dan bahasa Latin adalah lingua franca pada saat itu.. jadi lah anthem of the university..

Pada lirik, para members of universities, para dosen dan pengajar disanjung karena mentransfer ilmunya.. ya.. kalau kata liriknya sih… “Mumpung masih muda!” “Mati itu cepat datangnya, jadi bersenang-senanglah selagi muda” terminologi rejoice disana, maksudnya belajar kali yeee… demi masa depan lah..

Ngomongin lirik.. mending kamu donlod sendiri deh liriknya saya kasih disini ada partiturnya segala biar keliatan keren hihi.. nih Gaudeamus Igitur Partitur

Oya, katanya sih terjemahan Inggris itu ada yang salah, terjemahan dari “vivat membrum…vivant membra” menjadi “long live every male student, every female student” seharusnya “Long live every member (of the University, misal, pelajar dan staf).. gethooo…

Kalo masih penasaran kayak gimana sih? cari aja midi or mp3 nya di internet.. banyak bo!

Akhir kata.. Long Live the Academy! Long Live the Teachers!

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Mengapa IPDN tdk perlu dibubarkan?

Posted on August 21, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Political-power | Tags: , , , , , , |

Ya. Itu judul sebuah buku yang seperti “buku putih” sebagai counter beberapa tulisan tentang IPDN yang dalam beberapa bulan ini banyak sekali keluar. Rata2 menuntut pembubaran dan bercerita dari sepak terjang Inu, sang dosen yang kabarnya sudah siap2 hengkang dari kampus IPDN lantaran “diusir secara halus”.

Mengapa dan apa isinya? sudah saya duga. Penulis adalah alumnus STPDN. Bias sangat rentan terjadi. Lalu, mengapa IPDN tidak perlu dibubarkan? jawaban beliau sederhana : mengacu ke laporan rekomendasi tim khusus utk IPDN yang dipimpin Ryaas Rasyid. ‘kan tidak ada opsi BUBAR? hehe.. Saya cuman taunya sih, Ryaas itu orang IIP alias yang sudah digabung dengan STPDN.. lah, orang dalem juga! trus.. SBY .. militer.. sounds familiar sama pola “disiplin” IPDN. Jelas lah, nggak mau bilang klo disiplin ala militernya IPDN salah! Dia juga dididik disiplin militer kok?

Terus, jawabannya mengapa IPDN tdk perlu dibubarkan ada satu kata : karena IPDN PERLU. Jadi, untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka yang pro IPDN bubar harus bisa menjawab, mengapa IPDN TIDAK DIPERLUKAN.. silakan beropini, namun saya hanya lihat itu buku (mohon maaf ga ingat euy persisnya tuh buku) ya pembelaan diri aja. Dan masih aja ada kalimat2 khas orde baru yang “mengayomi” “melindungi” “pelayan masyarakat” blablabla..

Up to you untuk mempertahankan IPDN. yang pasti, sepertinya setelah Buku itu terlanjur dicetak dengan berbagai macam alasan agar IPDN itu tidak dibubarkan (dan malah bagus) ternyata.. kematian berikutnya dari penduduk jatinangor, Wendy, si tukang ojek terjadi. Lalu terjadi pembongkaran kasus korupsi tanah IPDN, dst..

Well.. cukup alasan ku utk membubarkan institusi nyeleneh ini! anyway, apaan sih Pamong praja, praja bla bla bla, Seragam coklat aja bangga.. trus apa itu Praja, purnapraja, madya praja ~alah.. kata2 yang sepertinya khas “feodalisme” .. sebut saja MAHASISWA! dan kampus ya kampus seperti MAHASISWA! saya kalo orang bilang praja ingetnya malah Satpol PP hahaha.. kurang lebih sama lah kayak gitu!

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Sekolah Kejuruan dan Kompetensi TI

Posted on June 6, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Hybrid-theory, The Techno-power | Tags: , , , , , , |

“Saya juga dulu sekolahnya di SMK”, ucap seorang manajer atau direktur sebuah instansi pemerintahan populer di bidang telekomunikasi, mengakhiri sebuah iklan dari pemerintah mengenai program pendidikan dengan ketrampilan yang diselenggarakan sekolah kejuruan (SMK).

Pemerintah dan Sekolah Kejuruan
Ingat iklan di televisi yang dikutip diatas? Memang pemerintah saat ini mendukung sekolah kejuruan atau vokasi (vocational school). Jika kamu sekolah di SMK, sekarang jangan lagi minder. Sebaliknya, kalau pun bukan berasal dari SMK, alias SMA atau malah Madrasah dan Pesantren, yok sama-sama berkaca pada diri sendiri apakah punya bekal berupa ketrampilan (lifeskill) yang cukup untuk masa depan, dengan jerih payah sendiri, tidak merepotkan orang tua? Tapi Ironis memang, kebanyakan sekolah kejuruan justru kekurangan sarana dan prasarana untuk mendukung visi dan misi sekolahnya. Kadang kendala ini sedikit-banyak mempengaruhi kualitas alumninya. Belum lagi masalah biaya. Sudah menjadi prinsip ekonomi dimana fasilitas yang bagus memerlukan biaya yang tidak sedikit. Nah, jika dibebankan semua ke siswa, berapa besar bayaran yang harus disetor ke sekolah? Begitulah, akhirnya mau tidak mau, sekolah kejuruan berkompromi dengan tingkat kualitas. Terutama sekolah swasta yang notabene sangat bergantung kepada yayasan pendirinya.
Disisi lain, pemerintah juga terkesan kurang serius mengelola sistem dan kurikulum pendidikan nasional, setengah hati dalam memberikan yang terbaik. Negeri maupun swasta, dua-duanya merasa kurang perhatian. Kebijakan berubah-ubah seiring pergantian pemerintahan.

Proyeksi 2020 : Kompetensi Bidang TI
Namun stop mengeluh! Keluhan selalu kita alamatkan ke Pemerintah mengenai kurangnya perhatian dalam membangun pendidikan yang berkurikulum teknologi jangan sampai membuat putus asa. Sekarang kondisinya (mulai) membaik. SMK dewasa ini sudah ada jurusan teknologi komputer dan jaringan, mulai dirajut slogan bahwa pendidikan vokasi (pendidikan keahlian) yang didapatkan di bangku sekolah merupakan bekal berharga dalam merajut masa depan yang cerah. SMK didorong pertumbuhannya, sementara SMA dikurangi, bahkan di beberapa daerah di stop demi merangsang pertumbuhan Sekolah kejuruan yang lebih masif lagi.
Diproyeksikan Sekolah kejuruan menjadi inkubator bagi SDM-SDM terampil untuk siap pakai. Berbeda halnya dengan SMA yang lulusannya disiapkan untuk mengikuti jenjang perguruan tinggi. Ini ada beritanya loh. Menurut Dirjen Dikmenjur Depdiknas (Panjang banget kan hehe.. ) Pak Gatot Hari Priowirjanto (panjang juga namanya..) pemerintah sudah menganggarkan dana perangsang minimal Rp 100 juta untuk tiap kelompok sekolah kejuruan (5-7 sekolah) yang layak menerima bantuan untuk membuka program keahlian baru, utamanya bidang teknologi informasi. Oh, ternyata yang diperlukan adalah bidang TI!

Program Keahlian berdaya serap tinggi
Upaya tersebut sesuai dengan program reposisi pendidikan kejuruan hingga 2020, dimana jumlah program yang “jenuh” di kejuruan akan berangsur dikurangi. Misalnya program keahlian sekretaris, dari 2192 SMK pada tahun 2000 diproyeksikan menjadi 923 SMK pada tahun 2020. Sebaliknya, jumlah program keahlian yang dinilai prospektif dan berdaya serap pasar tinggi, seperti pertanian, pariwisata dan kelautan, serta teknologi informasi akan ditingkatkan. Hmm.. jadi kamu tinggal memilih sesuai keinginan, dan lulusnya kamu punya skill diatas rata-rata sebaya kamu. Tentunya di bidang yang digeluti ketika sekolah di SMK. Sekilas jelas kan? diantara beberapa program di atas, mana yang langsung bisa kamu pakai untuk bersaing di lapangan kerja.
Namun jika tidak ingin hanya bekerja sebagai tenaga magang maupun teknis dan klerikal tingkat bawah, alumi SMK harus bisa meng-upgrade diri sendiri. Sebab, untuk menapak karier dengan sukses memerlukan lebih dari skill yang sudah ada. Kompetensi harus ditingkatkan, gelar dan karier mau tidak mau menjadi dua mata rantai yang bertautan.

Peluang kerja TI

Lalu, keahlian apa yang memiliki prospek cerah? Dari beberapa paragraf sebelumnya jelas, Salah satunya dan yang paling utama adalah dibidang Teknologi Informasi (dan Komunikasi). Selain membutuhkan pure kompetensi, artinya tidak sembarangan orang bisa berkarier dan berkarya di bidang tersebut –beda dengan marketing misalnya- memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus, bidang TI memiliki perkembangan paling pesat saat ini. Betapa tidak, teknologi nirkabel (wireless), teknologi telekomunikasi (3G, 3.5G, Wimax dst) makin lama makin canggih. Lalu dibidang hardware, siapa yang bisa menjamin dalam dua atau tiga bulan ke depan Intel tidak mengeluarkan prosessor terbaru? Atau peluang besar di balik gencarnya penegakan HaKI dimana sofware-software bajakan mulai berkurang sehingga perusahaan banyak beralih sistem operasi komputer (migrasi) dan memerlukan SDM terampil untuk melaksanakannya. Perusahaan, dengan demikian juga membutuhkan solusi TI misalnya dengan software buatan anak negeri yang murah namun berkualitas.
Perlu data? Aizirman Djusan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Departemen Komunikasi dan Informatika merilis informasi yang menakjubkan mengenai kebutuhan dan ketersediaan SDM di bidang TI di Indonesia seperti di tabel berikut :

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008
Kebutuhan 24,6 juta orang 26,4 juta orang 28,2 juta orang 30,3 juta orang 32,6 juta orang
Ketersediaan 8,2 juta orang 10,7 juta orang 13,4 juta orang 16,4 juta orang 19,8 juta orang
Jml Penduduk 225,0 juta jiwa 236,2 juta jiwa 248,1 juta jiwa 260,5 juta jiwa 273,5 juta jiwa
(Sumber: Aizirman Djusan dalam Tata Sutabri, Peluang Kerja TI, www.kabarindonesia.com)
Lebih dari itu, selain mengalami kekurangan, ternyata sebagian SDM yang sudah mengisi pos-pos yang tersedia adalah berasal dari background pendidikan non-TI ! Wuih! Peluang besar bagi yang ingin menapak karier di bidang TI. Gaji yang menggiurkan di depan mata, sebab bidang TI menjanjikan range salary yang diatas rata-rata jenis pekerjaan lain. Selain itu, di bidang TI kamu bisa bekerja sekaligus berkarya. Bisa mendirikan perusahaan sendiri, bisa berbisnis dan bekerja di rumah, dan bisa memanfaatkan skill dan kompetensi untuk menghasilkan karya nyata.

Menambah kompetensi agar pede
Lalu, peluang seperti apa yang bisa dimanfaatkan? Padahal, biaya berkuliah dan mendapatkan ilmu di bidang teknologi informasi pasti tersangkut masalah klasik: biaya. Sudah pasti ilmu eksakta dan komputer membutuhkan praktik yang banyak sehingga menaikkan biaya penyelenggaraan pendidikan. Bagi kelas masyarakat menengah ke bawah, sulit untuk mendapatkan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi yang “merakyat”. Kalaupun ada, kualitasnya dipertanyakan. Padahal pendidikan penting sekali untuk mencapai karier dan masa depan yang cerah.
Berbahagialah jika kamu termasuk yang sejak SMK mendapatkan ketrampilan. Jika tidak, perlu sekali untuk mendapatkan ketrampilan tersebut. Atau, jika sudah masuk jurusan Teknik, Komputer, dan Akuntansi di SMK, namun masih belum Pede, perlu dong menambah kepedean dan sekaligus menautkan embel-embel kompetensi di diri agar kamu nantinya bisa leluasa memilih. Bisa bekerja, berwirausaha maupun ke jenjang perguruan tinggi selanjutnya dengan usaha, kemauan, dan bahkan biaya sendiri!

Mencari Ilmu TI secara optimal
Jika demikian masalahnya, perlu dipikirkan strategi mendapatkan ilmu di bidang IT. Carilah informasi lembaga pendidikan dengan range biaya tidak mahal-tapi juga tidak murah dan mengorbankan kualitas. Misalnya cari antara Rp.5 – Rp.10 juta pertahun (bukan persemester!). Kedua, selain biaya terjangkau, dapat diselesaikan dengan cepat, tidak menyita waktu. Apa perlu hingga lima tahun atau hanya perlu satu tahun dan dua tahun dahulu, setelah bekerja baru melanjutkan? Atau jika kamu punya masalah keuangan, apa ada jaminan setelah lulus, uang kamu “tidak sia-sia” di investasikan? Perlu banyak dipikirkan mengenai masalah ini. Lalu, ketika masa pendidikan nanti, apa yang kamu peroleh. Kalau bisa, kamu yang sudah bekerja dan berkegiatan lain misal wirausaha dapat mengambil kelas di sesi waktu khusus (kelas karyawan). Jika tidak begini, bagaimana kita dapat mengambil manfaat ilmu teknologi informasi yang berharga?
Cari lembaga dengan kadar kualitas, kualifikasi dan kompetensi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan terpercaya. Yang memberikan kurikulum dan fasilitas terbaik. Lalu yang memiliki jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi terakreditasi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Kamu tentu tidak mau berpuas diri dengan mendapatkan pengetahuan yang jumlahnya “sedikit” sedangkan belajar itu adalah “seumur hidup” kan? Apalagi jika berguna untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Iya kan?

Kompetensi versus biaya

Kompetensi itu penting, namun gelar yang dicapai juga menentukan posisi kamu diperusahaan tempat bekerja. Selain itu, standard kompetensi perlu juga loh di ukur oleh sertifikasi baik nasional maupun internasional. Selanjutnya, targetnya adalah sertifikasi alias “pengakuan” atas skill dan kompetensi kita. Jadi, tidak ada kata STOP untuk belajar. Kata pepatah, Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat. Atau kata Rasulullah, sampai ke negeri Cina. Setuju ya?
Namun yang kamu perlu ingat, belajar perlu biaya. Pendidikan formal -sayangnya- masih berpanglimakan uang. Cari yang sesuai untuk kamu, dengan manfaat semaksimal mungkin yang bisa dicapai. Kadar maksimal dapat kamu dapatkan pada kurikulum tdi sebuah perguruan tinggi. Silakan cari, lihat, pelajari dan bandingkan.

Lifeskill dan Kesuksesan
Perkuliahan dengan teori saja tidak akan sama hasilnya dengan mempraktikannya. Beri perhatian penuh terhadap kurilum sebuah insitusi pendidikan. Kurikulum yang baik merupakan jalinan mata rantai dalam menciptakan kompetensi pribadi Anda. Cari lembaga atau perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum terbaik dalam sistem pendidikannya. Ini akan menentukan kamu lulus dengan bekal (lifeskill) yang bisa membuat kamu bersaing dan memenangkan persaingan di dunia kerja dan usaha.
Selain pengajar berkualitas, fasilitas memadai, lingkungan yang kondusif, beberapa sudut pandang lain perlu dipertimbangkan. Misalnya lifeskill yang diberikan oleh perguruan tinggi semisal kewirausahaan, pengembangan diri dan kepribadian, ekstrakurikuler, kurikulum agama yang menjaga ruhiyah kamu, teman-teman yang menyenangkan, dan seterusnya. Aspek psikologis perlu pula mendapatkan perhatian, jangan sampai kamu tidak kerasan dalam belajar, walaupun se-sempurna mungkin kurikulum dan fasilitas yang kamu dapatkan.
Tips terakhir, jangan segan bertanya kepada rekan-rekan yang “sukses” dengan biaya yang minimum sehingga tidak memberatkan siapa saja. Success is our right, jadi dimana ada kemauan di situ ada jalan. Selamat mencari pengetahuan, Semoga kamu menjadi bagian dari dunia TI yang selalu berkembang pesat, yang selalu membutuhkan jiwa-jiwa muda dan potensial sebagai roda penggeraknya sekaligus mendulang kesuksesan pribadi. Kesuksesan materi dan imateri, duniawi dan moral-spiritual!

Read Full Post | Make a Comment ( 5 so far )

Next Entries »

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.