Jurnal Intelektual

Bus Lorena : Bis Berjudul Eksekutif.. Kok perilaku Kelas Ekonomi!

Posted on September 29, 2009. Filed under: Coretan Intelektual, The Public Services-power, The Techno-power |

Sudah lama kami sekeluarga berlangganan PO Bus Lorena Bogor-Palembang PP hampir lima tahun rutin. Tapi itu 10 tahun yang lalu, dan kami memang sudah berganti ke Pesawat yang tarifnya saat ini lebih kompetitif. Setelah lama tdk naik bis ini, akhirnya dikarenakan fullnya tiket pesawat arus balik, maka kami berkesempatan menggunakan jasa Lorena, walaupun tarifnya sangat mahal diatas harga pesawat rata-rata palembang-jakarta namun hanya via itu saya dapat tepat waktu sekeluarga kembali ke rumah di bogor. Pada tanggal 27 September 2009 dengan kode LV 121 tujuan Jakarta/Bogor berangkat dijadwalkan pukul 13.30 WIB.

Namun ternyata, kualitas Lorena bukannya membaik tapi justru semakin buruk. Bisa dibilang tidak beda dengan bis AKAP yang bisa kita stop di jalan dan terminal. Jauh dari kesan Bus “Eksekutif”.
Hal-hal berikut yang saya catat :
1.AC tidak dingin. Bahkan awak bus mengakui AC mati-hidup. Di Pool di palembang, pemberangkatan tertunda (as always) dikarenakan ada penumpang yg telat. Sementara menunggu, lebih dari sparuh penumpang sudah keringatan, megap-megap dan berkipas-kipas dengan koran, majalah dan media lainnya.
2.Berangkat telat. Ini masih sama seperti 10 tahun lalu.
3.Tidak Ada Snack. Mungkin dengan biaya supermahal, masih tidak cukup untuk beli snack bagi penumpang, yang bahkan pesawat low class carrier yang tarifnya dibawah Lorena saja masih menyediakan air kemasan cup bagi penumpangnya.
4.Di Terminal Karya Jaya (10 tahun lalu masuknya langsung ke Jl Kol Atmo, tidak diterminal tsb) pedagang naik Bus dan menjajakan dagangannya. 10 tahun yang lalu, saya ingat, kenek sampai ngomong dengan lantang “Pak, Ini LORENA, bukan Bis Sembarangan!” sewaktu penjaja ngotot masuk ke Bis..
5.Semakin parah dengan WC yang Bau minta ampun disebabkan tidak adanya air untuk fasilitas membersihkan setelah pipis. Terpaksa selama perjalanan, saya dan beberapa penumpang lain berkorban menyiram dengan air minum yg kami bawa. Sebagian penumpang lain memang banyak juga yang tidak menyiram sehingga aroma makin bau. Kami yang duduk di belakang sempat bertanya mengenai pengharum, tapi dijawab “Tidak ada, biasanya yang ada itu BIS dari BOGOR”. Ha? Beda toh.. 10 tahun lalu kenek menyemprot pengharum ruangan apabila malam atau sore di atas dan di dekat karpet. Serta di dalam WC selain air banyak, juga ada pengharum WC.
6.Di perjalananan, tepatnya di JL Proklamator, Bandar Jaya, Lampung, Sopir MENAIKKAN Penumpang perempuan. Kurang lebih 3 menit sepertinya negosiasi harga dst. Setau saya, 10 tahun yang lalu DILARANG menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan.
7.Di Kapal, Kami semua DISURUH turun dan naik ke galangan sebab Bis katanya AC mau dimatiin dan Lampu dipadamkan. Yang lucu, tepat di sebelah kiri ada Bus Lorena juga dan kondisinya Lampu menyala, AC di hidupkan dan Video dinyalakan. 10 tahun yang lalu sih memang seperti itu. Sewaktu saya bilang, istri saya HAMIL BESAR dan mau stay di Bus, kenek dan sopir bilang “terserah kalau mau kepanasan”. Saya akhirnya turun, melewati bis-bis dan bau asap yang menyengat dan sampai juga di pinggir utk naik tangga ke atas. Melihat undak-undak tangga ke atas kapal yang sangat banyak, istri saya tidak sanggup dan memilih kembali ke Bus apapun resikonya. Kami akhirnya masuk kembali ke Bus dan AC dimatikan. Sempat dihidupkan sebentar oleh awak. Sungguh tidak berpri kemanusiaan! Untuk bukti, saya sudah mengambil foto bus Lorena di sebelah kiri yang penumpangnya nyaman tidur di Bis tidak perlu DIUSIR dan dimatikan AC nya.
8.Pada perjalanan antara Jakarta Bogor, setelah menurunkan penumpang jakarta di pool di Kampung Rambutan dan Lebak Bulus, tingkah awak Bus makin menunjukkan “kelas”nya. Dihadapan penumpang yang ada anak kecil, perempuan, muslimah, dst awak menyetel Video Goyang Dangdut Erotis!
9.Sambil dangdutan pornoaksi tersebut, si Sopir juga MEROKOK di dalam Bis yang Full AC. Tidak lupa geleng2 kepala menikmati musik.. 10 tahun lalu, saya mendengarkan alunan musik instrumental bila malam, film berkualitas Hollywood dan musik-musik ngetop. Paling tidak, musik Sunda ketika bis bergerak keluar dari Kota Bogor.. Saat ini, memang televisi sudah LCD Flat, audio-video system udah keren tapi yang ditampilkan jauh dari eksekutif, malah kelas bawah.. Bahkan kelas bawah pun saya rasa berpikir 1000 kali untuk menyetel video erotis! Berani taruhan?

Sembilan poin diatas cukup bagi saya untuk mengatakan tepat sekali jika Lorena di tinggalkan oleh Pelanggan-pelanggannya. Bukan karena armada lain yang lebih kompetitif saja, namun juga Lorena yang tarif EKSEKUTIF layanan tidak lebih baik dari Bus yang melayani rute kampung ke kampung. Sorry to Say tapi itu kenyataan. Silakan Otoritas Lorena cross-check, saya punya bukti foto maupun keterangan saksi mata yang cukup banyak, walau mungkin cuma saya yang berani pasang badan untuk kebobrokan layanan ini. Kalau saya turun di Pool, sudah saya niatkan untuk langsung ketemu manajer Lorena, tapi saya turun tidak di pool Bogor sehingga komplain mau tidak mau saya sampaikan denganc ara ini. Manajemen Lorena, Anda juga punya hak jawab di media ini dan saya dengan lapang hati hanya menuliskan “Perbandingan Kualitas” antara Lorena dulu dan sekarang. Tidak ada tuduhan pencemaran nama baik, dan tidak ada tendensius terkecuali pengalaman saya pribadi.

Unggul Sagena
Penumpang Bus Lorena Palembang-Bogor (via Jakarta) No LV 121 tanggal 27 September 2009.

Update :
Agar tidak salah kaprah seperti bapak Welly yang berkomentar dibawah, maka saya tulis lagi cerita mengenai Lorena ini DISINI. silakan dinikmati dan diambil hikmahnya.

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( 79 so far )

Strategi Kepala dan Ekor di Pentas Pemkot Bogor

Posted on July 28, 2009. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , |

Bapak-bapak dan Ibu-ibu berseragam coklat memenuhi hingga dua pertiga ruangan yang berukuran kira-kira dua kali lapangan tenis. Mereka mengobrol, riuh rendah dengan logat sunda yang kental. Kadang tertawa, kadang mengomentari “Blackberry” yang dijual seharga kurang lebih dua ratus ribu, handphone cdma bundling milik Telkom Flexi, sponsor acara yang didisplay di sebuah booth diluar ruangan.

Begitulah apabila Ruang Rapat I Sekda Balaikota Kota Bogor, ketika menjadi tempat penyelenggaraan Seminar Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal bertajuk “Strategi Migrasi Linux” yang mengundang para pimpinan kelurahan, kecamatan, serta instansi terkait.

Selain itu, dalam seminar yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bogor bekerjasama dengan Departemen Komunikasi danInformatika (Depkominfo) RI pada hari Selasa, 30 Juni 2009 ini juga dihadiri beberapa orang dengan pakaian rapi ala kantoran, lengkap dengan celana bahan dan sepatu mengkilap.

Tak perlu banyak menduga, merekalah para pelaku bisnis dan perhotelan, juga sebagian diantaranya utusan dari sekolah-sekolah di Kota Bogor. Tampak juga undangan yang lain adalah dari komunitas pengguna Linux Bogor yang antusias duduk dideretan paling depan bangku seminar. Tak berapa lama, acara dimulai.

Ruangan yang sudah ditata sedemikian rupa menjadi tempat seminar ini riuh rendah dengan “obrolan siang” dengan ceritera obrolan mulai Pilpres, capeknya bekerja hingga gosip kinerja kelurahan sebelah berangsur hening ketika Pemerintah Kota Bogor selaku panitia seminar, melalu Dinas Hubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Bogor menyampaikan susunan acara.

Acara dimulai tepat Pukul dua siang dan direncanakan berakhir pas adzan ashar tiba. Bagaimanakah para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang biasanya digeneralisasi sebagai kalangan “gaptek” alias gagap teknologi ini bisa memahami, dan kemudian menerima solusi final penggunaan perangkat lunak legal dengan bermigrasi ke Linux?

Membayangkan bagaimana strategi yang baik untuk bermigrasi ke Linux kepada para PNS dan pelaku ekonomi di Kota Bogor ini sepertinya gampang-gampang susah. Gampang, karena sistem dan kultur birokrasi anutan pelaku pemerintahan baik sipil maupun militer di negeri ini amat feodal. ‘Pabila sudah ada inisiatif untuk melegalkan semua sistem operasi komputer maka bawahan manut aja. Yang susah adalah meyakinkan.

Ada teman yang mempunyai jasa konsultan TI membeberkan susah gampang migrasi ke Linux/FOSS (Free & Open Source –bebas dan berkode sumber terbuka) dengan melakukan kiat yang tepat dalam membantu resistensi dari user (pengguna). Menurut sang teman, timnya dengan gampang bisa meyakinkan orang TI di perusahaan tersebut, namun yang susah adalah meyakinkan level manajerial dan level pengguna atau operator sekaligus.

Ibaratnya menangkap ular, yang dilakukan adalah mencekal badan ular yang demikian panjang padahal kepala dan bagian ekor bisa bergerak kemana-mana. Kalau beracun, kepala bisa menggigit dengan bisa-nya, beberapa buntut ular pun bisa menyambit dengan racun-nya. Alih-alih yang ingin memegang malah mati ditempat. It will be a nightmare ever.

Lalu strategi macam apa sih? Inilah yang seharusnya dijawab pada seminar ini. Akan tetapi, bahkan sebelum acara dimulai, kita bisa menebak, strategi apa yang sudah dilaksanakan. Yup. Dengan (telah) diperkenankannya acara seminar ini, tentu sekaligus menegaskan bahwa “kepala” sudah dipegang. Sehingga dapat disimpulkan, seminar setengah hari yang yang diikuti sekitar seratusan peserta ini membidik “ekor”.

Dengan ingin bermigrasinya Pemerintah Kota Bogor, bisa jadi, sebagai ajang sosialisasi, seminar strategi migrasi ini diharapkan dapat merangsang para lurah, camat, pengusaha perhotelan, sekolah dan stakeholder lain untuk aware dan segera mempelajari Linux sebab inilah sistem operasi yang akan dipakai diseluruh instansi dibawah Pemerintah Kota Bogor.

Bau bisnisnya pun tak kalah menggiurkan. Bayangkan apabila satu saja instansi mendeklarasikan migrasi total dan go Open Source, proyek tidak hanya mencakup banyaknya PC desktop dan server yang akan dimigrasikan, tapi juga update keterampilan para pengguna. Istilahnya, biar susah, sekalinya dapat, rejeki melimpah.

Ini perbedaannya dengan proyek sejenis di instansi/perusahaan swasta. Lebih mudah, tapi terkadang nilainya bisa diperdebatkan. Bisa besar bisa kecil, tergantung “nasib”. Bisa dibayangkan satu departemen saja bisa sepuluh kali lipat dari proyek migrasi di perusahan swasta menengah. Belum lagi apabila melihat sisi “politis” dan “tanggungjawab” terhadap kemandirian bangsa terkait penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Bisa jadi, misi –sekaligus beban– sosial itu tetap melekat apabila berhadapan dengan institusi bernama “pemerintah”. Sangat menjanjikan.

Beberapa sambutan, baik dari Walikota Bogor hingga Direktur Aplikasi Perangkat Lunak Depkominfo –yang walaupun semuanya diwakilkan– jika diperhatikan isinya sudah dengan lugas dan jelas mendukung Open Source. Walikota Bogor, H. Diani Budiarto yang dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dishubkominfo Kota Bogor, H. Ahmad Syarief dan Direktur Aplikasi Perangkat Lunak, Lola Amalia Abdullah yang diwakilkan oleh Riki Arif Gunawan.

Sayang, presentasi Riki yang memaparkan berjudul “Free & Open Source Software : Pilihan Utama Software Legal” hanya sekilas menginformasikan mengenai Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (SE MenPAN), yang notabene berwewenang dan berkompeten masalah SDM berjulukan ‘PNS”. Mungkin ada baiknya sekalian diberikan contohnya pada materi yang difotokopi panitia, atau sekedar ditampilkan di layar presentasi mengenai Surat Edaran tersebut.

Sebab, walau Surat Edaran disebarkan kemana-mana mulai dari para menteri, Kapolri, Jaksa Agung, Gubernur Bank Indonesia, Panglima TNI, hingga ke para kepala instansi pemerintahan termasuk walikota, dapat dipahami mungkin sosialisasi (baca: surat) itu tidak sampai ke para lurah dan camat ini. Ini cocok sekali untuk meyakinkan bagaimana dukungan dan komitmen institusi pemerintah terhadap gerakan Indonesia, Go Open Source (IGOS) yang dideklarasikan pada tahun 2004 yang lalu. Apalagi ada kata “diwajibkan” pada surat edaran tersebut. Menilik psikologis para PNS, baik institusi sipil maupun militer, acuan diwajibkan ini bisa menjadi perintah langsung (direct order) untuk eksekusi.

Bagaimana dengan pelaku bisnis dan lembaga diluar pemerintahan? Tentu UU HKI No. 19/2002, Surat Edaran Kepolisian mengenai jerat hukum pembajakan, Kampanye Be Legal dan hukuman yang tanpa pandang bulu bisa menjadi shock therapy.

Beberapa berita teranyar, baik melalui media cetak seperti koran dan media online seperti di detik.com mengenai kampanye sweeping produk aplikasi bajakan di laptop serta beberapa perusahaan besar yang kena ciduk dan berurusan dengan hukum akibat pembajakan, misalnya berita (adanya isu) sweeping di bandara, dan perusahaan sekelas Autodesk bersama aparat menutup dan memperkarakan sejumlah perusahaan yang menggunakan peranti bajakan produk desain teknik mereka. Ini adalah shock therapy yang berdampak positif bagi kampanye Be Legal. Ya, bukan hal yang aneh, apabila ketakutan (fearness) ini terkadang bisa –dan perlu– dieksploitasi, selain tentunya dengan tambahan beberapa keunggulan Linux & FOSS dibanding peranti proprietary dan berkode tertutup lainnya.

Ada dua alternatif masalah Be Legal ini, yaitu membeli peranti lunak atau sistem operasi yang sama dengan harga yang menguras kantong, atau migrasi (beralih) ke Open Source, dalam hal ini paling populer dan paling mudah adalah Linux. Tentu pemikiran logis dan masuk akal adalah migrasi segera ke Open Source atas berbagai pertimbangan keunggulan yang bisa dua kali lipat lebih banyak daripada beli peranti lunak yang “Asli”. Pemerinta Kota Bogor, dalam hal ini, telah memilih solusi kedua, dan strategi berikutnya adalah sosialisasi, dalam bahasa artikel liputan ini, “memegang ekor”.

Dalam membahas strategi migrasi ini dihadirkan tiga narasumber. Dua dari pemerintahan yang memiliki interkoneksi dengan proses migrasi Pemerintah Kota Bogor yaitu perwakilan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), perwakilan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan –perlu diakui bahwa tokoh sentral, “Petinju” tunggal dalam seminar ini adalah Pak Michael “Opa Michael” Sunggiardi, seorang warga bogor (perlu digarisbawahi) yang sudah puluhan tahun bergelut di bisnis TI dengan prototipe toko komputer pertama di Kota Bogor, yaitu Batutulis komputer. Selain beliau aktif sebagai ‘jurkam” Linux nasional yang telah berkeliling sabang sampai merauke lewat kapasitasnya sebagai konsultan Jardiknas, pebisnis, sekaligus evangelist.

Setelah pemaparan secara teoritis dengan usaha membuka wacana dan cakrawala pengetahuan para peserta seminar mengenai apa itu FOSS, mengapa memilihnya dan aspek-aspek lain terkait, Opa Michael tanpa banyak bicara langsung saja mendemokan laptopnya yang sudah diisi dengan sistem operasi Windows legal dan mau dicoba dengan memakai USB Flashdisk untuk menjadi “Live USB” Sistem operasi Linux yang langsung siap pakai. Setelah reboot dan menjalankan Linux Ubuntu yang sudah dikemas sedemikian rupa di USB yang “berukuran mini kapasitas maksi”, para peserta mulai tercengang melihat kehebatan Linux yang “cuma” berukuran USB Flashdisk 2 GB. Untuk server, Opa Michael menamakan distro (distribusi Linux) hasil oprekannya sebagai “yUeSBe”. Plesetan dari USB dengan format penulisan ala “bahasa indonesia yang tidak disempurnakan”.

Menurut kontributor tetap majalah InfoLinux tersebut, Inilah yang disebut dengan “strategi terbaik” sesuai judul seminar. Diharapkan, dengan memakai sebuah usb flashdisk, maka kendala dan alasan-alasan yang membuat para PNS dan masyarakat umum menolak me-linux-kan diri tidak dapat menjdi alasan. Sebab, dimanapun berada, tinggal colok dan restart komputer, maka Linux pun mucul dihadapan. Kurang lebih, strategi ini adalah implementasi konkret dari ungkapan terkenal (famous quote) “ala bisa karena biasa” dan “tak kenal maka tak sayang”.

Jika berbicara ekor, maka apabila “kepala” –anggap saja ular– ini, dipegang, biasanya ekor akan berhenti beraktivitas aktif. Siang itu, para Lurah dan Camat dalam sesi tanya jawab “hanya” meminta informasi mengenai konektivitas data, keamanan data dan kemampuan konversi data lama ke dalam aplikasi berbasis FOSS. Pertanyaan yang teknis dan sangat masuk akal diutarakan oleh para pegawai pemerintahan sebab terkait dengan pelayanan mereka kepada masyarakat. Dengan mudah beberapa pertanyaan ini dijawab pembicara dan sepertinya para penanya puas.

Ya, kebanyakan memang pengguna (user) tidak perlu mengetahui secara teknis permasalahan administrasi sistem maupun troubleshooting. Asalkan bisa dipakai, dan sudah menjadi perintah baginya, tentu mudah dilaksanakan. Di lapangan, biasanya staf teknis yang mengerjakannya. Artinya dalam hal ini, walau demikian sulit, apabila sudah memegang “kepala”, dan “badan” (manajer dan staf bagian atau divisi TI), maka “ekor” yang “suka mengekor” ini cukup mudah dikendalikan.

Cukup jenaka, sebuah joke yang dilontarkan dalam rangka ice breaking di awal pembacaan kata sambutan, oleh H. Ahmad Syarief, Kepala Dishubkominfo Kota Bogor yang mewakili Walikota Bogor kepada peserta, khususnya para PNS kelurahan dan kecamatan di Kota Bogor, bahwa “sebelum pakai Blackberry, bisa dulu internet, ngerti dulu apa itu internet. Pake dulu Linux buat internetan. Nah baru di beli atuh blekberinya.. tapi belinya yang dua ratus ribu aja diluar” (seraya menunjukkan booth Telkom Flexi). Yang tentunya mengundang tawa para hadirin.

Selain mulai meningkatnya kesejahteraan para PNS, “godaan” blackberry tentu membuat rasa ingin mengetahui teknologi mereka semakin besar. Dan ingin tidak “gaptek” pun terlihat jelas dari angguk-anggukan kepala pada saat berinteraksi dan tanya jawab dengan para narasumber.

Pentas migrasi ini tampaknya bukan sebuah akhir, namun justru awal dari sebuah ide besar. Saat ajang ini berlangsung, bertemunya Michael Sunggiardi plus Pemerintah Kota Bogor, Depkominfo dan BPPT mensinyalir agenda lebih besar. Dan memang, ketika dikonfirmasi, konsep Bogor Cyber City ternyata sudah mulai digulirkan kembali sejak pertama kali dicetuskan satu dekade lalu.

Saatnya memang, Kota Bogor berbenah dan menata pelayanan masyarakat dengan maksimal dan optimal. Dengan efektif dan efisien. Selain Bogor Cyber City, tahun 2010, artinya tahun depan, Bogor juga akan menjadi tuan rumah Konferensi Linux Indonesia (Indonesia Linux Conference). Acara nasional ini, dengan demikian sudah pasti mendapat sambutan hangat dari Pemkot Bogor. Apalagi, konferensi salah satu distro Linux terbesar di Indonesia, Konferensi BlankOn Linux, yang digelar beberapa waktu di Universitas Pakuan, Bogor juga mencatat kesuksesan. Sebuah tambahan track record yang paripurna apabila implementasi penggunaan aplikasi Open Source di seluruh instansi pemerintahan pada tahun 2010 nanti juga dianggap dilaksanakan dengan baik oleh Kota Bogor dan tentunya juga kita harapkan adalah Kabupaten Bogor yang segera menyusul “saudaranya”.

Hari itu, diruang rapat yang disulap menjadi ruang seminar, berkumpul elemen-elemen Kota Bogor, didukung total oleh pemerintahnya sendiri, Bogor, segera menjadi “ular naga yang panjang bukan kepalang” yang diyakini sebagai simbol keberkahan, kekayaan, keberuntungan. Kepalanya sudah menjadi Linux, Badannya sudah Linux, ekornya pun sudah memegang Linux dalam satu alat kecil, bernama USB Flashdisk.

Deskripsi Tulisan :
Sesuai dengan Tema Meningkatkan Kepedulian Masyarakat untuk Penggunaan Open Source, maka tulisan ini memaparkan tentang adanya kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor beberapa hari yang lalu sebagai bagian dari strategi meningkatkan kepedulian masyarakat, utamanya diseluruh kalangan pemerintahan di wilayah Kota Bogor dan stakeholders Kota Bogor.

Penulis mendeskripsikan dan menuliskan kegiatan ini sebagai sebuah langkah Pemerintah Kota Bogor beserta berbagai elemen masyarakat di Kota Bogor yang sudah seia-sekata dalam menggunakan peranti lunak Free & Open Source dalam kegiatan pemerintahan dan pelayanan masyarakat.

Tentang Penulis :
Alumnus Universitas Indonesia, Departemen Ilmu Administrasi, Program Studi Administrasi Negara dengan konsentrasi masalah Kebijakan Publik di bidang Pendidikan & TIK, serta e-government dalam kaitannya dengan good governance.

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

2009 Kembali ke Laptop!

Posted on January 19, 2009. Filed under: The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Kembali ke Laptop! Itu kata tukul arwana. Kalimat populer ini tidaklah usang apabila kita melihat tahun 2009. Sebab, bukan masalah laptopnya, tapi katro-nya orang Indonesia ini apakah semakin berkurang sejak Tukul dkk memperkenalkan laptop sebagai media komunikasi, sekaligus memantapkan peran laptop atau notebook ke dalam lifestyle masyarakat modern. Tukul dkk. Ya, dan kawan-kawan. Siapa kawan-kawan tukul? Ya teman-teman Anda, pembaca, yang sudah menjinjing laptop kemana-mana, menikmati sajian Hotspot selain sajian menu istimewa di sebuah kafe, atau ngobrol bareng temen-temen di taman kampus sembari browsing mencari data untuk tugas kuliah di om Google.

Siapa lagi temannya Tukul? Adalah produsen laptop yang semakin hari semakin kompetitif, menelurkan produk laptop yang ramah kantong. Selain terjangkau, jenis lain dari laptop, biasanya subnotebook sudah mulai banyak pemainnya di pasaran. Laptop mungil dengan harga murah, berkisar 2 juta hingga 4.5 juta ini dapat dengan mudah Anda peroleh. Tak kurang Asus, Axioo, Zyrex, MSI mendominasi pasar subnotebook dengan produknya. Oh, ada lagi teman tukul, yaitu toko-toko yang memberikan fasilitas kredit Laptop. Sekarang Anda yang berkantong pas-pasan bahkan bisa mencicil laptop yg mahal sekalipun.

Fenomena kembali ke laptop disinyalir di tahun 2009 ini akan semakin semarak. Kita tunggu saja produsen barang elektronik ini melakukan berbagai inovasi produk dan meningkatkan pangsa pasar masing-masing. Saya tidak dapat memprediksi apakah acara “Empat Mata” yang sekarang menjadi “Bukan Empat Mata” akan berevolusi lagi atau bahkan tamat riwayatnya. Namun yang bisa diprediksi adalah, laptopnya tukul, bisa jadi, semakin canggih, semakin bermerk (tergantung sponsor acara) dan semakin mengecil mengikuti tren ukuran laptop yang kecil (kecuali Tukul matanya rabun dan sulit melihat huruf yang kecil-kecil). Jadi, kalau Anda tidak mau ndeso, katrok, dan bahkan lebih norak dan katrok dari tukul, silakan berkenalan dengan laptop, berkenalan dengan dunia IT. Apabila ternyata asik, tidak ada salahnya, pembaca sekalian mendalami IT dengan belajar serius di berbagai lembaga training IT, kuliah di perguruan tinggi IT dst. Sama halnya dengan tidak ada kata katro dan telat bagi yang berminat di dunia lawak, dimana ‘Ki Daus dan pak bendot (Alm) telah membuktikan tua-tua keladi di dunia lawak. Dunia IT juga sama. Tidak ada kata terlambat. Semakin kita berdiam diri dan bergeming tanpa tersentuh teknologi, maka kita akan terasing. Dan akhirnya hanya ikut menertawakan tukul dengan laptopnya, tanpa sadar, kok kita sendiri belum coba menggunakan laptop. Yang katro itu siapa ya? Nah, 2009, makin banyak perlombaan menarik minat konsumen dari produsen laptop. Manfaatkan teman-teman Anda, teman-teman Tukul tadi. Jadi, 2009 adalah wajar apabila kita teriakkan “Kembali ke Laptop!”

[ulo],

Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )

Pemasaran Politik ala PKS

Posted on December 17, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Political-power | Tags: , , , , , , , |

Tulisan brilian dari Pengamat politik, Eep Saefuloh Fatah di sebuah media massa, menanggapi iklan kontroversial PKS. Jadi, ada dimanakah Anda? Silakan introspeksi dan menelaah sendiri..

Sebagai disclaimer, situs The Unggul Center menayangkan berita yang menurut kacamata kami termasuk berita intelektual. Kami menampilkan topik Pemasaran Politiknya, bukan PKS nya. PKS adalah contoh konkrit dan hangat dalam melakukan strategi demikian. Termasuk Komunikasi Politik melalui aktivitas PR dan Koreksi atas Berita Iklan tersebut. The Unggul Center adalah forum intelektual dan akademis, bukan praktis.

Soeharto Dalam Pemasaran Politik PKS

Oleh EEP SAEFULLOH FATAH

TEMPO Interaktif, Jakarta: Sungguh biasa secara artistik, tidak secara politik. Inilah iklan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang belakangan jadi menu utama di atas meja diskusi kita.

Secara artistik, iklan berdurasi 31 detik itu tak istimewa. Narasinya terlampau verbal: ”Mereka sudah lakukan apa yang mereka bisa, mereka sudah beri apa yang mereka punya, mereka guru bangsa kita, mereka pahlawan kita, mereka motivator kita, mereka ilham bagi masa depan kita. Terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS untuk Indonesia sejahtera.”

Suara sang narator juga seperti tercekat di kerongkongan. Pecah. Tak bulat dan jauh dari bertenaga seperti teriakan khas Soekarno. Lebih mirip teriakan demonstran pada hari-hari antara 1997 dan 1998. Visualisasinya berupa gerak perpindahan slide standar, menampilkan sosok Soekarno, Soeharto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, M. Natsir, Mohammad Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo.

Tapi iklan itu tak biasa secara politik. Ia mendulang kontroversi lumayan panjang, terutama lantaran sosok Soeharto. Sebagian kalangan menolak penahbisan sang Jenderal Besar sebagai pahlawan dan guru bangsa. Sebagian kalangan bahkan langsung menaruh PKS di keranjang partai antireformasi.

Iklan itu pun menjadi salah satu pertaruhan penting PKS dalam mengulang sukses Pemilu 2004. Sebegitu penting dan genting perkara ini bagi PKS? Produktif atau kontraproduktifkah iklan itu bagi upaya PKS meraih target 15 persen suara atau 20 juta pemilih dan menjadi tiga besar?

Mari kita telisik perkara ini dengan teropong ”pemasaran politik” (political marketing). Sukses sebuah iklan dinilai dari keberhasilannya memperluas dukungan bagi produk politik (partai, kandidat, kebijakan, dan presentasi ketiganya) yang ditawarkan.

Masalahnya, tak ada iklan yang bisa efektif menjangkau semua karakter calon pemilih. Fungsi sebuah iklan pun mirip-mirip penepuk lalat. Anda mesti berkonsentrasi pada satu atau beberapa lalat saja. Ketika sang lalat tertepuk, Anda mesti menerima konsekuensi serta merta: lalat-lalat lain akan terbang menjauh dari jangkauan. Untungnya, tepukan bisa diulang-ulang untuk memperbanyak jumlah korban.

Begitulah logika kerja sebuah iklan politik. Semakin tegas, benderang, spesifik, dan tajam sasaran yang dibidiknya, semakin besar potensi sukses sang iklan. Sebagaimana menepuk lalat, Anda lalu bisa membuat banyak iklan untuk beragam sasaran bidik.

Celakanya, pemilih bukanlah lalat. Setiap karakter pemilih membutuhkan langgam ”tepukan” berbeda. Beriklan banyak untuk sasaran bidik beragam boleh saja. Tapi hasilnya akan lain manakala langgam iklan-iklan itu tak berkesesuaian, apalagi jika berbalas pantun, saling menyerang. Maka, alih-alih memperluas daya jerat, sang iklan akan membikin kabur identitas partai dan para pemilih potensialnya.

PKS rupanya tak ingin makan buah simalakama itu. Mereka tak membuat banyak iklan dengan target bidik beragam. Mereka membuat satu porsi gado-gado: Satu iklan yang menggabungkan banyak ikon, untuk satu kali tepukan. Plaaak! Berapa banyakkah yang tertangkap dan yang terbang menjauh?

Asumsikanlah bahwa PKS merupakan partai rasional yang dikelola politikus akil balig. Maka, iklan ”Soeharto guru bangsa” bisa jadi dilandasi kesadaran PKS tentang pentingnya ketokohan dalam menentukan pilihan sekaligus tentang sempitnya ceruk pasar partai-partai berbasis massa Islam.

Berdasarkan pendataan Litbang Kompas (2008), dalam Pemilu 1999, ceruk pasar itu hanya didiami 37,54 persen dari total pemilih. Sekalipun jauh lebih besar ketimbang ceruk partai berbasis massa Kristen, kedaerahan, dan etnik (1,42 persen), ceruk itu lebih kecil daripada ceruk partai-partai berbasis massa majemuk (61,04 persen). Dalam Pemilu 2004, perbandingan ketiga ceruk pasar ini tak bergeser terlalu jauh, menjadi 38,33 persen berbanding 2,14 persen berbanding 59,53 persen.

Celakanya, sebagaimana dibuktikan Dwight King dan Anies Baswedan (2005), para pemilih Indonesia bukanlah pelintas batas. Jangankan menyeberang ke partai-partai majemuk, para pemilih partai Islam cenderung mengalihkan dukungannya ke partai berbasis massa Islam lainnya. Pemilih ceruk lain juga setali tiga uang.

Pertarungan pokok pun terjadi di dalam ceruk, bukan lintas ceruk. Fakta ini tegas terlihat di Jakarta. Di daerah pemilihan paling prestisius yang dimenangi PKS pada Pemilu 2004 ini, tujuh partai berbasis massa Islam meraih 1.891.641 suara (46,89 persen); hanya berselisih kecil dengan suara yang diperoleh 16 partai berbasis massa majemuk (1.911.666 suara atau 47,39 persen). Sedangkan sisanya, 5,72 persen atau 230.657 suara, diraih partai berbasis massa Kristen (PDS).

Ternyata, para pemilih Jakarta bukanlah para pelintas batas ceruk. Dari Pemilu 1999 ke 2004, PBB, PPP, dan PAN masing-masing kehilangan berturut-turut 0,7 persen, 9,7 persen, dan 9,1 persen suara. Hilangnya 19,5 persen suara itu beralih ke tiga partai berbasis massa Islam lainnya, yakni PKB (bertambah 0,1 persen), PBR (3 persen), dan terutama PKS (bertambah 18,4 persen).

Situasi di ceruk pasar majemuk juga serupa. Suara PDIP dan Partai Golkar yang hilang (berturut-turut 25 persen dan 2,1 persen) ternyata lari ke sang pendatang baru, Partai Demokrat (20,2 persen) dan partai-partai majemuk lainnya.

Menyadari fakta itu, PKS rupanya merasa perlu membuat upaya luar biasa yang tak lazim untuk menjangkau para pemilih secara lintas ceruk. Mereka berusaha menjangkau para pemilih partai Islam sekaligus partai nasionalis-plural. Alasannya, mustahil PKS bisa meraih 15 persen suara hanya dari dalam ceruk sempit partai-partai berbasis massa Islam.

Pada titik itulah iklan ”Soeharto guru bangsa” menemukan relevansinya. Iklan itu adalah alat penepuk PKS untuk menggaruk pemilih dari semua ceruk. Iklan ini pun senapas dengan upaya PKS membuka selubung dirinya, berusaha menjadi inklusif via beragam cara. Mereka mendatangi sejumlah puri (belum pura) terpenting di Bali, mengumumkan bahwa calon anggota legislatif PKS tak harus orang PKS dan tak harus orang Islam. PKS menerbitkan buku tebal berisi platform partai yang menegaskan pemihakan pada demokrasi dan kemajemukan, melanjutkan dan meluaskan jargon partai dari ”bersih dan peduli” menjadi ”bersih, peduli, dan profesional”, dan seterusnya.

Maka, di satu sisi, iklan ”Soeharto guru bangsa” adalah sebuah upaya rasional sebuah partai yang berusaha melakukan ekspansi pasar secara segera. Tetapi, di sisi lain, iklan itu menegaskan alpanya PKS pada sumber-sumber utama pendongkrak suara mereka dalam Pemilu 2004.

Dalam Pemilu 2004, selain dari kerja organik partai, sukses PKS berasal dari dua sumber pokok: moderasi yang terjadi di kalangan pemilih muslim (sebagaimana ditunjukkan oleh serial riset R. William Liddle dan Saiful Mujani) dan sukses PKS membuat positioning-diferensiasi-branding yang tepat berhadapan dengan partai-partai Islam lainnya.

Pemilu 1999 dan 2004 menunjukkan bahwa kalangan Islam puritan, radikal, fundamentalis—atau apa pun namanya—adalah kelompok kecil bersuara nyaring. Alih-alih fundamentalisasi, arus utama yang terjadi di kalangan pemilih muslim adalah moderasi, bergerak makin ke tengah. Kepada merekalah PKS datang menawarkan citra, identitas, dan integritas partai yang berbeda dari partai-partai Islam konvensional. PKS menawarkan platform yang atraktif ketika partai-partai Islam lain masih terus sibuk dengan syair-syair lapuk yang diulang-ulang.

PKS pun berhasil membengkakkan raihan suaranya karena berhasil menjadikan dirinya sebagai kalimatun sawa, titik temu, bagi para pemilih muslim-rasional-kalkulatif. PKS alpa bahwa mereka inilah yang potensial menjauh terbang akibat tepukan iklan ”Soeharto guru bangsa” itu.

Maka, jika tak ada upaya-upaya pemasaran politik baru yang layak, sangat boleh jadi, iklan itu membikin PKS mengeluarkan ongkos politik teramat mahal. Sekalipun, tentu saja, sebuah partai tak akan mati terbunuh oleh sebuah iklannya.

EEP SAEFULLOH FATAH, Anggota Komunitas ”Para Penagih Janji”
Sumber:Tempo Interaktif Rabu, 10 Desember 2008

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Deklarasi Indonesia Go Open Source! (IGOS) dan Implikasinya di bidang Pendidikan

Posted on December 16, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , |

Indonesia Go Open Source! (IGOS) adalah keputusan strategis di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari pemerintah Republik Indonesia melalui lembaga-lembaga terkait. IGOS dideklarasikan pada tanggal 30 Juni 2004 yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. IGOS adalah sebuah gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source di lingkungan pemerintah. Meskipun hanya ditandatangani oleh lima kementrian dan departemen, namun implementasinya didukung luas oleh lembaga-lembaga dan departemen lain misalnya Departemen Tenaga Kerja, Depdiknas dan Presiden sendiri, dengan membentuk Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) sebagai penasihat presiden dalam urusan dan keputusan terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia.

Salah satu poin penting deklarasi tersebut adalah pada poin ketiga, yaitu melakukan langkah-langkah aksi yang diantaranya Mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusat-pusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia. Deklarasi IGOS bertujuan agar bangsa Indonesia dapat membangun aplikasi peranti lunak komputer yang berkode sumber terbuka, membuat bangsa Indonesia dapat dengan mudah merancang, membuat, merekayasa dan menjual produk intelektual dengan mudah, murah dan tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu yang sewaktu-waktu dapat memaksakan kepentingan terkait dengan kebutuhan dukungan (support) terhadap produk.

Anak negeri bisa menghasilkan produk-produk karya sendiri, bebas, terbuka dan dapat disempurnakan oleh siapa saja dikarenakan konsep kode sumber yang terbuka sehingga dengan mudah dapat dilihat, dimodifikasi dan disempurnakan oleh siapa-saja. Pemilihan teknologi open source oleh pemerintah RI sendiri telah menjadikan sistem operasi (OS) berbasis Open Source, yaitu GNU-Linux (selanjutnya disingkat Linux) menjadi populer. Hal ini disebabkan banyaknya keunggulan Linux dibanding sistem operasi Open Source lainnya bahkan mengungguli raksasa sistem operasi proprietary yang saat ini, yaitu Microsoft Windows.

Open source sendiri dapat dimaknai sebagai sistem operasi komputer dan program-program komputer berlisensi Free (Bebas) dan Open Source (Berkode sumber terbuka. FOSS (Free & Open Source Software) Secara sederhana berarti kode program dapat dilihat, dimodifikasi, disebarluaskan secara bebas, halal, baik berbayar maupun gratis. Contoh konkretnya adalah Linux, sebuah sistem operasi penantang Microsoft Window$. Efeknya adalah pengguna dapat melakukan pembuatan aplikasi yang justru lebih canggih dan menyempurnakan aplikasi yang sebelumnya ada, tanpa perlu menunggu dari si pembuat. Bebas untuk berkreasi, membuat program komputer dan meneruskan program yang sudah dibuat oleh orang lain. Bebas, dan untuk tujuan kemanusiaan maupun komersial. Bebas saja.

Ada dua implikasi dari deklarasi IGOS ini bagi dunia pendidikan. Pertama, dilihat dari ditandatanganinya Deklarasi oleh Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu, secara internal menjadikan Open Source (baca : Linux) menjadi pilihan bagi departemen terkait. Sedangkan secara eksternal, memberikan perintah tidak langsung bahwa dunia pendidikan sudah menerima Open Source menjadi pilihan sistem operasi maupun aplikasi sehar-hari. Kedua, sektor pendidikan yang sudah stabil mendorong aktivitas pembelajaran, riset dan kemungkinan untuk melakukan migrasi ke Linux. Mulai dari kurikulum perguruan tinggi, mulai dirombak dan didasari oleh dasar kurikulum TIK yang open source, kalau tidak dapat disebut bebas dari pengaruh sistem operasi tertentu. Hingga kegeliat sektor swasta dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM TIK berbasis Linux/FOSS. Muncul dan kian berkembang lembaga-lembaga training komputer yang memfokuskan diri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang diperlukan dalam rangka pemenuhan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK yang dibutuhkan. Hal ini sejalan dengan amanat Deklarasi IGOS oleh pemerintah pada tahun 2004.

Selain itu, adanya tren SDM berdaya saing tinggi apabila menguasai Linux/FOSS dibandingkan dengan penguasaan sistem operasi lainnya, terutama ditunjukkan oleh adanya riset dari kebutuhan pasar/dunia industri terhadap SDM TIK terutama yang menguasai Linux. Selama kurun waktu hingga 2008 –hingga pada saat tulisan ini dibuat, telah banyak terbentuk komunitas-komunitas Linux dan lembaga training komputer berbasis Linux/FOSS. Selain faktor deklarasi IGOS yang artinya sudah didukung pemerintah, komunitas dan lembaga training merespons adanya pasar dan kebutuhan untuk jasa pelatihan komputer utamanya berbasis Linux/FOSS.
Sebagai lembaga bisnis, kebutuhan masyarakat akan pelatihan Linux dan pemrograman under Linux membuat lembaga pelatihan dan pendidikan berbasis Linux/FOSS memiliki pangsa pasar tersendiri. Diantara lembaga-lembaga yang ada, di daerah jabotabek dikenal beberapa lembaga training Linux yaitu Inixindo (www.inixindo.com), Nurul Fikri (www.nurulfikri.com), Linuxindo (www.linuxindo.com), Ardelindo Aples 1991 (www.ardelindo.com), Bajau (www.bajau.com), Indolinux (www.indolinux.com), selain training-training Linux lain yang dibuka oleh komunitas-komunitas Linux di Indonesia. Lembaga-lembaga ini selain bergerak dibidang training dan pendidikan profesional Linux/FOSS, juga beberapa menyediakan jasa inhouse training untuk kalangan korporat dan paket khusus pendidikan, termasuk dukungan produk pendidikan sekolah.

Pada dunia pendidikan, sudah banyak sekolah-sekolah memiliki ekstrakurikuler Kelompok Studi Linux (KSL) dan atau Kelompok studi IT lainnya yang mempelajari Linux/FOSS sejak dini. Dan ini terus berkembang. Di lingkungan masyarakat, komunitas pengguna Linux membentuk regional-regional komunitas dengan label KPLI yang tersebar di seluruh Indonesia, hingga mencapai limapuluhan KPLI terbentuk, dari sabang sampai merauke. Pusat koordinasi sosialisasi Linux ada pada Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan dalam menunjang perkerabatan dan jaringan, tak pelak Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang baru berdiri menjadi tulang punggung komunikasi.

Bagaimana dengan sekolah yang belum mengenal Linux/FOSS (alih-alih menggunakan Linux)? Jangan-jangan siswa-siswa sudah lebih dahulu mengenal Linux melalui kelompok studi Linux atau TIK yang digelutinya. Sebagai institusi formal yang mendukung ketrampilan TIK demi masa depan siswa-siswinya, sudah tidak ada alasan bagi sekolah untuk menjadikan Linux sahabat dalam teknologi informasi. Linux/FOSS akrab dengan dunia pendidikan. Sebuah solusi sistem operasi dan aplikasi yang bebas, murah (bahkan lebih sering disebut “gratis”) dan bersahabat dengan anggaran sekolah. Cita-cita untuk memajukan intelektual siswa-siswi tentu ada, dan lebih baik apabila sesegera mungkin menggunakan sistem operasi ini. Kalau sudah mengenalkan kepada sekolah dan melakukan ujicoba, selanjutnya, terserah Anda..

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

12 Mahasiswa PTN Terancam Drop Out.. Ya Sutralah..So what gitu loh?

Posted on October 22, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power, The Hybrid-theory | Tags: , , , , , , , , , , , |

Hmm judulnya kok sadis sih.. Mahasiswa terancam DO, bukan dibantu malah “ya sutralah, so what gitu loh”.. lah emang mau apa?

Ini awalnya Info dari milis, saya mendapatkan informasi permintaan donasi. Klub santri peduli menginformasikan mengenai kesulitan “12 Mahasiswa UPI Bandung” yang terancam dikeluarkan.Dari sini lah diskusi berawal.

Bagi yang belum tau, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) adalah IKIP Bandung yang berubah nama. Ya, artinya NEGERI. nah, dulu, PTN menjadi tempat mahasiswa miskin utk berharap bisa kuliah. Namun sekarang, wuih sama mahalnya dengan swasta, bahkan lebih mahal. Nah, kembali ke informasi, berikut informasinya :

12 Mahasiswa Baru UPI Bandung Terancam Dikeluarkan
19 Oktober 2008 » Jurnal

Klab Santri Peduli : Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan aset penting untuk dijadikan senjata pengokoh bangsa ini. Namun, pada kenyataannya banyak elemen di negara ini yang mengabaikan hal tersebut dan tak mempedulikannya. Termasuk birokrat-birokrat pemerintah atau lembaga-lembaga yang diamanahi mengurus kependidikan, nampak seperti tidak pro terhadap majunya kependidikan di negara ini.

Banyak pemuda-pemudi potensial di negara ini yang mempunyai harapan tinggi dapat meneguk manisnya ilmu di bangku-bangku pendidikan, namun harus rela menggugurkan harapan-harapannya karena berbenturan dengan biaya yang melangit dan rumitnya kebijakan yang mengaturnya. Sehingga sangat sulit untuk mendapatkan keringanan biaya, bahkan untuk dapat biaya pendidikan gratis. Seolah ada anggapan bahwa pendidikan hanya untuk orang kaya saja.

Salah satu masalah yang terjadi sekarang adalah permasalahan 12 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mereka belum membayar biaya registrasi masuk Universitas. Satu alasan mereka, miskin, dan kondisi itu tidaklah mereka inginkan. Pada awalnya, mereka berjumlah sekitar 50 orang. Namun, sebagian besar telah putus harapan. Sekarang yang tersisa tinggal 12 orang.

Mahasiswa baru yang berjumlah 12 orang ini belum mempunyai status resmi sebagai mahasiswa karena masih berstatus penangguhan. Selain itu, tenggat waktu pembayaran yang diberikan oleh pihak kampus ialah sampai tanggal 30 Oktober 2008. Namun, permasalahan timbul saat mahasiswa tidak mampu melunasi itu karena kondisi ekonomi tidak memungkinkan.

***

1. Asep Rahmat. Mahasiswa baru asal Cianjur ini tidak mengikuti perkuliahan semenjak memasuki awal perkuliahan 2008/2009 karena belum memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM) disebabkan belum melunasi biaya registrasi dan tidak menandatangani kesepakatan dengan rektorat untuk melunasi bayaran pada tanggal 30 oktober 2008. Di Bandung tidak memiliki rumah dan tinggal menumpang di rumah saudaranya. Orangtuanya kurang menyanggupi untuk memberikan uang saku. Asep sehari-harinya mencari penghidupan dengan “bantu-bantu” saudaranya di tempat ia menumpang dan di DKM masjid sekitar. Terkadang mencari kerja sampingan pula. Penghasilan orangtuanya Rp. 20.000,-/hari. Salah satu prestasi Asep ialah ikut serta sebagai peserta kegiatan Olimpiade Fisika Indonesia tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur pada tanggal 18 April 2006. Asep masuk UPI melalui jalur PMDK dan mengambil jurusan Teknik Elektro. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.350.000,-.

2. Abdul Kalim. Mahasiswa baru asal Indramayu. Untuk mencukupi kebutuhan pangan selama awal perkuliahan yang tepat pada bulan Ramadhan, Abdul hanya melakukannya pada saat sahur dan buka puasa gratis di sebuah masjid karena tidak memiliki cukup uang untuk makan. Selama masa perkuliahan, Asep menumpang di kost-an kakak kelas se-SMA-nya karena tidak memiliki cukup biaya untuk menyewa kost. Ayahnya sudah tidak membiayai hidup sehari-harinya lagi karena penghasilan yang pas-pasan, yaitu Rp. 200.000,-/bulan sebagai buruh tani. Salah satu prestasinya ialah sebagai juara III anggota tim bina vokal SMAN 1 Anjatan dalam lomba karya cipta lagu dan menyanyikan lagu hymne dan mars Indramayu remaja pada bulan Juli 2008. Abdul masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Musik. Biaya yang dibutuhkan Rp. 6.038.000,-.

3. Citra Maulida Fitriyani. Mahasiswi baru asal Bandung. Prestasinya yaitu lulus ujian dengan mendapatkan nilai tinggi dengan hasil 24, 27 dari 3 mata pelajaran. Citra masuk UPI melalui jalur UM dan mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.408.000,-.

4. Mira Komalasari. Mahasiswi baru berasal dari Bandung. Ayahnya bekerja sebagai sopir di rumah makan Wibisana Bandung. Penghasilan orangtuanya Rp. 600.000,-/bulan. Mira masuk UPI melalui jalur PMDK dan mengambil jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.888.000,-.

5. Kaehan Fatimah Azhariyah. Mahasiswi baru yang beralamat di Cihampelas Bandung. Orangtuanya bekerja sebagai pedagang kecil dengan penghasilan Rp. 1.000.000,-/bulan. Kaehan adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Kaehan mendapat uang saku perhari dari orangtua sebesar Rp. 5000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Cihampeas – UPI. Kaehan masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

6. Siti Syabibah Nurul Amalina. Mahasiswi baru yang beralamat di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bubur dengan penghasilan Rp. 1.000.000,-/bulan. Siti adalah anak pertama dari empat bersaudara. Uang saku perhari dari orangtuanya sebesar Rp. 10.000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Lembang – UPI. Siti masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

7. Anita Komala Dewi. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Rancaekek Bandung. Ayahnya sebagai pegawai swasta namun sudah putus kerja. Ibunya sebagai guru SD. Anita masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.780.000,-.

8. Faizal Nurkarim. Mahasiswa baru yang berasal dari Garut. Sejak memasuki masa perkuliahan, Faizal menumpang tinggal di rumah saudaranya di daerah Ciwastra Bandung karena tidak sanggup untuk menyewa kost-an. Orangtua Faizal bekerja sebagai pegawai yayasan. Faizal adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Penghasilan orangtua Faizal yaitu Rp. 1.000.000,-/bulan. Faizal masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Teknik Mesin. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.888.000,-.

9. Astri Mustikawati. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Garut. Ayahnya seorang wiraswasta dengan penghasilan Rp. 800.000,-/bulan. Untuk memenuhi segala macam kebutuhannya saat ini, Astri harus mengoptimalkan uang saku yang berjumlah Rp. 50.000,-/bulan. Astri masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Jasmani dan Keolahragaan. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.778.000,-.

10. Rini Wulandari. Mahasiswi baru yang berasal daerah Kiaracondong Bandung. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bakso keliling dengan penghasilan Rp. 600.000,-/bulan. Rini adalah anak pertama dari empat bersaudara. Perharinya Rini mendapat uang saku Rp. 8.000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Cicaheum – Ledeng. Rini masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi Koperasi. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

11. Lalitya Dwi Rahmani. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta (kadang-kadang narik ojek) dengan penghasilan Rp. 30.000,-/hari. Lalitya masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Rupa. Biaya yang dibutuhkan Rp. 6.038.000,-.

12. Andi Sopandi. Pria asal Ciamis ini sudah tidak disubsidi lagi oleh orangtuanya sejak SMA. Hidupnya terkatung-katung, ia tidak memiliki rumah, baik di Ciamis maupun di Bandung. Sosok pekerja keras ini, mengumpulkan uang dari aktivitasnya sehari-hari mengajar les Matematika. Andi Sopandi hanyalah anak buruh tani biasa, dan ia tidak sanggup melunasi biaya kuliahnya. Andi masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Sunda. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

***

12 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tidak sanggup membayar biaya registrasi, membuat surat perjanjian di atas materai Rp. 6000,- dengan pihak kampus untuk penangguhan biaya. Isi surat itu adalah, “… Apabila pada tanggal yang telah disepakati (30 Oktober 2008) tidak dapat melunasi biaya pendidikan tersebut, kami siap menanggung resiko sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia.” Hal ini sudah tidak bisa diganggu gugat, dan sudah harga mati bagi mahasiswa baru.

Melihat realitas, kondisi ekonomi mahasiswa baru dan orangtuanya, tidak memungkinkan untuk memenuhi pelunasan dalam tenggat waktu yang diberikan kampus. Lalu, apakah harapan-harapan mereka akan pupus? Lantas apa kita akan berdiam diri saja melihat itu? Masih adakah elemen-elemen di bangsa ini yang peduli pendidikan?

***

Transfer Donasi

* Bank Syariah Mandiri – No. Rek. 0070176318 – A.N. Klab Santri Peduli
* Bank Central Asia (BCA) – No. Rek. 4381168624 – A.N. Dudung Kurnia Sundana
* Bank Mandiri – No. Rek. 132-00-0473817-6 – A.N. Dudung Kurnia Sundana
* Bank Muamalat Indonesia – No. Rek. : 103.02635.20 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* Bank Permata Syariah – No. Rek. : 377.000.637.5 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* BNI Syariah – No. Rek. : 0092531159 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* E-Gold – http://3872071.e-gold.com/ – KotaSantri.com)
* Money Gram / Western Union – Bagi yang tinggal di luar Indonesia dan ingin turut berpartisipasi, silahkan transfer melalui Money Gram / Western Union. Untuk info lengkap, silahkan hubungi KotaSantri.com.

Bagi donatur yang telah mentransfer donasinya, agar konfirmasi melalui e-mail : ksp [at] kotasantri [dot] org atau SMS ke 0817434686. Tuliskan subjek e-mail atau awal kalimat SMS dengan kode KSP -spasi- Prestatif -spasi- Nama -spasi- Alamat/Kota -spasi- Jumlah Donasi -spasi- Nama Bank Tujuan.

Jika tidak ingin konfirmasi, maka untuk mempermudah proses pengecekan dana yang ditransfer, dimohon agar melebihkan Rp. 10,- (mencantumkan angka 10 di belakang jumlah nominal) dari jumlah dana yang ditransfer.

***

Oke, setelah membaca, apa yang Anda lakukan? Miris dan mau nyumbang? Miris, geleng-geleng kepala dan tidak menyumbang? atau yang ketiga, mencoba menganalisis dari sudut pandang lain, kecuali sudut pandang getir yg dialami 12 orang ini.

Saya memilih yang ketiga. Pertanyaan saya pertama, loh, memangnya dengan membayar 5 jutaan itu, masalah beres? tidak. Anda butuh duit untuk semester2 berikutnya. Anda butuh duit transport, kos, fotokopi. Anda kuliah S1 lima tahun dan bisa lebih. Ngga cukup 5 juta itu. Lalu, dibalas, oke kerja. Ya kerja banting tulang, akhirnya kuliah terbengkalai. Ya minimal tidak bisa top at the class lah. belum kalau akhirnya nyasar jadi “aktivis” ya susah.

Lalu, mengapa harus ngotot di PTN ? Kalau dibaca, 12 orang ini hanya dua orang kira2 mengambil jurusan yg aplikatif. Sisanya idealis, mengambil jurusan2 yang kurang diserap pasar, dengan mengorbankan realita. Kekurangan uang tersebut juga sudah hitam diatas putih akan dikeluarkan. Itu juga disetujui sama si mahasiswa. Ya, dengan harapan akan ada bantuan. Moksoin diri buat masuk UPI, dengan berharap bantuan dana nantinya.

FYI, teman2 saya beberapa drop out dari UI dan IPB. NO problemo. Bisa kul sambil kerja, bisa bantu ortu. Bukan malah pusing buat bayar kuliah. Lalu, apakah mereka tidak intelek? No no.. intelektualitas bisa dilihat dari hasil kerja, cara kerja, cara berkomunikasi, berbicara, menganalisis masalah dan menghasilak sesuatu dengan indah dan inovatif. Banyak cara, selain dengan menunjukkan Ijazah PTN Favorit. Ada-ada aja.

Ekstremnya, saya nggak akan mau nyumbang dana. mengapa? Sebab dengan menyumbang maka seperti memberikan papan untuk melintasi saluran air, sedangkan didepan saluran air ada sungai yang dalam. Artinya, ini lubang kecil, nanti jurang yang dihadapi. Butuh dana besar. Sangat baik apabila “dana untuk pendidikan” disumbangkan ke Pendidikan Dasar dan Menengah. Ya minimal untuk siswa SMK yang kurang mampu. Sebab SMK mendidik untuk memiliki kompetensi. Adakah kompetensi dicapai hanya dengan meraih gelar sarjana? Hari ini, di negara yang miskin ini, kita harus introspeksi, sadar bahwa beginilah perjuangan.

Kalau judulnya, 12 Siswa terancam Drop Out karena belum bayar Uang Sekolah/SPP, prioritas dibantunya tentu lebih tinggi. Sekolah hingga tamat itu WAJIB tapi kuliah apalagi buat ngejar S1, itu OPTIONAL.

Btw, kalau memang mau kul, ada temen merekomendasikan kuliah murah di websitenya. Ini nih. Silakan dicek-cek deh, baru putuskan mau kuliah. Saya pikir, UPI juga udah ngasih tau kan biaya2 kuliah itu berapa? Masih mau ngotot SNMPTN, UM dan atau apa namanya untuk kuliah negeri? Apa karena ikut2an, hehe.. ini seperti saya dulu, ikut2an SPMB tapi ya diterima dan orangtua Alhamdulillah sih mampu, kemudian kejar beasiswa sana sini dan lulus deh..ini aja masih nyesel soalnya kenapa ga sambil kerja dulu atau kerja dulu karena liat itungan waktu (tahun) rugi waktu banget deh..

Silakan direnungkan, Wassalam.

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Seragam Koruptor? NGGAK PERLU!

Posted on August 23, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Political-power | Tags: , , , , , , , |

Bener, Anda tidak salah baca. Menurut saya seragam koruptor memang tidak diperlukan. Ya. Tidak diperlukan “keistimewaan” lain dari koruptor. Apa karena mereka masuk kejahatan kerah putih, lalu punya priviledges dibanding mereka yang tersangkut kasus kejahatan kerah biru?

Korupsi, narkoba, perampokan, maling ayam semuanya sama. Penjahat. Pesakitan. Artinya, kalau mau seragam ya pakai aja seragam biasa. Biasa = seragam biru bertuliskan tahanan, seragam garis-garis putih hitam dan lain-lain. Kenapa harus jadi sebuah seragam yang MODIS, berlabel Tahanan KPK, dengan –mungkin– bahan yang bagus hehe.. bahan biasa aja, kalau perlu dari bahan bekas karung goni (karung beras). Ya, sepadan.

Dan jangan lupa, BORGOL. Saya sih suka nonton film2 action Hollywood, yang saya lihat pada diborgol dan pakai seragam (memang sih seragamnya lebih “berkualitas” dan “keren” dari seragam tahanan di Indonesia). Apalagi kalau ternyata yang kepilih adalah seragam warna ORANYE yang seperti tukang sapu jalanan dan pilot itu nah loh.. bisa-bisa bahan dan kualitas si baju jauh LEBIH BAIK dari mereka penyapu jalanan, montir, dan mekanik yang memakai baju tersebut. Kalau mau pakai seragam, ya dipake-in aja ala gerombolan si berat. Atau seperti Dalton bersaudara, musuhnya Lucky Luke di komik kalo mereka pake seragam tahanan. Lebih oke kan. Filmnya juga ada loh hehe.. judulnya The Daltons. Seperti yang ada dibawah ini
The Daltons Movie The Daltons Kartun
Tapi sebenarnya memang tidak perlu ada seragam baru, khusus (keren = ini kata temen-temen saya) untuk mereka. Semua dipakein yg sama dengan terdakwa lain, dengan penjahat lain, dengan pesakitan lain. Semalam (21/08/08) , ada berita Roy Marten yang terpidana 3 tahun narkoba pas dipindah ke LP Cipinang, wuih… Baju Hawaii, senyam senyum melambaikan tangan hehe.. ini orang pesakitan atau bukan yach? nah yang ini mau dibikin ngga seragamnya??

jadi, sebelum menjurus ke “korupsi” baru (siapa tahu kan?) maka pakai aja baju tahanan biasa. Pakai borgol, kalau perlu bandul Gede seperti di komik-komik. Lengkap dengan topi garis-garis hitam putih. Nah, itu baru seragam KRIMINAL! Tapi paling tidak, kalau memang tujuannya membuat malu, kapok dan jera, Mudah-mudahan memang dari 8 Desain KPK, yang dipilih yang model Gerombolan si berat ini. Plus borgol, sepatu seragam, kalau perlu bandul bola besi yang diseret-seret dan diikat ke kaki! Nah loh! itu baru seru!!

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Ternyata.. Ponsel dan SIM Card Ada Emasnya!

Posted on July 1, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , |

Jangan terburu-buru kaget, lalu merespons kurang positif misalnya : bo’ong ah.. atau respons terlalu positif, Anda langsung ngumpulin Hape-hape bekas apapun juga.. atau menangis-nangis sebab sudah terlanjur buang-buang simcard gara2 nyobain paket promo dari operator sana-sini.. (lebay banget deh..)

Tapi kenyataannya memang benar, di dalam HP dan Simcard ada kandungan emasnya. Tidak cuma emas, tapi mengandung tembaga dan perak juga. Ya, tapi SEDIKIT. Hehe.. mengingatkan kita dengan kandungan emas pada uang logam receh lima ratus rupiah yang kuningan, sering dibuat orang cincin pada periode yach.. kira-kira pas jaman saya SMA dulu (kapan ya??)..

Lalu, darimana emas atau logam-logam itu datang? Dalam sirkuit di ponsel atau chip di kartu SIM atau RUIM (CDMA) memang emas digunakan sebagai penyalur arus elektronik. Sebab emas memiliki reputasi jauh lebih baik dibanding tembaga dalam hal distribusi arus listrik. Produsen ponsel atau Sim/RUIM card tidak pernah mengurangi atau meniadakan kandungan logam mulia itu, walaupun dalam setiap unit jumlahnya hanya seperseribu gram. Kalau Anda rela bela-belain mengumpulkan sekitar satu juta Sim card bekas, maka bolehlah harap-harap cemas mendapatkan sekitar 1.000 gram atau satu kilogram emas murni. wuih mayan kan?

Nah, itu baru dari simcard. Dari ponsel bekas, kita bisa mengurai lebih banyak lagi emas, perak dan tembaga. Sebab kandungan pada ponsel memiliki perak dan tembaga yang jumlahnya cukup signifikan. Apa benar? Faktanya, Yokohama Metal Co Ltd, asalnya dari Jepang (ya iyaalaahh..) sebuah perusahaan pemulung barang bekas (keren amat ya pemulung di Jepang ..) telah menggeluti bidang ini sejak lama. Dari satu ton material yang diambil di tambang emas konvensional, nyatanya hanya sekitar 5 gram emas, dari satu ponsel bekas yang dilebur bisa didapat 30 kali lipat. Artinya, akan didapatkan sekitar 150 gram emas!

Belum selesai disitu, berita terbaru (dapat di cek di beberapa media ibukota, misalnya Wartakota, Rabu, 18 Juni 2008 dan Tabloid SINYAL) disebutkan bahwa perusahaan Singapura dan Jepang akan masuk Indonesia dan menawarkan pembelian Sim card bekas dengan harga Rp 100 perbuah, atau Rp 1.000 untuk sebuah Ponsel bekas. Mereka berencana akan membangun pabrik untuk melebur alat komunikasi tadi, menjaring emas, tembaga dan perak yang ada.

Bagaimana peluangnya? Tahun 2008 ini saja, pelanggan Telkomsel sudah 52 Juta orang. Pertumbuhan pelanggan diklaim hingga 30% pertahun. Belum lagi dari delapan operator tanah air lainnya. Ditambah gaya hidup masyarakat yang suka gonta-ganti simcard demi menikmati berbagai fasilitas dan promo, maka dari berbagai sumber, misalnya tabloid SInyal, disebutkan kalau satu bulan bisa terkumpul 25 juta “kartu mati”. Jika berat kartu 2 gram, maka jumlah totalnya 50 ton. Nah, kalau semuanya dikumpulkan dan diambil logamnya, maka didapat sekitar 25 kilogram emas sebulan, dan sekitar 100 kg tembaga.

Sedangkan dengan cara melumatkan 10.000 ponsel bekas atau seberat satu ton (asumsi berat rata-rata HP adalah 100 gram) maka akan didapat 150 gram emas, 100 kilogram tembaga, dan 3 kilogram perak. Ini di luar plastik, atau timah dari ponsel yang dilumatkan/dilebur tersebut yang juga di dapatkan dari proses. Menggiurkan bukan? ya, asalkan ada alatnya untuk melebur hehe.. teknologi ini sayangya (belum) dilirik dan dimanfaatkan oleh perusahaan di Indonesia. Istilah lokalnya.. nggak ngeh dan belum menangkap peluang ini. Jadinya ya perusahaan luar lagi deh yang mo masuk (jadi inget kasus Freeport, Exxon dan konco-konconya yang ngubrak abrik negeri ini hehe..)

Namun ya bingung juga, gimana mo saingan la wong untuk tingkat “pulung-memulung sampah” saja perusahaan sekelas PT yang bermain! paling-paling masyarakat Indonesia berkesempatan “berpartisipasi” dari hasil penjualan ponsel danm simcard mati ke perusahaan-perusahaan tersebut.. itu pun kalau ada yang mau ngumpulin 100 rupiah per simcard. Kecil sekali kan? Jadi apa bisa industri ini dilaksanakan di Indonesia. Bisa saja, sebab perusahaan memiliki manajemen stratejik dimana tentunya tidak hanya mengandalkan pasokan “bahanbaku” eceran dari pemulung dan pengguna ponsel, namun bisa bekerjasama secara legal formal ke berbagai pihak.

Kita lihat saja nanti perkembangannya.. untuk sementara.. 10 – 0 untuk Jepang vs Indonesia hehe..

Read Full Post | Make a Comment ( 8 so far )

Ironisme Tim Gado-gado Jerman

Posted on June 20, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power, The Hybrid-theory | Tags: , , , , , , , , , , |

Ironis.

Namun kata ironis ini bisa bermakna banyak. Ya, ironis sebab pada perhelatan Euro 2008, Portugal kalah tipis 2-3 dari Jerman dalam penyisihan ke semifinal. Mengapa? sebab semangat portugal hingga menit ke 90 bahkan harapan untuk menyamakan skor sebenarnya masih bisa diperjuangkan, namun memang Dewi fortuna tidak memihak..

Ironis, sebab tim yang disebut dengan timnas Jerman ini hanyalah sekumpulan Pria ber- “KTP warga Jerman”. Ya, sebab dari deretan nama-nama berikut, mulai dari Gomez, Podolski, Klose, Odonkor, Kuranyi bukanlah “bangsa ras arya” yang sempat diunggul-unggulkan oleh Jerman di masa lalu. Bahkan Podolski berasal dari Polandia, yang pertama kali diserbu Jerman yang memulai Perang Dunia kedua, pada September 1939. Sebagian besar tim adalah Yahudi tulen, yang dulu kala pada masa Hitler sangat rendah dan hina dina.

Ironis, sebab kapten sekaliber Michael Ballack masih dipandang sebelah mata oleh publik Jerman, walau putra Germania ini aseli “nyong jerman” tapi latar belakang Jerman Timurnya masih memaksa masyarakat Jerman memandang sinis.

Ironis, tim yang dijuluki Panzer –mengacu pada dominasi kekuatan Panzer (tank) Jerman di PD II yang sangat powerfull dan terkenal dengan Blitzkrieg (Serangan kilat) nya ternyata sekumpulan orang-orang yang berketurunan tidak aseli, dan adapula yang masuk lewat jalur naturalisasi. Lalu, ironisnya apa lagi?

Disisi lain, ironisme jerman ini –yang sekarang layak disebut tim gado-gado sebab sudah ndak banyak talenta Jerman “asli” yang berkualitas baik setelah era terakhir adalah masa “sang Kaisar” Oliver Kahn yang tergusur saat ini, mencerminkan kurang kaderisasinya klub-klub dalam negeri dan hilangnya satu generasi emas kejayaan Jerman seperti pada saat 1970an di mana waktu itu Jerman Barat menjadi raksasa yang sangat diperhitungkan di dunia sepakbola global. Bahkan klub-klub berdomisili di area Jerman barat masa lalu, saat ini mandul dalam melahirkan bakat-bakat lokal.

Ironisnya, boleh disebut Ironisme dibalik ironisme, adalah tim gado-gado inilah yang ternyata, dengan langkah pasti ke semifinal! jadi, boleh dikata, ada dua kubu masyarakat Jerman yang menilai. Pertama, masyarakat yang kental dengan nuansa adiluhung dan kedigdayaan Jerman masa lalu masih tidak terlalu bangga, sebab anak-anak ini adalah anak-anak “buangan” dan “pinggiran”, termasuk Ballack yang walau saat ini menjadi ikon kebanggaan Jerman, adalah putra “timur” bukan “barat” yang menjadi kiblat sepakbola dunia pada jaman Klinsmann dkk. Kekecewaan akan kurangnya talenta lokal ini ibarat pisau bermata ganda.

Suatu saat, kita tidak tahu seberapa besar kekuatan Neo Nazi membangun kekuataannya, apalagi kalau melihat negaranya sudah menjadi obrak-abrik etnis yang menghilangkan “identitas sebuah negeri bernama dan berbangsa Jerman”. Ingat kasus di Itali dimana bendera Fasisme dikibarkan? Ya, baru 60 tahunan puing-puing perang dunia tertinggal, sudah muncul banyak neo-neo fasis dan nazi. Dan munculnya di dunia olahraga sepakbola yang begitu digandrungi, selain itu juga perlahan namun pasti muncul di panggung politik. Sekali lagi, kita tidak tahu sampai kapan kekuataan ini mendominasi lagi, atau tak akan pernah lagi..

Lalu yang Kedua, masyarakat Jerman bersatu yang tidak peduli isu rasial. Masyarakat modern yang kick of racism out of football dan out of mind. Negara bangsa Jerman sudah seperti negara amerika serikat, sudah seperti Malaysia dan Singapura yang multi etnis, kalau tidak bisa menyebut, seperti Indonesia yang sangat-sangat multietnis. Yang penting Jerman masuk semifinal, dan mereka mendoakan agar Jerman menjuarai Euro kali ini.

Jerman dijuluki Tim Panzer. Menurut saya, sekarang bisalah kita kasih julukan Tim Gado-gado. Sebab dignity dan aura khas Panzer, seakan-akan panzer-panzer beriringan menembus padang pasir dan rumput, dengan seorang feldmarschall berdiri diatas panzer sambil meneropong medan laga.. diiringi alunan mars “Unser Rommel” sudah tidak nampak. Yang nampak adalah kumpulan pria multi etnis yang berbicara Jerman dan atau ber KTP Jerman. Masa itu apakah sudah lalu (dan biarlah berlalu) atau.. akan menjadi babak baru pesepakbolaan Jerman, dan babak baru dari Negara Republik Federal Jerman yang “unitaris” ini… hanya waktu yang bisa menjawabnya, dan hanya penggemar sepakbola yang bisa menggerutu dan berkomentar mengenai tim gado-gado ini.. dan setidaknya berdiskusi dan bermain bola tanpa gontok-gontokan ala Indonesia yang multi etnis dan sangat plural.

Catatan : Ironisme ini saya juga rasakan pada saat Sriwijaya FC menjadi double winner Piala tahun 2008 ini. Mungkin bukan dalam konteks negara, namun ada semacam rasa kurang puas dan bangga, sebab tim ini disusun dengan modal lumayan besar, membeli klub yang sudah jadi, pemain asing dan pemain nasional yang (bukan putra daerah) dan paling parah, semuanya menggunakan dana APBD. Jadi teringat Chelsea kalau melihat Sriwijaya FC ini.. tapi ya sudah ada janji dari manajemen untuk melakukan regenerasi dan memasukkan bibit-bibit lokal putra sumsel dalam grand skenario 5 tahun kedepan untuk menjadi punggawa Sriwijaya FC. Yach mudah-mudahan lah.. jika melihat Ironisme ini, saya pun masih ragu, apakah saya termasuk yang optimis (termasuk pada masyarakat berpendapat kedua) atau kecewa–dan pesimis (termasuk pada masyarakat berpendapat PERTAMA).

Hanya waktu yang akan menjawab, dan hanya Tuhan yang dapat menilai 🙂

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Pakar Pendidikan.. atau Pakar Komentar Pendidikan ?

Posted on June 19, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Human-power | Tags: , , , |

Mohon maaf apabila judulnya agak-agak gimana gitu dan menyinggung perasaan seseorang (dan pendukungnya) yang sering mondar-mandir di televisi dengan title tag “pakar pendidikan”..

Kronologisnya kenapa beliau ini muncul adalah banyaknya kasus-kasus yang meruak belakangan ini yang mencerminkan buruknya sistem pendidikan dan buruknya pengawasan terhadap anak didik, kalau tidak bisa kita sebut buruknya mental generasi muda indonesia belakangan ini.

Mulai kasus kekerasan ala STPDN –> dilanjutkan kekerasan juga oleh IPDN yang sudah berganti kulit, kasus geng motor, kasus asusila, kasus tawuran antar pelajar SMP, hingga terbaru (pada saat saya tulis), kasus STIP (Sekolah tinggi Ilmu Pelayaran) dan kasus kekerasan geng cewek ala Nero (Neko-neko ngeroyokan).

Hasilnya, ada anggota geng yang divonis 4 tahun (Briges) yaitu geng motor di bandung yang menewaskan I Putu Ogik, Pemecatan praja, penangkapan para pelajar yang tawuran (di jakarta) dan ngeroyok (nero di Pati, Jateng).

Lalu, yang tidak kalah seru, berulangkali di televisi ada analisis menghadirkan so called pakar pendidikan yang ngomongin hal-hal yang menurut saya dari tiap saat esensi omongannya sama. Yang bikin saya geleng-geleng kepala, seringkali ada penyesalan dan ngomong kalo ini itu buruk di indonesia. Padahal, logikanya, ANDA pakar pendidikan, Loh, piye, Anda lah bertanggungjawab! Dulu anda NGAPAIN? Apakah ujug-ujug lulus dari perguruan tinggi langsung dapat gelar Pakar? Saya berani bertaruh, sudah PULUHAN tahun sang pakar bergelut di dunia pendidikan — yang dia komentari sangat rusak, dst dst. Begitulah di Indonesia..

Kasus IPDN, salah satu tim evaluasi adalah “pakar pendidikan” dimana IPDN tidak dibubarkan. Dijamin bla bla aman sentosa hehe..Kulitnya diganti, trus pimpinannya dganti. Basi. Buktinya, hingga detik ini masih terjadi penyimpangan. Kasus terakhir ada pengeroyokan, ada yang mati karena mabuk, ada yang perkosaan. Kalau soal itu semua, silakan tanya Pak Inu Kencanaboleh lihat di detikcom deh, pasti beliau bilang masih ada hingga sekarang. Rekomendasi dari pakar pendidikan tuh.. ditambah Presidennya Militer, ya susah bubarin adat istiadat militer secara sang presiden dulu juga kayak gitu. (padahal laen pak presiden, ini sekolah sipil.. )

Trus, ada lagi nih barusan kasus STIP. Sama, plonco-plonco ga jelas. Tau-tau tewas. Saya ngga perlu komentar banyak, harusnya dari dulu sudah ngga ada itu yang namanya sekolah kedinasan ber budaya militer (baca : kekerasan). Kalau nggak mau ya bubarkan aja. Gitu aja kok repot. Kalau ngga mau bubar, hilangkan sama sekali hingga taraf NOL semua atribut militer mulai makan bareng, rambut cepak, seragam dan perut yang terus-terusan seksi karena dipaksa olahraga pushup tiap pagi dst hehe.. kalau sekarang trendnya adalah penyeimbangan antara otak kanan dan otak kiri, maka kayaknya di sekolah ini perlu penyeimbangan antara Fisik dan Otak. Masih jauh klo mo ngomong otak kanan dan kiri.

Nah, balik ke topik, ya kalau pakar pendidikan kasih solusi dong. Ini sih menurut saya pakar KOMENTAR pendidikan, sebab komen-komen saja. Semua omongannya saya juga sebagai Non Pakar apa-apa bisa tuh ngomong gituan. Cuman emang media indonesia rada error sih.. Lah wong kayak Mr KMRT you know who aja bisa disebut Pakar Telematika.. hehe..

Udah ah, saya nggak mau banyak komentar, nanti dibilang pakar komentar pendidikan hehe.. jadi, tolong dong, please deh, you yang ngemeng, tapi you dulu ngapain aja? kalo belajar di Luar negeri en pengalaman puluhan taun ngajar dan bergelut pendidikan di luar negeri, trus balik ke Indonesia, wajar kalau geleng-geleng kepala dan bilang ini nggak bener. Lah, ini dulu bagian dari sistem, eh sekarang koar-koar.. apa karena “jaman reformasi” adalah jamannya koar-koar hehe.. coba dulu dibenahi di jaman soeharto… (mana pendukung soeharto hehe..)

ya sutralah, makin panjang makin error en makin banyak komentarnya. Intinya, kalau saya, yang bisanya cuma komen dan bukan pakar, radikal negh, hilangkan SAMA SEKALI Senioritas, hilangkan SAMA SEKALI atribut dan cara militer dari sekolah sipil.. Hilangkan SAMA SEKALI guru-guru yang nggak jelas, mindset jadul, nggak banyak pengetahuan, money oriented, guru cabul, guru sok, dst.. Hidup Onizuka ! (loh?)

Read Full Post | Make a Comment ( 42 so far )

« Previous Entries

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...