Archive for December, 2008

Pemasaran Politik ala PKS

Posted on December 17, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Political-power | Tags: , , , , , , , |

Tulisan brilian dari Pengamat politik, Eep Saefuloh Fatah di sebuah media massa, menanggapi iklan kontroversial PKS. Jadi, ada dimanakah Anda? Silakan introspeksi dan menelaah sendiri..

Sebagai disclaimer, situs The Unggul Center menayangkan berita yang menurut kacamata kami termasuk berita intelektual. Kami menampilkan topik Pemasaran Politiknya, bukan PKS nya. PKS adalah contoh konkrit dan hangat dalam melakukan strategi demikian. Termasuk Komunikasi Politik melalui aktivitas PR dan Koreksi atas Berita Iklan tersebut. The Unggul Center adalah forum intelektual dan akademis, bukan praktis.

Soeharto Dalam Pemasaran Politik PKS

Oleh EEP SAEFULLOH FATAH

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sungguh biasa secara artistik, tidak secara politik. Inilah iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang belakangan jadi menu utama di atas meja diskusi kita.

Secara artistik, iklan berdurasi 31 detik itu tak istimewa. Narasinya terlampau verbal: ”Mereka sudah lakukan apa yang mereka bisa, mereka sudah beri apa yang mereka punya, mereka guru bangsa kita, mereka pahlawan kita, mereka motivator kita, mereka ilham bagi masa depan kita. Terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS untuk Indonesia sejahtera.”

Suara sang narator juga seperti tercekat di kerongkongan. Pecah. Tak bulat dan jauh dari bertenaga seperti teriakan khas Soekarno. Lebih mirip teriakan demonstran pada hari-hari antara 1997 dan 1998. Visualisasinya berupa gerak perpindahan slide standar, menampilkan sosok Soekarno, Soeharto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, M. Natsir, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo.

Tapi iklan itu tak biasa secara politik. Ia mendulang kontroversi lumayan panjang, terutama lantaran sosok Soeharto. Sebagian kalangan menolak penahbisan sang Jenderal Besar sebagai pahlawan dan guru bangsa. Sebagian kalangan bahkan langsung menaruh PKS di keranjang partai antireformasi.

Iklan itu pun menjadi salah satu pertaruhan penting PKS dalam mengulang sukses Pemilu 2004. Sebegitu penting dan genting perkara ini bagi PKS? Produktif atau kontraproduktifkah iklan itu bagi upaya PKS meraih target 15 persen suara atau 20 juta pemilih dan menjadi tiga besar?

Mari kita telisik perkara ini dengan teropong ”pemasaran politik” (political marketing). Sukses sebuah iklan dinilai dari keberhasilannya memperluas dukungan bagi produk politik (partai, kandidat, kebijakan, dan presentasi ketiganya) yang ditawarkan.

Masalahnya, tak ada iklan yang bisa efektif menjangkau semua karakter calon pemilih. Fungsi sebuah iklan pun mirip-mirip penepuk lalat. Anda mesti berkonsentrasi pada satu atau beberapa lalat saja. Ketika sang lalat tertepuk, Anda mesti menerima konsekuensi serta merta: lalat-lalat lain akan terbang menjauh dari jangkauan. Untungnya, tepukan bisa diulang-ulang untuk memperbanyak jumlah korban.

Begitulah logika kerja sebuah iklan politik. Semakin tegas, benderang, spesifik, dan tajam sasaran yang dibidiknya, semakin besar potensi sukses sang iklan. Sebagaimana menepuk lalat, Anda lalu bisa membuat banyak iklan untuk beragam sasaran bidik.

Celakanya, pemilih bukanlah lalat. Setiap karakter pemilih membutuhkan langgam ”tepukan” berbeda. Beriklan banyak untuk sasaran bidik beragam boleh saja. Tapi hasilnya akan lain manakala langgam iklan-iklan itu tak berkesesuaian, apalagi jika berbalas pantun, saling menyerang. Maka, alih-alih memperluas daya jerat, sang iklan akan membikin kabur identitas partai dan para pemilih potensialnya.

PKS rupanya tak ingin makan buah simalakama itu. Mereka tak membuat banyak iklan dengan target bidik beragam. Mereka membuat satu porsi gado-gado: Satu iklan yang menggabungkan banyak ikon, untuk satu kali tepukan. Plaaak! Berapa banyakkah yang tertangkap dan yang terbang menjauh?

Asumsikanlah bahwa PKS merupakan partai rasional yang dikelola politikus akil balig. Maka, iklan ”Soeharto guru bangsa” bisa jadi dilandasi kesadaran PKS tentang pentingnya ketokohan dalam menentukan pilihan sekaligus tentang sempitnya ceruk pasar partai-partai berbasis massa Islam.

Berdasarkan pendataan Litbang Kompas (2008), dalam Pemilu 1999, ceruk pasar itu hanya didiami 37,54 persen dari total pemilih. Sekalipun jauh lebih besar ketimbang ceruk partai berbasis massa Kristen, kedaerahan, dan etnik (1,42 persen), ceruk itu lebih kecil daripada ceruk partai-partai berbasis massa majemuk (61,04 persen). Dalam Pemilu 2004, perbandingan ketiga ceruk pasar ini tak bergeser terlalu jauh, menjadi 38,33 persen berbanding 2,14 persen berbanding 59,53 persen.

Celakanya, sebagaimana dibuktikan Dwight King dan Anies Baswedan (2005), para pemilih Indonesia bukanlah pelintas batas. Jangankan menyeberang ke partai-partai majemuk, para pemilih partai Islam cenderung mengalihkan dukungannya ke partai berbasis massa Islam lainnya. Pemilih ceruk lain juga setali tiga uang.

Pertarungan pokok pun terjadi di dalam ceruk, bukan lintas ceruk. Fakta ini tegas terlihat di Jakarta. Di daerah pemilihan paling prestisius yang dimenangi PKS pada Pemilu 2004 ini, tujuh partai berbasis massa Islam meraih 1.891.641 suara (46,89 persen); hanya berselisih kecil dengan suara yang diperoleh 16 partai berbasis massa majemuk (1.911.666 suara atau 47,39 persen). Sedangkan sisanya, 5,72 persen atau 230.657 suara, diraih partai berbasis massa Kristen (PDS).

Ternyata, para pemilih Jakarta bukanlah para pelintas batas ceruk. Dari Pemilu 1999 ke 2004, PBB, PPP, dan PAN masing-masing kehilangan berturut-turut 0,7 persen, 9,7 persen, dan 9,1 persen suara. Hilangnya 19,5 persen suara itu beralih ke tiga partai berbasis massa Islam lainnya, yakni PKB (bertambah 0,1 persen), PBR (3 persen), dan terutama PKS (bertambah 18,4 persen).

Situasi di ceruk pasar majemuk juga serupa. Suara PDIP dan Partai Golkar yang hilang (berturut-turut 25 persen dan 2,1 persen) ternyata lari ke sang pendatang baru, Partai Demokrat (20,2 persen) dan partai-partai majemuk lainnya.

Menyadari fakta itu, PKS rupanya merasa perlu membuat upaya luar biasa yang tak lazim untuk menjangkau para pemilih secara lintas ceruk. Mereka berusaha menjangkau para pemilih partai Islam sekaligus partai nasionalis-plural. Alasannya, mustahil PKS bisa meraih 15 persen suara hanya dari dalam ceruk sempit partai-partai berbasis massa Islam.

Pada titik itulah iklan ”Soeharto guru bangsa” menemukan relevansinya. Iklan itu adalah alat penepuk PKS untuk menggaruk pemilih dari semua ceruk. Iklan ini pun senapas dengan upaya PKS membuka selubung dirinya, berusaha menjadi inklusif via beragam cara. Mereka mendatangi sejumlah puri (belum pura) terpenting di Bali, mengumumkan bahwa calon anggota legislatif PKS tak harus orang PKS dan tak harus orang Islam. PKS menerbitkan buku tebal berisi platform partai yang menegaskan pemihakan pada demokrasi dan kemajemukan, melanjutkan dan meluaskan jargon partai dari ”bersih dan peduli” menjadi ”bersih, peduli, dan profesional”, dan seterusnya.

Maka, di satu sisi, iklan ”Soeharto guru bangsa” adalah sebuah upaya rasional sebuah partai yang berusaha melakukan ekspansi pasar secara segera. Tetapi, di sisi lain, iklan itu menegaskan alpanya PKS pada sumber-sumber utama pendongkrak suara mereka dalam Pemilu 2004.

Dalam Pemilu 2004, selain dari kerja organik partai, sukses PKS berasal dari dua sumber pokok: moderasi yang terjadi di kalangan pemilih muslim (sebagaimana ditunjukkan oleh serial riset R. William Liddle dan Saiful Mujani) dan sukses PKS membuat positioning-diferensiasi-branding yang tepat berhadapan dengan partai-partai Islam lainnya.

Pemilu 1999 dan 2004 menunjukkan bahwa kalangan Islam puritan, radikal, fundamentalis—atau apa pun namanya—adalah kelompok kecil bersuara nyaring. Alih-alih fundamentalisasi, arus utama yang terjadi di kalangan pemilih muslim adalah moderasi, bergerak makin ke tengah. Kepada merekalah PKS datang menawarkan citra, identitas, dan integritas partai yang berbeda dari partai-partai Islam konvensional. PKS menawarkan platform yang atraktif ketika partai-partai Islam lain masih terus sibuk dengan syair-syair lapuk yang diulang-ulang.

PKS pun berhasil membengkakkan raihan suaranya karena berhasil menjadikan dirinya sebagai kalimatun sawa, titik temu, bagi para pemilih muslim-rasional-kalkulatif. PKS alpa bahwa mereka inilah yang potensial menjauh terbang akibat tepukan iklan ”Soeharto guru bangsa” itu.

Maka, jika tak ada upaya-upaya pemasaran politik baru yang layak, sangat boleh jadi, iklan itu membikin PKS mengeluarkan ongkos politik teramat mahal. Sekalipun, tentu saja, sebuah partai tak akan mati terbunuh oleh sebuah iklannya.

EEP SAEFULLOH FATAH, Anggota Komunitas ”Para Penagih Janji”
Sumber:Tempo Interaktif Rabu, 10 Desember 2008

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Seminar Kriptografi 2008 : Relasinya dengan Matematika, IT dan Elektronik

Posted on December 17, 2008. Filed under: Acara Intelektual | Tags: , , , , , , , |

Informasi Seminar menarik, tentang Kriptografi. Hanya saja, dari biaya investasi, saya tidak menemukan fasilitas apa yang bisa didapatkan.

Seminar of Cryptography 2008

Seminar of Cryptography 2008 adalah seminar yang mengangkat tema
tentang The Relation beetwen Cryptography and Other Sciences
(Mathematics, Information Technology, and Electronics) . Dalam seminar
ini akan dibahas mengenai kriptografi dan keterkaitannya dengan ilmu
lain, seperti Matematika, Teknologi Informasi, dan Elektronika. Dengan
adanya kegiatan ini, diharapkan para pelajar, mahasiswa, dosen,
peneliti, praktisi, serta masyarakat umum dapat lebih mengenal
kriptografi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari serta dapat
melihat keterkaitan antara kriptografi dengan ilmu lainnya agar dapat
bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Seminar ini diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi
Negara bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Departemen Matematika
Universitas Indonesia. Sebelum seminar ini direncanakan, telah
terselenggara dua buah seminar kriptografi serupa secara
berturut-turut, yaitu Seminar of Cryptography and Wireless Security
pada tahun 2006 dan Seminar of Cryptography and Internet Security pada
tahun 2007 oleh Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara. Pada tahun
ini Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara bekerja sama dengan
Himpunan Mahasiswa Departemen Matematika Universitas Indonesia
menyelenggarakan kegiatan seminar kriptografi dengan cara
pengorganisasian yang berbeda.

Pembicara
1. Ir. Budi Rahardjo, M.Sc.,PhD. – Pentingnya Kriptografi dalam Pengamanan Informasi
2. Simulasi oleh Echo Community
3. Simulasi oleh Andi Yusuf, ST. (Lemsaneg RI)

Waktu dan Tempat
Sabtu, 12 Juli 2008, Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok

Committee
1. Pelindung : Brigjen. TNI Ferdinand Immanuel, S.E.
2. Penasehat : Kolonel (Sus) Tuhu Trimurnianto, S.E.
3. Ketua : Fetty Amelia
4. Sekretaris : Aprita Danang Permana
5. Bendahara : Galylia Aryanita D.

Pendaftaran
HTM : Rp. 40.000,- untuk mahasiswa dan Rp. 60.000,- untuk umum

* Pendaftar dapat mendaftar dengan menyetorkan uang pendaftaran ke Rekening Seminar of Cryptography 2008:
Nomor Rekening : 157-00-0088496- 6 Atas nama : Luvisa Kusuma Bank Mandiri KCP KCP Depok Bukit Sawangan

Bukti penyetoran beserta fotocopy tanda pengenal dapat dikirimkan kepada Panitia melalui email semcrypt08@yahoo. com atau Fax : 0251 541720

* Dapat mendaftar langsung ke panitia seksi Humas di STSN atau di Departemen Matematika FMIPA UI

* Mendaftar pada hari saat seminar diadakan (ticket box).

Sekretariat
Seminar of Cryptography 2008
Kampus Bumi Sanapati
Sekolah Tinggi Sandi Negara
Jalan Raya H.Usa Putat Nutug, Ciseeng, Bogor
Tel/Fax : 0251-541 742 / 0251-541 754
Email : semcrypt08@yahoo. com
URL : http://freewebs. com/semcrypt08

Contact person :

Deni Liansyah, HP 0813 8295 4864
Alvin Devara, HP 0856 9751 1115
Claudia Dwi Amanda, HP 0856 196 7744
Bekti, HP 0856 9182 7773
Mella, HP 0815 8449 6477
Indah, HP 0813 1149 2141

Sponsorship

Bagi pihak-pihak yang berminat menjadi sponsor, silahkan menghubungi
Luvisa : 081321654214
Budi : 085692052632

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Deklarasi Indonesia Go Open Source! (IGOS) dan Implikasinya di bidang Pendidikan

Posted on December 16, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , |

Indonesia Go Open Source! (IGOS) adalah keputusan strategis di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari pemerintah Republik Indonesia melalui lembaga-lembaga terkait. IGOS dideklarasikan pada tanggal 30 Juni 2004 yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. IGOS adalah sebuah gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source di lingkungan pemerintah. Meskipun hanya ditandatangani oleh lima kementrian dan departemen, namun implementasinya didukung luas oleh lembaga-lembaga dan departemen lain misalnya Departemen Tenaga Kerja, Depdiknas dan Presiden sendiri, dengan membentuk Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) sebagai penasihat presiden dalam urusan dan keputusan terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia.

Salah satu poin penting deklarasi tersebut adalah pada poin ketiga, yaitu melakukan langkah-langkah aksi yang diantaranya Mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusat-pusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia. Deklarasi IGOS bertujuan agar bangsa Indonesia dapat membangun aplikasi peranti lunak komputer yang berkode sumber terbuka, membuat bangsa Indonesia dapat dengan mudah merancang, membuat, merekayasa dan menjual produk intelektual dengan mudah, murah dan tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu yang sewaktu-waktu dapat memaksakan kepentingan terkait dengan kebutuhan dukungan (support) terhadap produk.

Anak negeri bisa menghasilkan produk-produk karya sendiri, bebas, terbuka dan dapat disempurnakan oleh siapa saja dikarenakan konsep kode sumber yang terbuka sehingga dengan mudah dapat dilihat, dimodifikasi dan disempurnakan oleh siapa-saja. Pemilihan teknologi open source oleh pemerintah RI sendiri telah menjadikan sistem operasi (OS) berbasis Open Source, yaitu GNU-Linux (selanjutnya disingkat Linux) menjadi populer. Hal ini disebabkan banyaknya keunggulan Linux dibanding sistem operasi Open Source lainnya bahkan mengungguli raksasa sistem operasi proprietary yang saat ini, yaitu Microsoft Windows.

Open source sendiri dapat dimaknai sebagai sistem operasi komputer dan program-program komputer berlisensi Free (Bebas) dan Open Source (Berkode sumber terbuka. FOSS (Free & Open Source Software) Secara sederhana berarti kode program dapat dilihat, dimodifikasi, disebarluaskan secara bebas, halal, baik berbayar maupun gratis. Contoh konkretnya adalah Linux, sebuah sistem operasi penantang Microsoft Window$. Efeknya adalah pengguna dapat melakukan pembuatan aplikasi yang justru lebih canggih dan menyempurnakan aplikasi yang sebelumnya ada, tanpa perlu menunggu dari si pembuat. Bebas untuk berkreasi, membuat program komputer dan meneruskan program yang sudah dibuat oleh orang lain. Bebas, dan untuk tujuan kemanusiaan maupun komersial. Bebas saja.

Ada dua implikasi dari deklarasi IGOS ini bagi dunia pendidikan. Pertama, dilihat dari ditandatanganinya Deklarasi oleh Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu, secara internal menjadikan Open Source (baca : Linux) menjadi pilihan bagi departemen terkait. Sedangkan secara eksternal, memberikan perintah tidak langsung bahwa dunia pendidikan sudah menerima Open Source menjadi pilihan sistem operasi maupun aplikasi sehar-hari. Kedua, sektor pendidikan yang sudah stabil mendorong aktivitas pembelajaran, riset dan kemungkinan untuk melakukan migrasi ke Linux. Mulai dari kurikulum perguruan tinggi, mulai dirombak dan didasari oleh dasar kurikulum TIK yang open source, kalau tidak dapat disebut bebas dari pengaruh sistem operasi tertentu. Hingga kegeliat sektor swasta dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM TIK berbasis Linux/FOSS. Muncul dan kian berkembang lembaga-lembaga training komputer yang memfokuskan diri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang diperlukan dalam rangka pemenuhan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK yang dibutuhkan. Hal ini sejalan dengan amanat Deklarasi IGOS oleh pemerintah pada tahun 2004.

Selain itu, adanya tren SDM berdaya saing tinggi apabila menguasai Linux/FOSS dibandingkan dengan penguasaan sistem operasi lainnya, terutama ditunjukkan oleh adanya riset dari kebutuhan pasar/dunia industri terhadap SDM TIK terutama yang menguasai Linux. Selama kurun waktu hingga 2008 –hingga pada saat tulisan ini dibuat, telah banyak terbentuk komunitas-komunitas Linux dan lembaga training komputer berbasis Linux/FOSS. Selain faktor deklarasi IGOS yang artinya sudah didukung pemerintah, komunitas dan lembaga training merespons adanya pasar dan kebutuhan untuk jasa pelatihan komputer utamanya berbasis Linux/FOSS.
Sebagai lembaga bisnis, kebutuhan masyarakat akan pelatihan Linux dan pemrograman under Linux membuat lembaga pelatihan dan pendidikan berbasis Linux/FOSS memiliki pangsa pasar tersendiri. Diantara lembaga-lembaga yang ada, di daerah jabotabek dikenal beberapa lembaga training Linux yaitu Inixindo (www.inixindo.com), Nurul Fikri (www.nurulfikri.com), Linuxindo (www.linuxindo.com), Ardelindo Aples 1991 (www.ardelindo.com), Bajau (www.bajau.com), Indolinux (www.indolinux.com), selain training-training Linux lain yang dibuka oleh komunitas-komunitas Linux di Indonesia. Lembaga-lembaga ini selain bergerak dibidang training dan pendidikan profesional Linux/FOSS, juga beberapa menyediakan jasa inhouse training untuk kalangan korporat dan paket khusus pendidikan, termasuk dukungan produk pendidikan sekolah.

Pada dunia pendidikan, sudah banyak sekolah-sekolah memiliki ekstrakurikuler Kelompok Studi Linux (KSL) dan atau Kelompok studi IT lainnya yang mempelajari Linux/FOSS sejak dini. Dan ini terus berkembang. Di lingkungan masyarakat, komunitas pengguna Linux membentuk regional-regional komunitas dengan label KPLI yang tersebar di seluruh Indonesia, hingga mencapai limapuluhan KPLI terbentuk, dari sabang sampai merauke. Pusat koordinasi sosialisasi Linux ada pada Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan dalam menunjang perkerabatan dan jaringan, tak pelak Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang baru berdiri menjadi tulang punggung komunikasi.

Bagaimana dengan sekolah yang belum mengenal Linux/FOSS (alih-alih menggunakan Linux)? Jangan-jangan siswa-siswa sudah lebih dahulu mengenal Linux melalui kelompok studi Linux atau TIK yang digelutinya. Sebagai institusi formal yang mendukung ketrampilan TIK demi masa depan siswa-siswinya, sudah tidak ada alasan bagi sekolah untuk menjadikan Linux sahabat dalam teknologi informasi. Linux/FOSS akrab dengan dunia pendidikan. Sebuah solusi sistem operasi dan aplikasi yang bebas, murah (bahkan lebih sering disebut “gratis”) dan bersahabat dengan anggaran sekolah. Cita-cita untuk memajukan intelektual siswa-siswi tentu ada, dan lebih baik apabila sesegera mungkin menggunakan sistem operasi ini. Kalau sudah mengenalkan kepada sekolah dan melakukan ujicoba, selanjutnya, terserah Anda..

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Undangan MIFTA (Muslim IT Association) utk UMUM

Posted on December 15, 2008. Filed under: Acara Intelektual |

Assalamu’alaikum wr wb,

Dengan ini kami mengundang praktisi dan peminat TI untuk menghadiri acara
MIFTA (Muslim IT Association – http://www.mifta.org) sebagai berikut:

Waktu
*Minggu 21 Desember 2008 Pukul 09.00 – selesai
*
Tempat
*LP3T-Nurul Fikri atau NF Computer
**Jl. Mampang Prapatan Raya 17a*
*Jakarta Selatan
*
* Agenda (semua waktu dalam WIB):*
09:00-09:15 – Registrasi peserta
09:15-09:25 – Pembukaan dan Sambutan dari Ketua MIFTA
09:25-09:55 – “Dinar Solusi Krisis Finansial Global dan Penerapannya Secara
Online” oleh Muhaimin Iqbal (Pakar dan Praktisi Ekonomi Syari’ah)
09:55:10:25 – “Strategi Perubahan di Era Dunia Datar” oleh Romi Satria
Wahono (Pakar TI, pendiri IlmuKomputer.com)
10:25-11:00 – Tanya Jawab
11:00:11:45 – Ta’aruf (perkenalan) dan Silaturrahim pengurus dengan peserta
11:45:13:00 – Break Sholat Dzuhur berjama’ah dan makan siang
13:00-14:00 – Diskusi bebas/ngobrol sesama anggota

*Anda berminat hadir ke acara bermutu ini? Silakan lengkapi data berikut:*

Nama:
No. Telpon/HP:
Pekerjaan:
Institusi:

Kemudian kirimkan ke info@mifta.org dan
ketua@mifta.org

*Mohon perkenannya untuk infaq makan siang, dsb sebesar:*
Rp 25 ribu untuk umum
Rp 15 ribu untuk mahasiswa dan anggota MIFTA

*Ditransfer ke:*
Rekening BCA Wisma GKBI No. 0061947069 a/n Agus Nizami

Selambat-lambatnya *Jum’at, 19 Desember* *2008 pukul 09.00* WIB.
Konfirmasikan Nama, besar infaq, dan tanggal transfer.

Kami nantikan kehadiran Anda semua. Semoga dengan acara ini kita bisa
bersilaturrahim, memperkuat ukhuwah Islamiyyah, dan menjadi lebih bermanfaat
bagi ummat.

Wassalamu’alaikum wr wb.

*Agus Nizami (Ketua MIFTA) – ketua@mifta.org
Ahmad Sofyan (Sekjen MIFTA) – sekjen@mifta.org*

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...