Archive for October, 2009

Tipe Bis Lorena Seharusnya Walau Berbeda-Beda Tetap Eksekutif Jua

Posted on October 31, 2009. Filed under: Coretan Intelektual, The Public Services-power | Tags: , , , , |

Menyambung tulisan sebelumnya tentang lorena dimana ada tanggapan (saya tidak tahu orisinalitasnya apakah benar penumpang atau karyawan lorena yg menyamar) bahwa pelayanan Lorena baik-baik saja dan saya bahkan dikasihtau kalau level bis saya emang bukan executive dimana dijelaskan kalau LV itu lorena vip dan LE itulah yang eksekutif. Ini salah total kalau menganggap ada perbedaan kelas kalau yg eksekutif itu hanya LE. Bahkan kalau mau ditambahkan, ada juga tipe SE yang disebut lorena sebagai “Super Executive”.

Saudaraku, nama LV, LE dan SE itu hanya sebutan saja dan tidak menjadikannya berbeda dalam hal pelayanan. bedanya, ini langsung dari official Lorena sendiri yg memberikan keterangan hanya pada fasilitas KURSI. Untuk SE, seat 2-1 dan “lapang”, sedangkan LE itu seat 2-2 dengan jumlah kursi total lebih sedikit artinya lumayan lebih luas dibanding LV yang jadi agak sempit terutama bagian lutut sebab dengan seat yang lebih banyak. Itu hanya pembedaan administratif bukan kelas seperti yg ditulis oleh si “pelanggan lorena”. Busnya tetap tagline dan slogan serta ISO nya kalau ada pun merujuk ke kelas eksekutif. Lagipula, siapa sih yang memberikan standard KALAU yang NAMANYA VIP itu BUKAN EXECUTIVE? Apa sih VIP itu? Jawab sendiri dong hehe.. aya aya wae.. artinya ini memang ide lorena sendiri dengan standard dia sendiri.

Saya juga bukan tidak tau masalah LV dan LE ini. Mau tau ceritanya? Satu jam sebelumnya saya datang langsung ke loket Lorena di Palembang. Langsung tanya tiket eksekutif. Ada. Tapi tidak boleh Booking. Harus bayar langsung ditempat. harganya Rp 450rb. Tipenya LE. dan itu tdk pernah disebut2 oleh petugas CS kalau LE dan LV itu beda. (Belakangan saya tanya sendiri bedanya dan dijawab jumlah seatnya beda). Oke, saya masih ragu dan mengharapkan dapat tiket pesawat. ternyata setelah telepon sana dan telepon sini, kesana kemari naik mobil cari tiket tidak dapat pada hari itu ataupun besoknya karena Full book semua. mau tidak mau demi pulang ke bogor saya balik lagi ke loket SATU JAM kemudian. Olala, mereka bilang abis. kemudian telpon sana sini eh mereka bilang ada. bisnya berbeda, namun TIDAK PERNAH diberitahukan kalau itu bis ‘bukan eksekutif”. Harganya pun sama. Saya sendiri probing dan nanya, apakah sama aja bis yg saya keabisan dengan bis ini? dijawab SAMA SAJA. Beda jumlah kursinya. Gotcha! Anda yang sok tau nulis kalau LE dan LV itu berbeda kelas silakan tanya sendiri ke CS Lorena. Jangan soktau dengan menyimpulkan sendiri. Masalah judul KODE BIS itu ya terserah manajemen lorena dong..

So, intinya kekecewaan saya itu. Lalu harga bagaimana? SAMA SAJA. Tidak ada bedanya. ya itu tadi, CS menjelaskan hanya beda jumlah kursi saja kok pak.. dst. Karena biasa naik Lorena, ingat, saya sudah 10 tahun naik lorena, maka saya order tempat duduk yang paling agak longgar, yaitu 4 dan 5. Sekaligus tips bagi Anda yang belum tau hehe.. Cuma sayang, sudah penuh juga. tersisa kursi di bagian belakang tepat di depan pintu keluar dan toilet. Disitulah saya bayar tempat duduk saya dengan harga yang SAMA DENGAN HARGA TIPE LE. Lorena, harga updated terus.. kalau lebaran bisa 450rb dari 180rb normalnya.

Komplain saya ini tidak asal-asalan. mau tau? SATU HARI SESUDAH SAYA, ada komplain yang hampir sama. Judulnya pun hampir sama. Tidak percaya? Ini linknya KOMPLAIN LORENA PERSIS SAMA CUMA BEDA SATU HARI DENGAN SAYA

Si penulis surat pembaca tersebut malah keadaannya lebih parah. Selain harga lebih mahal, kalau Anda bilang LE itulah yang bagus, nah dia komplain justru untuk yang LE hehe.. Anda mau bilang apa lagi? Inilah Lorena. Pelayanan kelas ekonomi utk Bus Eksekutif.

FYI, saya tidak asal tulis di blog. Tulisan komplain tersebut sudah nangkring di vivanews.com dan beberapa koran bahkan koran Radar Bogor yang notabene tempat “markas” Lorena selama ini.

Mohon diperhatikan lagi motto, slogan, tagline, jenis layanan, ISO, SOP, Kurikulum atau apapun namanya tentu jelas tipe layanan Lorena harusnya “Eksekutif”. Buat bapak yang “menegur” tulisan saya, PAK, Ini tipe layanan, BUKAN tipe kode Bis. Agar tidak bingung dan diperdaya oleh kode bis Lorena yang pakai LV dan LE yang berbeda kode tetap eksekutif jua. namun.. seperti komplain saya dan mungkin banyak orang, pelayanan ekonomi.

Sampai saat ini, kalau orangtua saya kecapekan dan malas naik pesawat, masih kok sesekali pake Lorena. Cuma selalu berdoa berharap bisnya bagus dan pelayanan di bis itu bagus. Karena tidak banyak pilihan lain di ranah bis eksekutif utk ke palembang. Betul kan? Jadi saran kritik dan komplain jadikan pemicu, atau lambat laun lorena akan disalip perusahaan bis eksekutif lainnya.

Ohya, tulisan saya ini memang “kasuistik”. Faktanya itu terjadi pada saya. Cuma mungkin beberapa persen dari layanan lorena yang mungkin 90% nya baik. Atau standard. Cuma kalau sopir (bisa jadi ini sopir geblek dst) tidak ditegur atau didisiplinkan ya begini ini. Informasi lagi, barusan saya antar ortu naik Lorena dan benar-benar saya perhatikan. Ternyata, rata-rata memang bis berkualitas bagus, dilihat dari fisiknya saja bagus banget itu memang bis-bis ke Jawa Bali. Misal ke Blitar yang saya lihat sendiri keren banget bis nya. Jadi saran saya berbeda-beda bis boleh, tapi PELAYANAN jangan dibedakan dan kalau itu oknum, silakan DIUSUT sampai tuntas. Saya percaya manajemen Lorena tidak akan membiarkan dua atau tiga komplain seperti saya, walau se-sedikitpun persentase komplain. Itu kalau memang Lorena berwawasan maju dan kedepan. Tidak “keenakan” karena ranah bis eksekutif masih dipegang oleh mereka.

Jadi, itu fakta. Demikian semoga menjadi perbaikan.

Read Full Post | Make a Comment ( 28 so far )

Budaya Apresiasi dan Budaya “SMOS”

Posted on October 31, 2009. Filed under: Coretan Intelektual | Tags: , , , |

Seringkali saya mendengar di berbagai forum dan event diskusi untuk “saling selalu mengingatkan sesama muslim”, menegur apabila ada kesalahan, speak your mind, dan seterusnya. Namun himbauan yang baik ini kadang kurang proporsional manakala terjadi ketidak seimbangan, atau ketimpangan antara budaya kritik dengan budaya apresiasi.

Budaya apresiasi diawali adanya keseimbangan antara menegur dan mengkritik kesalahan dengan memberikan reward, pujian, insentif bahkan hanya dengan tepuk tangan dan ucapan selamat. Hal itu menunjukkan adanya penghargaan atas jerih payah orang lain, sekaligus memberikan nilai hubungan yang baik antar sesama. Kontras dengan itu, budaya Suka Melihat Orang Susah dan Susah Melihat Orang Senang (SMOS) sering melahirkan anak kandung iri hati, dengki, benci dan membuat orang lain tidak betah.

Saya sering perhatikan, sulit sekali masyarakat di forum-forum untuk sekedar bertepuk tangan atas prestasi seseorang. Ogah-ogahan dan kadang perlu dikomando baru deh tepuk tangan. Rasanya sulit sekali hanya claps your hand dan tersenyum. Berbeda di luar negeri, penghargaan bisa sampai dengan standing ovation yang lama.

Kalau ada kesalahan? Jangan ditanya. Sekecil apapun pasti diungkit. Diorek-orek, apalagi oleh seseorang yang “mr. Clean” alias merasa tidak punya salah apapun di dunia ini. Sifat seperti ini ditunjang juga dengan faktor SMOS, dimana apabila rekan atau seseorang kedapatan rejeki, bukan ucapan selamat dan turut berbahagia, tapi yang muncul adalah mempertanyakan, mempetentangkan dan bahkan, terpikir juga mungkin olehnya utk mencari-cari kesalahan agar “prestasi”, “rejeki” dan “keberuntungan” si teman tidak “sempurna”. Misalnya, ada rekan yang mendapatkan hadiah karena menang lomba penulisan, alih-alih ucapan “selamat ya, menang. Keren tuh, traktir dong” malah yang keluar justru ucapan “yang penting jangan sampai mengerjakan lomba di jam kerja tuh”. Kok jauh sekali ya pikirannya kesana. Sempat-sempatnya berpikir itu. Jangan-jangan semua karyawan yang maen-facebook di jam kerja juga kena semprot hihi..

Ironisnya, kadang seseorang yang kelihatan tingkat takwanya tinggi, apalagi sering kita perhatikan ikut pengajian, sholat dhuha terus dikantor dst akan tetapi dari perilaku dan kata-katanya kadang tidak menunjukkan tingkat pendidikannya. Sungguh memalukan kalau ada yang seperti itu. Biasanya, seseorang dengan mental ini selalu akan menyalahkan pihak lain apabila ada yang dirasa membuat citra dirinya yang “bersih”, “berdedikasi”, dan “penyambung lidah rakyat” terganggu, terlepas dari memang benar ditujukan ke dirinya atau hanya perasaan dia saja. Kambing hitam bisa jadi rekan kerja, bawahan, teman, bahkan situasi dan keadaan!

Ok, SMOS ini kadang akut. Dan perlu diberantas. Apa layak, kita sewot dengan rekan atau teman yang mendapatkan tender proyek, pekerjaan sampingan, bukannya berbahagia? Dan jikapun masalah proyek ni, antara teman dan orang yang kita tidak kenal itu nilainya sama, tentu sangat bahagia kita berikan ke teman sendiri. Asalkan memang tidak terlalu jauh penawarannya. Panduan dari Rasul sendiri mengatakan untuk jika membantu, bantulah orang yang paling terdekat.

Sekarang, marilah kita coba budaya apresiasi dan hilangkan SMOS. Hilangkan Budaya kritik berlebihan, dengan tanpa etika, prejudice dan mekanismenya tetap harus ada Reward dan Punishment secara proporsional dan seimbang. Majukan budaya apresiasi beretika, tidak harus penghargaan dengan berupa nilai uang, tapi juga nilai-nilai moral, etika, yang sejalan dengan nilai-nilai beragama. Jangan hanya hubungan vertikal (hablumminallah) tapi juga harus menjaga hubungan horisontal (hablumminannas). Wallahu’alam bisshowwab..

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...