The Hybrid-theory

12 Mahasiswa PTN Terancam Drop Out.. Ya Sutralah..So what gitu loh?

Posted on October 22, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power, The Hybrid-theory | Tags: , , , , , , , , , , , |

Hmm judulnya kok sadis sih.. Mahasiswa terancam DO, bukan dibantu malah “ya sutralah, so what gitu loh”.. lah emang mau apa?

Ini awalnya Info dari milis, saya mendapatkan informasi permintaan donasi. Klub santri peduli menginformasikan mengenai kesulitan “12 Mahasiswa UPI Bandung” yang terancam dikeluarkan.Dari sini lah diskusi berawal.

Bagi yang belum tau, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) adalah IKIP Bandung yang berubah nama. Ya, artinya NEGERI. nah, dulu, PTN menjadi tempat mahasiswa miskin utk berharap bisa kuliah. Namun sekarang, wuih sama mahalnya dengan swasta, bahkan lebih mahal. Nah, kembali ke informasi, berikut informasinya :

12 Mahasiswa Baru UPI Bandung Terancam Dikeluarkan
19 Oktober 2008 » Jurnal

Klab Santri Peduli : Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan aset penting untuk dijadikan senjata pengokoh bangsa ini. Namun, pada kenyataannya banyak elemen di negara ini yang mengabaikan hal tersebut dan tak mempedulikannya. Termasuk birokrat-birokrat pemerintah atau lembaga-lembaga yang diamanahi mengurus kependidikan, nampak seperti tidak pro terhadap majunya kependidikan di negara ini.

Banyak pemuda-pemudi potensial di negara ini yang mempunyai harapan tinggi dapat meneguk manisnya ilmu di bangku-bangku pendidikan, namun harus rela menggugurkan harapan-harapannya karena berbenturan dengan biaya yang melangit dan rumitnya kebijakan yang mengaturnya. Sehingga sangat sulit untuk mendapatkan keringanan biaya, bahkan untuk dapat biaya pendidikan gratis. Seolah ada anggapan bahwa pendidikan hanya untuk orang kaya saja.

Salah satu masalah yang terjadi sekarang adalah permasalahan 12 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mereka belum membayar biaya registrasi masuk Universitas. Satu alasan mereka, miskin, dan kondisi itu tidaklah mereka inginkan. Pada awalnya, mereka berjumlah sekitar 50 orang. Namun, sebagian besar telah putus harapan. Sekarang yang tersisa tinggal 12 orang.

Mahasiswa baru yang berjumlah 12 orang ini belum mempunyai status resmi sebagai mahasiswa karena masih berstatus penangguhan. Selain itu, tenggat waktu pembayaran yang diberikan oleh pihak kampus ialah sampai tanggal 30 Oktober 2008. Namun, permasalahan timbul saat mahasiswa tidak mampu melunasi itu karena kondisi ekonomi tidak memungkinkan.

***

1. Asep Rahmat. Mahasiswa baru asal Cianjur ini tidak mengikuti perkuliahan semenjak memasuki awal perkuliahan 2008/2009 karena belum memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM) disebabkan belum melunasi biaya registrasi dan tidak menandatangani kesepakatan dengan rektorat untuk melunasi bayaran pada tanggal 30 oktober 2008. Di Bandung tidak memiliki rumah dan tinggal menumpang di rumah saudaranya. Orangtuanya kurang menyanggupi untuk memberikan uang saku. Asep sehari-harinya mencari penghidupan dengan “bantu-bantu” saudaranya di tempat ia menumpang dan di DKM masjid sekitar. Terkadang mencari kerja sampingan pula. Penghasilan orangtuanya Rp. 20.000,-/hari. Salah satu prestasi Asep ialah ikut serta sebagai peserta kegiatan Olimpiade Fisika Indonesia tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur pada tanggal 18 April 2006. Asep masuk UPI melalui jalur PMDK dan mengambil jurusan Teknik Elektro. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.350.000,-.

2. Abdul Kalim. Mahasiswa baru asal Indramayu. Untuk mencukupi kebutuhan pangan selama awal perkuliahan yang tepat pada bulan Ramadhan, Abdul hanya melakukannya pada saat sahur dan buka puasa gratis di sebuah masjid karena tidak memiliki cukup uang untuk makan. Selama masa perkuliahan, Asep menumpang di kost-an kakak kelas se-SMA-nya karena tidak memiliki cukup biaya untuk menyewa kost. Ayahnya sudah tidak membiayai hidup sehari-harinya lagi karena penghasilan yang pas-pasan, yaitu Rp. 200.000,-/bulan sebagai buruh tani. Salah satu prestasinya ialah sebagai juara III anggota tim bina vokal SMAN 1 Anjatan dalam lomba karya cipta lagu dan menyanyikan lagu hymne dan mars Indramayu remaja pada bulan Juli 2008. Abdul masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Musik. Biaya yang dibutuhkan Rp. 6.038.000,-.

3. Citra Maulida Fitriyani. Mahasiswi baru asal Bandung. Prestasinya yaitu lulus ujian dengan mendapatkan nilai tinggi dengan hasil 24, 27 dari 3 mata pelajaran. Citra masuk UPI melalui jalur UM dan mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.408.000,-.

4. Mira Komalasari. Mahasiswi baru berasal dari Bandung. Ayahnya bekerja sebagai sopir di rumah makan Wibisana Bandung. Penghasilan orangtuanya Rp. 600.000,-/bulan. Mira masuk UPI melalui jalur PMDK dan mengambil jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.888.000,-.

5. Kaehan Fatimah Azhariyah. Mahasiswi baru yang beralamat di Cihampelas Bandung. Orangtuanya bekerja sebagai pedagang kecil dengan penghasilan Rp. 1.000.000,-/bulan. Kaehan adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Kaehan mendapat uang saku perhari dari orangtua sebesar Rp. 5000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Cihampeas – UPI. Kaehan masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

6. Siti Syabibah Nurul Amalina. Mahasiswi baru yang beralamat di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bubur dengan penghasilan Rp. 1.000.000,-/bulan. Siti adalah anak pertama dari empat bersaudara. Uang saku perhari dari orangtuanya sebesar Rp. 10.000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Lembang – UPI. Siti masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

7. Anita Komala Dewi. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Rancaekek Bandung. Ayahnya sebagai pegawai swasta namun sudah putus kerja. Ibunya sebagai guru SD. Anita masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.780.000,-.

8. Faizal Nurkarim. Mahasiswa baru yang berasal dari Garut. Sejak memasuki masa perkuliahan, Faizal menumpang tinggal di rumah saudaranya di daerah Ciwastra Bandung karena tidak sanggup untuk menyewa kost-an. Orangtua Faizal bekerja sebagai pegawai yayasan. Faizal adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Penghasilan orangtua Faizal yaitu Rp. 1.000.000,-/bulan. Faizal masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Teknik Mesin. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.888.000,-.

9. Astri Mustikawati. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Garut. Ayahnya seorang wiraswasta dengan penghasilan Rp. 800.000,-/bulan. Untuk memenuhi segala macam kebutuhannya saat ini, Astri harus mengoptimalkan uang saku yang berjumlah Rp. 50.000,-/bulan. Astri masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Jasmani dan Keolahragaan. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.778.000,-.

10. Rini Wulandari. Mahasiswi baru yang berasal daerah Kiaracondong Bandung. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bakso keliling dengan penghasilan Rp. 600.000,-/bulan. Rini adalah anak pertama dari empat bersaudara. Perharinya Rini mendapat uang saku Rp. 8.000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Cicaheum – Ledeng. Rini masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi Koperasi. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

11. Lalitya Dwi Rahmani. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta (kadang-kadang narik ojek) dengan penghasilan Rp. 30.000,-/hari. Lalitya masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Rupa. Biaya yang dibutuhkan Rp. 6.038.000,-.

12. Andi Sopandi. Pria asal Ciamis ini sudah tidak disubsidi lagi oleh orangtuanya sejak SMA. Hidupnya terkatung-katung, ia tidak memiliki rumah, baik di Ciamis maupun di Bandung. Sosok pekerja keras ini, mengumpulkan uang dari aktivitasnya sehari-hari mengajar les Matematika. Andi Sopandi hanyalah anak buruh tani biasa, dan ia tidak sanggup melunasi biaya kuliahnya. Andi masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Sunda. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

***

12 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tidak sanggup membayar biaya registrasi, membuat surat perjanjian di atas materai Rp. 6000,- dengan pihak kampus untuk penangguhan biaya. Isi surat itu adalah, “… Apabila pada tanggal yang telah disepakati (30 Oktober 2008) tidak dapat melunasi biaya pendidikan tersebut, kami siap menanggung resiko sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia.” Hal ini sudah tidak bisa diganggu gugat, dan sudah harga mati bagi mahasiswa baru.

Melihat realitas, kondisi ekonomi mahasiswa baru dan orangtuanya, tidak memungkinkan untuk memenuhi pelunasan dalam tenggat waktu yang diberikan kampus. Lalu, apakah harapan-harapan mereka akan pupus? Lantas apa kita akan berdiam diri saja melihat itu? Masih adakah elemen-elemen di bangsa ini yang peduli pendidikan?

***

Transfer Donasi

* Bank Syariah Mandiri – No. Rek. 0070176318 – A.N. Klab Santri Peduli
* Bank Central Asia (BCA) – No. Rek. 4381168624 – A.N. Dudung Kurnia Sundana
* Bank Mandiri – No. Rek. 132-00-0473817-6 – A.N. Dudung Kurnia Sundana
* Bank Muamalat Indonesia – No. Rek. : 103.02635.20 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* Bank Permata Syariah – No. Rek. : 377.000.637.5 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* BNI Syariah – No. Rek. : 0092531159 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* E-Gold – http://3872071.e-gold.com/ – KotaSantri.com)
* Money Gram / Western Union – Bagi yang tinggal di luar Indonesia dan ingin turut berpartisipasi, silahkan transfer melalui Money Gram / Western Union. Untuk info lengkap, silahkan hubungi KotaSantri.com.

Bagi donatur yang telah mentransfer donasinya, agar konfirmasi melalui e-mail : ksp [at] kotasantri [dot] org atau SMS ke 0817434686. Tuliskan subjek e-mail atau awal kalimat SMS dengan kode KSP -spasi- Prestatif -spasi- Nama -spasi- Alamat/Kota -spasi- Jumlah Donasi -spasi- Nama Bank Tujuan.

Jika tidak ingin konfirmasi, maka untuk mempermudah proses pengecekan dana yang ditransfer, dimohon agar melebihkan Rp. 10,- (mencantumkan angka 10 di belakang jumlah nominal) dari jumlah dana yang ditransfer.

***

Oke, setelah membaca, apa yang Anda lakukan? Miris dan mau nyumbang? Miris, geleng-geleng kepala dan tidak menyumbang? atau yang ketiga, mencoba menganalisis dari sudut pandang lain, kecuali sudut pandang getir yg dialami 12 orang ini.

Saya memilih yang ketiga. Pertanyaan saya pertama, loh, memangnya dengan membayar 5 jutaan itu, masalah beres? tidak. Anda butuh duit untuk semester2 berikutnya. Anda butuh duit transport, kos, fotokopi. Anda kuliah S1 lima tahun dan bisa lebih. Ngga cukup 5 juta itu. Lalu, dibalas, oke kerja. Ya kerja banting tulang, akhirnya kuliah terbengkalai. Ya minimal tidak bisa top at the class lah. belum kalau akhirnya nyasar jadi “aktivis” ya susah.

Lalu, mengapa harus ngotot di PTN ? Kalau dibaca, 12 orang ini hanya dua orang kira2 mengambil jurusan yg aplikatif. Sisanya idealis, mengambil jurusan2 yang kurang diserap pasar, dengan mengorbankan realita. Kekurangan uang tersebut juga sudah hitam diatas putih akan dikeluarkan. Itu juga disetujui sama si mahasiswa. Ya, dengan harapan akan ada bantuan. Moksoin diri buat masuk UPI, dengan berharap bantuan dana nantinya.

FYI, teman2 saya beberapa drop out dari UI dan IPB. NO problemo. Bisa kul sambil kerja, bisa bantu ortu. Bukan malah pusing buat bayar kuliah. Lalu, apakah mereka tidak intelek? No no.. intelektualitas bisa dilihat dari hasil kerja, cara kerja, cara berkomunikasi, berbicara, menganalisis masalah dan menghasilak sesuatu dengan indah dan inovatif. Banyak cara, selain dengan menunjukkan Ijazah PTN Favorit. Ada-ada aja.

Ekstremnya, saya nggak akan mau nyumbang dana. mengapa? Sebab dengan menyumbang maka seperti memberikan papan untuk melintasi saluran air, sedangkan didepan saluran air ada sungai yang dalam. Artinya, ini lubang kecil, nanti jurang yang dihadapi. Butuh dana besar. Sangat baik apabila “dana untuk pendidikan” disumbangkan ke Pendidikan Dasar dan Menengah. Ya minimal untuk siswa SMK yang kurang mampu. Sebab SMK mendidik untuk memiliki kompetensi. Adakah kompetensi dicapai hanya dengan meraih gelar sarjana? Hari ini, di negara yang miskin ini, kita harus introspeksi, sadar bahwa beginilah perjuangan.

Kalau judulnya, 12 Siswa terancam Drop Out karena belum bayar Uang Sekolah/SPP, prioritas dibantunya tentu lebih tinggi. Sekolah hingga tamat itu WAJIB tapi kuliah apalagi buat ngejar S1, itu OPTIONAL.

Btw, kalau memang mau kul, ada temen merekomendasikan kuliah murah di websitenya. Ini nih. Silakan dicek-cek deh, baru putuskan mau kuliah. Saya pikir, UPI juga udah ngasih tau kan biaya2 kuliah itu berapa? Masih mau ngotot SNMPTN, UM dan atau apa namanya untuk kuliah negeri? Apa karena ikut2an, hehe.. ini seperti saya dulu, ikut2an SPMB tapi ya diterima dan orangtua Alhamdulillah sih mampu, kemudian kejar beasiswa sana sini dan lulus deh..ini aja masih nyesel soalnya kenapa ga sambil kerja dulu atau kerja dulu karena liat itungan waktu (tahun) rugi waktu banget deh..

Silakan direnungkan, Wassalam.

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Ironisme Tim Gado-gado Jerman

Posted on June 20, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power, The Hybrid-theory | Tags: , , , , , , , , , , |

Ironis.

Namun kata ironis ini bisa bermakna banyak. Ya, ironis sebab pada perhelatan Euro 2008, Portugal kalah tipis 2-3 dari Jerman dalam penyisihan ke semifinal. Mengapa? sebab semangat portugal hingga menit ke 90 bahkan harapan untuk menyamakan skor sebenarnya masih bisa diperjuangkan, namun memang Dewi fortuna tidak memihak..

Ironis, sebab tim yang disebut dengan timnas Jerman ini hanyalah sekumpulan Pria ber- “KTP warga Jerman”. Ya, sebab dari deretan nama-nama berikut, mulai dari Gomez, Podolski, Klose, Odonkor, Kuranyi bukanlah “bangsa ras arya” yang sempat diunggul-unggulkan oleh Jerman di masa lalu. Bahkan Podolski berasal dari Polandia, yang pertama kali diserbu Jerman yang memulai Perang Dunia kedua, pada September 1939. Sebagian besar tim adalah Yahudi tulen, yang dulu kala pada masa Hitler sangat rendah dan hina dina.

Ironis, sebab kapten sekaliber Michael Ballack masih dipandang sebelah mata oleh publik Jerman, walau putra Germania ini aseli “nyong jerman” tapi latar belakang Jerman Timurnya masih memaksa masyarakat Jerman memandang sinis.

Ironis, tim yang dijuluki Panzer –mengacu pada dominasi kekuatan Panzer (tank) Jerman di PD II yang sangat powerfull dan terkenal dengan Blitzkrieg (Serangan kilat) nya ternyata sekumpulan orang-orang yang berketurunan tidak aseli, dan adapula yang masuk lewat jalur naturalisasi. Lalu, ironisnya apa lagi?

Disisi lain, ironisme jerman ini –yang sekarang layak disebut tim gado-gado sebab sudah ndak banyak talenta Jerman “asli” yang berkualitas baik setelah era terakhir adalah masa “sang Kaisar” Oliver Kahn yang tergusur saat ini, mencerminkan kurang kaderisasinya klub-klub dalam negeri dan hilangnya satu generasi emas kejayaan Jerman seperti pada saat 1970an di mana waktu itu Jerman Barat menjadi raksasa yang sangat diperhitungkan di dunia sepakbola global. Bahkan klub-klub berdomisili di area Jerman barat masa lalu, saat ini mandul dalam melahirkan bakat-bakat lokal.

Ironisnya, boleh disebut Ironisme dibalik ironisme, adalah tim gado-gado inilah yang ternyata, dengan langkah pasti ke semifinal! jadi, boleh dikata, ada dua kubu masyarakat Jerman yang menilai. Pertama, masyarakat yang kental dengan nuansa adiluhung dan kedigdayaan Jerman masa lalu masih tidak terlalu bangga, sebab anak-anak ini adalah anak-anak “buangan” dan “pinggiran”, termasuk Ballack yang walau saat ini menjadi ikon kebanggaan Jerman, adalah putra “timur” bukan “barat” yang menjadi kiblat sepakbola dunia pada jaman Klinsmann dkk. Kekecewaan akan kurangnya talenta lokal ini ibarat pisau bermata ganda.

Suatu saat, kita tidak tahu seberapa besar kekuatan Neo Nazi membangun kekuataannya, apalagi kalau melihat negaranya sudah menjadi obrak-abrik etnis yang menghilangkan “identitas sebuah negeri bernama dan berbangsa Jerman”. Ingat kasus di Itali dimana bendera Fasisme dikibarkan? Ya, baru 60 tahunan puing-puing perang dunia tertinggal, sudah muncul banyak neo-neo fasis dan nazi. Dan munculnya di dunia olahraga sepakbola yang begitu digandrungi, selain itu juga perlahan namun pasti muncul di panggung politik. Sekali lagi, kita tidak tahu sampai kapan kekuataan ini mendominasi lagi, atau tak akan pernah lagi..

Lalu yang Kedua, masyarakat Jerman bersatu yang tidak peduli isu rasial. Masyarakat modern yang kick of racism out of football dan out of mind. Negara bangsa Jerman sudah seperti negara amerika serikat, sudah seperti Malaysia dan Singapura yang multi etnis, kalau tidak bisa menyebut, seperti Indonesia yang sangat-sangat multietnis. Yang penting Jerman masuk semifinal, dan mereka mendoakan agar Jerman menjuarai Euro kali ini.

Jerman dijuluki Tim Panzer. Menurut saya, sekarang bisalah kita kasih julukan Tim Gado-gado. Sebab dignity dan aura khas Panzer, seakan-akan panzer-panzer beriringan menembus padang pasir dan rumput, dengan seorang feldmarschall berdiri diatas panzer sambil meneropong medan laga.. diiringi alunan mars “Unser Rommel” sudah tidak nampak. Yang nampak adalah kumpulan pria multi etnis yang berbicara Jerman dan atau ber KTP Jerman. Masa itu apakah sudah lalu (dan biarlah berlalu) atau.. akan menjadi babak baru pesepakbolaan Jerman, dan babak baru dari Negara Republik Federal Jerman yang “unitaris” ini… hanya waktu yang bisa menjawabnya, dan hanya penggemar sepakbola yang bisa menggerutu dan berkomentar mengenai tim gado-gado ini.. dan setidaknya berdiskusi dan bermain bola tanpa gontok-gontokan ala Indonesia yang multi etnis dan sangat plural.

Catatan : Ironisme ini saya juga rasakan pada saat Sriwijaya FC menjadi double winner Piala tahun 2008 ini. Mungkin bukan dalam konteks negara, namun ada semacam rasa kurang puas dan bangga, sebab tim ini disusun dengan modal lumayan besar, membeli klub yang sudah jadi, pemain asing dan pemain nasional yang (bukan putra daerah) dan paling parah, semuanya menggunakan dana APBD. Jadi teringat Chelsea kalau melihat Sriwijaya FC ini.. tapi ya sudah ada janji dari manajemen untuk melakukan regenerasi dan memasukkan bibit-bibit lokal putra sumsel dalam grand skenario 5 tahun kedepan untuk menjadi punggawa Sriwijaya FC. Yach mudah-mudahan lah.. jika melihat Ironisme ini, saya pun masih ragu, apakah saya termasuk yang optimis (termasuk pada masyarakat berpendapat kedua) atau kecewa–dan pesimis (termasuk pada masyarakat berpendapat PERTAMA).

Hanya waktu yang akan menjawab, dan hanya Tuhan yang dapat menilai 🙂

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Sekolah Kejuruan dan Kompetensi TI

Posted on June 6, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Hybrid-theory, The Techno-power | Tags: , , , , , , |

“Saya juga dulu sekolahnya di SMK”, ucap seorang manajer atau direktur sebuah instansi pemerintahan populer di bidang telekomunikasi, mengakhiri sebuah iklan dari pemerintah mengenai program pendidikan dengan ketrampilan yang diselenggarakan sekolah kejuruan (SMK).

Pemerintah dan Sekolah Kejuruan
Ingat iklan di televisi yang dikutip diatas? Memang pemerintah saat ini mendukung sekolah kejuruan atau vokasi (vocational school). Jika kamu sekolah di SMK, sekarang jangan lagi minder. Sebaliknya, kalau pun bukan berasal dari SMK, alias SMA atau malah Madrasah dan Pesantren, yok sama-sama berkaca pada diri sendiri apakah punya bekal berupa ketrampilan (lifeskill) yang cukup untuk masa depan, dengan jerih payah sendiri, tidak merepotkan orang tua? Tapi Ironis memang, kebanyakan sekolah kejuruan justru kekurangan sarana dan prasarana untuk mendukung visi dan misi sekolahnya. Kadang kendala ini sedikit-banyak mempengaruhi kualitas alumninya. Belum lagi masalah biaya. Sudah menjadi prinsip ekonomi dimana fasilitas yang bagus memerlukan biaya yang tidak sedikit. Nah, jika dibebankan semua ke siswa, berapa besar bayaran yang harus disetor ke sekolah? Begitulah, akhirnya mau tidak mau, sekolah kejuruan berkompromi dengan tingkat kualitas. Terutama sekolah swasta yang notabene sangat bergantung kepada yayasan pendirinya.
Disisi lain, pemerintah juga terkesan kurang serius mengelola sistem dan kurikulum pendidikan nasional, setengah hati dalam memberikan yang terbaik. Negeri maupun swasta, dua-duanya merasa kurang perhatian. Kebijakan berubah-ubah seiring pergantian pemerintahan.

Proyeksi 2020 : Kompetensi Bidang TI
Namun stop mengeluh! Keluhan selalu kita alamatkan ke Pemerintah mengenai kurangnya perhatian dalam membangun pendidikan yang berkurikulum teknologi jangan sampai membuat putus asa. Sekarang kondisinya (mulai) membaik. SMK dewasa ini sudah ada jurusan teknologi komputer dan jaringan, mulai dirajut slogan bahwa pendidikan vokasi (pendidikan keahlian) yang didapatkan di bangku sekolah merupakan bekal berharga dalam merajut masa depan yang cerah. SMK didorong pertumbuhannya, sementara SMA dikurangi, bahkan di beberapa daerah di stop demi merangsang pertumbuhan Sekolah kejuruan yang lebih masif lagi.
Diproyeksikan Sekolah kejuruan menjadi inkubator bagi SDM-SDM terampil untuk siap pakai. Berbeda halnya dengan SMA yang lulusannya disiapkan untuk mengikuti jenjang perguruan tinggi. Ini ada beritanya loh. Menurut Dirjen Dikmenjur Depdiknas (Panjang banget kan hehe.. ) Pak Gatot Hari Priowirjanto (panjang juga namanya..) pemerintah sudah menganggarkan dana perangsang minimal Rp 100 juta untuk tiap kelompok sekolah kejuruan (5-7 sekolah) yang layak menerima bantuan untuk membuka program keahlian baru, utamanya bidang teknologi informasi. Oh, ternyata yang diperlukan adalah bidang TI!

Program Keahlian berdaya serap tinggi
Upaya tersebut sesuai dengan program reposisi pendidikan kejuruan hingga 2020, dimana jumlah program yang “jenuh” di kejuruan akan berangsur dikurangi. Misalnya program keahlian sekretaris, dari 2192 SMK pada tahun 2000 diproyeksikan menjadi 923 SMK pada tahun 2020. Sebaliknya, jumlah program keahlian yang dinilai prospektif dan berdaya serap pasar tinggi, seperti pertanian, pariwisata dan kelautan, serta teknologi informasi akan ditingkatkan. Hmm.. jadi kamu tinggal memilih sesuai keinginan, dan lulusnya kamu punya skill diatas rata-rata sebaya kamu. Tentunya di bidang yang digeluti ketika sekolah di SMK. Sekilas jelas kan? diantara beberapa program di atas, mana yang langsung bisa kamu pakai untuk bersaing di lapangan kerja.
Namun jika tidak ingin hanya bekerja sebagai tenaga magang maupun teknis dan klerikal tingkat bawah, alumi SMK harus bisa meng-upgrade diri sendiri. Sebab, untuk menapak karier dengan sukses memerlukan lebih dari skill yang sudah ada. Kompetensi harus ditingkatkan, gelar dan karier mau tidak mau menjadi dua mata rantai yang bertautan.

Peluang kerja TI

Lalu, keahlian apa yang memiliki prospek cerah? Dari beberapa paragraf sebelumnya jelas, Salah satunya dan yang paling utama adalah dibidang Teknologi Informasi (dan Komunikasi). Selain membutuhkan pure kompetensi, artinya tidak sembarangan orang bisa berkarier dan berkarya di bidang tersebut –beda dengan marketing misalnya- memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus, bidang TI memiliki perkembangan paling pesat saat ini. Betapa tidak, teknologi nirkabel (wireless), teknologi telekomunikasi (3G, 3.5G, Wimax dst) makin lama makin canggih. Lalu dibidang hardware, siapa yang bisa menjamin dalam dua atau tiga bulan ke depan Intel tidak mengeluarkan prosessor terbaru? Atau peluang besar di balik gencarnya penegakan HaKI dimana sofware-software bajakan mulai berkurang sehingga perusahaan banyak beralih sistem operasi komputer (migrasi) dan memerlukan SDM terampil untuk melaksanakannya. Perusahaan, dengan demikian juga membutuhkan solusi TI misalnya dengan software buatan anak negeri yang murah namun berkualitas.
Perlu data? Aizirman Djusan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Departemen Komunikasi dan Informatika merilis informasi yang menakjubkan mengenai kebutuhan dan ketersediaan SDM di bidang TI di Indonesia seperti di tabel berikut :

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008
Kebutuhan 24,6 juta orang 26,4 juta orang 28,2 juta orang 30,3 juta orang 32,6 juta orang
Ketersediaan 8,2 juta orang 10,7 juta orang 13,4 juta orang 16,4 juta orang 19,8 juta orang
Jml Penduduk 225,0 juta jiwa 236,2 juta jiwa 248,1 juta jiwa 260,5 juta jiwa 273,5 juta jiwa
(Sumber: Aizirman Djusan dalam Tata Sutabri, Peluang Kerja TI, www.kabarindonesia.com)
Lebih dari itu, selain mengalami kekurangan, ternyata sebagian SDM yang sudah mengisi pos-pos yang tersedia adalah berasal dari background pendidikan non-TI ! Wuih! Peluang besar bagi yang ingin menapak karier di bidang TI. Gaji yang menggiurkan di depan mata, sebab bidang TI menjanjikan range salary yang diatas rata-rata jenis pekerjaan lain. Selain itu, di bidang TI kamu bisa bekerja sekaligus berkarya. Bisa mendirikan perusahaan sendiri, bisa berbisnis dan bekerja di rumah, dan bisa memanfaatkan skill dan kompetensi untuk menghasilkan karya nyata.

Menambah kompetensi agar pede
Lalu, peluang seperti apa yang bisa dimanfaatkan? Padahal, biaya berkuliah dan mendapatkan ilmu di bidang teknologi informasi pasti tersangkut masalah klasik: biaya. Sudah pasti ilmu eksakta dan komputer membutuhkan praktik yang banyak sehingga menaikkan biaya penyelenggaraan pendidikan. Bagi kelas masyarakat menengah ke bawah, sulit untuk mendapatkan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi yang “merakyat”. Kalaupun ada, kualitasnya dipertanyakan. Padahal pendidikan penting sekali untuk mencapai karier dan masa depan yang cerah.
Berbahagialah jika kamu termasuk yang sejak SMK mendapatkan ketrampilan. Jika tidak, perlu sekali untuk mendapatkan ketrampilan tersebut. Atau, jika sudah masuk jurusan Teknik, Komputer, dan Akuntansi di SMK, namun masih belum Pede, perlu dong menambah kepedean dan sekaligus menautkan embel-embel kompetensi di diri agar kamu nantinya bisa leluasa memilih. Bisa bekerja, berwirausaha maupun ke jenjang perguruan tinggi selanjutnya dengan usaha, kemauan, dan bahkan biaya sendiri!

Mencari Ilmu TI secara optimal
Jika demikian masalahnya, perlu dipikirkan strategi mendapatkan ilmu di bidang IT. Carilah informasi lembaga pendidikan dengan range biaya tidak mahal-tapi juga tidak murah dan mengorbankan kualitas. Misalnya cari antara Rp.5 – Rp.10 juta pertahun (bukan persemester!). Kedua, selain biaya terjangkau, dapat diselesaikan dengan cepat, tidak menyita waktu. Apa perlu hingga lima tahun atau hanya perlu satu tahun dan dua tahun dahulu, setelah bekerja baru melanjutkan? Atau jika kamu punya masalah keuangan, apa ada jaminan setelah lulus, uang kamu “tidak sia-sia” di investasikan? Perlu banyak dipikirkan mengenai masalah ini. Lalu, ketika masa pendidikan nanti, apa yang kamu peroleh. Kalau bisa, kamu yang sudah bekerja dan berkegiatan lain misal wirausaha dapat mengambil kelas di sesi waktu khusus (kelas karyawan). Jika tidak begini, bagaimana kita dapat mengambil manfaat ilmu teknologi informasi yang berharga?
Cari lembaga dengan kadar kualitas, kualifikasi dan kompetensi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan terpercaya. Yang memberikan kurikulum dan fasilitas terbaik. Lalu yang memiliki jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi terakreditasi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Kamu tentu tidak mau berpuas diri dengan mendapatkan pengetahuan yang jumlahnya “sedikit” sedangkan belajar itu adalah “seumur hidup” kan? Apalagi jika berguna untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Iya kan?

Kompetensi versus biaya

Kompetensi itu penting, namun gelar yang dicapai juga menentukan posisi kamu diperusahaan tempat bekerja. Selain itu, standard kompetensi perlu juga loh di ukur oleh sertifikasi baik nasional maupun internasional. Selanjutnya, targetnya adalah sertifikasi alias “pengakuan” atas skill dan kompetensi kita. Jadi, tidak ada kata STOP untuk belajar. Kata pepatah, Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat. Atau kata Rasulullah, sampai ke negeri Cina. Setuju ya?
Namun yang kamu perlu ingat, belajar perlu biaya. Pendidikan formal -sayangnya- masih berpanglimakan uang. Cari yang sesuai untuk kamu, dengan manfaat semaksimal mungkin yang bisa dicapai. Kadar maksimal dapat kamu dapatkan pada kurikulum tdi sebuah perguruan tinggi. Silakan cari, lihat, pelajari dan bandingkan.

Lifeskill dan Kesuksesan
Perkuliahan dengan teori saja tidak akan sama hasilnya dengan mempraktikannya. Beri perhatian penuh terhadap kurilum sebuah insitusi pendidikan. Kurikulum yang baik merupakan jalinan mata rantai dalam menciptakan kompetensi pribadi Anda. Cari lembaga atau perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum terbaik dalam sistem pendidikannya. Ini akan menentukan kamu lulus dengan bekal (lifeskill) yang bisa membuat kamu bersaing dan memenangkan persaingan di dunia kerja dan usaha.
Selain pengajar berkualitas, fasilitas memadai, lingkungan yang kondusif, beberapa sudut pandang lain perlu dipertimbangkan. Misalnya lifeskill yang diberikan oleh perguruan tinggi semisal kewirausahaan, pengembangan diri dan kepribadian, ekstrakurikuler, kurikulum agama yang menjaga ruhiyah kamu, teman-teman yang menyenangkan, dan seterusnya. Aspek psikologis perlu pula mendapatkan perhatian, jangan sampai kamu tidak kerasan dalam belajar, walaupun se-sempurna mungkin kurikulum dan fasilitas yang kamu dapatkan.
Tips terakhir, jangan segan bertanya kepada rekan-rekan yang “sukses” dengan biaya yang minimum sehingga tidak memberatkan siapa saja. Success is our right, jadi dimana ada kemauan di situ ada jalan. Selamat mencari pengetahuan, Semoga kamu menjadi bagian dari dunia TI yang selalu berkembang pesat, yang selalu membutuhkan jiwa-jiwa muda dan potensial sebagai roda penggeraknya sekaligus mendulang kesuksesan pribadi. Kesuksesan materi dan imateri, duniawi dan moral-spiritual!

Read Full Post | Make a Comment ( 5 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...