Buah Bibir Linux dan IPDN

Posted on April 24, 2007. Filed under: Uncategorized |

Ada suatu kisah di Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Disingkat IPDN, Bahasa Inggris resminya –mengacu The Jakarta Post adalah Institute for Public Administration. Bukan hal yang tiba-tiba ketika saat ini IPDN menjadi buah bibir, lebih tepatnya kekecewaan, amarah, geram sampai kepada tuntutan pembubaran, ketika kasus Cliff Muntu, praja (sebutan mahasiswa IPDN) tewas bak adegan di film Hollywood. Penuh intrik, konspirasi dan banyak aktor yang memerankan ‘The Godfather’ seperti opera mafia, atau film hongkong yang penuh adegan kekerasan ala triad. Jagoannya ada, banyak malah. Jagoan-jagoan ini dipisahkan berdasarkan region-region asal propinsinya, kemudian dipisahkan menjadi senior tingkat dua dan senior tingkat tiga. ‘penjahat’ yunior sampai kewalahan menghadapi 4000 lebih jagoan yang mengantri ingin menjajal ilmu yang dipelajarinya selama mondok di asrama perguruan IPDN. Syuting film ini dimulai sejak lama, maka jadilah ‘film indie’ yang disiarkan di banyak televisi swasta pada tahun 2003, menyusul terbongkarnya pembunuhan seorang praja yunior bernama Wahyu Hidayat, kemudian di buat ‘sekuel’nya baru-baru ini. Ketika tulisan ini dibuat, masih ‘kejar tayang’ di televisi. Entah ending film ini seperti apa karena sandiwara itu belum selesai. Panggung masih dipenuhi aktor-aktor. Dahulu kala, Ketika seorang praja bernama Wahyu Hidayat tewas setelah disiksa lahir batin, publik juga meradang. STPDN, nama IPDN kala itu menjadi buah bibir. Persis sama seperti saat ini. Kata “Maaf” (Kesempatan pertama untuk berubah) sudah kita semua berikan, hasilnya malah lebih buruk. Beginilah nasib hidup di negeri bernama Indonesia. Ironisnya, kita memang terkenal bangsa ‘pemaaf’, selain bangsa terkorup tentunya. Sepertinya “maaf” yang kedua juga akan diberikan.

Buah bibir yang kedua adalah Linux. Tentu, ini terkait dengan semakin gencarnya penegakan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) yang diimplementasikan oleh hukum melalui Undang-undang No 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dengan dipertegas dengan keluarnya Keputusan Presiden RI No. 4 Tahun 2006 tentang Pembentukan Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual dan Surat Edaran Bareskrim Polri No. Pol. B/2/08/XI/2006/Bareskrim, Perihal Himbauan Penanggulangan Pembajakan Hak Cipta. Alternarif terbaik dalam menghindari pembajakan adalah dengan menggunakan Linux. Sudah murah, mudah, banyak pilihan, serta tampilan yang indah dan seenaknya dhewe sesuai selera pengguna, beralih ke Linux juga tidak memerlukan banyak resource terbuang percuma.

Linux juga bukan secara tiba-tiba menjadi populer. Melalui proses dialektika yang panjang, terutama para ‘pembela’ Microsoft Windows versus ‘pembela’ Linux yang bertarung di jagat keunggulan. Mulai dari masalah kemudahan, tampilan desktop, keamanan, hingga masalah Halal-haram pun di bahas. Linux, mempunyai jagoan pula. Dibedakan juga berdasarkan region-region. Nama resmi jagoan ini adalah ‘komunitas Linux’, secara formal disebut ‘Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI). Jagoan ini menghajar kebodohan dan berusaha membabat pembajakan dan pelanggaran hak cipta. Di tahun 2007 ini, merupakan tahun keemasan Linux. Mengapa? Dengan penegakan HaKI, kalangan bisnis mulai tertarik untuk berinteraksi dengan Linux. Walau Windows Vista muncul di tahun 2007 ini, Linux tetap menjadi jawara jika dihubungkan dengan value of money dan fungsi, karena diyakini fitur Linux tidak kalah menarik dan menawan seperti produk Windows. Walaupun ending ‘sinema’ Linux ini belum selesai, saya optimis walau bagaimana pun, Linux mampu merebut pangsa pasar yang ada dan membuktikan pada dunia ‘ras unggul’ nya. Untuk urusan HaKI, bangsa ini (mudah-mudahan) tidak mudah memaafkan. Pesangon dan sogokan boleh saja dimasa lalu menjadi senjata ampuh. Namun sekarang tidak lagi. Siap-siap mendekam di penjara atau denda jutaan rupiah.

Linux adalah bagian terpenting Free dan Open Source Software. IPDN, di sisi lain tidak memiliki kebebasan (Free) dan Institut ini tertutup. Saya sebut ‘Closed Source Institute’. Bahkan ketika kasus-kasus penganiayaan, seks bebas, KKN secara bertahap (perlahan) di buka, Institut ini tetap bungkam, dari dosen hingga siswa (praja). Sebaliknya, Linux sangat-sangat terbuka. Bisa dicopy (copy left), bisa dimodifikasi dan dikembangkan. Untuk membuat sebuah distro Linux yang baru, sangat gampang. Sedangkan untuk membuat IPDN gaya baru yang tanpa ‘militer’ sangat sangat susah. Bahkan saya baru tahu kalau urusan seragam –yang sudah rahasia umum menjadikan pemakainya arogan pun, Praja-praja ini bisa-bisanya menolak untuk diganti pakaian putih dan hitam (yang padahal masih juga seragam tuh). Padahal untuk urusan yang lain, seakan-akan mereka taat, sami’na wa ato’na. Di sekolah seperti IPDN, semuanya diatur dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Masuk Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Anda bisa-bisa keluar uang jutaan rupiah hanya untuk biaya masuk (pungli-pungli dan seterusnya). Ternyata, setelah diterima, bukan sekolah gratis seperti yang selama ini kita ketahui. Ada biaya seragam, pembelian buku kuliah dan seterusnya. Masuk ‘Institut Linux’, Anda dan anggota keluarga yang lain semuanya bisa belajar. Gratis dan memuaskan. Kurang puas, bisa ikutan mailing list Linux yang tersebar. Lembaga pendidikannya tidak dipusatkan di satu daerah seperti Jatinangor, Sumedang . Mau dikampus, ditempat kursus, atau dirumah, Anda bisa belajar kapan saja dan dimana saja. As Simple as that. Paling-paling jika ingin lebih fokus, ada yang namanya Bandung Hi Tech Valley, atau “Depok Valley” yang digagas dan dirintis sebagai upaya replika Sillicon Valley di AS, atau yang dekat, Bangalore di India, Bio Valley di Jurong, Singapura, serta super corridor di Kota baru Putra Jaya, Malaysia.

Kebebasan menurut saya nomor satu. Nomor duanya adalah keterbukaan. Saya tidak akan mau memakan suatu kue kalau saya tidak tahu bahan-bahan pembuatnya apa. Saya juga tidak akan membeli sesuatu yang saya tidak tahu jeroannya apa (closed source). Kode sumbernya terutup artinya kita tidak bisa tau isinya. Cuma di ajari untuk pakai. “Freedom!” Kata itu diteriakkan oleh pahlawan Irlandia di film epic Braveheart yang terkenal itu. Juga dipakai oleh ribuan rakyat tertindas di berbagai benua. Dan teriakan “Merdeka!” Adalah kata yang legendaris dan sangat lekat dalam perjuangan bangsa kita. Anda bisa juga memakai kata itu untuk mendemo dibubarkannya IPDN, juga bisa dipakai untuk ber-azzam memakai Linux dibanding sistem operasi lain yang saya sebut diatas. Linux menjadi buah bibir yang positif, sedangkan IPDN menjadi buah bibir yang negatif. Dua-duanya sedang hangat dibicarakan. Namun yang satu dituntut untuk dibubarkan, yang satu lagi dituntut untuk lebih dikembangkan! Anda bisa berkreasi dengan Linux, hasilnya ada distro baru hasil remastered atau sama sekali baru, juga ada hasil karya yang persis bahkan lebih dari hasil berkreasi di sistem Windows. Namun kalau berkreasi di IPDN, bisa dua kemungkinan. Ada yang mati, atau ada yang hamil. Mengingat dari berbagai media massa disebutkan, selama sepuluh tahun terakhir, tak kurang 37 Praja tewas dan 600 kasus seks pra-nikah terjadi di kampus yang di danai uang rakyat sampai 150 milyar ini. Silakan mencoba Linux di laptop dan PC Anda di rumah, namun jangan coba-coba IPDN. Selain memang sedang tidak menerima siswa baru, kampus tersebut juga dikhawatirkan tidak akan mengajarkan Linux, bahkan Teknologi Informasi apapun di dalamnya, kecuali latihan Smackdown!

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Buah Bibir Linux dan IPDN”

RSS Feed for The Unggul Center Comments RSS Feed

mantap si bos tulisan nya! saya sangat setuju dengan tulisan di atas ! mari kita kampanyekan linux :p


Where's The Comment Form?

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: