Coretan Intelektual

Tipe Bis Lorena Seharusnya Walau Berbeda-Beda Tetap Eksekutif Jua

Posted on October 31, 2009. Filed under: Coretan Intelektual, The Public Services-power | Tags: , , , , |

Menyambung tulisan sebelumnya tentang lorena dimana ada tanggapan (saya tidak tahu orisinalitasnya apakah benar penumpang atau karyawan lorena yg menyamar) bahwa pelayanan Lorena baik-baik saja dan saya bahkan dikasihtau kalau level bis saya emang bukan executive dimana dijelaskan kalau LV itu lorena vip dan LE itulah yang eksekutif. Ini salah total kalau menganggap ada perbedaan kelas kalau yg eksekutif itu hanya LE. Bahkan kalau mau ditambahkan, ada juga tipe SE yang disebut lorena sebagai “Super Executive”.

Saudaraku, nama LV, LE dan SE itu hanya sebutan saja dan tidak menjadikannya berbeda dalam hal pelayanan. bedanya, ini langsung dari official Lorena sendiri yg memberikan keterangan hanya pada fasilitas KURSI. Untuk SE, seat 2-1 dan “lapang”, sedangkan LE itu seat 2-2 dengan jumlah kursi total lebih sedikit artinya lumayan lebih luas dibanding LV yang jadi agak sempit terutama bagian lutut sebab dengan seat yang lebih banyak. Itu hanya pembedaan administratif bukan kelas seperti yg ditulis oleh si “pelanggan lorena”. Busnya tetap tagline dan slogan serta ISO nya kalau ada pun merujuk ke kelas eksekutif. Lagipula, siapa sih yang memberikan standard KALAU yang NAMANYA VIP itu BUKAN EXECUTIVE? Apa sih VIP itu? Jawab sendiri dong hehe.. aya aya wae.. artinya ini memang ide lorena sendiri dengan standard dia sendiri.

Saya juga bukan tidak tau masalah LV dan LE ini. Mau tau ceritanya? Satu jam sebelumnya saya datang langsung ke loket Lorena di Palembang. Langsung tanya tiket eksekutif. Ada. Tapi tidak boleh Booking. Harus bayar langsung ditempat. harganya Rp 450rb. Tipenya LE. dan itu tdk pernah disebut2 oleh petugas CS kalau LE dan LV itu beda. (Belakangan saya tanya sendiri bedanya dan dijawab jumlah seatnya beda). Oke, saya masih ragu dan mengharapkan dapat tiket pesawat. ternyata setelah telepon sana dan telepon sini, kesana kemari naik mobil cari tiket tidak dapat pada hari itu ataupun besoknya karena Full book semua. mau tidak mau demi pulang ke bogor saya balik lagi ke loket SATU JAM kemudian. Olala, mereka bilang abis. kemudian telpon sana sini eh mereka bilang ada. bisnya berbeda, namun TIDAK PERNAH diberitahukan kalau itu bis ‘bukan eksekutif”. Harganya pun sama. Saya sendiri probing dan nanya, apakah sama aja bis yg saya keabisan dengan bis ini? dijawab SAMA SAJA. Beda jumlah kursinya. Gotcha! Anda yang sok tau nulis kalau LE dan LV itu berbeda kelas silakan tanya sendiri ke CS Lorena. Jangan soktau dengan menyimpulkan sendiri. Masalah judul KODE BIS itu ya terserah manajemen lorena dong..

So, intinya kekecewaan saya itu. Lalu harga bagaimana? SAMA SAJA. Tidak ada bedanya. ya itu tadi, CS menjelaskan hanya beda jumlah kursi saja kok pak.. dst. Karena biasa naik Lorena, ingat, saya sudah 10 tahun naik lorena, maka saya order tempat duduk yang paling agak longgar, yaitu 4 dan 5. Sekaligus tips bagi Anda yang belum tau hehe.. Cuma sayang, sudah penuh juga. tersisa kursi di bagian belakang tepat di depan pintu keluar dan toilet. Disitulah saya bayar tempat duduk saya dengan harga yang SAMA DENGAN HARGA TIPE LE. Lorena, harga updated terus.. kalau lebaran bisa 450rb dari 180rb normalnya.

Komplain saya ini tidak asal-asalan. mau tau? SATU HARI SESUDAH SAYA, ada komplain yang hampir sama. Judulnya pun hampir sama. Tidak percaya? Ini linknya KOMPLAIN LORENA PERSIS SAMA CUMA BEDA SATU HARI DENGAN SAYA

Si penulis surat pembaca tersebut malah keadaannya lebih parah. Selain harga lebih mahal, kalau Anda bilang LE itulah yang bagus, nah dia komplain justru untuk yang LE hehe.. Anda mau bilang apa lagi? Inilah Lorena. Pelayanan kelas ekonomi utk Bus Eksekutif.

FYI, saya tidak asal tulis di blog. Tulisan komplain tersebut sudah nangkring di vivanews.com dan beberapa koran bahkan koran Radar Bogor yang notabene tempat “markas” Lorena selama ini.

Mohon diperhatikan lagi motto, slogan, tagline, jenis layanan, ISO, SOP, Kurikulum atau apapun namanya tentu jelas tipe layanan Lorena harusnya “Eksekutif”. Buat bapak yang “menegur” tulisan saya, PAK, Ini tipe layanan, BUKAN tipe kode Bis. Agar tidak bingung dan diperdaya oleh kode bis Lorena yang pakai LV dan LE yang berbeda kode tetap eksekutif jua. namun.. seperti komplain saya dan mungkin banyak orang, pelayanan ekonomi.

Sampai saat ini, kalau orangtua saya kecapekan dan malas naik pesawat, masih kok sesekali pake Lorena. Cuma selalu berdoa berharap bisnya bagus dan pelayanan di bis itu bagus. Karena tidak banyak pilihan lain di ranah bis eksekutif utk ke palembang. Betul kan? Jadi saran kritik dan komplain jadikan pemicu, atau lambat laun lorena akan disalip perusahaan bis eksekutif lainnya.

Ohya, tulisan saya ini memang “kasuistik”. Faktanya itu terjadi pada saya. Cuma mungkin beberapa persen dari layanan lorena yang mungkin 90% nya baik. Atau standard. Cuma kalau sopir (bisa jadi ini sopir geblek dst) tidak ditegur atau didisiplinkan ya begini ini. Informasi lagi, barusan saya antar ortu naik Lorena dan benar-benar saya perhatikan. Ternyata, rata-rata memang bis berkualitas bagus, dilihat dari fisiknya saja bagus banget itu memang bis-bis ke Jawa Bali. Misal ke Blitar yang saya lihat sendiri keren banget bis nya. Jadi saran saya berbeda-beda bis boleh, tapi PELAYANAN jangan dibedakan dan kalau itu oknum, silakan DIUSUT sampai tuntas. Saya percaya manajemen Lorena tidak akan membiarkan dua atau tiga komplain seperti saya, walau se-sedikitpun persentase komplain. Itu kalau memang Lorena berwawasan maju dan kedepan. Tidak “keenakan” karena ranah bis eksekutif masih dipegang oleh mereka.

Jadi, itu fakta. Demikian semoga menjadi perbaikan.

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( 28 so far )

Budaya Apresiasi dan Budaya “SMOS”

Posted on October 31, 2009. Filed under: Coretan Intelektual | Tags: , , , |

Seringkali saya mendengar di berbagai forum dan event diskusi untuk “saling selalu mengingatkan sesama muslim”, menegur apabila ada kesalahan, speak your mind, dan seterusnya. Namun himbauan yang baik ini kadang kurang proporsional manakala terjadi ketidak seimbangan, atau ketimpangan antara budaya kritik dengan budaya apresiasi.

Budaya apresiasi diawali adanya keseimbangan antara menegur dan mengkritik kesalahan dengan memberikan reward, pujian, insentif bahkan hanya dengan tepuk tangan dan ucapan selamat. Hal itu menunjukkan adanya penghargaan atas jerih payah orang lain, sekaligus memberikan nilai hubungan yang baik antar sesama. Kontras dengan itu, budaya Suka Melihat Orang Susah dan Susah Melihat Orang Senang (SMOS) sering melahirkan anak kandung iri hati, dengki, benci dan membuat orang lain tidak betah.

Saya sering perhatikan, sulit sekali masyarakat di forum-forum untuk sekedar bertepuk tangan atas prestasi seseorang. Ogah-ogahan dan kadang perlu dikomando baru deh tepuk tangan. Rasanya sulit sekali hanya claps your hand dan tersenyum. Berbeda di luar negeri, penghargaan bisa sampai dengan standing ovation yang lama.

Kalau ada kesalahan? Jangan ditanya. Sekecil apapun pasti diungkit. Diorek-orek, apalagi oleh seseorang yang “mr. Clean” alias merasa tidak punya salah apapun di dunia ini. Sifat seperti ini ditunjang juga dengan faktor SMOS, dimana apabila rekan atau seseorang kedapatan rejeki, bukan ucapan selamat dan turut berbahagia, tapi yang muncul adalah mempertanyakan, mempetentangkan dan bahkan, terpikir juga mungkin olehnya utk mencari-cari kesalahan agar “prestasi”, “rejeki” dan “keberuntungan” si teman tidak “sempurna”. Misalnya, ada rekan yang mendapatkan hadiah karena menang lomba penulisan, alih-alih ucapan “selamat ya, menang. Keren tuh, traktir dong” malah yang keluar justru ucapan “yang penting jangan sampai mengerjakan lomba di jam kerja tuh”. Kok jauh sekali ya pikirannya kesana. Sempat-sempatnya berpikir itu. Jangan-jangan semua karyawan yang maen-facebook di jam kerja juga kena semprot hihi..

Ironisnya, kadang seseorang yang kelihatan tingkat takwanya tinggi, apalagi sering kita perhatikan ikut pengajian, sholat dhuha terus dikantor dst akan tetapi dari perilaku dan kata-katanya kadang tidak menunjukkan tingkat pendidikannya. Sungguh memalukan kalau ada yang seperti itu. Biasanya, seseorang dengan mental ini selalu akan menyalahkan pihak lain apabila ada yang dirasa membuat citra dirinya yang “bersih”, “berdedikasi”, dan “penyambung lidah rakyat” terganggu, terlepas dari memang benar ditujukan ke dirinya atau hanya perasaan dia saja. Kambing hitam bisa jadi rekan kerja, bawahan, teman, bahkan situasi dan keadaan!

Ok, SMOS ini kadang akut. Dan perlu diberantas. Apa layak, kita sewot dengan rekan atau teman yang mendapatkan tender proyek, pekerjaan sampingan, bukannya berbahagia? Dan jikapun masalah proyek ni, antara teman dan orang yang kita tidak kenal itu nilainya sama, tentu sangat bahagia kita berikan ke teman sendiri. Asalkan memang tidak terlalu jauh penawarannya. Panduan dari Rasul sendiri mengatakan untuk jika membantu, bantulah orang yang paling terdekat.

Sekarang, marilah kita coba budaya apresiasi dan hilangkan SMOS. Hilangkan Budaya kritik berlebihan, dengan tanpa etika, prejudice dan mekanismenya tetap harus ada Reward dan Punishment secara proporsional dan seimbang. Majukan budaya apresiasi beretika, tidak harus penghargaan dengan berupa nilai uang, tapi juga nilai-nilai moral, etika, yang sejalan dengan nilai-nilai beragama. Jangan hanya hubungan vertikal (hablumminallah) tapi juga harus menjaga hubungan horisontal (hablumminannas). Wallahu’alam bisshowwab..

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Bus Lorena : Bis Berjudul Eksekutif.. Kok perilaku Kelas Ekonomi!

Posted on September 29, 2009. Filed under: Coretan Intelektual, The Public Services-power, The Techno-power |

Sudah lama kami sekeluarga berlangganan PO Bus Lorena Bogor-Palembang PP hampir lima tahun rutin. Tapi itu 10 tahun yang lalu, dan kami memang sudah berganti ke Pesawat yang tarifnya saat ini lebih kompetitif. Setelah lama tdk naik bis ini, akhirnya dikarenakan fullnya tiket pesawat arus balik, maka kami berkesempatan menggunakan jasa Lorena, walaupun tarifnya sangat mahal diatas harga pesawat rata-rata palembang-jakarta namun hanya via itu saya dapat tepat waktu sekeluarga kembali ke rumah di bogor. Pada tanggal 27 September 2009 dengan kode LV 121 tujuan Jakarta/Bogor berangkat dijadwalkan pukul 13.30 WIB.

Namun ternyata, kualitas Lorena bukannya membaik tapi justru semakin buruk. Bisa dibilang tidak beda dengan bis AKAP yang bisa kita stop di jalan dan terminal. Jauh dari kesan Bus “Eksekutif”.
Hal-hal berikut yang saya catat :
1.AC tidak dingin. Bahkan awak bus mengakui AC mati-hidup. Di Pool di palembang, pemberangkatan tertunda (as always) dikarenakan ada penumpang yg telat. Sementara menunggu, lebih dari sparuh penumpang sudah keringatan, megap-megap dan berkipas-kipas dengan koran, majalah dan media lainnya.
2.Berangkat telat. Ini masih sama seperti 10 tahun lalu.
3.Tidak Ada Snack. Mungkin dengan biaya supermahal, masih tidak cukup untuk beli snack bagi penumpang, yang bahkan pesawat low class carrier yang tarifnya dibawah Lorena saja masih menyediakan air kemasan cup bagi penumpangnya.
4.Di Terminal Karya Jaya (10 tahun lalu masuknya langsung ke Jl Kol Atmo, tidak diterminal tsb) pedagang naik Bus dan menjajakan dagangannya. 10 tahun yang lalu, saya ingat, kenek sampai ngomong dengan lantang “Pak, Ini LORENA, bukan Bis Sembarangan!” sewaktu penjaja ngotot masuk ke Bis..
5.Semakin parah dengan WC yang Bau minta ampun disebabkan tidak adanya air untuk fasilitas membersihkan setelah pipis. Terpaksa selama perjalanan, saya dan beberapa penumpang lain berkorban menyiram dengan air minum yg kami bawa. Sebagian penumpang lain memang banyak juga yang tidak menyiram sehingga aroma makin bau. Kami yang duduk di belakang sempat bertanya mengenai pengharum, tapi dijawab “Tidak ada, biasanya yang ada itu BIS dari BOGOR”. Ha? Beda toh.. 10 tahun lalu kenek menyemprot pengharum ruangan apabila malam atau sore di atas dan di dekat karpet. Serta di dalam WC selain air banyak, juga ada pengharum WC.
6.Di perjalananan, tepatnya di JL Proklamator, Bandar Jaya, Lampung, Sopir MENAIKKAN Penumpang perempuan. Kurang lebih 3 menit sepertinya negosiasi harga dst. Setau saya, 10 tahun yang lalu DILARANG menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan.
7.Di Kapal, Kami semua DISURUH turun dan naik ke galangan sebab Bis katanya AC mau dimatiin dan Lampu dipadamkan. Yang lucu, tepat di sebelah kiri ada Bus Lorena juga dan kondisinya Lampu menyala, AC di hidupkan dan Video dinyalakan. 10 tahun yang lalu sih memang seperti itu. Sewaktu saya bilang, istri saya HAMIL BESAR dan mau stay di Bus, kenek dan sopir bilang “terserah kalau mau kepanasan”. Saya akhirnya turun, melewati bis-bis dan bau asap yang menyengat dan sampai juga di pinggir utk naik tangga ke atas. Melihat undak-undak tangga ke atas kapal yang sangat banyak, istri saya tidak sanggup dan memilih kembali ke Bus apapun resikonya. Kami akhirnya masuk kembali ke Bus dan AC dimatikan. Sempat dihidupkan sebentar oleh awak. Sungguh tidak berpri kemanusiaan! Untuk bukti, saya sudah mengambil foto bus Lorena di sebelah kiri yang penumpangnya nyaman tidur di Bis tidak perlu DIUSIR dan dimatikan AC nya.
8.Pada perjalanan antara Jakarta Bogor, setelah menurunkan penumpang jakarta di pool di Kampung Rambutan dan Lebak Bulus, tingkah awak Bus makin menunjukkan “kelas”nya. Dihadapan penumpang yang ada anak kecil, perempuan, muslimah, dst awak menyetel Video Goyang Dangdut Erotis!
9.Sambil dangdutan pornoaksi tersebut, si Sopir juga MEROKOK di dalam Bis yang Full AC. Tidak lupa geleng2 kepala menikmati musik.. 10 tahun lalu, saya mendengarkan alunan musik instrumental bila malam, film berkualitas Hollywood dan musik-musik ngetop. Paling tidak, musik Sunda ketika bis bergerak keluar dari Kota Bogor.. Saat ini, memang televisi sudah LCD Flat, audio-video system udah keren tapi yang ditampilkan jauh dari eksekutif, malah kelas bawah.. Bahkan kelas bawah pun saya rasa berpikir 1000 kali untuk menyetel video erotis! Berani taruhan?

Sembilan poin diatas cukup bagi saya untuk mengatakan tepat sekali jika Lorena di tinggalkan oleh Pelanggan-pelanggannya. Bukan karena armada lain yang lebih kompetitif saja, namun juga Lorena yang tarif EKSEKUTIF layanan tidak lebih baik dari Bus yang melayani rute kampung ke kampung. Sorry to Say tapi itu kenyataan. Silakan Otoritas Lorena cross-check, saya punya bukti foto maupun keterangan saksi mata yang cukup banyak, walau mungkin cuma saya yang berani pasang badan untuk kebobrokan layanan ini. Kalau saya turun di Pool, sudah saya niatkan untuk langsung ketemu manajer Lorena, tapi saya turun tidak di pool Bogor sehingga komplain mau tidak mau saya sampaikan denganc ara ini. Manajemen Lorena, Anda juga punya hak jawab di media ini dan saya dengan lapang hati hanya menuliskan “Perbandingan Kualitas” antara Lorena dulu dan sekarang. Tidak ada tuduhan pencemaran nama baik, dan tidak ada tendensius terkecuali pengalaman saya pribadi.

Unggul Sagena
Penumpang Bus Lorena Palembang-Bogor (via Jakarta) No LV 121 tanggal 27 September 2009.

Update :
Agar tidak salah kaprah seperti bapak Welly yang berkomentar dibawah, maka saya tulis lagi cerita mengenai Lorena ini DISINI. silakan dinikmati dan diambil hikmahnya.

Read Full Post | Make a Comment ( 80 so far )

Film Merantau vs Ong Bak : Antara Kurang Riset, Terinspirasi atau Plagiat

Posted on August 24, 2009. Filed under: Coretan Intelektual |

Gw penasaran banget sama Film satu ini yang dari trailer maupun dari berbagai komentar katanya A Must See Movie. Ternyata setelah gw tonton .. over rated kalau gw bilang sih.

Langsung aja kritik, saran, tanggapan dan PENDAPAT pribadi gw, dalam bentuk pointers biar gampang mencerca eh salah mencernanya..

1.Merantau. Apa sih merantau? Ya itu tradisi masyarakat minang. Walaupun dibanyak daerah pun lazim terjadi demikian, tapi istilah populer ini memang milik Suku bangsa Minang (atau sebut saja orang Padang). Apa yang dilakukan oleh orang yang merantau? Cari Nafkah di negeri orang. Cari Surau untuk bermalam (Surau adalah Mushola) atau mencari sanak saudara. Banyak dong orang padang dinegeri antah berantah manapun. Kekeluargaan ini kuat, walau biasanya lebih kuat lagi pada subsuku misalnya orang padang, orang bukittinggi dst itu berbeda-beda.
Yang Kita Lihat di Film :
Sama saja dengan film-film jadul tentang silat yang si murid turun gunung setelah merasa cukup bekal dari sang Guru di Puncak Gunung di Sebuah perguruan. Jauh pabila ngomongin merantau dengan turun gunung. Hal yang berbeda.

2.Datang ke Kota, Langsung lah si Yuda (Tokoh utama) tidur digelondongan semen yang biasanya untuk dipasang di got/gorong2/terowongan besar didalam tanah. Kalau bingung, ingat-ingat aja di Lapangannya Film Doraemon, Biasanya Giant dan Suneo suka nongkrong diatas pipa besar itu. Si Yuda tidurlah disana.
Yang Kita Lihat di Film :
Tau-tau melek eh sudah siang.. dan aktivitas para pekerja di bawah sudah aktif. Gak mungkinlah tidur disitu nyenyak banget. Sekali-kali pastilah bangun. Ini bangunnya sudah siang lagi.. Terus pas turun, masak orang2 proyek tersebut CUEK BEBEK ada orang yg tidur diatas sana. Gak mungkinlah. Ketiga, Si Yuda besoknya masih ditempat yang sama dan lebih enak lagi nih, dia ninggalin tas nya disana. Udah kayak kost-kostan kali yach. Faktanya, tidak ada orang yang seteledor itu menganggap oh gw tiap malam tidur disini aja ah.. tas tinggalin aja. Siapa tau besoknya, tuh tempat dia tidur udah dibongkar oleh para pekerja. Itu sangat sangat bisa terjadi. La wong itu proyek pembangunan.

3.Kenapa harus tidur disitu sih?
Perlihatkan lah tradisi merantau itu seperti apa. Ngga cuma comot istilah aja dari kata merantau. Tidur dimana kek, Mushola, sholat kek. 🙂 Cari rumah makan padang en numpangnginep dirumah pemiliknya kek. Itu realistis. Gw pikir di awal dia bakal 1 malam aja tidur digelondongan itu eh sampe cerita tamat masih disana aja kost-kostannya.

4.Kalau serius ngegarap Budaya lokal, Indonesia, tentu tdk bisa dipisahkan dari Islam itu sendiri, sebab di Minang, Adat basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Jika di Ong Bak nuansa Budhisme Sangat Kental Sekali, termasuk “pertolongan terakhir” dari sang Budha, maka kebalikan di Merantau, nggak ada unsur2 yang agak-agak religi dan vertikal. Film ini jelas jauh dari adat budaya merantau itu sendiri. Ya, merantau cuma polesan saja. Padahal saya menebak, apabila di Ongbak latarbelakangnya Budha (membawa pulang patung budha) maka di merantau tentu ada hubungan dengan Islam dan budaya islam di minangkabau. Minimal nilai-nilai religius yang musti ditampilkan. Sebab, Ong Bak bisa dikategorikan sebagai “Film Dakwah” lalu merantau? Yang ada hanya sumpah serapah, bar-bar, cewek dan yach.. See it yourself lah..

5.Yuk, makan Sate Padang.. si Yuda langsung pesan sate padang ke penjual Sate MADURA. Jelas-jelas sate madura. Kedua, emangnya di padang ada sate padang? Hehe.. Di Padang itu nggak dikenal sate padang ama rumah makan padang loh.

6.Anu.. Saya dari Perguruan harimau.. Yuda mengajari anak kecil (Adit, tokoh utama juga) mengenai cakar harimau. Tapi di pertarungan belakangan, kurang sekali penggunaan itu. Yang gw bilang lebih banyak Thai Boxing ama Kungfu asal lempar barang ala Jackie Chan. Harusnya sih dijelasin juga perguruan ini apa dan bagaimana.. biar lebih kerasa unsur “merantau” dan “pencak silat” tradisionalnya.

7.Saatnya.. Menolong!
Yach.. Sudah puluhan film kali.. yang menceritakan bahwa ketemu Pencopet Kecil, ditangkap ternyata punya kakak cewek yg cakep, or ibu yang sakit bla bla.. dan di merantau, plot yang sama terjadi. Standard.

8.Wuih Jalan-jalan ke Vegas bow..
Walau settingnya kota metropolitan, tetep aja Lampu neonbox siluet Cewek bahenol muncul di jalanan (luar) itu tidak ada di jakarta. Warna warni klub malam bow.. kalau di dalam sih banyak ya, di Mangga Besar juga banyak hihi tapi di pinggir jalan ngasih tau eh ini Bar loh, silakan para pulisi dateng cek.. gw buka siang malem. Over deh vegasnya or macau or apa lah city of gambling lainnya. Gw ga liat jakarta deh di film itu kecuali pas adegan di lampu merah, naik jembatan penyeberangan or pas di Rumah Susun.

9.Cuih cuih.. Anj***, Ta***
Astri, kebanyakan ngomong gitu ah loe. Oke emang lebih baik diseret sambil sumpah serapah ya daripada kabur pas beberapa kali tu orang2 nggak megangin badan lu. Lu mau ya?

10.Oy, Ni ada Nih DUA orang dibawah!
Siapa Elo?? Ada ibu2 di Lantai dua neriakin agar penjahat ngeliat Adit dan Astri dibawah lagi sembunyi. Lantang banget, ga ada ragu! Kecuali dijelaskan di ya.. mungkin awal2 film kalau Astri dan Adit (kakak adek) itu dimusuhin ama yang teriak, biasanya sih orang cuek lah. Lagipula, kok ngasih tau ke Dua orang penjahat dengan tampang seram dan badan kekar (walau ga tau kalo itu penjahat) bahwa si Astri dan Adit lagi sembunyi dibawah. Satunya cewek, Satunya anak kecil. Pasti naluri
orang akan melihat merekalah korban. Atau, yang gw bilang tadi. Cuek aja babeh.. biarin urusan orang. Ntu Faktanya.

11.Hello Brother.. Kok kita logatnya beda yach..
Kakak Adik bule, kok yang adik logat inggrisnya rada kaku dibanding abangnya. Hm.. ada dua kemungkinan. Pertama aktingnya emang jelek, atau kedua, emang dua orang itu bukan orang inggris atau amrik. Gw ga tau, tapi dari namanya seeh perancis perancis gitu deh.. but, klo gw jadi sutradara, ya cari yang bahasanya sama deh. Kecuali dikasih flashback or apa klo mereka beda ortu or pernah pisah jauh dst.

12.Hmm Enak banget kecapnya!
Darah dimana-mana.. Saos ABC dimana-mana. Kadang2 kayak keceprot Buah Manggis. Warnanya Ungu. No comment deh, bagian ini siapa yg bertanggungjawab ya? Katro banget.

13.Mukaku! Awas ya..
Yup. Hebat banget si bule yang Abang. Mukanya udah ketancep beling dan gelas ampe ancur tapi no expression. Wuih syerem tuh pastinya.

14.Butuh Lima Gadis. Harus itu..
Ya, langsung aja pakein baju en suruh nari striptease di tiang, Abis tu cicip dikit ah. Oya nyang peran utama aja (Astri) biar seru. Gw liat agak2 dramatisasi disini. Human trafikking? Ambil cewek2 kumpulin, periksa (kayak di film udah bener tuh) trus masukkin ke box container. Beres. Yach mirip-mirip film transporter lah. Langsung aja.

15.Tolong.. Kalung ini kasih ke Emak ku.
Oke, gak masalah. Tapi kapan ya loe kasih tau alamat loe? Ada di tas yach? Kan kita baru ketemu beberapa hari. Masa sih ada orang yang nulis alamat sendiri di dalam sebuah buku ditas (itupun kalau ada di dalam tas).

16.Haiyaa.. gw serem
Serem apa IDIOT sih. Ketauan banget pas di sebuah ajang pertarungan bayaran (emang ada ya di Indonesia?) itu orang modal tampang doang. Badan kurus, ga proporsional pala gede. Pantes aja bisa dilumpuhin dengan gampang oleh Uda nya si Yuda (yg belakangan jadi musuhnya. Klasik..)

17.Gw bayar, kalau Menang gw dapat duit gw lagi. Kalau kalah ya abis.. duit abis badan babak belur.
Emang ada ya yang gitu? Bukan winner takes all hihi..

18.Di Ongbak—dan dibanyak film lain itu ada bet taruhan dan perkelahian jalanan yang disorak-soraki banyak orang yng bertaruh juga. Mo niru nih tapi biar indonesia banget, ga ada orang2 yang bet yach. Sekalian aja ngga usah deh. La wong yg kayak gitu nggak ada tradisinya di kita. Ketauan deh yang bikin film bukan orang indonesia.

19.Efektif dan Efisien.
Kuda-kuda firm, pukulan straight, ya di awal2 kalau loe nonton ongbak ya ongbak banget ni film. Mana bajunya pun sama hehe..

20.Pukulan sekaligus tendangan lutut. Wuih bagi yang nonton ongbak, atau minimal waktu kecil pernah mainini game Street Fighter dan maeinin karakter SAGAT pasti hafal. Dan itu ada loh di merantau. Pas banget.

21.Di Lift, ada juga yang si Yuda naik ke punggung musuhnya. Kalau di ongbak sih, karena basic nya Thai Boxing, pasti deh tu kepala di sikut abis. Tapi biar jadi silat, ya ngga usah disikut, dipukul ajah..

22.Adegan Silat.. Hmm.. silat itu kan lebih indah, kepalan terbuka, ada unsur gerak seperti tarinya. Harusnya beda banget dengan Thai boxing. Tapi ini dari beberapa adegan berantem, yang Silat sepertinya pas di terakhir aja. Di Bar, di Gang di atas jembatan itu masih kerasa banget kayak nontong Ongbak. Mana bajunya ampir sama hehe.. Mungkin sutradara sangat sangat terinspirasi ong bak. Ya wajar saja, sebab sebagian besar aktor di belakang film ini bukan orang indonesia kok. Bisa saja dia menyamakan beladiri Asia dimirip-miripkan. Itu tuntutan bisnis lah biar laku kayak ongbak deh..

23.Wah ada yang buka kontainer nih.. kesempatan kaburr
Tu cewek2 masak cuma pergi aja tanpa ba bi bu. Ini kan di Indonesia, harusnya belajar sosial budaya dan psikologis kalau biasanya kayak gini nih, kita akan minimal say thanks.

24.Tolongg…
Lirih banget si Astri kok bisa kedengaran dari luar ama si Yuda ya. Kurang kenceng tuh!

25.Tokoh utama mati. Polisi nggak datang. Abis perkara. Ini di pelabuhan dimana ya.. Gapapa kali ya biasanya sih kan kalau udah gaduh gitu ada pulisi dateng nguing nguing nguing eh ini nggak ada. Ya sekali-kali deh kayak gini kali ya.

26.Aktingnya yang bagus cuma Christine Hakim. Yang lain kayak sinetron aja kurang ekspresif. Ya paling pas nangis2 waktu Yudah dead itu cukuplah kalau untuk nangisnya.

27.Ongbak? Ya definitely. Dari persentase adegan berantemnya, plot ceritanya, pakaiannya dan makeup, tampang pemainnya, Bahkan rambut ceweknya pun pendek kayak Ong bak, adegan-adegan di bar dan di klub, adegan di pertarungan jalanan. Kesimpulannya 60% adalah Ong Bak, 10% gw bilang ala Jackie Chan Kungfu Movies, baru 20% sisanya adalah imajinasi dan kreasi pembuat film, 10% baru indonesia. Yaitu Tempat kejadian dan Judul Film.

Yang Bagusnya ada juga sih :
1.Berantem di Lift. Walaupun dengan darah yang katro gitu, tapi ini cukup orisinil. Apalagi dengan mencet tombol stop (musuh) dan mencet tombol lantai (yuda). Akhirnya juga ditembak dan si Yuda diselamatkan dengan didorong ke dinding. Hmm gw sangat apreciate dengan ide ini.

2.Broomm// dikejar motor!
Ini juga bagus. Mengapa, sebab biasanya penonton tebak akan ada adegan loncat tendang mengakhiri pengejaran atau yang dikejar akan cari motor juga. Tapi ini baru mau loncat eh sudah kena tusuk. Caranya gimana? Dengan terengah2 hampir tidak sampai, bisa juga nyomot handuk dari orang diujung gang dan langsung diregangkan biar si pengendara motor jatuh. Cukup orisinal!

3.Dua orang bule adek kakak itu bagus, membuat penonton menantikan tag team mereka melawan tokoh utama (Yuda). Tapi karena ada drama sedikit, kalau si Adek itu nurut banget sama Abangnya yang emosional, harusnya si Adek itu lebih jago ya.. Biasanya kan gitu, yg lebih jago tapi disiplin dan kepatuhannya luar biasa. Adegan berantemnya sendiri cukup oke dan bagus. Mengeroyok secara tag team dan terakhir pun matinya si Adek cukup bagus scenenya. Di panggil2 ga nyaut baru ketauan ketusuk.

4.Alex Abbad cukup oke mainin peran. Termasuk gaya bahasa inggris yang lokal banget padahal setau gw dia jago banget bahasa inggris.

5.Satu pukulan bro!
Gw udah tebak, Uda nya Yuda pasti ngelumpuhin 1 straight. Ke si songong yang sok menang banyak di pertarungan. Cuma boleh juga sih pukulan2 di beberapa titik langsung bikin dia ambruk tanpa balas.

Ohya, sebelum ada yang marah-marah, ini ada Disclaimer deh. Ini opini pribadi gw yang kebetulan udah nonton ongbak. Gw netral, tidak menyanjung2 dikarenakan “film tradisi indonesia”, “film terobosan” dibelantara film2 setan selangkangan yg marak beredar. Itu ada betulnya, tapi liat dulu ini film apa dibuat siapa dan seterusnya. Pendekatan heroisme kurang begitu penting kalau menurut gw. Aspek kesempurnaan sebuah film dikarenakan dia adalah sebuah masterpiece dari pembuatnya, itu yang penting. Masalah genre itu adalah itung2an timing dan itung2an pemasaran yang tepat saja. Bisnis.

Gw juga bukan orang beladiri silat ataupun Thai boxing. Cuma penikmat Film action saja. Kecewa, ada lah tapi nggak dalem banget. Bangga, ya nggak juga. La wong kalau Anda jeli, yang bikin film nama-namanya ga familiar di kuping gw. Yup, bukan orang indonesia brur..

IMO (In My Opinion) Gw pikir riset si pembuat film ini kurang lama dan kurang mendalam kali ya. Cenderung menggeneralisir. Beladiri ASIA TENGGARA disama-samain. Jadi unsur asumsi bahwa Pencak Silat, Thai Boxing, bahkan beladiri di India ataupun Philipina (Kali, Escrima) dianggap serupa. Ya, itu sih Kalau ngga mau dibilang plagiat OngBak. Karena musti diakuin, gw berani bertaruh, kalau gw berhasil mewawancarai dan heart to heart sama produser n sutradara, pasti deh dia bilang udah nonton Ong Bak sebelumnya. 🙂 Terinspirasi? Bisa jadi. Inspirasinya sangat kental? Sangat bisa juga terjadi.

Anyway worth atau nggak nya loe nonton film ini, terserah loe aja. Saran gw, biar ga terlalu kecewa, mending bagi yang nonton MERANTAU jangan nonton ONGBAK, dan yang nonton ONG BAK jangan nonton MERANTAU hihi…

CMIIW (Correct Me If I am Wrong)..

Tambahan Informasi, ini dari sebuah milis.. Semoga berguna :

Title: Re: Merantau
Post by: vyp3R on August 10, 2009, 11:48:57 PM

Just for info, ada bbrp Atlit Silat Indonesia yang mengaku kecewa dengan film ini.
Di poster & banner disebutkan, bahwa ini “Film Silat Pertama di Indonesia”
Tetapi, menurut para atlit tersebut, film ini lebih menonjolkan freestyle fighting.
Mereka enggak merasa unsur silatnya kental.

Diambil contoh, Jackie Chan aja, biarpun brantemnya lucu, tapi tetep ada unsur kung-funya. Begitupula dengan Jet-Li. Biarpun massive battle, tetep aja ada kung-funya.

Cuma sekedar infoo lhooo.hehehe.

Title: Re: Merantau
Post by: *Ikari Yamato* on August 20, 2009, 01:45:13 AM

yg udh nonton ni film gmn ratingnya?? wa mo nonton ragu2 neh coz tu film kan bner2 niru filmnya Tony Jaa yg Ong Bak. bkn cm gaya ngambil gambarnya, tokohnya pun dicari yg mirip & bbrp critanya ad yg ampir sama (sepintas liat trailer)

Title: Re: Merantau
Post by: Squall Leonhart on August 11, 2009, 04:41:24 PM

kalo dr info yg gua dapet
ini sutradaranya bukan = sutradara ong bak
tapi justru dari awal sutradaranya ini pengen film ini ngalahin film ong bak

dan bener kata vyp3R
udah banyak komen dr orang² yg ngerti Pencak Silat, dan semuanya kecewa
film ini cuma ngambil sedikit banget unsur Pencak Silat itu sendiri
sisanya 90% film ini lebih mengarah ke freestyle fighting
padahal yg semestinya ditonjolkan kan gerakan² khas dr Pencak Silat itu sendiri

bahkan se-freestyle²na Jet Li ato Jackie Chan dll,
mereka kan tetep keliatan kalo mereka itu pake Kung Fu

seharusna lebih kental dan real lagi unsur Pencak Silatnya
biar sekaligus mempromosikan seni beladiri asli Indonesia

 🙂 🙂 🙂 🙂 🙂

Ini juga reviewer di internet, Hasto Suprayogomengatakan kalau:
“Aksi dalam Merantau lebih mirip film Hongkong dibandingkan film-film laga Indonesia yang ada selama ini. Meski berbasis Pencak Silat, namun penonton akan sulit membedakan aksi Yuda dalam menghajar lawan-lawannya dengan gaya jagoan kung-fu atau karate. Bahkan, bagi Anda yang pernah menyaksikan film Ong Bak asal Thailand, Anda akan temukan banyak kemiripan gaya di sana.
Adegan pertarungan di jembatan busway, pengejaran di area konstruksi, juga kejar-kejaran di atap gedung serta pertarungan di atas container adalah beberapa contoh adegan yang mirip dengan adegan dalam film Ong Bak. Tak jelas apakah memang hal ini disengaja atau kebetulan semata.
Juga adegan saat Yuda musti menghindari tendangan beruntun dari lawan-lawannya dengan posisi terbalik dengan tangan bertumpuan pada sofa, amat mirip dengan gaya bertarung dalam film-film Jackie Chan.”

Read Full Post | Make a Comment ( 9 so far )

Jurnalis Merusak Bahasa Indonesia?

Posted on July 28, 2009. Filed under: Coretan Intelektual | Tags: , , , , , , , |

Aneh ya, bukannya jurnalis, entah reporter, wartawan koran maupun pembawa berita, yang seharusnya mewartakan bahasa indonesia yang “baik dan benar”, karena tentu ditonton, dibaca, dan dijadikan referensi banyak pemirsa dan pembaca.

Tapi memang, kenyataannya saya seringkali melihat ada dua hal keteledoran, entah disengaja atau tidak. Pertama, masalah penggunaan bahasa yang salah dan berulang-ulang. Contoh, ditelevisi, bukan sekali dua kali kata-kata PASCA disebut dengan PASKA. Padahal jelas sekali kalau Pasca itu adalah BUKAN bahasa inggris loh. Jadi buat apa Pasca itu dibaca jadi Paska hehe.. Ada juga Pasca itu bahasa inggrisnya Post. Saya seringkali didebat kalau pasca itu bahasa inggris padahal la wong di londo sono aja orang bule ga pernah sebut2 kata pasca (dengan spell-nya Paska). Lalu contoh lagi, Akutansi. Jelas sekali, pengalihbahasaan ini berasal dari Accounting. Baca, ada huruf N disana. Eh, kita, terutama pembawa berita, penulis, pembawa acara, MC acara formal, bahkan Mahasiswa Akuntansi sendiri menyebut Akutansi. Kalau Aku Tansi, lalu kamu Apa? hehe.. Sayang sekali, bahkan waktu menghadiri wisuda rekan sejawat di UI beberapa tahun lalu, jelas sekali Anouncer (MC) di acara wisuda yang formal dan dihadiri rekrtor dan guru besar, memanggil para wisudawan jurusan Akuntansi FE UI dengan Sebutan ” Si A… dengan IPK .. dari AKUTANSI…” dan itu berulang2 loh.. sebanyak semua wisudawan dari jurusan tersebut. Duh.. padahal ada Fakultas Ilmu Budaya juga loh di UI..

Kedua, kalimat dan istilah2 baru. Dulu sekali, saya sudah aneh waktu diperkenalkan istilah Dagang Sapi oleh Eep di sebuah media elektronik (dulu Eep baru naik daun sebagai Pengamat Politik yg cerdas). Dan memang, itu ternyata istilah dari ilmu politik yg dibawa dari belahan barat yg memang sedang hangat. Dan diindonesiakan lah. Abis itu, di berbagai media, istilah dagang sapi sering muncul. Kemudian dari sejak SD saya mendengar istilah tanpa “pandang bulu” artinya tidak pilih kasih. Nah, pas lulus kuliah, sekarang istilah baru muncul, yaitu “tebang pilih”. SEMUA media memakai istilah ini dan hilanglah istilah pandang bulu hehe.. entah disengaja atau tidak, tapi ini munculnya dari media cetak maupun elektronik. Contoh ketiga adalah CARUT MARUT. Apa itu? coreng, corat coret ga karuan mungkin artinya ya.. Oke, carut marut menjadi istilah populer dan selalu dihubungkan dengan kondisi bangsa ini pasca reformasi. Nah, yang aneh lagi, beberapa bulan (tahun?) belakangan ini, ada lagi yang sebut KARUT MARUT. Halah.. apa karena carut itu bahasa inggris lalu di-indonesiakan? hehe.. ini sama dengan Pasca dan paska deh..

Contoh terakhir, kalau kurang puas, adalah ‘di gadang-gadang”. Ya, saya sering membaca dan mendengar kata ini beberapa bulan terakhir. Entah di surat kabar, televisi oleh penyiar atau pengamat politik. Apa sih itu? Apa artinya disinyalir, didorong2, atau apa?? Misalnya, “JK-Win yang digadang-gadang bakal menjadi rival berat SBY ternyata Keok hingga terjun bebas dibawah 10%”. Dan yang terbaru, tapi maaf saya lupa, kemarin ada lagi penyiar menyebutkan istilah baru yang sepertinya menggantikan istilah carut marut, coreng moreng, kacau balau dst pada saat sedang gempitanya pemberitaan mengenai Bom Mega Kuningan baru-baru ini. Nanti saya akan pantengin trus tu tipi en koran buat cari kata ajaib yang baru ini hehe.. jurnalis oh jurnalis..

Disclaimer :
Ini hanya opini, berdasarkan penglihatan dan pendengaran beberapa waktu saja, belum menjadi sebuah kesimpulan 🙂

unggul@unggulcenter.co.cc

Read Full Post | Make a Comment ( 7 so far )

Deklarasi Indonesia Go Open Source! (IGOS) dan Implikasinya di bidang Pendidikan

Posted on December 16, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , |

Indonesia Go Open Source! (IGOS) adalah keputusan strategis di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari pemerintah Republik Indonesia melalui lembaga-lembaga terkait. IGOS dideklarasikan pada tanggal 30 Juni 2004 yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. IGOS adalah sebuah gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source di lingkungan pemerintah. Meskipun hanya ditandatangani oleh lima kementrian dan departemen, namun implementasinya didukung luas oleh lembaga-lembaga dan departemen lain misalnya Departemen Tenaga Kerja, Depdiknas dan Presiden sendiri, dengan membentuk Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) sebagai penasihat presiden dalam urusan dan keputusan terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia.

Salah satu poin penting deklarasi tersebut adalah pada poin ketiga, yaitu melakukan langkah-langkah aksi yang diantaranya Mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusat-pusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia. Deklarasi IGOS bertujuan agar bangsa Indonesia dapat membangun aplikasi peranti lunak komputer yang berkode sumber terbuka, membuat bangsa Indonesia dapat dengan mudah merancang, membuat, merekayasa dan menjual produk intelektual dengan mudah, murah dan tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu yang sewaktu-waktu dapat memaksakan kepentingan terkait dengan kebutuhan dukungan (support) terhadap produk.

Anak negeri bisa menghasilkan produk-produk karya sendiri, bebas, terbuka dan dapat disempurnakan oleh siapa saja dikarenakan konsep kode sumber yang terbuka sehingga dengan mudah dapat dilihat, dimodifikasi dan disempurnakan oleh siapa-saja. Pemilihan teknologi open source oleh pemerintah RI sendiri telah menjadikan sistem operasi (OS) berbasis Open Source, yaitu GNU-Linux (selanjutnya disingkat Linux) menjadi populer. Hal ini disebabkan banyaknya keunggulan Linux dibanding sistem operasi Open Source lainnya bahkan mengungguli raksasa sistem operasi proprietary yang saat ini, yaitu Microsoft Windows.

Open source sendiri dapat dimaknai sebagai sistem operasi komputer dan program-program komputer berlisensi Free (Bebas) dan Open Source (Berkode sumber terbuka. FOSS (Free & Open Source Software) Secara sederhana berarti kode program dapat dilihat, dimodifikasi, disebarluaskan secara bebas, halal, baik berbayar maupun gratis. Contoh konkretnya adalah Linux, sebuah sistem operasi penantang Microsoft Window$. Efeknya adalah pengguna dapat melakukan pembuatan aplikasi yang justru lebih canggih dan menyempurnakan aplikasi yang sebelumnya ada, tanpa perlu menunggu dari si pembuat. Bebas untuk berkreasi, membuat program komputer dan meneruskan program yang sudah dibuat oleh orang lain. Bebas, dan untuk tujuan kemanusiaan maupun komersial. Bebas saja.

Ada dua implikasi dari deklarasi IGOS ini bagi dunia pendidikan. Pertama, dilihat dari ditandatanganinya Deklarasi oleh Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu, secara internal menjadikan Open Source (baca : Linux) menjadi pilihan bagi departemen terkait. Sedangkan secara eksternal, memberikan perintah tidak langsung bahwa dunia pendidikan sudah menerima Open Source menjadi pilihan sistem operasi maupun aplikasi sehar-hari. Kedua, sektor pendidikan yang sudah stabil mendorong aktivitas pembelajaran, riset dan kemungkinan untuk melakukan migrasi ke Linux. Mulai dari kurikulum perguruan tinggi, mulai dirombak dan didasari oleh dasar kurikulum TIK yang open source, kalau tidak dapat disebut bebas dari pengaruh sistem operasi tertentu. Hingga kegeliat sektor swasta dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM TIK berbasis Linux/FOSS. Muncul dan kian berkembang lembaga-lembaga training komputer yang memfokuskan diri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang diperlukan dalam rangka pemenuhan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK yang dibutuhkan. Hal ini sejalan dengan amanat Deklarasi IGOS oleh pemerintah pada tahun 2004.

Selain itu, adanya tren SDM berdaya saing tinggi apabila menguasai Linux/FOSS dibandingkan dengan penguasaan sistem operasi lainnya, terutama ditunjukkan oleh adanya riset dari kebutuhan pasar/dunia industri terhadap SDM TIK terutama yang menguasai Linux. Selama kurun waktu hingga 2008 –hingga pada saat tulisan ini dibuat, telah banyak terbentuk komunitas-komunitas Linux dan lembaga training komputer berbasis Linux/FOSS. Selain faktor deklarasi IGOS yang artinya sudah didukung pemerintah, komunitas dan lembaga training merespons adanya pasar dan kebutuhan untuk jasa pelatihan komputer utamanya berbasis Linux/FOSS.
Sebagai lembaga bisnis, kebutuhan masyarakat akan pelatihan Linux dan pemrograman under Linux membuat lembaga pelatihan dan pendidikan berbasis Linux/FOSS memiliki pangsa pasar tersendiri. Diantara lembaga-lembaga yang ada, di daerah jabotabek dikenal beberapa lembaga training Linux yaitu Inixindo (www.inixindo.com), Nurul Fikri (www.nurulfikri.com), Linuxindo (www.linuxindo.com), Ardelindo Aples 1991 (www.ardelindo.com), Bajau (www.bajau.com), Indolinux (www.indolinux.com), selain training-training Linux lain yang dibuka oleh komunitas-komunitas Linux di Indonesia. Lembaga-lembaga ini selain bergerak dibidang training dan pendidikan profesional Linux/FOSS, juga beberapa menyediakan jasa inhouse training untuk kalangan korporat dan paket khusus pendidikan, termasuk dukungan produk pendidikan sekolah.

Pada dunia pendidikan, sudah banyak sekolah-sekolah memiliki ekstrakurikuler Kelompok Studi Linux (KSL) dan atau Kelompok studi IT lainnya yang mempelajari Linux/FOSS sejak dini. Dan ini terus berkembang. Di lingkungan masyarakat, komunitas pengguna Linux membentuk regional-regional komunitas dengan label KPLI yang tersebar di seluruh Indonesia, hingga mencapai limapuluhan KPLI terbentuk, dari sabang sampai merauke. Pusat koordinasi sosialisasi Linux ada pada Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan dalam menunjang perkerabatan dan jaringan, tak pelak Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang baru berdiri menjadi tulang punggung komunikasi.

Bagaimana dengan sekolah yang belum mengenal Linux/FOSS (alih-alih menggunakan Linux)? Jangan-jangan siswa-siswa sudah lebih dahulu mengenal Linux melalui kelompok studi Linux atau TIK yang digelutinya. Sebagai institusi formal yang mendukung ketrampilan TIK demi masa depan siswa-siswinya, sudah tidak ada alasan bagi sekolah untuk menjadikan Linux sahabat dalam teknologi informasi. Linux/FOSS akrab dengan dunia pendidikan. Sebuah solusi sistem operasi dan aplikasi yang bebas, murah (bahkan lebih sering disebut “gratis”) dan bersahabat dengan anggaran sekolah. Cita-cita untuk memajukan intelektual siswa-siswi tentu ada, dan lebih baik apabila sesegera mungkin menggunakan sistem operasi ini. Kalau sudah mengenalkan kepada sekolah dan melakukan ujicoba, selanjutnya, terserah Anda..

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Pakar Pendidikan.. atau Pakar Komentar Pendidikan ?

Posted on June 19, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Human-power | Tags: , , , |

Mohon maaf apabila judulnya agak-agak gimana gitu dan menyinggung perasaan seseorang (dan pendukungnya) yang sering mondar-mandir di televisi dengan title tag “pakar pendidikan”..

Kronologisnya kenapa beliau ini muncul adalah banyaknya kasus-kasus yang meruak belakangan ini yang mencerminkan buruknya sistem pendidikan dan buruknya pengawasan terhadap anak didik, kalau tidak bisa kita sebut buruknya mental generasi muda indonesia belakangan ini.

Mulai kasus kekerasan ala STPDN –> dilanjutkan kekerasan juga oleh IPDN yang sudah berganti kulit, kasus geng motor, kasus asusila, kasus tawuran antar pelajar SMP, hingga terbaru (pada saat saya tulis), kasus STIP (Sekolah tinggi Ilmu Pelayaran) dan kasus kekerasan geng cewek ala Nero (Neko-neko ngeroyokan).

Hasilnya, ada anggota geng yang divonis 4 tahun (Briges) yaitu geng motor di bandung yang menewaskan I Putu Ogik, Pemecatan praja, penangkapan para pelajar yang tawuran (di jakarta) dan ngeroyok (nero di Pati, Jateng).

Lalu, yang tidak kalah seru, berulangkali di televisi ada analisis menghadirkan so called pakar pendidikan yang ngomongin hal-hal yang menurut saya dari tiap saat esensi omongannya sama. Yang bikin saya geleng-geleng kepala, seringkali ada penyesalan dan ngomong kalo ini itu buruk di indonesia. Padahal, logikanya, ANDA pakar pendidikan, Loh, piye, Anda lah bertanggungjawab! Dulu anda NGAPAIN? Apakah ujug-ujug lulus dari perguruan tinggi langsung dapat gelar Pakar? Saya berani bertaruh, sudah PULUHAN tahun sang pakar bergelut di dunia pendidikan — yang dia komentari sangat rusak, dst dst. Begitulah di Indonesia..

Kasus IPDN, salah satu tim evaluasi adalah “pakar pendidikan” dimana IPDN tidak dibubarkan. Dijamin bla bla aman sentosa hehe..Kulitnya diganti, trus pimpinannya dganti. Basi. Buktinya, hingga detik ini masih terjadi penyimpangan. Kasus terakhir ada pengeroyokan, ada yang mati karena mabuk, ada yang perkosaan. Kalau soal itu semua, silakan tanya Pak Inu Kencanaboleh lihat di detikcom deh, pasti beliau bilang masih ada hingga sekarang. Rekomendasi dari pakar pendidikan tuh.. ditambah Presidennya Militer, ya susah bubarin adat istiadat militer secara sang presiden dulu juga kayak gitu. (padahal laen pak presiden, ini sekolah sipil.. )

Trus, ada lagi nih barusan kasus STIP. Sama, plonco-plonco ga jelas. Tau-tau tewas. Saya ngga perlu komentar banyak, harusnya dari dulu sudah ngga ada itu yang namanya sekolah kedinasan ber budaya militer (baca : kekerasan). Kalau nggak mau ya bubarkan aja. Gitu aja kok repot. Kalau ngga mau bubar, hilangkan sama sekali hingga taraf NOL semua atribut militer mulai makan bareng, rambut cepak, seragam dan perut yang terus-terusan seksi karena dipaksa olahraga pushup tiap pagi dst hehe.. kalau sekarang trendnya adalah penyeimbangan antara otak kanan dan otak kiri, maka kayaknya di sekolah ini perlu penyeimbangan antara Fisik dan Otak. Masih jauh klo mo ngomong otak kanan dan kiri.

Nah, balik ke topik, ya kalau pakar pendidikan kasih solusi dong. Ini sih menurut saya pakar KOMENTAR pendidikan, sebab komen-komen saja. Semua omongannya saya juga sebagai Non Pakar apa-apa bisa tuh ngomong gituan. Cuman emang media indonesia rada error sih.. Lah wong kayak Mr KMRT you know who aja bisa disebut Pakar Telematika.. hehe..

Udah ah, saya nggak mau banyak komentar, nanti dibilang pakar komentar pendidikan hehe.. jadi, tolong dong, please deh, you yang ngemeng, tapi you dulu ngapain aja? kalo belajar di Luar negeri en pengalaman puluhan taun ngajar dan bergelut pendidikan di luar negeri, trus balik ke Indonesia, wajar kalau geleng-geleng kepala dan bilang ini nggak bener. Lah, ini dulu bagian dari sistem, eh sekarang koar-koar.. apa karena “jaman reformasi” adalah jamannya koar-koar hehe.. coba dulu dibenahi di jaman soeharto… (mana pendukung soeharto hehe..)

ya sutralah, makin panjang makin error en makin banyak komentarnya. Intinya, kalau saya, yang bisanya cuma komen dan bukan pakar, radikal negh, hilangkan SAMA SEKALI Senioritas, hilangkan SAMA SEKALI atribut dan cara militer dari sekolah sipil.. Hilangkan SAMA SEKALI guru-guru yang nggak jelas, mindset jadul, nggak banyak pengetahuan, money oriented, guru cabul, guru sok, dst.. Hidup Onizuka ! (loh?)

Read Full Post | Make a Comment ( 42 so far )

Jerat Grand Depok City alias GDC, alias Kota Kembang Depok

Posted on June 10, 2008. Filed under: Coretan Intelektual | Tags: , , , , , , , , |

Tidak perlu banyak menulis, saya hanya bisa komplain melalui situs diskusi di bicara rumah dimana saya sepertinya menanggalkan nilai-nilai intelektual karena kekecewaan yang sangat mendalam.. Ada juga blogger yang nulis promosi GDC yang menyesatkan walo saat ini sedang under construction..

TIps bagi anda sebelum terjerat.. baca-baca dulu di internet dan TANYA penghuni lama mengenai GDC ini, jangan sampai terjebak dan memboroskan sumber daya waktu, tenaga dan UANG untuk sesuatu yang percuma.. juga cek di internet…

Salam intelektualitas!

Read Full Post | Make a Comment ( 27 so far )

Gw Independen, Jadi Gw Pake Linux!

Posted on May 23, 2008. Filed under: Coretan Intelektual | Tags: , , , |

Ya, Pertama-tama, untung gw pake Linux. Kalo nggak :

Capek dehh… tiap hari was was en perlu ngupdate antivirus (yang nggak menjamin) biar bebas dari Virus komputer. Gw juga Jadi banyak pahala, ada ladang amal, sebab banyak yang minta tolong “scan” flashdisk via Linux. Yup, bener sekali. Linux baca semua virus jadi-jadian yang nyaru berbentuk dokumen .doc hehe tak apusin semua, sekaligus juga klo ada autorun yang di create sama program virus tersebut. Betul, cuman list, pencet tombol DEL di keyboard, ilang deh virusnya. Baru flashdisk di keluarin dan berikan ke teman yang dengan berkaca-kaca bilang tenkyu.. plus kita bisa pesan sponsor dikit ” Mangkenyee pake Linux biar ga was was virus!” Minimal elo pake dual boot dulu ya, mayan buat scan2 flashdisk baru restart en masuk ke Windo** klo kepaksa. Akhirnya, 1 orang menginstall Linux. Dualboot dan 1 orang ini ngajak yang laen dan yang laen.. klo memang mendapat “hidayah” ya lama-lama juga full Linux (OS Utama dan Pertama).

Kedua, ngga perlu capek instal ulang lagi, instal ulang lagi gara2 crash, hang, rusak, virus dst. Mana kalo install musti repot sediain seabrek2 CD mulai CD Installer Windows, Office, Grafis, Image viewer, Update-update, Antivirus, Games-games de el el… Sekali lagi.. Capeeek deehhhh

Ketiga, udah install ulang, eh tampilannya pasti itu-itu aja. Kalo nggak gambar Laut biru, ya padang rumput hihi.. di seluruh dunia, kalo Install XP kayaknya gambarnya itu-itu aja deh cmiiw.. kalo Linux, ya gw install Linux baru alasannya cuma satu. Gara-gara hal-hal yang krusial dan antara hidup mati hehe.. BOSAN sama Linux yang ada. Atau mau coba-coba Linux laen (penasaran tampilan desktop dan aplikasi-aplikasi defaultnya).

Secara gw Anak gaul, independen means that gw ga mau sama persis dengan orang lain, harus punya kepribadian, berani tampil beda, ekspresif, pengen tau, tidak mau diatur, rebel, suka-suka gw, kumaha aing pokoknya dah.. jadinya, gw ngerasa gw butuh lebih dari Windo**. Yang semuanya sama, semuanya sama-sama disuruh pake doang. Ga bisa tau isinya apa. Gw ga bisa meen.. gw mau tau apa yang gw pake, yang gw telen, yang gw makan. Ga isa dikasih doang. En, harus personalized gw dong.. Enak aja cuman disuruh make ga tau apa-apa. Ngga gw banget dehh.. Gw kudu bebas, gak mau dicekokin Windows bajakan klo ga harus bayar jutaan. Ih sory yee mending gw pake yang lain. Masalah susah, ya bisa dipelajari. Yang penting kita punya kemauan belajar. Gitu aja kok repot.. Duit buat beli segala macem software bisa gw pake buat makan en beli barang2 laen lah. ga worth it banget keluar duit buat beli Sistem operasi yang terlalu gampang dan terlalu banyak kelemahan yang bisa di eksploitasi semua orang.

Linux itu Free dan Open Source.. wuih denger kata-kata ini aja, jiwa gw bergelora ceilee hehe.. kayaknya mewakili jiwa gw banget. So, kudu bisa ni Linux, so Install deh, so cobain deh.. so, belajar deh.. so, jadi Independen SEJATI Bro!

So Intellectual!

Read Full Post | Make a Comment ( 5 so far )

Menikmati Matahari..

Posted on April 21, 2008. Filed under: Coretan Intelektual | Tags: , , , , , , |

Jangan salah.. maksudnya menikmati matahari ini bukanlah pada saat kita berada ditepi pantai menikmati sunset, atau menunggu sunrise.. menikmati matahari yang kulakukan adalah berdiri di pintu KRL ekonomi pada siang hari bolong, dihembus angin dan cahaya matahari yang hangat. Dan aku merasakan bahagia. Mengapa? Panas gitu loh..

Ya sebabnya saya masih dalam tahap penyembuhan dari penyakit yang katanya belum diketahui pasti namun gejalanya sudah jelas yaitu adanya VASKULITIS. Syerem juga penyakitnya, namun anehnya saya nggak DEMAM sama sekali yang katanya bagian dari vaskulitis. walaupun rasa panas kayak kebakarnya cocok.. dan sepertinya saya termasuk di dua gejala ini, yaitu # Sindroma Henoch-Schönlein (Purpura Henoch-Schönlein) : peradangan pada vena-vena kecil, menyebabkan jerawat/bisul keras berwarna keunguan di kulit
# Eritema Nodosum : peradangan pembuluh darah pada lapisan dalam kulit, menyebabkan benjolan dalam yang lunak dan merah di tungkai dan lengan . Anehnya, saya sepertinya mengidap beberapa penyakit diatas, gejalanya banyak yang cocok, namun diantara semuanya juga tidak 100% sama. Ya semacam hibrid kali ya.. sebab gejala-gejala seperti Demam, penurunan nafsu makan, berat berkurang, tidak saya alami. Kelihatannya sehat, namum pada dasarnya sakit. Bingung dan bikin was-was !

Yang jadi bikin saya tambah senewen, gejala ini katanya persis dengan gejala penyakit Lupus. Nah, kalo si Lupus ini bukanlah tokoh rekaan novel nya Hilman yang ngetop banget di tahun 1990an ya.. kalo Lupus yang ini penyakit berbahaya dan belum ada obatnya. Lebih parah lagi, belum dapat Dicegah!. Memang usia penderita 17-35 .. relatif muda.

Saya sendiri Alhamdulillah, sepertinya cuma radang pembuluh darah. Sudah dites, adanya flak di pembuluh Vena. Bukan Lupus, Sebab, tes ANA, tes darah walaupun ada kelainan dengan tingginya sel darah putih yang menyerang tubuh, sudah biopsi kulit, semuanya NEGATIF. Alhamdulillah…. sekali lagi alhamdulillah. Walau saat ini sudah agak baikan, konsumsi obat dari dokter sudah total saya hentikan dan menggantinya dengan obat herbal. Hanya saja bekas biopsi menjadikan kulit saya codet dan sisa ruam-ruam di kaki jadi kayak bekas korengan.. duh kayak dulu waktu kecil suka maen diempang dan di comberan..

Saya sudah 2 bulan sakit ini, mudah-mudahan Allah memberikan kesembuhan pada saya, juga pada teman-teman di luar sana penderita Vaskulitis maupun Penyakit Lupus. Ingat, walau apapun kata dokter, yakinlah semua penyakit ada penyembuhnya, kecuali penyakit Mati…

Pokoknya, nikmatilah matahari sebab ada hikmahnya, bahwa kamu itu nggak berpenyakit Lupus. Coba bayangkan, hidup ngalong seumur hidup… jadi kalo yang hobi surfing, jalan ke pantai, outbond, renang, atau sekedar berjemur dipantai silakeeunn.. hehe.. asal matanya jangan usil kemana-mana ya..

Read Full Post | Make a Comment ( 18 so far )

« Previous Entries

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...