Archive for April, 2007

Unser Rommel

Posted on April 26, 2007. Filed under: Uncategorized |

Yup judul lagu yang khusus didedikasikan dan dinyanyikan oleh prajurit2 Jerman pada saat marching. Rommel adalah pemimpin karismatik. Saat Hitler paranoid, yang paling mungkin untuk menggantikannya adalah Field Marshal Erwin Rommel ini juga. Oleh karenanya, sang Jenderal yang terkenal dengan sebutan “Desert Fox” ini harus rela disuruh minum racun oleh Hitler (bunuh diri). Tindakan Hitler memperburuk keadaan. Hilangnya jenderal jenius ini semakin memperburuk kondisi Wehrmacht. Tidak lama berselang, Hitler harus menelan pil pahit kekalahan dan mengakhirinya di bunker bawah tanah bersama Eva Braun. Ironis, dan tindakan yang bodoh!

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Buah Bibir Linux dan IPDN

Posted on April 24, 2007. Filed under: Uncategorized |

Ada suatu kisah di Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Disingkat IPDN, Bahasa Inggris resminya –mengacu The Jakarta Post adalah Institute for Public Administration. Bukan hal yang tiba-tiba ketika saat ini IPDN menjadi buah bibir, lebih tepatnya kekecewaan, amarah, geram sampai kepada tuntutan pembubaran, ketika kasus Cliff Muntu, praja (sebutan mahasiswa IPDN) tewas bak adegan di film Hollywood. Penuh intrik, konspirasi dan banyak aktor yang memerankan ‘The Godfather’ seperti opera mafia, atau film hongkong yang penuh adegan kekerasan ala triad. Jagoannya ada, banyak malah. Jagoan-jagoan ini dipisahkan berdasarkan region-region asal propinsinya, kemudian dipisahkan menjadi senior tingkat dua dan senior tingkat tiga. ‘penjahat’ yunior sampai kewalahan menghadapi 4000 lebih jagoan yang mengantri ingin menjajal ilmu yang dipelajarinya selama mondok di asrama perguruan IPDN. Syuting film ini dimulai sejak lama, maka jadilah ‘film indie’ yang disiarkan di banyak televisi swasta pada tahun 2003, menyusul terbongkarnya pembunuhan seorang praja yunior bernama Wahyu Hidayat, kemudian di buat ‘sekuel’nya baru-baru ini. Ketika tulisan ini dibuat, masih ‘kejar tayang’ di televisi. Entah ending film ini seperti apa karena sandiwara itu belum selesai. Panggung masih dipenuhi aktor-aktor. Dahulu kala, Ketika seorang praja bernama Wahyu Hidayat tewas setelah disiksa lahir batin, publik juga meradang. STPDN, nama IPDN kala itu menjadi buah bibir. Persis sama seperti saat ini. Kata “Maaf” (Kesempatan pertama untuk berubah) sudah kita semua berikan, hasilnya malah lebih buruk. Beginilah nasib hidup di negeri bernama Indonesia. Ironisnya, kita memang terkenal bangsa ‘pemaaf’, selain bangsa terkorup tentunya. Sepertinya “maaf” yang kedua juga akan diberikan.

Buah bibir yang kedua adalah Linux. Tentu, ini terkait dengan semakin gencarnya penegakan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) yang diimplementasikan oleh hukum melalui Undang-undang No 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dengan dipertegas dengan keluarnya Keputusan Presiden RI No. 4 Tahun 2006 tentang Pembentukan Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual dan Surat Edaran Bareskrim Polri No. Pol. B/2/08/XI/2006/Bareskrim, Perihal Himbauan Penanggulangan Pembajakan Hak Cipta. Alternarif terbaik dalam menghindari pembajakan adalah dengan menggunakan Linux. Sudah murah, mudah, banyak pilihan, serta tampilan yang indah dan seenaknya dhewe sesuai selera pengguna, beralih ke Linux juga tidak memerlukan banyak resource terbuang percuma.

Linux juga bukan secara tiba-tiba menjadi populer. Melalui proses dialektika yang panjang, terutama para ‘pembela’ Microsoft Windows versus ‘pembela’ Linux yang bertarung di jagat keunggulan. Mulai dari masalah kemudahan, tampilan desktop, keamanan, hingga masalah Halal-haram pun di bahas. Linux, mempunyai jagoan pula. Dibedakan juga berdasarkan region-region. Nama resmi jagoan ini adalah ‘komunitas Linux’, secara formal disebut ‘Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI). Jagoan ini menghajar kebodohan dan berusaha membabat pembajakan dan pelanggaran hak cipta. Di tahun 2007 ini, merupakan tahun keemasan Linux. Mengapa? Dengan penegakan HaKI, kalangan bisnis mulai tertarik untuk berinteraksi dengan Linux. Walau Windows Vista muncul di tahun 2007 ini, Linux tetap menjadi jawara jika dihubungkan dengan value of money dan fungsi, karena diyakini fitur Linux tidak kalah menarik dan menawan seperti produk Windows. Walaupun ending ‘sinema’ Linux ini belum selesai, saya optimis walau bagaimana pun, Linux mampu merebut pangsa pasar yang ada dan membuktikan pada dunia ‘ras unggul’ nya. Untuk urusan HaKI, bangsa ini (mudah-mudahan) tidak mudah memaafkan. Pesangon dan sogokan boleh saja dimasa lalu menjadi senjata ampuh. Namun sekarang tidak lagi. Siap-siap mendekam di penjara atau denda jutaan rupiah.

Linux adalah bagian terpenting Free dan Open Source Software. IPDN, di sisi lain tidak memiliki kebebasan (Free) dan Institut ini tertutup. Saya sebut ‘Closed Source Institute’. Bahkan ketika kasus-kasus penganiayaan, seks bebas, KKN secara bertahap (perlahan) di buka, Institut ini tetap bungkam, dari dosen hingga siswa (praja). Sebaliknya, Linux sangat-sangat terbuka. Bisa dicopy (copy left), bisa dimodifikasi dan dikembangkan. Untuk membuat sebuah distro Linux yang baru, sangat gampang. Sedangkan untuk membuat IPDN gaya baru yang tanpa ‘militer’ sangat sangat susah. Bahkan saya baru tahu kalau urusan seragam –yang sudah rahasia umum menjadikan pemakainya arogan pun, Praja-praja ini bisa-bisanya menolak untuk diganti pakaian putih dan hitam (yang padahal masih juga seragam tuh). Padahal untuk urusan yang lain, seakan-akan mereka taat, sami’na wa ato’na. Di sekolah seperti IPDN, semuanya diatur dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Anda bisa-bisa keluar uang jutaan rupiah hanya untuk biaya masuk (pungli-pungli dan seterusnya). Ternyata, setelah diterima, bukan sekolah gratis seperti yang selama ini kita ketahui. Ada biaya seragam, pembelian buku kuliah dan seterusnya. Masuk ‘Institut Linux’, Anda dan anggota keluarga yang lain semuanya bisa belajar. Gratis dan memuaskan. Kurang puas, bisa ikutan mailing list Linux yang tersebar. Lembaga pendidikannya tidak dipusatkan di satu daerah seperti Jatinangor, Sumedang . Mau dikampus, ditempat kursus, atau dirumah, Anda bisa belajar kapan saja dan dimana saja. As Simple as that. Paling-paling jika ingin lebih fokus, ada yang namanya Bandung Hi Tech Valley, atau “Depok Valley” yang digagas dan dirintis sebagai upaya replika Sillicon Valley di AS, atau yang dekat, Bangalore di India, Bio Valley di Jurong, Singapura, serta super corridor di Kota baru Putra Jaya, Malaysia.

Kebebasan menurut saya nomor satu. Nomor duanya adalah keterbukaan. Saya tidak akan mau memakan suatu kue kalau saya tidak tahu bahan-bahan pembuatnya apa. Saya juga tidak akan membeli sesuatu yang saya tidak tahu jeroannya apa (closed source). Kode sumbernya terutup artinya kita tidak bisa tau isinya. Cuma di ajari untuk pakai. “Freedom!” Kata itu diteriakkan oleh pahlawan Irlandia di film epic Braveheart yang terkenal itu. Juga dipakai oleh ribuan rakyat tertindas di berbagai benua. Dan teriakan “Merdeka!” Adalah kata yang legendaris dan sangat lekat dalam perjuangan bangsa kita. Anda bisa juga memakai kata itu untuk mendemo dibubarkannya IPDN, juga bisa dipakai untuk ber-azzam memakai Linux dibanding sistem operasi lain yang saya sebut diatas. Linux menjadi buah bibir yang positif, sedangkan IPDN menjadi buah bibir yang negatif. Dua-duanya sedang hangat dibicarakan. Namun yang satu dituntut untuk dibubarkan, yang satu lagi dituntut untuk lebih dikembangkan! Anda bisa berkreasi dengan Linux, hasilnya ada distro baru hasil remastered atau sama sekali baru, juga ada hasil karya yang persis bahkan lebih dari hasil berkreasi di sistem Windows. Namun kalau berkreasi di IPDN, bisa dua kemungkinan. Ada yang mati, atau ada yang hamil. Mengingat dari berbagai media massa disebutkan, selama sepuluh tahun terakhir, tak kurang 37 Praja tewas dan 600 kasus seks pra-nikah terjadi di kampus yang di danai uang rakyat sampai 150 milyar ini. Silakan mencoba Linux di laptop dan PC Anda di rumah, namun jangan coba-coba IPDN. Selain memang sedang tidak menerima siswa baru, kampus tersebut juga dikhawatirkan tidak akan mengajarkan Linux, bahkan Teknologi Informasi apapun di dalamnya, kecuali latihan Smackdown!

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Kontra Pembubaran IPDN : Tidak Logis!

Posted on April 24, 2007. Filed under: Uncategorized |

Dengan nada yang “memelas”, Johanes Kaloh, rektor baru pengganti rektor sebelumnya (yang masih merasa tidak bersalah walau sudah dicopot) berbicara mengenai IPDN di Kompas, 24 April 2007. Inti dari tulisannya adalah meminta rakyat agar jangan “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Argumen-argumen dari J. Kaloh ini menurut saya tidak cukup kuat untuk tidak menutup lembaga yang menghabiskan anggaran negara dan ternyata juga bertentangan dengan UU Sisdiknas ini. Institusi yang saya sebut ultra-militer, bukan semi-militer ini seakan selalu dianggap oleh kalangan pemerintah tiada salah, yang salah kembali lagi si Kambing hitam, disebut “oknum”. Lucu sekali kalau Kaloh berkata, jangan dibubarkan, ada masa depan yang menanti para praja yang berjumlah 4000-an ini. Kalau jawaban saya simpel saja, “hanya” 4000 sepertinya mudah sekali, tinggal kembali ke daerah masing-masing, berkuliah “yang benar” atau bekerja. Beres. Paling lama 3 tahun kok di IPDN. Banyak orang yang sudah 5 tahun baru berkuliah dan bekerja, masih bisa. Ada apa dibalik kekhawatiran J Kaloh yang mengatasnamakan orangtua siswa IPDN? Ya. Orangtua siswa bisa dikatakan sudah habis dana ratusan juta agar anaknya di terima di IPDN. Indikasi KKN sangat tinggi. Berbekal iming-iming sekolah gratis dan ikatan dinas, orang tua mana yang tidak mau anaknya masuk IPDN. Apalagi dari daerah. Belum lagi titipan-titipan birokrat daerah yang ingin anaknya menjadi birokrat seperti bapaknya.

DI kampus IPDN di Jatinangor, ternyata juga penuh muslihat. Mark up pengadaan barang, memaksa siswa untuk membeli diktat, baju seragam –yang katanya gratis. Fakta membuktikan pula, walau ada asrama, siswa atau praja masih juga ngekost dan banyak diantaranya dengan maksud yang tidak baik. Ada sistem “pengasuh”. Sistem yang saya sampai saat ini tidak dapat memahami esensinya. Apa mereka anak kecil yang perlu diasuh? Atau, jika maksud “pengasuh” disini adalah “mentor” dan “pembimbing”, ya berarti pembimbing dan yang dibimbing sama-sama “binatang” (kasus kekerasan), dan “bejat” (kasus seks bebas), juga tidak cocok menjadi birokrat (kasus KKN selama ini).

Depdagri tidak ingin IPDN dibubarkan. Jelas, jumlah subsidi dari APBN ini bisa terus membengkak, di sunat pula di tingkat kekuasaan paling tinggi di lingkup IPDN ini. Tidak mungkin Depdagri tidak tahu kasus-kasus IPDN. Ya, mungkin karena ada “ladang pemasukan” maka terus dipertahankan. Belum kalau kita bicara personel. Kalangan birokrat banyak lulusan IPDN, yang tentu saja menolak membubarkan IPDN. Orangtua siswa menolak di bubarkan IPDN, alasannya sudah saya kemukakan di atas. Pemerintah menolak membubarkan IPDN? Alasannya silakan Anda, pembaca pikir sendiri. Yang saya tau, sejak berdirinya, sudah banyak “kader” lulusan IPDN yang berkiprah di kancah pemerintahan. Orang-orang ini pun punya pengaruh besar dalam decision making di berbagai unit pemerintahan.

Logikanya sederhana. Yang menolak, adalah yang “rejekinya” akan dicabut ketika dibubarkan. Yang menolak, adalah yang berkepentingan terhadap IPDN. Argumen-argumen agar IPDN dipertahankan tidak jauh dari situ. Jika Kaloh berkata “ditengah kondisi saat ini, jangan membebani daerah dengan IPDN di daerah masing-masing”. Alah.. sok prihatin sama daerah. Lah, kalo daerah mau bikin IPDN sendiri. Kalau tidak, saya pikir daerah akan mendapatkan putra daerah terbaik yang belajar pemerintahan dan administrasi negara di Universitas-universitas terkenal. Secara keilmuan, ini lebih dari cukup. Tidak mesti dibuat di daerah-daerah. La wong, opsi nya adalah dibubarkan! Ada seribu argumen agar IPDN tidak dibubarkan, namun semuanya bisa dibantah dan diberikan solusinya jika IPDN –sebaliknya- dibubarkan. Seribu SATU alasan dan argumentasi logis lebih mendukung IPDN dibubarkan. Lagipula, saya sebagai manusia biasa, rakyat biasa, yang tertipu, tidak akan memberi MAAF yang KEDUA kalinya. Sudah cukup!

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

IPDN atau Hitler Youth?

Posted on April 24, 2007. Filed under: Uncategorized |

Ada dua pendapat mengenai nasib IPDN. Banyak pihak (mayoritas) meminta pembubaran. Lainnya hanya minta vakum 3 sampai 4 tahun agar kulturnya benar2 berhenti. Pendapat ketiga yang membiarkan IPDN tetap berjalan dengan beberapa perbaikan disana-sini, menurut hemat saya adalah pendapat orang-orang yang ‘tidak punya nurani’ kalau tidak memang benar-benar implementasi sebagai ‘bangsa pemaaf’.

Glen Fredly di lagunya yang melambungkan namanya beberapa tahun silam berkata : “cukup sudah.. kukatakan.. ” yah. Cukup sudah toleransi dan kesempatan yang diberikan. Fakta membuktikan 37 praja tewas dalam 10 tahun terakhir, artinya 2 orang pertahun. Tewas bukan sembarang tewas, tapi akibat penganiayaan diluar ambang batas kemanusiaan. Kasus-kasus lain terkait pelecehan seksual, seks bebas dan asusila. Ini terjadi di balik pagar tinggi asrama STPDN/IPDN atau apapun namanya.

Saya tidak akan memilih pendapat ketiga, karena saya memaafkan hanya dua kali. Kesempatan hanya datang di kali kedua. Ketika diputuskan merger dengan IIP, apa kata birokrat STPDN? akan lebih baik. “Oke dari Hongkong!”

Pendapat dibubarkan? Setuju, karena akan menghemat APBN 150 milyar yang diajukan lewat Depdagri. aha! jadi kalau dibubarkan, akan ada yang ‘rugi’ karena ‘rezeki’nya di potong.. yach kita tidak usah berspekulasi, tapi ini nyata. Lalu, kata Wapres, oh, dipasang aja kamera CCTV. Sekali lagi, “CCTV dari Hongkong?!” Emangnya mall. Ini bukan solusi coz CCTV bisa dimanipulasi, kayak di film2 hollywood hehe.. Lagipula, biaya 150 m bakal ditambahkan biaya CCTV? No way man! rakyat bayar tuh mahal tiap tahun, demi nyetak camat yang skill nya malah di bidang tinju, bukan di bidang pemerintahan.

Ide di vakumkan 3-4 tahun setelah itu baru dibuat baru lagi.. Bisa jadi. Tapi siapa yang bisa jamin kekerasan hilang? Rakyat udah tidak bodoh lagi pak. di AAL (Akademi Angkatan Laut) Surabaya, pola kekerasan sudah lama di tanggalkan! nah loh??

Tau kah Anda.. STPDN dahulu didirikan oleh rejim Soeharto sebagai mana Hitler mendirikan Hitler Youth? Apa pebedaan Depdagri pada saat itu dengan Departemen Propaganda nya Hitler? Mengapa harus bersifat MILITER?? Jawabnya, kalau milite, loyalitasnya kurang. Oke, militer loyal kepad NEGARA, tapi tidak akan loyal kepada PENGUASA. Nah, IPDN ini sama, dibentuk agar anak-anak muda didoktrin menjadi camat dengan espri’ de corps yang tinggi. Hasilnya, kalau ada korupsi, ya sama-sama diam. saling menutupi. Kalau ada apa-apa, rakyat tinggal di geplak, ditendang hehe.. kok bisa ya?? saya pikir nggak ada di dunia modern institusi pemerintahan kayak begono.. yah mungkin sih kalo pemerintahan Fasis ala Hitler!

bersambung..

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...