The Techno-power

Bus Lorena : Bis Berjudul Eksekutif.. Kok perilaku Kelas Ekonomi!

Posted on September 29, 2009. Filed under: Coretan Intelektual, The Public Services-power, The Techno-power |

Sudah lama kami sekeluarga berlangganan PO Bus Lorena Bogor-Palembang PP hampir lima tahun rutin. Tapi itu 10 tahun yang lalu, dan kami memang sudah berganti ke Pesawat yang tarifnya saat ini lebih kompetitif. Setelah lama tdk naik bis ini, akhirnya dikarenakan fullnya tiket pesawat arus balik, maka kami berkesempatan menggunakan jasa Lorena, walaupun tarifnya sangat mahal diatas harga pesawat rata-rata palembang-jakarta namun hanya via itu saya dapat tepat waktu sekeluarga kembali ke rumah di bogor. Pada tanggal 27 September 2009 dengan kode LV 121 tujuan Jakarta/Bogor berangkat dijadwalkan pukul 13.30 WIB.

Namun ternyata, kualitas Lorena bukannya membaik tapi justru semakin buruk. Bisa dibilang tidak beda dengan bis AKAP yang bisa kita stop di jalan dan terminal. Jauh dari kesan Bus “Eksekutif”.
Hal-hal berikut yang saya catat :
1.AC tidak dingin. Bahkan awak bus mengakui AC mati-hidup. Di Pool di palembang, pemberangkatan tertunda (as always) dikarenakan ada penumpang yg telat. Sementara menunggu, lebih dari sparuh penumpang sudah keringatan, megap-megap dan berkipas-kipas dengan koran, majalah dan media lainnya.
2.Berangkat telat. Ini masih sama seperti 10 tahun lalu.
3.Tidak Ada Snack. Mungkin dengan biaya supermahal, masih tidak cukup untuk beli snack bagi penumpang, yang bahkan pesawat low class carrier yang tarifnya dibawah Lorena saja masih menyediakan air kemasan cup bagi penumpangnya.
4.Di Terminal Karya Jaya (10 tahun lalu masuknya langsung ke Jl Kol Atmo, tidak diterminal tsb) pedagang naik Bus dan menjajakan dagangannya. 10 tahun yang lalu, saya ingat, kenek sampai ngomong dengan lantang “Pak, Ini LORENA, bukan Bis Sembarangan!” sewaktu penjaja ngotot masuk ke Bis..
5.Semakin parah dengan WC yang Bau minta ampun disebabkan tidak adanya air untuk fasilitas membersihkan setelah pipis. Terpaksa selama perjalanan, saya dan beberapa penumpang lain berkorban menyiram dengan air minum yg kami bawa. Sebagian penumpang lain memang banyak juga yang tidak menyiram sehingga aroma makin bau. Kami yang duduk di belakang sempat bertanya mengenai pengharum, tapi dijawab “Tidak ada, biasanya yang ada itu BIS dari BOGOR”. Ha? Beda toh.. 10 tahun lalu kenek menyemprot pengharum ruangan apabila malam atau sore di atas dan di dekat karpet. Serta di dalam WC selain air banyak, juga ada pengharum WC.
6.Di perjalananan, tepatnya di JL Proklamator, Bandar Jaya, Lampung, Sopir MENAIKKAN Penumpang perempuan. Kurang lebih 3 menit sepertinya negosiasi harga dst. Setau saya, 10 tahun yang lalu DILARANG menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan.
7.Di Kapal, Kami semua DISURUH turun dan naik ke galangan sebab Bis katanya AC mau dimatiin dan Lampu dipadamkan. Yang lucu, tepat di sebelah kiri ada Bus Lorena juga dan kondisinya Lampu menyala, AC di hidupkan dan Video dinyalakan. 10 tahun yang lalu sih memang seperti itu. Sewaktu saya bilang, istri saya HAMIL BESAR dan mau stay di Bus, kenek dan sopir bilang “terserah kalau mau kepanasan”. Saya akhirnya turun, melewati bis-bis dan bau asap yang menyengat dan sampai juga di pinggir utk naik tangga ke atas. Melihat undak-undak tangga ke atas kapal yang sangat banyak, istri saya tidak sanggup dan memilih kembali ke Bus apapun resikonya. Kami akhirnya masuk kembali ke Bus dan AC dimatikan. Sempat dihidupkan sebentar oleh awak. Sungguh tidak berpri kemanusiaan! Untuk bukti, saya sudah mengambil foto bus Lorena di sebelah kiri yang penumpangnya nyaman tidur di Bis tidak perlu DIUSIR dan dimatikan AC nya.
8.Pada perjalanan antara Jakarta Bogor, setelah menurunkan penumpang jakarta di pool di Kampung Rambutan dan Lebak Bulus, tingkah awak Bus makin menunjukkan “kelas”nya. Dihadapan penumpang yang ada anak kecil, perempuan, muslimah, dst awak menyetel Video Goyang Dangdut Erotis!
9.Sambil dangdutan pornoaksi tersebut, si Sopir juga MEROKOK di dalam Bis yang Full AC. Tidak lupa geleng2 kepala menikmati musik.. 10 tahun lalu, saya mendengarkan alunan musik instrumental bila malam, film berkualitas Hollywood dan musik-musik ngetop. Paling tidak, musik Sunda ketika bis bergerak keluar dari Kota Bogor.. Saat ini, memang televisi sudah LCD Flat, audio-video system udah keren tapi yang ditampilkan jauh dari eksekutif, malah kelas bawah.. Bahkan kelas bawah pun saya rasa berpikir 1000 kali untuk menyetel video erotis! Berani taruhan?

Sembilan poin diatas cukup bagi saya untuk mengatakan tepat sekali jika Lorena di tinggalkan oleh Pelanggan-pelanggannya. Bukan karena armada lain yang lebih kompetitif saja, namun juga Lorena yang tarif EKSEKUTIF layanan tidak lebih baik dari Bus yang melayani rute kampung ke kampung. Sorry to Say tapi itu kenyataan. Silakan Otoritas Lorena cross-check, saya punya bukti foto maupun keterangan saksi mata yang cukup banyak, walau mungkin cuma saya yang berani pasang badan untuk kebobrokan layanan ini. Kalau saya turun di Pool, sudah saya niatkan untuk langsung ketemu manajer Lorena, tapi saya turun tidak di pool Bogor sehingga komplain mau tidak mau saya sampaikan denganc ara ini. Manajemen Lorena, Anda juga punya hak jawab di media ini dan saya dengan lapang hati hanya menuliskan “Perbandingan Kualitas” antara Lorena dulu dan sekarang. Tidak ada tuduhan pencemaran nama baik, dan tidak ada tendensius terkecuali pengalaman saya pribadi.

Unggul Sagena
Penumpang Bus Lorena Palembang-Bogor (via Jakarta) No LV 121 tanggal 27 September 2009.

Update :
Agar tidak salah kaprah seperti bapak Welly yang berkomentar dibawah, maka saya tulis lagi cerita mengenai Lorena ini DISINI. silakan dinikmati dan diambil hikmahnya.

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( 79 so far )

Strategi Kepala dan Ekor di Pentas Pemkot Bogor

Posted on July 28, 2009. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , |

Bapak-bapak dan Ibu-ibu berseragam coklat memenuhi hingga dua pertiga ruangan yang berukuran kira-kira dua kali lapangan tenis. Mereka mengobrol, riuh rendah dengan logat sunda yang kental. Kadang tertawa, kadang mengomentari “Blackberry” yang dijual seharga kurang lebih dua ratus ribu, handphone cdma bundling milik Telkom Flexi, sponsor acara yang didisplay di sebuah booth diluar ruangan.

Begitulah apabila Ruang Rapat I Sekda Balaikota Kota Bogor, ketika menjadi tempat penyelenggaraan Seminar Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal bertajuk “Strategi Migrasi Linux” yang mengundang para pimpinan kelurahan, kecamatan, serta instansi terkait.

Selain itu, dalam seminar yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bogor bekerjasama dengan Departemen Komunikasi danInformatika (Depkominfo) RI pada hari Selasa, 30 Juni 2009 ini juga dihadiri beberapa orang dengan pakaian rapi ala kantoran, lengkap dengan celana bahan dan sepatu mengkilap.

Tak perlu banyak menduga, merekalah para pelaku bisnis dan perhotelan, juga sebagian diantaranya utusan dari sekolah-sekolah di Kota Bogor. Tampak juga undangan yang lain adalah dari komunitas pengguna Linux Bogor yang antusias duduk dideretan paling depan bangku seminar. Tak berapa lama, acara dimulai.

Ruangan yang sudah ditata sedemikian rupa menjadi tempat seminar ini riuh rendah dengan “obrolan siang” dengan ceritera obrolan mulai Pilpres, capeknya bekerja hingga gosip kinerja kelurahan sebelah berangsur hening ketika Pemerintah Kota Bogor selaku panitia seminar, melalu Dinas Hubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Bogor menyampaikan susunan acara.

Acara dimulai tepat Pukul dua siang dan direncanakan berakhir pas adzan ashar tiba. Bagaimanakah para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang biasanya digeneralisasi sebagai kalangan “gaptek” alias gagap teknologi ini bisa memahami, dan kemudian menerima solusi final penggunaan perangkat lunak legal dengan bermigrasi ke Linux?

Membayangkan bagaimana strategi yang baik untuk bermigrasi ke Linux kepada para PNS dan pelaku ekonomi di Kota Bogor ini sepertinya gampang-gampang susah. Gampang, karena sistem dan kultur birokrasi anutan pelaku pemerintahan baik sipil maupun militer di negeri ini amat feodal. ‘Pabila sudah ada inisiatif untuk melegalkan semua sistem operasi komputer maka bawahan manut aja. Yang susah adalah meyakinkan.

Ada teman yang mempunyai jasa konsultan TI membeberkan susah gampang migrasi ke Linux/FOSS (Free & Open Source –bebas dan berkode sumber terbuka) dengan melakukan kiat yang tepat dalam membantu resistensi dari user (pengguna). Menurut sang teman, timnya dengan gampang bisa meyakinkan orang TI di perusahaan tersebut, namun yang susah adalah meyakinkan level manajerial dan level pengguna atau operator sekaligus.

Ibaratnya menangkap ular, yang dilakukan adalah mencekal badan ular yang demikian panjang padahal kepala dan bagian ekor bisa bergerak kemana-mana. Kalau beracun, kepala bisa menggigit dengan bisa-nya, beberapa buntut ular pun bisa menyambit dengan racun-nya. Alih-alih yang ingin memegang malah mati ditempat. It will be a nightmare ever.

Lalu strategi macam apa sih? Inilah yang seharusnya dijawab pada seminar ini. Akan tetapi, bahkan sebelum acara dimulai, kita bisa menebak, strategi apa yang sudah dilaksanakan. Yup. Dengan (telah) diperkenankannya acara seminar ini, tentu sekaligus menegaskan bahwa “kepala” sudah dipegang. Sehingga dapat disimpulkan, seminar setengah hari yang yang diikuti sekitar seratusan peserta ini membidik “ekor”.

Dengan ingin bermigrasinya Pemerintah Kota Bogor, bisa jadi, sebagai ajang sosialisasi, seminar strategi migrasi ini diharapkan dapat merangsang para lurah, camat, pengusaha perhotelan, sekolah dan stakeholder lain untuk aware dan segera mempelajari Linux sebab inilah sistem operasi yang akan dipakai diseluruh instansi dibawah Pemerintah Kota Bogor.

Bau bisnisnya pun tak kalah menggiurkan. Bayangkan apabila satu saja instansi mendeklarasikan migrasi total dan go Open Source, proyek tidak hanya mencakup banyaknya PC desktop dan server yang akan dimigrasikan, tapi juga update keterampilan para pengguna. Istilahnya, biar susah, sekalinya dapat, rejeki melimpah.

Ini perbedaannya dengan proyek sejenis di instansi/perusahaan swasta. Lebih mudah, tapi terkadang nilainya bisa diperdebatkan. Bisa besar bisa kecil, tergantung “nasib”. Bisa dibayangkan satu departemen saja bisa sepuluh kali lipat dari proyek migrasi di perusahan swasta menengah. Belum lagi apabila melihat sisi “politis” dan “tanggungjawab” terhadap kemandirian bangsa terkait penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Bisa jadi, misi –sekaligus beban– sosial itu tetap melekat apabila berhadapan dengan institusi bernama “pemerintah”. Sangat menjanjikan.

Beberapa sambutan, baik dari Walikota Bogor hingga Direktur Aplikasi Perangkat Lunak Depkominfo –yang walaupun semuanya diwakilkan– jika diperhatikan isinya sudah dengan lugas dan jelas mendukung Open Source. Walikota Bogor, H. Diani Budiarto yang dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dishubkominfo Kota Bogor, H. Ahmad Syarief dan Direktur Aplikasi Perangkat Lunak, Lola Amalia Abdullah yang diwakilkan oleh Riki Arif Gunawan.

Sayang, presentasi Riki yang memaparkan berjudul “Free & Open Source Software : Pilihan Utama Software Legal” hanya sekilas menginformasikan mengenai Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (SE MenPAN), yang notabene berwewenang dan berkompeten masalah SDM berjulukan ‘PNS”. Mungkin ada baiknya sekalian diberikan contohnya pada materi yang difotokopi panitia, atau sekedar ditampilkan di layar presentasi mengenai Surat Edaran tersebut.

Sebab, walau Surat Edaran disebarkan kemana-mana mulai dari para menteri, Kapolri, Jaksa Agung, Gubernur Bank Indonesia, Panglima TNI, hingga ke para kepala instansi pemerintahan termasuk walikota, dapat dipahami mungkin sosialisasi (baca: surat) itu tidak sampai ke para lurah dan camat ini. Ini cocok sekali untuk meyakinkan bagaimana dukungan dan komitmen institusi pemerintah terhadap gerakan Indonesia, Go Open Source (IGOS) yang dideklarasikan pada tahun 2004 yang lalu. Apalagi ada kata “diwajibkan” pada surat edaran tersebut. Menilik psikologis para PNS, baik institusi sipil maupun militer, acuan diwajibkan ini bisa menjadi perintah langsung (direct order) untuk eksekusi.

Bagaimana dengan pelaku bisnis dan lembaga diluar pemerintahan? Tentu UU HKI No. 19/2002, Surat Edaran Kepolisian mengenai jerat hukum pembajakan, Kampanye Be Legal dan hukuman yang tanpa pandang bulu bisa menjadi shock therapy.

Beberapa berita teranyar, baik melalui media cetak seperti koran dan media online seperti di detik.com mengenai kampanye sweeping produk aplikasi bajakan di laptop serta beberapa perusahaan besar yang kena ciduk dan berurusan dengan hukum akibat pembajakan, misalnya berita (adanya isu) sweeping di bandara, dan perusahaan sekelas Autodesk bersama aparat menutup dan memperkarakan sejumlah perusahaan yang menggunakan peranti bajakan produk desain teknik mereka. Ini adalah shock therapy yang berdampak positif bagi kampanye Be Legal. Ya, bukan hal yang aneh, apabila ketakutan (fearness) ini terkadang bisa –dan perlu– dieksploitasi, selain tentunya dengan tambahan beberapa keunggulan Linux & FOSS dibanding peranti proprietary dan berkode tertutup lainnya.

Ada dua alternatif masalah Be Legal ini, yaitu membeli peranti lunak atau sistem operasi yang sama dengan harga yang menguras kantong, atau migrasi (beralih) ke Open Source, dalam hal ini paling populer dan paling mudah adalah Linux. Tentu pemikiran logis dan masuk akal adalah migrasi segera ke Open Source atas berbagai pertimbangan keunggulan yang bisa dua kali lipat lebih banyak daripada beli peranti lunak yang “Asli”. Pemerinta Kota Bogor, dalam hal ini, telah memilih solusi kedua, dan strategi berikutnya adalah sosialisasi, dalam bahasa artikel liputan ini, “memegang ekor”.

Dalam membahas strategi migrasi ini dihadirkan tiga narasumber. Dua dari pemerintahan yang memiliki interkoneksi dengan proses migrasi Pemerintah Kota Bogor yaitu perwakilan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), perwakilan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan –perlu diakui bahwa tokoh sentral, “Petinju” tunggal dalam seminar ini adalah Pak Michael “Opa Michael” Sunggiardi, seorang warga bogor (perlu digarisbawahi) yang sudah puluhan tahun bergelut di bisnis TI dengan prototipe toko komputer pertama di Kota Bogor, yaitu Batutulis komputer. Selain beliau aktif sebagai ‘jurkam” Linux nasional yang telah berkeliling sabang sampai merauke lewat kapasitasnya sebagai konsultan Jardiknas, pebisnis, sekaligus evangelist.

Setelah pemaparan secara teoritis dengan usaha membuka wacana dan cakrawala pengetahuan para peserta seminar mengenai apa itu FOSS, mengapa memilihnya dan aspek-aspek lain terkait, Opa Michael tanpa banyak bicara langsung saja mendemokan laptopnya yang sudah diisi dengan sistem operasi Windows legal dan mau dicoba dengan memakai USB Flashdisk untuk menjadi “Live USB” Sistem operasi Linux yang langsung siap pakai. Setelah reboot dan menjalankan Linux Ubuntu yang sudah dikemas sedemikian rupa di USB yang “berukuran mini kapasitas maksi”, para peserta mulai tercengang melihat kehebatan Linux yang “cuma” berukuran USB Flashdisk 2 GB. Untuk server, Opa Michael menamakan distro (distribusi Linux) hasil oprekannya sebagai “yUeSBe”. Plesetan dari USB dengan format penulisan ala “bahasa indonesia yang tidak disempurnakan”.

Menurut kontributor tetap majalah InfoLinux tersebut, Inilah yang disebut dengan “strategi terbaik” sesuai judul seminar. Diharapkan, dengan memakai sebuah usb flashdisk, maka kendala dan alasan-alasan yang membuat para PNS dan masyarakat umum menolak me-linux-kan diri tidak dapat menjdi alasan. Sebab, dimanapun berada, tinggal colok dan restart komputer, maka Linux pun mucul dihadapan. Kurang lebih, strategi ini adalah implementasi konkret dari ungkapan terkenal (famous quote) “ala bisa karena biasa” dan “tak kenal maka tak sayang”.

Jika berbicara ekor, maka apabila “kepala” –anggap saja ular– ini, dipegang, biasanya ekor akan berhenti beraktivitas aktif. Siang itu, para Lurah dan Camat dalam sesi tanya jawab “hanya” meminta informasi mengenai konektivitas data, keamanan data dan kemampuan konversi data lama ke dalam aplikasi berbasis FOSS. Pertanyaan yang teknis dan sangat masuk akal diutarakan oleh para pegawai pemerintahan sebab terkait dengan pelayanan mereka kepada masyarakat. Dengan mudah beberapa pertanyaan ini dijawab pembicara dan sepertinya para penanya puas.

Ya, kebanyakan memang pengguna (user) tidak perlu mengetahui secara teknis permasalahan administrasi sistem maupun troubleshooting. Asalkan bisa dipakai, dan sudah menjadi perintah baginya, tentu mudah dilaksanakan. Di lapangan, biasanya staf teknis yang mengerjakannya. Artinya dalam hal ini, walau demikian sulit, apabila sudah memegang “kepala”, dan “badan” (manajer dan staf bagian atau divisi TI), maka “ekor” yang “suka mengekor” ini cukup mudah dikendalikan.

Cukup jenaka, sebuah joke yang dilontarkan dalam rangka ice breaking di awal pembacaan kata sambutan, oleh H. Ahmad Syarief, Kepala Dishubkominfo Kota Bogor yang mewakili Walikota Bogor kepada peserta, khususnya para PNS kelurahan dan kecamatan di Kota Bogor, bahwa “sebelum pakai Blackberry, bisa dulu internet, ngerti dulu apa itu internet. Pake dulu Linux buat internetan. Nah baru di beli atuh blekberinya.. tapi belinya yang dua ratus ribu aja diluar” (seraya menunjukkan booth Telkom Flexi). Yang tentunya mengundang tawa para hadirin.

Selain mulai meningkatnya kesejahteraan para PNS, “godaan” blackberry tentu membuat rasa ingin mengetahui teknologi mereka semakin besar. Dan ingin tidak “gaptek” pun terlihat jelas dari angguk-anggukan kepala pada saat berinteraksi dan tanya jawab dengan para narasumber.

Pentas migrasi ini tampaknya bukan sebuah akhir, namun justru awal dari sebuah ide besar. Saat ajang ini berlangsung, bertemunya Michael Sunggiardi plus Pemerintah Kota Bogor, Depkominfo dan BPPT mensinyalir agenda lebih besar. Dan memang, ketika dikonfirmasi, konsep Bogor Cyber City ternyata sudah mulai digulirkan kembali sejak pertama kali dicetuskan satu dekade lalu.

Saatnya memang, Kota Bogor berbenah dan menata pelayanan masyarakat dengan maksimal dan optimal. Dengan efektif dan efisien. Selain Bogor Cyber City, tahun 2010, artinya tahun depan, Bogor juga akan menjadi tuan rumah Konferensi Linux Indonesia (Indonesia Linux Conference). Acara nasional ini, dengan demikian sudah pasti mendapat sambutan hangat dari Pemkot Bogor. Apalagi, konferensi salah satu distro Linux terbesar di Indonesia, Konferensi BlankOn Linux, yang digelar beberapa waktu di Universitas Pakuan, Bogor juga mencatat kesuksesan. Sebuah tambahan track record yang paripurna apabila implementasi penggunaan aplikasi Open Source di seluruh instansi pemerintahan pada tahun 2010 nanti juga dianggap dilaksanakan dengan baik oleh Kota Bogor dan tentunya juga kita harapkan adalah Kabupaten Bogor yang segera menyusul “saudaranya”.

Hari itu, diruang rapat yang disulap menjadi ruang seminar, berkumpul elemen-elemen Kota Bogor, didukung total oleh pemerintahnya sendiri, Bogor, segera menjadi “ular naga yang panjang bukan kepalang” yang diyakini sebagai simbol keberkahan, kekayaan, keberuntungan. Kepalanya sudah menjadi Linux, Badannya sudah Linux, ekornya pun sudah memegang Linux dalam satu alat kecil, bernama USB Flashdisk.

Deskripsi Tulisan :
Sesuai dengan Tema Meningkatkan Kepedulian Masyarakat untuk Penggunaan Open Source, maka tulisan ini memaparkan tentang adanya kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bogor beberapa hari yang lalu sebagai bagian dari strategi meningkatkan kepedulian masyarakat, utamanya diseluruh kalangan pemerintahan di wilayah Kota Bogor dan stakeholders Kota Bogor.

Penulis mendeskripsikan dan menuliskan kegiatan ini sebagai sebuah langkah Pemerintah Kota Bogor beserta berbagai elemen masyarakat di Kota Bogor yang sudah seia-sekata dalam menggunakan peranti lunak Free & Open Source dalam kegiatan pemerintahan dan pelayanan masyarakat.

Tentang Penulis :
Alumnus Universitas Indonesia, Departemen Ilmu Administrasi, Program Studi Administrasi Negara dengan konsentrasi masalah Kebijakan Publik di bidang Pendidikan & TIK, serta e-government dalam kaitannya dengan good governance.

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

2009 Kembali ke Laptop!

Posted on January 19, 2009. Filed under: The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Kembali ke Laptop! Itu kata tukul arwana. Kalimat populer ini tidaklah usang apabila kita melihat tahun 2009. Sebab, bukan masalah laptopnya, tapi katro-nya orang Indonesia ini apakah semakin berkurang sejak Tukul dkk memperkenalkan laptop sebagai media komunikasi, sekaligus memantapkan peran laptop atau notebook ke dalam lifestyle masyarakat modern. Tukul dkk. Ya, dan kawan-kawan. Siapa kawan-kawan tukul? Ya teman-teman Anda, pembaca, yang sudah menjinjing laptop kemana-mana, menikmati sajian Hotspot selain sajian menu istimewa di sebuah kafe, atau ngobrol bareng temen-temen di taman kampus sembari browsing mencari data untuk tugas kuliah di om Google.

Siapa lagi temannya Tukul? Adalah produsen laptop yang semakin hari semakin kompetitif, menelurkan produk laptop yang ramah kantong. Selain terjangkau, jenis lain dari laptop, biasanya subnotebook sudah mulai banyak pemainnya di pasaran. Laptop mungil dengan harga murah, berkisar 2 juta hingga 4.5 juta ini dapat dengan mudah Anda peroleh. Tak kurang Asus, Axioo, Zyrex, MSI mendominasi pasar subnotebook dengan produknya. Oh, ada lagi teman tukul, yaitu toko-toko yang memberikan fasilitas kredit Laptop. Sekarang Anda yang berkantong pas-pasan bahkan bisa mencicil laptop yg mahal sekalipun.

Fenomena kembali ke laptop disinyalir di tahun 2009 ini akan semakin semarak. Kita tunggu saja produsen barang elektronik ini melakukan berbagai inovasi produk dan meningkatkan pangsa pasar masing-masing. Saya tidak dapat memprediksi apakah acara “Empat Mata” yang sekarang menjadi “Bukan Empat Mata” akan berevolusi lagi atau bahkan tamat riwayatnya. Namun yang bisa diprediksi adalah, laptopnya tukul, bisa jadi, semakin canggih, semakin bermerk (tergantung sponsor acara) dan semakin mengecil mengikuti tren ukuran laptop yang kecil (kecuali Tukul matanya rabun dan sulit melihat huruf yang kecil-kecil). Jadi, kalau Anda tidak mau ndeso, katrok, dan bahkan lebih norak dan katrok dari tukul, silakan berkenalan dengan laptop, berkenalan dengan dunia IT. Apabila ternyata asik, tidak ada salahnya, pembaca sekalian mendalami IT dengan belajar serius di berbagai lembaga training IT, kuliah di perguruan tinggi IT dst. Sama halnya dengan tidak ada kata katro dan telat bagi yang berminat di dunia lawak, dimana ‘Ki Daus dan pak bendot (Alm) telah membuktikan tua-tua keladi di dunia lawak. Dunia IT juga sama. Tidak ada kata terlambat. Semakin kita berdiam diri dan bergeming tanpa tersentuh teknologi, maka kita akan terasing. Dan akhirnya hanya ikut menertawakan tukul dengan laptopnya, tanpa sadar, kok kita sendiri belum coba menggunakan laptop. Yang katro itu siapa ya? Nah, 2009, makin banyak perlombaan menarik minat konsumen dari produsen laptop. Manfaatkan teman-teman Anda, teman-teman Tukul tadi. Jadi, 2009 adalah wajar apabila kita teriakkan “Kembali ke Laptop!”

[ulo],

Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )

Deklarasi Indonesia Go Open Source! (IGOS) dan Implikasinya di bidang Pendidikan

Posted on December 16, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , |

Indonesia Go Open Source! (IGOS) adalah keputusan strategis di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari pemerintah Republik Indonesia melalui lembaga-lembaga terkait. IGOS dideklarasikan pada tanggal 30 Juni 2004 yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. IGOS adalah sebuah gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source di lingkungan pemerintah. Meskipun hanya ditandatangani oleh lima kementrian dan departemen, namun implementasinya didukung luas oleh lembaga-lembaga dan departemen lain misalnya Departemen Tenaga Kerja, Depdiknas dan Presiden sendiri, dengan membentuk Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) sebagai penasihat presiden dalam urusan dan keputusan terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia.

Salah satu poin penting deklarasi tersebut adalah pada poin ketiga, yaitu melakukan langkah-langkah aksi yang diantaranya Mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusat-pusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia. Deklarasi IGOS bertujuan agar bangsa Indonesia dapat membangun aplikasi peranti lunak komputer yang berkode sumber terbuka, membuat bangsa Indonesia dapat dengan mudah merancang, membuat, merekayasa dan menjual produk intelektual dengan mudah, murah dan tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu yang sewaktu-waktu dapat memaksakan kepentingan terkait dengan kebutuhan dukungan (support) terhadap produk.

Anak negeri bisa menghasilkan produk-produk karya sendiri, bebas, terbuka dan dapat disempurnakan oleh siapa saja dikarenakan konsep kode sumber yang terbuka sehingga dengan mudah dapat dilihat, dimodifikasi dan disempurnakan oleh siapa-saja. Pemilihan teknologi open source oleh pemerintah RI sendiri telah menjadikan sistem operasi (OS) berbasis Open Source, yaitu GNU-Linux (selanjutnya disingkat Linux) menjadi populer. Hal ini disebabkan banyaknya keunggulan Linux dibanding sistem operasi Open Source lainnya bahkan mengungguli raksasa sistem operasi proprietary yang saat ini, yaitu Microsoft Windows.

Open source sendiri dapat dimaknai sebagai sistem operasi komputer dan program-program komputer berlisensi Free (Bebas) dan Open Source (Berkode sumber terbuka. FOSS (Free & Open Source Software) Secara sederhana berarti kode program dapat dilihat, dimodifikasi, disebarluaskan secara bebas, halal, baik berbayar maupun gratis. Contoh konkretnya adalah Linux, sebuah sistem operasi penantang Microsoft Window$. Efeknya adalah pengguna dapat melakukan pembuatan aplikasi yang justru lebih canggih dan menyempurnakan aplikasi yang sebelumnya ada, tanpa perlu menunggu dari si pembuat. Bebas untuk berkreasi, membuat program komputer dan meneruskan program yang sudah dibuat oleh orang lain. Bebas, dan untuk tujuan kemanusiaan maupun komersial. Bebas saja.

Ada dua implikasi dari deklarasi IGOS ini bagi dunia pendidikan. Pertama, dilihat dari ditandatanganinya Deklarasi oleh Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu, secara internal menjadikan Open Source (baca : Linux) menjadi pilihan bagi departemen terkait. Sedangkan secara eksternal, memberikan perintah tidak langsung bahwa dunia pendidikan sudah menerima Open Source menjadi pilihan sistem operasi maupun aplikasi sehar-hari. Kedua, sektor pendidikan yang sudah stabil mendorong aktivitas pembelajaran, riset dan kemungkinan untuk melakukan migrasi ke Linux. Mulai dari kurikulum perguruan tinggi, mulai dirombak dan didasari oleh dasar kurikulum TIK yang open source, kalau tidak dapat disebut bebas dari pengaruh sistem operasi tertentu. Hingga kegeliat sektor swasta dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM TIK berbasis Linux/FOSS. Muncul dan kian berkembang lembaga-lembaga training komputer yang memfokuskan diri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang diperlukan dalam rangka pemenuhan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK yang dibutuhkan. Hal ini sejalan dengan amanat Deklarasi IGOS oleh pemerintah pada tahun 2004.

Selain itu, adanya tren SDM berdaya saing tinggi apabila menguasai Linux/FOSS dibandingkan dengan penguasaan sistem operasi lainnya, terutama ditunjukkan oleh adanya riset dari kebutuhan pasar/dunia industri terhadap SDM TIK terutama yang menguasai Linux. Selama kurun waktu hingga 2008 –hingga pada saat tulisan ini dibuat, telah banyak terbentuk komunitas-komunitas Linux dan lembaga training komputer berbasis Linux/FOSS. Selain faktor deklarasi IGOS yang artinya sudah didukung pemerintah, komunitas dan lembaga training merespons adanya pasar dan kebutuhan untuk jasa pelatihan komputer utamanya berbasis Linux/FOSS.
Sebagai lembaga bisnis, kebutuhan masyarakat akan pelatihan Linux dan pemrograman under Linux membuat lembaga pelatihan dan pendidikan berbasis Linux/FOSS memiliki pangsa pasar tersendiri. Diantara lembaga-lembaga yang ada, di daerah jabotabek dikenal beberapa lembaga training Linux yaitu Inixindo (www.inixindo.com), Nurul Fikri (www.nurulfikri.com), Linuxindo (www.linuxindo.com), Ardelindo Aples 1991 (www.ardelindo.com), Bajau (www.bajau.com), Indolinux (www.indolinux.com), selain training-training Linux lain yang dibuka oleh komunitas-komunitas Linux di Indonesia. Lembaga-lembaga ini selain bergerak dibidang training dan pendidikan profesional Linux/FOSS, juga beberapa menyediakan jasa inhouse training untuk kalangan korporat dan paket khusus pendidikan, termasuk dukungan produk pendidikan sekolah.

Pada dunia pendidikan, sudah banyak sekolah-sekolah memiliki ekstrakurikuler Kelompok Studi Linux (KSL) dan atau Kelompok studi IT lainnya yang mempelajari Linux/FOSS sejak dini. Dan ini terus berkembang. Di lingkungan masyarakat, komunitas pengguna Linux membentuk regional-regional komunitas dengan label KPLI yang tersebar di seluruh Indonesia, hingga mencapai limapuluhan KPLI terbentuk, dari sabang sampai merauke. Pusat koordinasi sosialisasi Linux ada pada Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan dalam menunjang perkerabatan dan jaringan, tak pelak Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang baru berdiri menjadi tulang punggung komunikasi.

Bagaimana dengan sekolah yang belum mengenal Linux/FOSS (alih-alih menggunakan Linux)? Jangan-jangan siswa-siswa sudah lebih dahulu mengenal Linux melalui kelompok studi Linux atau TIK yang digelutinya. Sebagai institusi formal yang mendukung ketrampilan TIK demi masa depan siswa-siswinya, sudah tidak ada alasan bagi sekolah untuk menjadikan Linux sahabat dalam teknologi informasi. Linux/FOSS akrab dengan dunia pendidikan. Sebuah solusi sistem operasi dan aplikasi yang bebas, murah (bahkan lebih sering disebut “gratis”) dan bersahabat dengan anggaran sekolah. Cita-cita untuk memajukan intelektual siswa-siswi tentu ada, dan lebih baik apabila sesegera mungkin menggunakan sistem operasi ini. Kalau sudah mengenalkan kepada sekolah dan melakukan ujicoba, selanjutnya, terserah Anda..

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Ternyata.. Ponsel dan SIM Card Ada Emasnya!

Posted on July 1, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , |

Jangan terburu-buru kaget, lalu merespons kurang positif misalnya : bo’ong ah.. atau respons terlalu positif, Anda langsung ngumpulin Hape-hape bekas apapun juga.. atau menangis-nangis sebab sudah terlanjur buang-buang simcard gara2 nyobain paket promo dari operator sana-sini.. (lebay banget deh..)

Tapi kenyataannya memang benar, di dalam HP dan Simcard ada kandungan emasnya. Tidak cuma emas, tapi mengandung tembaga dan perak juga. Ya, tapi SEDIKIT. Hehe.. mengingatkan kita dengan kandungan emas pada uang logam receh lima ratus rupiah yang kuningan, sering dibuat orang cincin pada periode yach.. kira-kira pas jaman saya SMA dulu (kapan ya??)..

Lalu, darimana emas atau logam-logam itu datang? Dalam sirkuit di ponsel atau chip di kartu SIM atau RUIM (CDMA) memang emas digunakan sebagai penyalur arus elektronik. Sebab emas memiliki reputasi jauh lebih baik dibanding tembaga dalam hal distribusi arus listrik. Produsen ponsel atau Sim/RUIM card tidak pernah mengurangi atau meniadakan kandungan logam mulia itu, walaupun dalam setiap unit jumlahnya hanya seperseribu gram. Kalau Anda rela bela-belain mengumpulkan sekitar satu juta Sim card bekas, maka bolehlah harap-harap cemas mendapatkan sekitar 1.000 gram atau satu kilogram emas murni. wuih mayan kan?

Nah, itu baru dari simcard. Dari ponsel bekas, kita bisa mengurai lebih banyak lagi emas, perak dan tembaga. Sebab kandungan pada ponsel memiliki perak dan tembaga yang jumlahnya cukup signifikan. Apa benar? Faktanya, Yokohama Metal Co Ltd, asalnya dari Jepang (ya iyaalaahh..) sebuah perusahaan pemulung barang bekas (keren amat ya pemulung di Jepang ..) telah menggeluti bidang ini sejak lama. Dari satu ton material yang diambil di tambang emas konvensional, nyatanya hanya sekitar 5 gram emas, dari satu ponsel bekas yang dilebur bisa didapat 30 kali lipat. Artinya, akan didapatkan sekitar 150 gram emas!

Belum selesai disitu, berita terbaru (dapat di cek di beberapa media ibukota, misalnya Wartakota, Rabu, 18 Juni 2008 dan Tabloid SINYAL) disebutkan bahwa perusahaan Singapura dan Jepang akan masuk Indonesia dan menawarkan pembelian Sim card bekas dengan harga Rp 100 perbuah, atau Rp 1.000 untuk sebuah Ponsel bekas. Mereka berencana akan membangun pabrik untuk melebur alat komunikasi tadi, menjaring emas, tembaga dan perak yang ada.

Bagaimana peluangnya? Tahun 2008 ini saja, pelanggan Telkomsel sudah 52 Juta orang. Pertumbuhan pelanggan diklaim hingga 30% pertahun. Belum lagi dari delapan operator tanah air lainnya. Ditambah gaya hidup masyarakat yang suka gonta-ganti simcard demi menikmati berbagai fasilitas dan promo, maka dari berbagai sumber, misalnya tabloid SInyal, disebutkan kalau satu bulan bisa terkumpul 25 juta “kartu mati”. Jika berat kartu 2 gram, maka jumlah totalnya 50 ton. Nah, kalau semuanya dikumpulkan dan diambil logamnya, maka didapat sekitar 25 kilogram emas sebulan, dan sekitar 100 kg tembaga.

Sedangkan dengan cara melumatkan 10.000 ponsel bekas atau seberat satu ton (asumsi berat rata-rata HP adalah 100 gram) maka akan didapat 150 gram emas, 100 kilogram tembaga, dan 3 kilogram perak. Ini di luar plastik, atau timah dari ponsel yang dilumatkan/dilebur tersebut yang juga di dapatkan dari proses. Menggiurkan bukan? ya, asalkan ada alatnya untuk melebur hehe.. teknologi ini sayangya (belum) dilirik dan dimanfaatkan oleh perusahaan di Indonesia. Istilah lokalnya.. nggak ngeh dan belum menangkap peluang ini. Jadinya ya perusahaan luar lagi deh yang mo masuk (jadi inget kasus Freeport, Exxon dan konco-konconya yang ngubrak abrik negeri ini hehe..)

Namun ya bingung juga, gimana mo saingan la wong untuk tingkat “pulung-memulung sampah” saja perusahaan sekelas PT yang bermain! paling-paling masyarakat Indonesia berkesempatan “berpartisipasi” dari hasil penjualan ponsel danm simcard mati ke perusahaan-perusahaan tersebut.. itu pun kalau ada yang mau ngumpulin 100 rupiah per simcard. Kecil sekali kan? Jadi apa bisa industri ini dilaksanakan di Indonesia. Bisa saja, sebab perusahaan memiliki manajemen stratejik dimana tentunya tidak hanya mengandalkan pasokan “bahanbaku” eceran dari pemulung dan pengguna ponsel, namun bisa bekerjasama secara legal formal ke berbagai pihak.

Kita lihat saja nanti perkembangannya.. untuk sementara.. 10 – 0 untuk Jepang vs Indonesia hehe..

Read Full Post | Make a Comment ( 8 so far )

Pabrikan Motor Legendaris Jerman Lirik Indonesia!?

Posted on May 24, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , |

Berawal dari ngeliat CBR kok agak2 beda eh ternyata merknya MINERVA, pabrikan asal cina yang you know lah secara cina itu sering sekali bikin produk2 yang mirip ama merk terkenal. Nggak di Hape, nggak dimotor semua sama. Lirik punya lirik, i’m not surprised ketika tau hargane cuma 13 jutaan. Soalnya taun lalu pernah juga ditawarin motor trail Minerva. Nah, selidik punya selidik, abis googling, egh ketemu kalo SACHS (Sachs Fahrzeug Und Motorentechnik Gmbh Germany), pabrikan legendaris dari Jerman ngegandeng PT Minerva Motor Indonesia untuk “Joint Manufacturing & Co Branding” dimana produk pertama adalah meluncurkan sepeda motor Sachs MadAss 125 pada tanggal 28 April 2008 di hotel Borobudur Jakarta, yang di co branding dengan nama Minerva Sachs MadAss 125. Infonya bisa dilihat di berbagai media online, misalnya Gatra, Gatra, juga di okezone. Sachs juga optimis mau menjadikan Indonesia basis bagi industri motor Sachs di Asia Tenggara. Tentunya bersama dengan Minerva. Ini memang preseden bagus, sebab konsumen tidak hanya dibuai oleh motor Jepang, namun ada pilihan motor-motor berdesain dan teknologi eropa. Semakin ketat saja persaingan di Indonesia.. selain hape, seperti yang saya tulis di awal, motor juga makin ketat. Hanya kalo Industri hape saya lum liat ada produk made ini India seperti Bajaj hehe..

Selang sebelumnya, Minerva Riders Community juga terbentuk. Sepertinya sukses Bajaj dengan Pulsarnya membuat pabrikan lain mau mendulang hal yang sama. Apalagi, kenaikan BBM menyebabkan prediksi penjualan motor akan meningkat tajam bahkan hingga 60% (baca di koran Media Indonesia, tanggal lupa, judulnya tentang tidak ada revisi target penjualan. Bahkan ATPM cenderung optimis banyak masyarakat membeli motor sebab mahalnya cost apabila memakai mobil).

Konsumen di Indonesia memang sasaran empuk bagi bisnis global. Entah dari sudut pandang apa Anda menilai, ada kapitalisme, ada gombalisasi, ada pemiskinan, ada Kebangkrutan Indonesia (bukan Kebangkitan Indonesia), ada yang menyebut penjajahan gaya baru, entahlah. Yang pasti, tahun-tahun ke depan saya ngeri saja, membayangkan wajah Indonesia.. lain waktu akan saya bahas dari sudut pandang bisnis dan manajemen ah.. Tentunya berpindah seksi, dari sekedar “Catatan Intelektual” menjadi “Jurnal Intelektual”. Sampai ketemu!

Read Full Post | Make a Comment ( 20 so far )

Lilin Pada Mi Instan ternyata Hoax

Posted on September 20, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , |

Sengaja saya taroh ini di blog utk pengetahuan baru bagi kita. Ini berita di ambil dari situs yang membahas tentang berita-berita bohongYang juga ada pada “Sumber Intelektual” yang bisa kamu kunjungi.

Silakan di nikmati..

Lilin Pada Mi Instan

Beritanya menyatakan bahwa mi instan mengandung lapisan lilin.
Sempat juga masuk ke koran PR 2 Nov 2006. (yang katanya : Dan, pada hari kamis (9/11) tulisan yang memperbaiki tulisan sebelumnya sudah terbit dalam halaman kampus.)

Tanggapan saya:
To: kampus_pr@yahoo.com
Cc: redaksi@pikiran-rakyat.com

Yth. Bpk.Agus Rakasiwi & redaksi ‘PR’

Menanggapi artikel yang ditulis oleh Bpk.Agus Rakasiwi, ‘Hindari Makan Mi Instan Setiap Hari’ di ‘PR’ hari Kamis, 2 November 2006 halaman 21 (’Kampus’). Ada beberapa kesalahan yang fatal dimuat di artikel tersebut yang dibaca oleh sangat banyak orang.

Saya tahu kalau artikel tersebut bertujuan baik, namun banyak isi artikel tersebut yang dikutip dari sumber-sumber yang tidak jelas, termasuk e-mail yang di-forward dari milis ke milis yang isinya sebagian besar adalah bohong & penulisnya tidak jelas (tergolong ’spam’), misalnya soal isu mi instan yang dilapisi lilin, padahal setahu saya, itu sama sekali tidak benar.
Kalau betul begitu, maka di air rebusan mi instan ketika dimasak akan ‘mengapung’ lilin cair. Juga, di daftar komposisi mi tidak dicantumkan apapun yang berkaitan dengan lilin.

Hal ini dapat menimbulkan masalah hukum berupa tuntutan dari para produsen mi instan terhadap ‘PR’ & penulis artikel (Bpk. Agus). Atau, jika tuduhan itu berdasar (ada hasil analisis dari lab), maka dapat diajukan tuntutan pada para produsen mi instan karena membuat label yang tidak benar.

Hal lain yaitu tulisan Bpk.Agus yang di paragraf 3 yang menyebutkan ‘namun, informasi kedokteran menyebutkan terdapat kandungan zat-zat adiktif’. Saya sebagai dokter ingin bertanya, informasi kedokteran dari mana? Dari jurnal apa atau textbook mana? Harap disebutkan, karena saya belum pernah membaca hal semacam itu. Juga, ada kesalahan fatal ketika penulis tidak bisa membedakan bedanya ‘aditif’ dengan ‘adiktif’, 2 hal yang sangat berbeda.

Kalau garam, gula, cabai merah, dst (yang disebutkan Bpk.Agus) itu termasuk ‘zat adiktif’, maka ’sembako’ bisa disamakan dengan ‘narkoba’ yang memang berbahaya bagi kesehatan, otomatis pula kita akan sulit makan dengan rasa yang enak karena semua itu adalah bumbu dapur & sebagian besar adalah ‘bahan alami’ yang justru disarankan digunakan oleh Bpk.Agus.
Juga harus disebutkan mendapat data/hasil penelitian dari mana kalau tubuh membutuhkan waktu lebih dari 2 hari untuk membersihkan lilin & perilaku makan ‘yang demikian’ meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker (paragraf 4).

Yang justru lebih penting tapi tidak dibahas oleh Bpk.Agus adalah kandungan pewarna kuning (tartrazin) yang justru lebih berbahaya bagi kesehatan dibandingkan hal-hal di atas. Pewarna tersebut setahu saya bisa membuat kekambuhan pada penderita penyakit asthma & efek-efek negatif lainnya pada kesehatan.

Yang harus dilakukan justru adalah advokasi supaya produsen mi menghentikan penggunaan pewarna tartrazin pada produk-produk mi instan sehingga mi instan berwarna putih saja atau menggantinya dengan pewarna lain yang lebih aman, seperti beta karoten untuk warna kuning. Juga, membuatproduk khusus mi instan untuk anak-anak yang tidak menggunakan MSG & pewarna buatan.

Baiknya, segera dibuat klarifikasi atau tulisan lain yang meralat tulisan Bpk.Agus tersebut & diharapkan lebih berhati-hati di masa depan untuk memuat tulisan-tulisan semacam ini.

Terima kasih.
salam
Billy N.

Dokter & mahasiswa pascasarjana hukum kesehatan Unika Soegijapranata
Semarang, tinggal di Bandung

Read Full Post | Make a Comment ( 7 so far )

Sekolah Kejuruan dan Kompetensi TI

Posted on June 6, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Hybrid-theory, The Techno-power | Tags: , , , , , , |

“Saya juga dulu sekolahnya di SMK”, ucap seorang manajer atau direktur sebuah instansi pemerintahan populer di bidang telekomunikasi, mengakhiri sebuah iklan dari pemerintah mengenai program pendidikan dengan ketrampilan yang diselenggarakan sekolah kejuruan (SMK).

Pemerintah dan Sekolah Kejuruan
Ingat iklan di televisi yang dikutip diatas? Memang pemerintah saat ini mendukung sekolah kejuruan atau vokasi (vocational school). Jika kamu sekolah di SMK, sekarang jangan lagi minder. Sebaliknya, kalau pun bukan berasal dari SMK, alias SMA atau malah Madrasah dan Pesantren, yok sama-sama berkaca pada diri sendiri apakah punya bekal berupa ketrampilan (lifeskill) yang cukup untuk masa depan, dengan jerih payah sendiri, tidak merepotkan orang tua? Tapi Ironis memang, kebanyakan sekolah kejuruan justru kekurangan sarana dan prasarana untuk mendukung visi dan misi sekolahnya. Kadang kendala ini sedikit-banyak mempengaruhi kualitas alumninya. Belum lagi masalah biaya. Sudah menjadi prinsip ekonomi dimana fasilitas yang bagus memerlukan biaya yang tidak sedikit. Nah, jika dibebankan semua ke siswa, berapa besar bayaran yang harus disetor ke sekolah? Begitulah, akhirnya mau tidak mau, sekolah kejuruan berkompromi dengan tingkat kualitas. Terutama sekolah swasta yang notabene sangat bergantung kepada yayasan pendirinya.
Disisi lain, pemerintah juga terkesan kurang serius mengelola sistem dan kurikulum pendidikan nasional, setengah hati dalam memberikan yang terbaik. Negeri maupun swasta, dua-duanya merasa kurang perhatian. Kebijakan berubah-ubah seiring pergantian pemerintahan.

Proyeksi 2020 : Kompetensi Bidang TI
Namun stop mengeluh! Keluhan selalu kita alamatkan ke Pemerintah mengenai kurangnya perhatian dalam membangun pendidikan yang berkurikulum teknologi jangan sampai membuat putus asa. Sekarang kondisinya (mulai) membaik. SMK dewasa ini sudah ada jurusan teknologi komputer dan jaringan, mulai dirajut slogan bahwa pendidikan vokasi (pendidikan keahlian) yang didapatkan di bangku sekolah merupakan bekal berharga dalam merajut masa depan yang cerah. SMK didorong pertumbuhannya, sementara SMA dikurangi, bahkan di beberapa daerah di stop demi merangsang pertumbuhan Sekolah kejuruan yang lebih masif lagi.
Diproyeksikan Sekolah kejuruan menjadi inkubator bagi SDM-SDM terampil untuk siap pakai. Berbeda halnya dengan SMA yang lulusannya disiapkan untuk mengikuti jenjang perguruan tinggi. Ini ada beritanya loh. Menurut Dirjen Dikmenjur Depdiknas (Panjang banget kan hehe.. ) Pak Gatot Hari Priowirjanto (panjang juga namanya..) pemerintah sudah menganggarkan dana perangsang minimal Rp 100 juta untuk tiap kelompok sekolah kejuruan (5-7 sekolah) yang layak menerima bantuan untuk membuka program keahlian baru, utamanya bidang teknologi informasi. Oh, ternyata yang diperlukan adalah bidang TI!

Program Keahlian berdaya serap tinggi
Upaya tersebut sesuai dengan program reposisi pendidikan kejuruan hingga 2020, dimana jumlah program yang “jenuh” di kejuruan akan berangsur dikurangi. Misalnya program keahlian sekretaris, dari 2192 SMK pada tahun 2000 diproyeksikan menjadi 923 SMK pada tahun 2020. Sebaliknya, jumlah program keahlian yang dinilai prospektif dan berdaya serap pasar tinggi, seperti pertanian, pariwisata dan kelautan, serta teknologi informasi akan ditingkatkan. Hmm.. jadi kamu tinggal memilih sesuai keinginan, dan lulusnya kamu punya skill diatas rata-rata sebaya kamu. Tentunya di bidang yang digeluti ketika sekolah di SMK. Sekilas jelas kan? diantara beberapa program di atas, mana yang langsung bisa kamu pakai untuk bersaing di lapangan kerja.
Namun jika tidak ingin hanya bekerja sebagai tenaga magang maupun teknis dan klerikal tingkat bawah, alumi SMK harus bisa meng-upgrade diri sendiri. Sebab, untuk menapak karier dengan sukses memerlukan lebih dari skill yang sudah ada. Kompetensi harus ditingkatkan, gelar dan karier mau tidak mau menjadi dua mata rantai yang bertautan.

Peluang kerja TI

Lalu, keahlian apa yang memiliki prospek cerah? Dari beberapa paragraf sebelumnya jelas, Salah satunya dan yang paling utama adalah dibidang Teknologi Informasi (dan Komunikasi). Selain membutuhkan pure kompetensi, artinya tidak sembarangan orang bisa berkarier dan berkarya di bidang tersebut –beda dengan marketing misalnya- memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus, bidang TI memiliki perkembangan paling pesat saat ini. Betapa tidak, teknologi nirkabel (wireless), teknologi telekomunikasi (3G, 3.5G, Wimax dst) makin lama makin canggih. Lalu dibidang hardware, siapa yang bisa menjamin dalam dua atau tiga bulan ke depan Intel tidak mengeluarkan prosessor terbaru? Atau peluang besar di balik gencarnya penegakan HaKI dimana sofware-software bajakan mulai berkurang sehingga perusahaan banyak beralih sistem operasi komputer (migrasi) dan memerlukan SDM terampil untuk melaksanakannya. Perusahaan, dengan demikian juga membutuhkan solusi TI misalnya dengan software buatan anak negeri yang murah namun berkualitas.
Perlu data? Aizirman Djusan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Departemen Komunikasi dan Informatika merilis informasi yang menakjubkan mengenai kebutuhan dan ketersediaan SDM di bidang TI di Indonesia seperti di tabel berikut :

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008
Kebutuhan 24,6 juta orang 26,4 juta orang 28,2 juta orang 30,3 juta orang 32,6 juta orang
Ketersediaan 8,2 juta orang 10,7 juta orang 13,4 juta orang 16,4 juta orang 19,8 juta orang
Jml Penduduk 225,0 juta jiwa 236,2 juta jiwa 248,1 juta jiwa 260,5 juta jiwa 273,5 juta jiwa
(Sumber: Aizirman Djusan dalam Tata Sutabri, Peluang Kerja TI, www.kabarindonesia.com)
Lebih dari itu, selain mengalami kekurangan, ternyata sebagian SDM yang sudah mengisi pos-pos yang tersedia adalah berasal dari background pendidikan non-TI ! Wuih! Peluang besar bagi yang ingin menapak karier di bidang TI. Gaji yang menggiurkan di depan mata, sebab bidang TI menjanjikan range salary yang diatas rata-rata jenis pekerjaan lain. Selain itu, di bidang TI kamu bisa bekerja sekaligus berkarya. Bisa mendirikan perusahaan sendiri, bisa berbisnis dan bekerja di rumah, dan bisa memanfaatkan skill dan kompetensi untuk menghasilkan karya nyata.

Menambah kompetensi agar pede
Lalu, peluang seperti apa yang bisa dimanfaatkan? Padahal, biaya berkuliah dan mendapatkan ilmu di bidang teknologi informasi pasti tersangkut masalah klasik: biaya. Sudah pasti ilmu eksakta dan komputer membutuhkan praktik yang banyak sehingga menaikkan biaya penyelenggaraan pendidikan. Bagi kelas masyarakat menengah ke bawah, sulit untuk mendapatkan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi yang “merakyat”. Kalaupun ada, kualitasnya dipertanyakan. Padahal pendidikan penting sekali untuk mencapai karier dan masa depan yang cerah.
Berbahagialah jika kamu termasuk yang sejak SMK mendapatkan ketrampilan. Jika tidak, perlu sekali untuk mendapatkan ketrampilan tersebut. Atau, jika sudah masuk jurusan Teknik, Komputer, dan Akuntansi di SMK, namun masih belum Pede, perlu dong menambah kepedean dan sekaligus menautkan embel-embel kompetensi di diri agar kamu nantinya bisa leluasa memilih. Bisa bekerja, berwirausaha maupun ke jenjang perguruan tinggi selanjutnya dengan usaha, kemauan, dan bahkan biaya sendiri!

Mencari Ilmu TI secara optimal
Jika demikian masalahnya, perlu dipikirkan strategi mendapatkan ilmu di bidang IT. Carilah informasi lembaga pendidikan dengan range biaya tidak mahal-tapi juga tidak murah dan mengorbankan kualitas. Misalnya cari antara Rp.5 – Rp.10 juta pertahun (bukan persemester!). Kedua, selain biaya terjangkau, dapat diselesaikan dengan cepat, tidak menyita waktu. Apa perlu hingga lima tahun atau hanya perlu satu tahun dan dua tahun dahulu, setelah bekerja baru melanjutkan? Atau jika kamu punya masalah keuangan, apa ada jaminan setelah lulus, uang kamu “tidak sia-sia” di investasikan? Perlu banyak dipikirkan mengenai masalah ini. Lalu, ketika masa pendidikan nanti, apa yang kamu peroleh. Kalau bisa, kamu yang sudah bekerja dan berkegiatan lain misal wirausaha dapat mengambil kelas di sesi waktu khusus (kelas karyawan). Jika tidak begini, bagaimana kita dapat mengambil manfaat ilmu teknologi informasi yang berharga?
Cari lembaga dengan kadar kualitas, kualifikasi dan kompetensi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan terpercaya. Yang memberikan kurikulum dan fasilitas terbaik. Lalu yang memiliki jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi terakreditasi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Kamu tentu tidak mau berpuas diri dengan mendapatkan pengetahuan yang jumlahnya “sedikit” sedangkan belajar itu adalah “seumur hidup” kan? Apalagi jika berguna untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Iya kan?

Kompetensi versus biaya

Kompetensi itu penting, namun gelar yang dicapai juga menentukan posisi kamu diperusahaan tempat bekerja. Selain itu, standard kompetensi perlu juga loh di ukur oleh sertifikasi baik nasional maupun internasional. Selanjutnya, targetnya adalah sertifikasi alias “pengakuan” atas skill dan kompetensi kita. Jadi, tidak ada kata STOP untuk belajar. Kata pepatah, Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat. Atau kata Rasulullah, sampai ke negeri Cina. Setuju ya?
Namun yang kamu perlu ingat, belajar perlu biaya. Pendidikan formal -sayangnya- masih berpanglimakan uang. Cari yang sesuai untuk kamu, dengan manfaat semaksimal mungkin yang bisa dicapai. Kadar maksimal dapat kamu dapatkan pada kurikulum tdi sebuah perguruan tinggi. Silakan cari, lihat, pelajari dan bandingkan.

Lifeskill dan Kesuksesan
Perkuliahan dengan teori saja tidak akan sama hasilnya dengan mempraktikannya. Beri perhatian penuh terhadap kurilum sebuah insitusi pendidikan. Kurikulum yang baik merupakan jalinan mata rantai dalam menciptakan kompetensi pribadi Anda. Cari lembaga atau perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum terbaik dalam sistem pendidikannya. Ini akan menentukan kamu lulus dengan bekal (lifeskill) yang bisa membuat kamu bersaing dan memenangkan persaingan di dunia kerja dan usaha.
Selain pengajar berkualitas, fasilitas memadai, lingkungan yang kondusif, beberapa sudut pandang lain perlu dipertimbangkan. Misalnya lifeskill yang diberikan oleh perguruan tinggi semisal kewirausahaan, pengembangan diri dan kepribadian, ekstrakurikuler, kurikulum agama yang menjaga ruhiyah kamu, teman-teman yang menyenangkan, dan seterusnya. Aspek psikologis perlu pula mendapatkan perhatian, jangan sampai kamu tidak kerasan dalam belajar, walaupun se-sempurna mungkin kurikulum dan fasilitas yang kamu dapatkan.
Tips terakhir, jangan segan bertanya kepada rekan-rekan yang “sukses” dengan biaya yang minimum sehingga tidak memberatkan siapa saja. Success is our right, jadi dimana ada kemauan di situ ada jalan. Selamat mencari pengetahuan, Semoga kamu menjadi bagian dari dunia TI yang selalu berkembang pesat, yang selalu membutuhkan jiwa-jiwa muda dan potensial sebagai roda penggeraknya sekaligus mendulang kesuksesan pribadi. Kesuksesan materi dan imateri, duniawi dan moral-spiritual!

Read Full Post | Make a Comment ( 5 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...