Bahasa Madura Masuk ‘Kamus Besar BI’

Posted on October 25, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , , , |

Demikian headline pada kolom ‘Sekilas’ di Koran Media Indonesia hari ini (25-10-07). Memang, menurut berita tersebut sebanyak 300 kosakata Bahasa Madura disetujui digunakan sebagai kosakata resmi dan dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kosakata baru itu akan menggantikan kosakata bahasa Indonesia yang dianggap kurang komunikatif dan mengandung pemborosan kata. Menurut Ketua Badan Pertimbangan Bahasa Depdiknas, Mien A Rifa’i di Sumenep, Jawa Timur, Selasa (23/10) sejumlah kosakata bahasa beberapa daerah di Indonesia juga telah disetujui untuk KBBI yang diperkirakan akan terbit Oktober 2008. Seperti dikutip harian Media Indonesia, Mien menyatakan bahwa Madura sebagai bahasa yang terbesar ketiga setelah Jawa dan Sunda, memiliki banyak kosakata melebih bahasa daerah lain yang dimasukkan ke KBBI. Hmm.. apa benar pak?

Yang pasti, berita di atas ini mendukung tulisan saya sebelumnya mengenai kasus ‘luruhnya huruf P’, yang berpedoman dengan KBBI lama dan baru. KBBI, yang menurut saya kurang sosialisasi, eh tau-tau sudah akan muncul KBBI versi baru. Nah, Anda mau ikut KBBI ‘versi’ mana?

Read Full Post | Make a Comment ( 9 so far )

Luruh atau Tidak si Huruf ‘P’

Posted on October 25, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , , |

Sejak lama saya bingung mengenai huruf ‘P’ dalam kaidah tata bahasa Indonesia apakah luluh atau tidak. Misalnya “memperhatikan” atau “memerhatikan”? “Memperoleh” atau “memeroleh”?.

Alhamdulillah, Majalah Tempo edisi khusus, 19 Agustus 2007 sedikit banyak menjawab keraguan saya. Penulis di majalah sempat dibredel tersebut, Bambang Bujono, menyebut referensi Ayu Utami pada rubrik ‘Bahasa!’ di majalah Tempo yang menyebut praktik penulisan memperhatikan, mempersamakan, mempersatukan bukanlah kesalahan ataupun ketololan pendahulu kita. Menurut Ayu, mereka menerapkan ‘tertib yang lebih kompleks’.

Pendahulu kita mengajarkan bahwa huruf yang bisa luluh karena mendapatkan awalan adalah huruf pertama pada kata dasar; sedangkan awalan tidak luruh. Jadi benarlah ‘mempersamakan’ dan ‘mempersatukan’ karena kata dasarnya ‘sama’ dan ‘satu’.

Nah perkembangan selanjutnya, kita sadari ternyata diantara para awalan, ‘per’ memiliki keistimewaan. Ia selalu bertautan dengan untuk digandeng dengan awalan yang lain. Jadi ada memperbudak, diperbudak, memperdaya, diperdayai, diperdayakan. Sedangkan awalan lain (me, di, be, dan selanjutnya) itu menyelesaikan dengan baik kata seperti ‘menyunting’ misalnya, tidak akan ditambah menjadi ‘bermenyunting’, ‘termenyunting’ namun ada ‘mempersunting’. Lalu, kesimpulannya apakah ada kata dasar ‘sunting’, ditambahkan kata awalan ‘per’ dulu menjadi ‘persunting’ baru ditambahkan ‘mempersunting’?

Ternyata KBBI mencatat di edisi ketiga cetakan pertama 2001 saya ambil contoh kata ‘hati’ tidak ada bentukan ‘perhati’. Jadi, perhati itu adalah lema tersendiri sebagai kata kerja. Yang akan membentuk tiga kata bentukan yaitu ‘berperhatian’, ‘pemerhati’, dan ‘memerhatikan’(bukan memperhatikan!). Namun ternyata lagi, pada edisi sebelumnya pada edisi ketiga cetakan pertama 1990 tidak memasukkan ‘perhati’ sebagai lema. Yang ada hanya ‘hati’ dan bentukannya menjadi ‘memperhatikan’.

Seperti yang disebut pada Madong Lubis mengenai awalan ‘per’ pada bukunya Paramastastera Landjut (W. Verluys N.V., Amsterdam-Jakarta, cetakan keempat 1952) dan dijadikan baku oleh KBBI saat ini sebagai “kata asal yang baru” kalau diberi awalan ‘per’. Jadi ada kata dasar ‘perhati’, ‘peraduh, ‘percepat’, ‘perlambat’, ‘peroleh’ dst maka memang seyogyanya kata tersebut akan serta merta huruf ‘p’ akan luruh jika disandangkan dengan awalan. Jadi memerhatikan dan memeroleh adalah benar.

Oke, intinya kalau Anda disiplin dengan aturan, seperti para pendahulu yang disebut di awal tulisan, maka itu benar. Kalaupun Anda ingin mengikuti perkembangan kaidah tata bahasa Indonesia yang baik seiring dengan diperbaharui terus menerus kesempurnaan bahasa, maka meluruhkan huruf ‘p’ adalah juga benar. Saya masih mendukung ‘ketidakluruhan’ tersebut dan mendukun Bambang Bujono penulis rubrik yang saya kutip dan Ayu Utami yang juga mengampanyekan dan mendukung penggunakan kata ‘memperhatikan’ daripada ‘memerhatikan’ karena kata ‘peraduh’, ‘perkalau’, ‘permeja’ menurut saya belum akrab di dengar dan membutuhkan kreativitas tersendiri.

Ohya, Menurut Bambang Bujono, ihwal memunyai atau mempunyai di duga kata ‘punya’ adalah kata baru yang aslinya ‘empunya’. Dengan awalan “me” dan dan akhiran “i”, jadilah mempunyai. Dalam hal ini juga KBBI edisi 1990 tidak meluruhkan. Pada lema “punya” langsung disebutkan “empunya” dalam tanda kurung. Jelas, tanpa luruh. Mudah-mudahan teman-teman lain juga tidak bingung lagi menentukan penggunaannya. Memang sih, KBBI ini saya pikir kurang sosialisasi. Coba, ada kah diantara pembaca yang sudah pernah baca KBBI? Sedangkan kalau Kamus Bahasa Inggris pasti pada punya kan ? Belum lagi kita baca versi 1990, eh sudah ada rujukan versi KBBI lain yang lebih baru, dan celakanya berbeda dengan versi sebelumnya. Banyak hal baru yang ditambahkan disana. Jadi jika seorang pakar A berpedoman di KBBI B, maka KBBI C dijadukan acuan oleh pakar D.

Nah, kalau masih bingung dari penjelasan saya, saya sarankan membaca Majalah Tempo edisi khusus hari kemerdekaan, halaman 178 di Rubrik “Bahasa!”. Selamat berbahasa dan berkarya tanpa ragu!

Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.