Jurnalis Merusak Bahasa Indonesia?

Posted on July 28, 2009. Filed under: Coretan Intelektual | Tags: , , , , , , , |

Aneh ya, bukannya jurnalis, entah reporter, wartawan koran maupun pembawa berita, yang seharusnya mewartakan bahasa indonesia yang “baik dan benar”, karena tentu ditonton, dibaca, dan dijadikan referensi banyak pemirsa dan pembaca.

Tapi memang, kenyataannya saya seringkali melihat ada dua hal keteledoran, entah disengaja atau tidak. Pertama, masalah penggunaan bahasa yang salah dan berulang-ulang. Contoh, ditelevisi, bukan sekali dua kali kata-kata PASCA disebut dengan PASKA. Padahal jelas sekali kalau Pasca itu adalah BUKAN bahasa inggris loh. Jadi buat apa Pasca itu dibaca jadi Paska hehe.. Ada juga Pasca itu bahasa inggrisnya Post. Saya seringkali didebat kalau pasca itu bahasa inggris padahal la wong di londo sono aja orang bule ga pernah sebut2 kata pasca (dengan spell-nya Paska). Lalu contoh lagi, Akutansi. Jelas sekali, pengalihbahasaan ini berasal dari Accounting. Baca, ada huruf N disana. Eh, kita, terutama pembawa berita, penulis, pembawa acara, MC acara formal, bahkan Mahasiswa Akuntansi sendiri menyebut Akutansi. Kalau Aku Tansi, lalu kamu Apa? hehe.. Sayang sekali, bahkan waktu menghadiri wisuda rekan sejawat di UI beberapa tahun lalu, jelas sekali Anouncer (MC) di acara wisuda yang formal dan dihadiri rekrtor dan guru besar, memanggil para wisudawan jurusan Akuntansi FE UI dengan Sebutan ” Si A… dengan IPK .. dari AKUTANSI…” dan itu berulang2 loh.. sebanyak semua wisudawan dari jurusan tersebut. Duh.. padahal ada Fakultas Ilmu Budaya juga loh di UI..

Kedua, kalimat dan istilah2 baru. Dulu sekali, saya sudah aneh waktu diperkenalkan istilah Dagang Sapi oleh Eep di sebuah media elektronik (dulu Eep baru naik daun sebagai Pengamat Politik yg cerdas). Dan memang, itu ternyata istilah dari ilmu politik yg dibawa dari belahan barat yg memang sedang hangat. Dan diindonesiakan lah. Abis itu, di berbagai media, istilah dagang sapi sering muncul. Kemudian dari sejak SD saya mendengar istilah tanpa “pandang bulu” artinya tidak pilih kasih. Nah, pas lulus kuliah, sekarang istilah baru muncul, yaitu “tebang pilih”. SEMUA media memakai istilah ini dan hilanglah istilah pandang bulu hehe.. entah disengaja atau tidak, tapi ini munculnya dari media cetak maupun elektronik. Contoh ketiga adalah CARUT MARUT. Apa itu? coreng, corat coret ga karuan mungkin artinya ya.. Oke, carut marut menjadi istilah populer dan selalu dihubungkan dengan kondisi bangsa ini pasca reformasi. Nah, yang aneh lagi, beberapa bulan (tahun?) belakangan ini, ada lagi yang sebut KARUT MARUT. Halah.. apa karena carut itu bahasa inggris lalu di-indonesiakan? hehe.. ini sama dengan Pasca dan paska deh..

Contoh terakhir, kalau kurang puas, adalah ‘di gadang-gadang”. Ya, saya sering membaca dan mendengar kata ini beberapa bulan terakhir. Entah di surat kabar, televisi oleh penyiar atau pengamat politik. Apa sih itu? Apa artinya disinyalir, didorong2, atau apa?? Misalnya, “JK-Win yang digadang-gadang bakal menjadi rival berat SBY ternyata Keok hingga terjun bebas dibawah 10%”. Dan yang terbaru, tapi maaf saya lupa, kemarin ada lagi penyiar menyebutkan istilah baru yang sepertinya menggantikan istilah carut marut, coreng moreng, kacau balau dst pada saat sedang gempitanya pemberitaan mengenai Bom Mega Kuningan baru-baru ini. Nanti saya akan pantengin trus tu tipi en koran buat cari kata ajaib yang baru ini hehe.. jurnalis oh jurnalis..

Disclaimer :
Ini hanya opini, berdasarkan penglihatan dan pendengaran beberapa waktu saja, belum menjadi sebuah kesimpulan🙂

unggul@unggulcenter.co.cc

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

7 Responses to “Jurnalis Merusak Bahasa Indonesia?”

RSS Feed for The Unggul Center Comments RSS Feed

Saya setuju dan senang membaca tulisan kamu. Saya juga mau tambahkan, coba anda dengan penyiar Metro TV mengucapkan nama negara China, cara bacanya yang betul kan Cina bukan Caina, karena dibahasa Indonesia “i” tetap dibaca dengan “i” buka “ai”. Padahal Metro TV kan chanel berita yang sangat banyak ditonton masyarakat kita, saking sebelnya kadang saya langsung ganti chanel klo saya dengar kata-kata Caina. Gimana caranya ya biar penyiar Metro TV memperbaiki cara membaca Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya paling tidak suka kalau Bahasa Indonesia tidak digunakan dengan baik dan benar dalam konteks formal, kecuali untuk bahasa sehari-hari. Semoga tulisan anda menjadi bahan perbaikan kita.

yup. setuju skali mbak/mas.
Kalau di formal, perlu sekali kaidah bahasa digunakan dengan baik dan benar.

Dan ternyata memang benar, bahasanya penyiar tv dan tulisa berita di tv itu yg paling banyak melenceng. Parahnya, menjadi justifikasi bagi yg lainnya.🙂

Seharusnya diajari dulu kompetensi berbahasa yg baik sebagai bagian pelatihan dasar bagi karyawan/jurnalis terutama media televisi/elektronik. Agar tdk banyak kesalahan bahasa maupun penulisan berita.

Ironisnya, tulisan ini maih jauh dari baik, bahkan perlu banyak perbaikan.😀 salam kenal ya..

Sesuai dengan perkiraan, pasti ada yang akan bilang begitu mas hehe..

pan saya masyarakat biasa, that’s the point Bos.. Saya kritik bukan sebagai Ahli Bahasa, tapi justru sbg masyarakat🙂 sama seperti Anda yg sepertinya bukan juga Ahli bahasa, atau bukan jurnalis televisi mungkin?

Mungkin Anda punya lowongan jadi pembawa berita atau penyiar biar saya bisa mempraktikkan bahasa yg baik dan benar, sesuai saran saya utk diadakan Pelatihan Berbahasa utk para staf media?

Salam..

Btw specially @Masbadar diatas : Ironisnya, kita perlu jadi ulama dan ustadz dulu baru boleh mengajak orang sholat dan mengaji ya pak hehe..

salam kenal pak

salam kenal sebelumnya gan…
saya baru di dunia blog,,,
saya mau mengomentari tulisan anda juga, saya liat ada kata “… dari sejak SD…”, kalau mau menggunakan kata “dari” yah kata “dari” aja, kalau mau pake kata “sejak” kata “sejak” aja, soalnya kata “dari” dan kata “sejak” di situ artinya sama, jd pilih salah satu.
salam kenal yah…

lam kenal juga n trims masukannya. Kalau dicari memang banyak kesalahan kata kok. Oke, nanti, kalau ada penulisan ilmiah, essay, press release dan seterusnya pasti saya perhatikan bahasanya. Nggak 5 menit tulis langsung upload.🙂


Where's The Comment Form?

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: