Budaya Apresiasi dan Budaya “SMOS”

Posted on October 31, 2009. Filed under: Coretan Intelektual | Tags: , , , |

Seringkali saya mendengar di berbagai forum dan event diskusi untuk “saling selalu mengingatkan sesama muslim”, menegur apabila ada kesalahan, speak your mind, dan seterusnya. Namun himbauan yang baik ini kadang kurang proporsional manakala terjadi ketidak seimbangan, atau ketimpangan antara budaya kritik dengan budaya apresiasi.

Budaya apresiasi diawali adanya keseimbangan antara menegur dan mengkritik kesalahan dengan memberikan reward, pujian, insentif bahkan hanya dengan tepuk tangan dan ucapan selamat. Hal itu menunjukkan adanya penghargaan atas jerih payah orang lain, sekaligus memberikan nilai hubungan yang baik antar sesama. Kontras dengan itu, budaya Suka Melihat Orang Susah dan Susah Melihat Orang Senang (SMOS) sering melahirkan anak kandung iri hati, dengki, benci dan membuat orang lain tidak betah.

Saya sering perhatikan, sulit sekali masyarakat di forum-forum untuk sekedar bertepuk tangan atas prestasi seseorang. Ogah-ogahan dan kadang perlu dikomando baru deh tepuk tangan. Rasanya sulit sekali hanya claps your hand dan tersenyum. Berbeda di luar negeri, penghargaan bisa sampai dengan standing ovation yang lama.

Kalau ada kesalahan? Jangan ditanya. Sekecil apapun pasti diungkit. Diorek-orek, apalagi oleh seseorang yang “mr. Clean” alias merasa tidak punya salah apapun di dunia ini. Sifat seperti ini ditunjang juga dengan faktor SMOS, dimana apabila rekan atau seseorang kedapatan rejeki, bukan ucapan selamat dan turut berbahagia, tapi yang muncul adalah mempertanyakan, mempetentangkan dan bahkan, terpikir juga mungkin olehnya utk mencari-cari kesalahan agar “prestasi”, “rejeki” dan “keberuntungan” si teman tidak “sempurna”. Misalnya, ada rekan yang mendapatkan hadiah karena menang lomba penulisan, alih-alih ucapan “selamat ya, menang. Keren tuh, traktir dong” malah yang keluar justru ucapan “yang penting jangan sampai mengerjakan lomba di jam kerja tuh”. Kok jauh sekali ya pikirannya kesana. Sempat-sempatnya berpikir itu. Jangan-jangan semua karyawan yang maen-facebook di jam kerja juga kena semprot hihi..

Ironisnya, kadang seseorang yang kelihatan tingkat takwanya tinggi, apalagi sering kita perhatikan ikut pengajian, sholat dhuha terus dikantor dst akan tetapi dari perilaku dan kata-katanya kadang tidak menunjukkan tingkat pendidikannya. Sungguh memalukan kalau ada yang seperti itu. Biasanya, seseorang dengan mental ini selalu akan menyalahkan pihak lain apabila ada yang dirasa membuat citra dirinya yang “bersih”, “berdedikasi”, dan “penyambung lidah rakyat” terganggu, terlepas dari memang benar ditujukan ke dirinya atau hanya perasaan dia saja. Kambing hitam bisa jadi rekan kerja, bawahan, teman, bahkan situasi dan keadaan!

Ok, SMOS ini kadang akut. Dan perlu diberantas. Apa layak, kita sewot dengan rekan atau teman yang mendapatkan tender proyek, pekerjaan sampingan, bukannya berbahagia? Dan jikapun masalah proyek ni, antara teman dan orang yang kita tidak kenal itu nilainya sama, tentu sangat bahagia kita berikan ke teman sendiri. Asalkan memang tidak terlalu jauh penawarannya. Panduan dari Rasul sendiri mengatakan untuk jika membantu, bantulah orang yang paling terdekat.

Sekarang, marilah kita coba budaya apresiasi dan hilangkan SMOS. Hilangkan Budaya kritik berlebihan, dengan tanpa etika, prejudice dan mekanismenya tetap harus ada Reward dan Punishment secara proporsional dan seimbang. Majukan budaya apresiasi beretika, tidak harus penghargaan dengan berupa nilai uang, tapi juga nilai-nilai moral, etika, yang sejalan dengan nilai-nilai beragama. Jangan hanya hubungan vertikal (hablumminallah) tapi juga harus menjaga hubungan horisontal (hablumminannas). Wallahu’alam bisshowwab..

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Budaya Apresiasi dan Budaya “SMOS””

RSS Feed for The Unggul Center Comments RSS Feed

[…] di negeri ini, maka secara budaya, penghargaan HKI menjadi signifikan manakala terkait dengan budaya apresiasi ketimbang budaya “SMOS”. Memang walaupun terjadi perbedaan pemahaman antara pendukung Free & Open Source dengan yang […]


Where's The Comment Form?

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d bloggers like this: