The Human-power

12 Mahasiswa PTN Terancam Drop Out.. Ya Sutralah..So what gitu loh?

Posted on October 22, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power, The Hybrid-theory | Tags: , , , , , , , , , , , |

Hmm judulnya kok sadis sih.. Mahasiswa terancam DO, bukan dibantu malah “ya sutralah, so what gitu loh”.. lah emang mau apa?

Ini awalnya Info dari milis, saya mendapatkan informasi permintaan donasi. Klub santri peduli menginformasikan mengenai kesulitan “12 Mahasiswa UPI Bandung” yang terancam dikeluarkan.Dari sini lah diskusi berawal.

Bagi yang belum tau, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) adalah IKIP Bandung yang berubah nama. Ya, artinya NEGERI. nah, dulu, PTN menjadi tempat mahasiswa miskin utk berharap bisa kuliah. Namun sekarang, wuih sama mahalnya dengan swasta, bahkan lebih mahal. Nah, kembali ke informasi, berikut informasinya :

12 Mahasiswa Baru UPI Bandung Terancam Dikeluarkan
19 Oktober 2008 » Jurnal

Klab Santri Peduli : Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan aset penting untuk dijadikan senjata pengokoh bangsa ini. Namun, pada kenyataannya banyak elemen di negara ini yang mengabaikan hal tersebut dan tak mempedulikannya. Termasuk birokrat-birokrat pemerintah atau lembaga-lembaga yang diamanahi mengurus kependidikan, nampak seperti tidak pro terhadap majunya kependidikan di negara ini.

Banyak pemuda-pemudi potensial di negara ini yang mempunyai harapan tinggi dapat meneguk manisnya ilmu di bangku-bangku pendidikan, namun harus rela menggugurkan harapan-harapannya karena berbenturan dengan biaya yang melangit dan rumitnya kebijakan yang mengaturnya. Sehingga sangat sulit untuk mendapatkan keringanan biaya, bahkan untuk dapat biaya pendidikan gratis. Seolah ada anggapan bahwa pendidikan hanya untuk orang kaya saja.

Salah satu masalah yang terjadi sekarang adalah permasalahan 12 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mereka belum membayar biaya registrasi masuk Universitas. Satu alasan mereka, miskin, dan kondisi itu tidaklah mereka inginkan. Pada awalnya, mereka berjumlah sekitar 50 orang. Namun, sebagian besar telah putus harapan. Sekarang yang tersisa tinggal 12 orang.

Mahasiswa baru yang berjumlah 12 orang ini belum mempunyai status resmi sebagai mahasiswa karena masih berstatus penangguhan. Selain itu, tenggat waktu pembayaran yang diberikan oleh pihak kampus ialah sampai tanggal 30 Oktober 2008. Namun, permasalahan timbul saat mahasiswa tidak mampu melunasi itu karena kondisi ekonomi tidak memungkinkan.

***

1. Asep Rahmat. Mahasiswa baru asal Cianjur ini tidak mengikuti perkuliahan semenjak memasuki awal perkuliahan 2008/2009 karena belum memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM) disebabkan belum melunasi biaya registrasi dan tidak menandatangani kesepakatan dengan rektorat untuk melunasi bayaran pada tanggal 30 oktober 2008. Di Bandung tidak memiliki rumah dan tinggal menumpang di rumah saudaranya. Orangtuanya kurang menyanggupi untuk memberikan uang saku. Asep sehari-harinya mencari penghidupan dengan “bantu-bantu” saudaranya di tempat ia menumpang dan di DKM masjid sekitar. Terkadang mencari kerja sampingan pula. Penghasilan orangtuanya Rp. 20.000,-/hari. Salah satu prestasi Asep ialah ikut serta sebagai peserta kegiatan Olimpiade Fisika Indonesia tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur pada tanggal 18 April 2006. Asep masuk UPI melalui jalur PMDK dan mengambil jurusan Teknik Elektro. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.350.000,-.

2. Abdul Kalim. Mahasiswa baru asal Indramayu. Untuk mencukupi kebutuhan pangan selama awal perkuliahan yang tepat pada bulan Ramadhan, Abdul hanya melakukannya pada saat sahur dan buka puasa gratis di sebuah masjid karena tidak memiliki cukup uang untuk makan. Selama masa perkuliahan, Asep menumpang di kost-an kakak kelas se-SMA-nya karena tidak memiliki cukup biaya untuk menyewa kost. Ayahnya sudah tidak membiayai hidup sehari-harinya lagi karena penghasilan yang pas-pasan, yaitu Rp. 200.000,-/bulan sebagai buruh tani. Salah satu prestasinya ialah sebagai juara III anggota tim bina vokal SMAN 1 Anjatan dalam lomba karya cipta lagu dan menyanyikan lagu hymne dan mars Indramayu remaja pada bulan Juli 2008. Abdul masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Musik. Biaya yang dibutuhkan Rp. 6.038.000,-.

3. Citra Maulida Fitriyani. Mahasiswi baru asal Bandung. Prestasinya yaitu lulus ujian dengan mendapatkan nilai tinggi dengan hasil 24, 27 dari 3 mata pelajaran. Citra masuk UPI melalui jalur UM dan mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.408.000,-.

4. Mira Komalasari. Mahasiswi baru berasal dari Bandung. Ayahnya bekerja sebagai sopir di rumah makan Wibisana Bandung. Penghasilan orangtuanya Rp. 600.000,-/bulan. Mira masuk UPI melalui jalur PMDK dan mengambil jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.888.000,-.

5. Kaehan Fatimah Azhariyah. Mahasiswi baru yang beralamat di Cihampelas Bandung. Orangtuanya bekerja sebagai pedagang kecil dengan penghasilan Rp. 1.000.000,-/bulan. Kaehan adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Kaehan mendapat uang saku perhari dari orangtua sebesar Rp. 5000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Cihampeas – UPI. Kaehan masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

6. Siti Syabibah Nurul Amalina. Mahasiswi baru yang beralamat di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bubur dengan penghasilan Rp. 1.000.000,-/bulan. Siti adalah anak pertama dari empat bersaudara. Uang saku perhari dari orangtuanya sebesar Rp. 10.000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Lembang – UPI. Siti masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

7. Anita Komala Dewi. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Rancaekek Bandung. Ayahnya sebagai pegawai swasta namun sudah putus kerja. Ibunya sebagai guru SD. Anita masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.780.000,-.

8. Faizal Nurkarim. Mahasiswa baru yang berasal dari Garut. Sejak memasuki masa perkuliahan, Faizal menumpang tinggal di rumah saudaranya di daerah Ciwastra Bandung karena tidak sanggup untuk menyewa kost-an. Orangtua Faizal bekerja sebagai pegawai yayasan. Faizal adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Penghasilan orangtua Faizal yaitu Rp. 1.000.000,-/bulan. Faizal masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Teknik Mesin. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.888.000,-.

9. Astri Mustikawati. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Garut. Ayahnya seorang wiraswasta dengan penghasilan Rp. 800.000,-/bulan. Untuk memenuhi segala macam kebutuhannya saat ini, Astri harus mengoptimalkan uang saku yang berjumlah Rp. 50.000,-/bulan. Astri masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Jasmani dan Keolahragaan. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.778.000,-.

10. Rini Wulandari. Mahasiswi baru yang berasal daerah Kiaracondong Bandung. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bakso keliling dengan penghasilan Rp. 600.000,-/bulan. Rini adalah anak pertama dari empat bersaudara. Perharinya Rini mendapat uang saku Rp. 8.000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Cicaheum – Ledeng. Rini masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi Koperasi. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

11. Lalitya Dwi Rahmani. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta (kadang-kadang narik ojek) dengan penghasilan Rp. 30.000,-/hari. Lalitya masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Rupa. Biaya yang dibutuhkan Rp. 6.038.000,-.

12. Andi Sopandi. Pria asal Ciamis ini sudah tidak disubsidi lagi oleh orangtuanya sejak SMA. Hidupnya terkatung-katung, ia tidak memiliki rumah, baik di Ciamis maupun di Bandung. Sosok pekerja keras ini, mengumpulkan uang dari aktivitasnya sehari-hari mengajar les Matematika. Andi Sopandi hanyalah anak buruh tani biasa, dan ia tidak sanggup melunasi biaya kuliahnya. Andi masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Sunda. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

***

12 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tidak sanggup membayar biaya registrasi, membuat surat perjanjian di atas materai Rp. 6000,- dengan pihak kampus untuk penangguhan biaya. Isi surat itu adalah, “… Apabila pada tanggal yang telah disepakati (30 Oktober 2008) tidak dapat melunasi biaya pendidikan tersebut, kami siap menanggung resiko sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia.” Hal ini sudah tidak bisa diganggu gugat, dan sudah harga mati bagi mahasiswa baru.

Melihat realitas, kondisi ekonomi mahasiswa baru dan orangtuanya, tidak memungkinkan untuk memenuhi pelunasan dalam tenggat waktu yang diberikan kampus. Lalu, apakah harapan-harapan mereka akan pupus? Lantas apa kita akan berdiam diri saja melihat itu? Masih adakah elemen-elemen di bangsa ini yang peduli pendidikan?

***

Transfer Donasi

* Bank Syariah Mandiri – No. Rek. 0070176318 – A.N. Klab Santri Peduli
* Bank Central Asia (BCA) – No. Rek. 4381168624 – A.N. Dudung Kurnia Sundana
* Bank Mandiri – No. Rek. 132-00-0473817-6 – A.N. Dudung Kurnia Sundana
* Bank Muamalat Indonesia – No. Rek. : 103.02635.20 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* Bank Permata Syariah – No. Rek. : 377.000.637.5 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* BNI Syariah – No. Rek. : 0092531159 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* E-Gold – http://3872071.e-gold.com/ – KotaSantri.com)
* Money Gram / Western Union – Bagi yang tinggal di luar Indonesia dan ingin turut berpartisipasi, silahkan transfer melalui Money Gram / Western Union. Untuk info lengkap, silahkan hubungi KotaSantri.com.

Bagi donatur yang telah mentransfer donasinya, agar konfirmasi melalui e-mail : ksp [at] kotasantri [dot] org atau SMS ke 0817434686. Tuliskan subjek e-mail atau awal kalimat SMS dengan kode KSP -spasi- Prestatif -spasi- Nama -spasi- Alamat/Kota -spasi- Jumlah Donasi -spasi- Nama Bank Tujuan.

Jika tidak ingin konfirmasi, maka untuk mempermudah proses pengecekan dana yang ditransfer, dimohon agar melebihkan Rp. 10,- (mencantumkan angka 10 di belakang jumlah nominal) dari jumlah dana yang ditransfer.

***

Oke, setelah membaca, apa yang Anda lakukan? Miris dan mau nyumbang? Miris, geleng-geleng kepala dan tidak menyumbang? atau yang ketiga, mencoba menganalisis dari sudut pandang lain, kecuali sudut pandang getir yg dialami 12 orang ini.

Saya memilih yang ketiga. Pertanyaan saya pertama, loh, memangnya dengan membayar 5 jutaan itu, masalah beres? tidak. Anda butuh duit untuk semester2 berikutnya. Anda butuh duit transport, kos, fotokopi. Anda kuliah S1 lima tahun dan bisa lebih. Ngga cukup 5 juta itu. Lalu, dibalas, oke kerja. Ya kerja banting tulang, akhirnya kuliah terbengkalai. Ya minimal tidak bisa top at the class lah. belum kalau akhirnya nyasar jadi “aktivis” ya susah.

Lalu, mengapa harus ngotot di PTN ? Kalau dibaca, 12 orang ini hanya dua orang kira2 mengambil jurusan yg aplikatif. Sisanya idealis, mengambil jurusan2 yang kurang diserap pasar, dengan mengorbankan realita. Kekurangan uang tersebut juga sudah hitam diatas putih akan dikeluarkan. Itu juga disetujui sama si mahasiswa. Ya, dengan harapan akan ada bantuan. Moksoin diri buat masuk UPI, dengan berharap bantuan dana nantinya.

FYI, teman2 saya beberapa drop out dari UI dan IPB. NO problemo. Bisa kul sambil kerja, bisa bantu ortu. Bukan malah pusing buat bayar kuliah. Lalu, apakah mereka tidak intelek? No no.. intelektualitas bisa dilihat dari hasil kerja, cara kerja, cara berkomunikasi, berbicara, menganalisis masalah dan menghasilak sesuatu dengan indah dan inovatif. Banyak cara, selain dengan menunjukkan Ijazah PTN Favorit. Ada-ada aja.

Ekstremnya, saya nggak akan mau nyumbang dana. mengapa? Sebab dengan menyumbang maka seperti memberikan papan untuk melintasi saluran air, sedangkan didepan saluran air ada sungai yang dalam. Artinya, ini lubang kecil, nanti jurang yang dihadapi. Butuh dana besar. Sangat baik apabila “dana untuk pendidikan” disumbangkan ke Pendidikan Dasar dan Menengah. Ya minimal untuk siswa SMK yang kurang mampu. Sebab SMK mendidik untuk memiliki kompetensi. Adakah kompetensi dicapai hanya dengan meraih gelar sarjana? Hari ini, di negara yang miskin ini, kita harus introspeksi, sadar bahwa beginilah perjuangan.

Kalau judulnya, 12 Siswa terancam Drop Out karena belum bayar Uang Sekolah/SPP, prioritas dibantunya tentu lebih tinggi. Sekolah hingga tamat itu WAJIB tapi kuliah apalagi buat ngejar S1, itu OPTIONAL.

Btw, kalau memang mau kul, ada temen merekomendasikan kuliah murah di websitenya. Ini nih. Silakan dicek-cek deh, baru putuskan mau kuliah. Saya pikir, UPI juga udah ngasih tau kan biaya2 kuliah itu berapa? Masih mau ngotot SNMPTN, UM dan atau apa namanya untuk kuliah negeri? Apa karena ikut2an, hehe.. ini seperti saya dulu, ikut2an SPMB tapi ya diterima dan orangtua Alhamdulillah sih mampu, kemudian kejar beasiswa sana sini dan lulus deh..ini aja masih nyesel soalnya kenapa ga sambil kerja dulu atau kerja dulu karena liat itungan waktu (tahun) rugi waktu banget deh..

Silakan direnungkan, Wassalam.

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Ironisme Tim Gado-gado Jerman

Posted on June 20, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power, The Hybrid-theory | Tags: , , , , , , , , , , |

Ironis.

Namun kata ironis ini bisa bermakna banyak. Ya, ironis sebab pada perhelatan Euro 2008, Portugal kalah tipis 2-3 dari Jerman dalam penyisihan ke semifinal. Mengapa? sebab semangat portugal hingga menit ke 90 bahkan harapan untuk menyamakan skor sebenarnya masih bisa diperjuangkan, namun memang Dewi fortuna tidak memihak..

Ironis, sebab tim yang disebut dengan timnas Jerman ini hanyalah sekumpulan Pria ber- “KTP warga Jerman”. Ya, sebab dari deretan nama-nama berikut, mulai dari Gomez, Podolski, Klose, Odonkor, Kuranyi bukanlah “bangsa ras arya” yang sempat diunggul-unggulkan oleh Jerman di masa lalu. Bahkan Podolski berasal dari Polandia, yang pertama kali diserbu Jerman yang memulai Perang Dunia kedua, pada September 1939. Sebagian besar tim adalah Yahudi tulen, yang dulu kala pada masa Hitler sangat rendah dan hina dina.

Ironis, sebab kapten sekaliber Michael Ballack masih dipandang sebelah mata oleh publik Jerman, walau putra Germania ini aseli “nyong jerman” tapi latar belakang Jerman Timurnya masih memaksa masyarakat Jerman memandang sinis.

Ironis, tim yang dijuluki Panzer –mengacu pada dominasi kekuatan Panzer (tank) Jerman di PD II yang sangat powerfull dan terkenal dengan Blitzkrieg (Serangan kilat) nya ternyata sekumpulan orang-orang yang berketurunan tidak aseli, dan adapula yang masuk lewat jalur naturalisasi. Lalu, ironisnya apa lagi?

Disisi lain, ironisme jerman ini –yang sekarang layak disebut tim gado-gado sebab sudah ndak banyak talenta Jerman “asli” yang berkualitas baik setelah era terakhir adalah masa “sang Kaisar” Oliver Kahn yang tergusur saat ini, mencerminkan kurang kaderisasinya klub-klub dalam negeri dan hilangnya satu generasi emas kejayaan Jerman seperti pada saat 1970an di mana waktu itu Jerman Barat menjadi raksasa yang sangat diperhitungkan di dunia sepakbola global. Bahkan klub-klub berdomisili di area Jerman barat masa lalu, saat ini mandul dalam melahirkan bakat-bakat lokal.

Ironisnya, boleh disebut Ironisme dibalik ironisme, adalah tim gado-gado inilah yang ternyata, dengan langkah pasti ke semifinal! jadi, boleh dikata, ada dua kubu masyarakat Jerman yang menilai. Pertama, masyarakat yang kental dengan nuansa adiluhung dan kedigdayaan Jerman masa lalu masih tidak terlalu bangga, sebab anak-anak ini adalah anak-anak “buangan” dan “pinggiran”, termasuk Ballack yang walau saat ini menjadi ikon kebanggaan Jerman, adalah putra “timur” bukan “barat” yang menjadi kiblat sepakbola dunia pada jaman Klinsmann dkk. Kekecewaan akan kurangnya talenta lokal ini ibarat pisau bermata ganda.

Suatu saat, kita tidak tahu seberapa besar kekuatan Neo Nazi membangun kekuataannya, apalagi kalau melihat negaranya sudah menjadi obrak-abrik etnis yang menghilangkan “identitas sebuah negeri bernama dan berbangsa Jerman”. Ingat kasus di Itali dimana bendera Fasisme dikibarkan? Ya, baru 60 tahunan puing-puing perang dunia tertinggal, sudah muncul banyak neo-neo fasis dan nazi. Dan munculnya di dunia olahraga sepakbola yang begitu digandrungi, selain itu juga perlahan namun pasti muncul di panggung politik. Sekali lagi, kita tidak tahu sampai kapan kekuataan ini mendominasi lagi, atau tak akan pernah lagi..

Lalu yang Kedua, masyarakat Jerman bersatu yang tidak peduli isu rasial. Masyarakat modern yang kick of racism out of football dan out of mind. Negara bangsa Jerman sudah seperti negara amerika serikat, sudah seperti Malaysia dan Singapura yang multi etnis, kalau tidak bisa menyebut, seperti Indonesia yang sangat-sangat multietnis. Yang penting Jerman masuk semifinal, dan mereka mendoakan agar Jerman menjuarai Euro kali ini.

Jerman dijuluki Tim Panzer. Menurut saya, sekarang bisalah kita kasih julukan Tim Gado-gado. Sebab dignity dan aura khas Panzer, seakan-akan panzer-panzer beriringan menembus padang pasir dan rumput, dengan seorang feldmarschall berdiri diatas panzer sambil meneropong medan laga.. diiringi alunan mars “Unser Rommel” sudah tidak nampak. Yang nampak adalah kumpulan pria multi etnis yang berbicara Jerman dan atau ber KTP Jerman. Masa itu apakah sudah lalu (dan biarlah berlalu) atau.. akan menjadi babak baru pesepakbolaan Jerman, dan babak baru dari Negara Republik Federal Jerman yang “unitaris” ini… hanya waktu yang bisa menjawabnya, dan hanya penggemar sepakbola yang bisa menggerutu dan berkomentar mengenai tim gado-gado ini.. dan setidaknya berdiskusi dan bermain bola tanpa gontok-gontokan ala Indonesia yang multi etnis dan sangat plural.

Catatan : Ironisme ini saya juga rasakan pada saat Sriwijaya FC menjadi double winner Piala tahun 2008 ini. Mungkin bukan dalam konteks negara, namun ada semacam rasa kurang puas dan bangga, sebab tim ini disusun dengan modal lumayan besar, membeli klub yang sudah jadi, pemain asing dan pemain nasional yang (bukan putra daerah) dan paling parah, semuanya menggunakan dana APBD. Jadi teringat Chelsea kalau melihat Sriwijaya FC ini.. tapi ya sudah ada janji dari manajemen untuk melakukan regenerasi dan memasukkan bibit-bibit lokal putra sumsel dalam grand skenario 5 tahun kedepan untuk menjadi punggawa Sriwijaya FC. Yach mudah-mudahan lah.. jika melihat Ironisme ini, saya pun masih ragu, apakah saya termasuk yang optimis (termasuk pada masyarakat berpendapat kedua) atau kecewa–dan pesimis (termasuk pada masyarakat berpendapat PERTAMA).

Hanya waktu yang akan menjawab, dan hanya Tuhan yang dapat menilai 🙂

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Pakar Pendidikan.. atau Pakar Komentar Pendidikan ?

Posted on June 19, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Human-power | Tags: , , , |

Mohon maaf apabila judulnya agak-agak gimana gitu dan menyinggung perasaan seseorang (dan pendukungnya) yang sering mondar-mandir di televisi dengan title tag “pakar pendidikan”..

Kronologisnya kenapa beliau ini muncul adalah banyaknya kasus-kasus yang meruak belakangan ini yang mencerminkan buruknya sistem pendidikan dan buruknya pengawasan terhadap anak didik, kalau tidak bisa kita sebut buruknya mental generasi muda indonesia belakangan ini.

Mulai kasus kekerasan ala STPDN –> dilanjutkan kekerasan juga oleh IPDN yang sudah berganti kulit, kasus geng motor, kasus asusila, kasus tawuran antar pelajar SMP, hingga terbaru (pada saat saya tulis), kasus STIP (Sekolah tinggi Ilmu Pelayaran) dan kasus kekerasan geng cewek ala Nero (Neko-neko ngeroyokan).

Hasilnya, ada anggota geng yang divonis 4 tahun (Briges) yaitu geng motor di bandung yang menewaskan I Putu Ogik, Pemecatan praja, penangkapan para pelajar yang tawuran (di jakarta) dan ngeroyok (nero di Pati, Jateng).

Lalu, yang tidak kalah seru, berulangkali di televisi ada analisis menghadirkan so called pakar pendidikan yang ngomongin hal-hal yang menurut saya dari tiap saat esensi omongannya sama. Yang bikin saya geleng-geleng kepala, seringkali ada penyesalan dan ngomong kalo ini itu buruk di indonesia. Padahal, logikanya, ANDA pakar pendidikan, Loh, piye, Anda lah bertanggungjawab! Dulu anda NGAPAIN? Apakah ujug-ujug lulus dari perguruan tinggi langsung dapat gelar Pakar? Saya berani bertaruh, sudah PULUHAN tahun sang pakar bergelut di dunia pendidikan — yang dia komentari sangat rusak, dst dst. Begitulah di Indonesia..

Kasus IPDN, salah satu tim evaluasi adalah “pakar pendidikan” dimana IPDN tidak dibubarkan. Dijamin bla bla aman sentosa hehe..Kulitnya diganti, trus pimpinannya dganti. Basi. Buktinya, hingga detik ini masih terjadi penyimpangan. Kasus terakhir ada pengeroyokan, ada yang mati karena mabuk, ada yang perkosaan. Kalau soal itu semua, silakan tanya Pak Inu Kencanaboleh lihat di detikcom deh, pasti beliau bilang masih ada hingga sekarang. Rekomendasi dari pakar pendidikan tuh.. ditambah Presidennya Militer, ya susah bubarin adat istiadat militer secara sang presiden dulu juga kayak gitu. (padahal laen pak presiden, ini sekolah sipil.. )

Trus, ada lagi nih barusan kasus STIP. Sama, plonco-plonco ga jelas. Tau-tau tewas. Saya ngga perlu komentar banyak, harusnya dari dulu sudah ngga ada itu yang namanya sekolah kedinasan ber budaya militer (baca : kekerasan). Kalau nggak mau ya bubarkan aja. Gitu aja kok repot. Kalau ngga mau bubar, hilangkan sama sekali hingga taraf NOL semua atribut militer mulai makan bareng, rambut cepak, seragam dan perut yang terus-terusan seksi karena dipaksa olahraga pushup tiap pagi dst hehe.. kalau sekarang trendnya adalah penyeimbangan antara otak kanan dan otak kiri, maka kayaknya di sekolah ini perlu penyeimbangan antara Fisik dan Otak. Masih jauh klo mo ngomong otak kanan dan kiri.

Nah, balik ke topik, ya kalau pakar pendidikan kasih solusi dong. Ini sih menurut saya pakar KOMENTAR pendidikan, sebab komen-komen saja. Semua omongannya saya juga sebagai Non Pakar apa-apa bisa tuh ngomong gituan. Cuman emang media indonesia rada error sih.. Lah wong kayak Mr KMRT you know who aja bisa disebut Pakar Telematika.. hehe..

Udah ah, saya nggak mau banyak komentar, nanti dibilang pakar komentar pendidikan hehe.. jadi, tolong dong, please deh, you yang ngemeng, tapi you dulu ngapain aja? kalo belajar di Luar negeri en pengalaman puluhan taun ngajar dan bergelut pendidikan di luar negeri, trus balik ke Indonesia, wajar kalau geleng-geleng kepala dan bilang ini nggak bener. Lah, ini dulu bagian dari sistem, eh sekarang koar-koar.. apa karena “jaman reformasi” adalah jamannya koar-koar hehe.. coba dulu dibenahi di jaman soeharto… (mana pendukung soeharto hehe..)

ya sutralah, makin panjang makin error en makin banyak komentarnya. Intinya, kalau saya, yang bisanya cuma komen dan bukan pakar, radikal negh, hilangkan SAMA SEKALI Senioritas, hilangkan SAMA SEKALI atribut dan cara militer dari sekolah sipil.. Hilangkan SAMA SEKALI guru-guru yang nggak jelas, mindset jadul, nggak banyak pengetahuan, money oriented, guru cabul, guru sok, dst.. Hidup Onizuka ! (loh?)

Read Full Post | Make a Comment ( 42 so far )

Salah-salah Berita Televisi dan Membaca Berita di Televisi

Posted on April 21, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , |

Sebagai bahasa pengantar di sekolah, kampus, pertemuan formal di institusi yang formal pula.. bisa juga pada saat menulis surat formal. Serta banyak lagi yang judulnya selalu diakhiri kata-kata FORMAL. Lalu, menarik sekali ketika kuping (formalnya telinga) saya mendengar penyiar di stasiun televisi menggunakan bahasa yang tidak “benar” walau mungkin “baik”. Entah kenapa, namun menurut saya, insan televisi apalagi membawakan (MEMBACA) berita kok ada yang salah. Siapa yang salah? bukan si Penyiar tapi si penulis berita. Mungkin istilah kerennya Script writer (walau saya nggak tau pasti artinya ini apaan).

Contoh :
1. Penyiar mengatakan Paska Sarjana.. padahal harusnya yang benar itu Pasca sarjana. Ada yang mau menyanggah? Silakan cari literaturnya. Ada teman yang bilang Paska itu dari Pasca, bahasa inggris. Padahal, Bahasa inggrisnya Pasca itu sendiri BUKAN Pasca, melainkan POST. Misal, post doctoral. Saya nggak mau membahas masalah ini lebih panjang, biar yang berkompeten saja. Misalnya orang-orang dari Pusat bahasa or Polisi EYD sayang sudah ndak aktif lagi..

2. Di sebuah siaran langsung sepakbola, yaitu Final Copa Djisamsoe juga komentaror berbicara : “Akankah kedua trofi ini di bawa oleh salah satu kesebelasan yang bertanding.. ” Ya eyaaalaah.. emang tu piala nggak ada yang mau bawa pulang? setiap pertandingan pasti ada menang ada kalah, ya yang menanglah yang bawa tu piala.. koknanya? Nah kalo ini tidak “baik” bahasanya..

3. Barusan, tadi siang di berita siang entah di stasiun televisi mana.. kan hari ini hari Kartini ya (hayooo ada yang nggak tau kan? ) beritanya banyak tuh.. nah salah satunya adalah usaha PT KAI. kurang lebih beritanya ” PT KAI Daops Jabotabek juga menyambut hari kartini dengan memberikan tempat duduk bagi penumpang perempuan..” Heheh.. kalo Anda langganan KRL ekonomi or even Pakuan ekspress, perasaan yang MEMBERIKAN tempat duduk ke penumpang perempuan itu MURNI dari Penumpang. Ngga ada andil PT KAI.. konsumen dan sepenuhnya berdasar etiket, toleransi dsb. Apa ada sidak dan akhirnya penumpang pria pada berdiri.hehe..

4. Ada lagi berita, distasiun televisi yang sama hari yang sama. Masih mengenai hari kartini yang jatuh 21 April alias hari ini post ini ditulis. beritanya tentang ibu2 guru sekolah yang jadi petugas upacara bendera dengan berbusana kebaya. Berita menyebutkan, bahwa “mereka banyak yang lupa sehingga harus latihan dua hari sebelumnya, sebab sudah TIDAK PERNAH Upacara bendera”. Seharusnya sih tidak pernah jadi petugas upacara kali ya.. sebab parah banget klo guru-guru tsb tidak pernah upacara bendera lagi.. berarti tu sekolah udah ga ada upacara bendera selama ini–atau siswa saja yang disuruh upacara, gurunya gak ada. Nah, kesalahan kalimat ini sepertinya ya itu tadi, si penulis berita bukan pembaca berita yg bertanggung jawab.. atau, ada pihak lain yang harus bertanggungjawab??

Menurut saya pribadi sih, kalo sudah di broadcast ke seantero negeri, ya harus hati-hati.. paling males itu penyiar yang ngomong gak bener seperti contoh no.1. Jadinya kan orang menganggap itulah yang “baik dan benar”.. anyway ini cuma opini saya saja..

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Bahasa Madura Masuk ‘Kamus Besar BI’

Posted on October 25, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , , , |

Demikian headline pada kolom ‘Sekilas’ di Koran Media Indonesia hari ini (25-10-07). Memang, menurut berita tersebut sebanyak 300 kosakata Bahasa Madura disetujui digunakan sebagai kosakata resmi dan dimasukkan ke Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kosakata baru itu akan menggantikan kosakata bahasa Indonesia yang dianggap kurang komunikatif dan mengandung pemborosan kata. Menurut Ketua Badan Pertimbangan Bahasa Depdiknas, Mien A Rifa’i di Sumenep, Jawa Timur, Selasa (23/10) sejumlah kosakata bahasa beberapa daerah di Indonesia juga telah disetujui untuk KBBI yang diperkirakan akan terbit Oktober 2008. Seperti dikutip harian Media Indonesia, Mien menyatakan bahwa Madura sebagai bahasa yang terbesar ketiga setelah Jawa dan Sunda, memiliki banyak kosakata melebih bahasa daerah lain yang dimasukkan ke KBBI. Hmm.. apa benar pak?

Yang pasti, berita di atas ini mendukung tulisan saya sebelumnya mengenai kasus ‘luruhnya huruf P’, yang berpedoman dengan KBBI lama dan baru. KBBI, yang menurut saya kurang sosialisasi, eh tau-tau sudah akan muncul KBBI versi baru. Nah, Anda mau ikut KBBI ‘versi’ mana?

Read Full Post | Make a Comment ( 9 so far )

Luruh atau Tidak si Huruf ‘P’

Posted on October 25, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , , |

Sejak lama saya bingung mengenai huruf ‘P’ dalam kaidah tata bahasa Indonesia apakah luluh atau tidak. Misalnya “memperhatikan” atau “memerhatikan”? “Memperoleh” atau “memeroleh”?.

Alhamdulillah, Majalah Tempo edisi khusus, 19 Agustus 2007 sedikit banyak menjawab keraguan saya. Penulis di majalah sempat dibredel tersebut, Bambang Bujono, menyebut referensi Ayu Utami pada rubrik ‘Bahasa!’ di majalah Tempo yang menyebut praktik penulisan memperhatikan, mempersamakan, mempersatukan bukanlah kesalahan ataupun ketololan pendahulu kita. Menurut Ayu, mereka menerapkan ‘tertib yang lebih kompleks’.

Pendahulu kita mengajarkan bahwa huruf yang bisa luluh karena mendapatkan awalan adalah huruf pertama pada kata dasar; sedangkan awalan tidak luruh. Jadi benarlah ‘mempersamakan’ dan ‘mempersatukan’ karena kata dasarnya ‘sama’ dan ‘satu’.

Nah perkembangan selanjutnya, kita sadari ternyata diantara para awalan, ‘per’ memiliki keistimewaan. Ia selalu bertautan dengan untuk digandeng dengan awalan yang lain. Jadi ada memperbudak, diperbudak, memperdaya, diperdayai, diperdayakan. Sedangkan awalan lain (me, di, be, dan selanjutnya) itu menyelesaikan dengan baik kata seperti ‘menyunting’ misalnya, tidak akan ditambah menjadi ‘bermenyunting’, ‘termenyunting’ namun ada ‘mempersunting’. Lalu, kesimpulannya apakah ada kata dasar ‘sunting’, ditambahkan kata awalan ‘per’ dulu menjadi ‘persunting’ baru ditambahkan ‘mempersunting’?

Ternyata KBBI mencatat di edisi ketiga cetakan pertama 2001 saya ambil contoh kata ‘hati’ tidak ada bentukan ‘perhati’. Jadi, perhati itu adalah lema tersendiri sebagai kata kerja. Yang akan membentuk tiga kata bentukan yaitu ‘berperhatian’, ‘pemerhati’, dan ‘memerhatikan'(bukan memperhatikan!). Namun ternyata lagi, pada edisi sebelumnya pada edisi ketiga cetakan pertama 1990 tidak memasukkan ‘perhati’ sebagai lema. Yang ada hanya ‘hati’ dan bentukannya menjadi ‘memperhatikan’.

Seperti yang disebut pada Madong Lubis mengenai awalan ‘per’ pada bukunya Paramastastera Landjut (W. Verluys N.V., Amsterdam-Jakarta, cetakan keempat 1952) dan dijadikan baku oleh KBBI saat ini sebagai “kata asal yang baru” kalau diberi awalan ‘per’. Jadi ada kata dasar ‘perhati’, ‘peraduh, ‘percepat’, ‘perlambat’, ‘peroleh’ dst maka memang seyogyanya kata tersebut akan serta merta huruf ‘p’ akan luruh jika disandangkan dengan awalan. Jadi memerhatikan dan memeroleh adalah benar.

Oke, intinya kalau Anda disiplin dengan aturan, seperti para pendahulu yang disebut di awal tulisan, maka itu benar. Kalaupun Anda ingin mengikuti perkembangan kaidah tata bahasa Indonesia yang baik seiring dengan diperbaharui terus menerus kesempurnaan bahasa, maka meluruhkan huruf ‘p’ adalah juga benar. Saya masih mendukung ‘ketidakluruhan’ tersebut dan mendukun Bambang Bujono penulis rubrik yang saya kutip dan Ayu Utami yang juga mengampanyekan dan mendukung penggunakan kata ‘memperhatikan’ daripada ‘memerhatikan’ karena kata ‘peraduh’, ‘perkalau’, ‘permeja’ menurut saya belum akrab di dengar dan membutuhkan kreativitas tersendiri.

Ohya, Menurut Bambang Bujono, ihwal memunyai atau mempunyai di duga kata ‘punya’ adalah kata baru yang aslinya ’empunya’. Dengan awalan “me” dan dan akhiran “i”, jadilah mempunyai. Dalam hal ini juga KBBI edisi 1990 tidak meluruhkan. Pada lema “punya” langsung disebutkan “empunya” dalam tanda kurung. Jelas, tanpa luruh. Mudah-mudahan teman-teman lain juga tidak bingung lagi menentukan penggunaannya. Memang sih, KBBI ini saya pikir kurang sosialisasi. Coba, ada kah diantara pembaca yang sudah pernah baca KBBI? Sedangkan kalau Kamus Bahasa Inggris pasti pada punya kan ? Belum lagi kita baca versi 1990, eh sudah ada rujukan versi KBBI lain yang lebih baru, dan celakanya berbeda dengan versi sebelumnya. Banyak hal baru yang ditambahkan disana. Jadi jika seorang pakar A berpedoman di KBBI B, maka KBBI C dijadukan acuan oleh pakar D.

Nah, kalau masih bingung dari penjelasan saya, saya sarankan membaca Majalah Tempo edisi khusus hari kemerdekaan, halaman 178 di Rubrik “Bahasa!”. Selamat berbahasa dan berkarya tanpa ragu!

Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )

Vivat Academia, Vivant Professores!

Posted on September 13, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power | Tags: , , , , , , , , |

Ingat lagu Gaudeamus Igitur? ya, El Himno Universitario. Hymne Universitas/Akademi/Sekolah Tinggi. Yach, mahasiswa lah judulnya 🙂
Lagu tersebut pasti kamu ingat ketika mengiringi prosesi wisuda di universitasmu masing-masing. Entah dalam bentuk lagu atau hanya alunan simfoni saja.

Kalau nggak ingat, paling tidak kalau lagu tersebut diperdengarkan, pasti pada bilang gini deh “eh, itu lagu yang pas kita wisuda dulu!” nah, itu lah lagu “kebangsaan” intelektual kampus..

Tapi, ternyata itu bukan judul lagu nya loh. Hanya lebih populer sebab lirik pertama adalah “gaudeamus igitur..” ya, sama saja seperti adek saya kalau nyebut surat Al Ikhlas itu surat “Qulhu” hehehe.. sebab ayat pertama berbunyi Qulhuallahu Ahad..

Lalu, apa sih judulnya yang sebenarnya? kenapa diubah? Nama lagu tersebut De Brevitate Vitae (On The Shortness of Life), pada Kehidupan yang Singkat. Itu tuh aslinya.. Wiki pun berkata demikian hehe.. pas kita minta Gaudeamus, langsung di redirect ke De Brevitate Vitae.. bukan Curriculum Vitae loh hhihi..

dan lagu ini pun tidak se “Khidmat” dari yang kita dengar kalau melihat liriknya. It is about Sex (gender) dan Death (kematian). Wah.. nggak banget kan? memang begitu loh. Coba perhatikan lirik nya :

Original Latin

Gaudeamus igitur
Juvenes dum sumus
Post jucundum juventutem
Post molestam senectutem
Nos habebit humus.

Ubi sunt qui ante nos
In mundo fuere?
Vadite ad superos
Transite in inferos
Hos si vis videre.

Vita nostra brevis est
Brevi finietur.
Venit mors velociter
Rapit nos atrociter
Nemini parcetur.

Vivat academia
Vivant professores
Vivat membrum quodlibet
Vivat membra quaelibet
Semper sint in flore.

Vivant omnes virgines
Faciles, formosae.
Vivant et mulieres
Tenerae amabiles
Bonae laboriosae.

Vivant et republicaet qui illam regit.
Vivat nostra civitas,
Maecenatum caritas
Quae nos hic protegit.

Pereat tristitia,
Pereant osores.
Pereat diabolus,
Quivis antiburschius
Atque irrisores.

Nggak ngeri? ya iyaa laah.. hehe.. becanda nih yang versi inggris (terjemahan) nya :

English Translation

Let us rejoice therefore
While we are young.After a pleasant youth
After a troublesome old age
The earth will have us.

Where are they
Who were in the world before us?
You may cross over to heaven
You may go to hellIf you wish to see them.

Our life is brief
It will be finished shortly.
Death comes quickly
Atrociously, it snatches us away.
No one is spared.

Long live the academy!
Long live the teachers!
Long live each male student!
Long live each female student!
May they always flourish!

Long live all maidens
Easy and beautiful!
Long live mature women also,
Tender and loveable
And full of good labor.

Long live the State
And the One who rules it!
Long live our City
And the charity of benefactors
Which protects us here!

Let sadness perish!
Let haters perish!
Let the devil perish!
Let whoever is against our school
Who laughs at it, perish!

Coba lihat, ada ngomongin cewek (maiden) ngomongin ibu (mature women). Intinya sih paling nggak di lagu ini mengingatkan kalo “eh hidup itu singkat. Ayo kita mencari ilmu sebanyak-banyaknya dan berkontribusi”.. Kesian ibu udah melahirkan dah capek2.. lagian kalo loe pinter.. kan banyak cewek-cewek mendekat..~halah~ hehe.. maksudnya mungkin di jaman lagunya diciptakan pendidikan masih monopoli kaum lelaki kali yee..

Anyway, setelah pada abad 12 diciptakan.. jadi anthem nya universitas secara luas di abad pertengahan.. ya.. secara pelopor pendidikan tinggi modern seperti universitas adanya di eropa, dan bahasa Latin adalah lingua franca pada saat itu.. jadi lah anthem of the university..

Pada lirik, para members of universities, para dosen dan pengajar disanjung karena mentransfer ilmunya.. ya.. kalau kata liriknya sih… “Mumpung masih muda!” “Mati itu cepat datangnya, jadi bersenang-senanglah selagi muda” terminologi rejoice disana, maksudnya belajar kali yeee… demi masa depan lah..

Ngomongin lirik.. mending kamu donlod sendiri deh liriknya saya kasih disini ada partiturnya segala biar keliatan keren hihi.. nih Gaudeamus Igitur Partitur

Oya, katanya sih terjemahan Inggris itu ada yang salah, terjemahan dari “vivat membrum…vivant membra” menjadi “long live every male student, every female student” seharusnya “Long live every member (of the University, misal, pelajar dan staf).. gethooo…

Kalo masih penasaran kayak gimana sih? cari aja midi or mp3 nya di internet.. banyak bo!

Akhir kata.. Long Live the Academy! Long Live the Teachers!

Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...