Lilin Pada Mi Instan ternyata Hoax

Posted on September 20, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , |

Sengaja saya taroh ini di blog utk pengetahuan baru bagi kita. Ini berita di ambil dari situs yang membahas tentang berita-berita bohongYang juga ada pada “Sumber Intelektual” yang bisa kamu kunjungi.

Silakan di nikmati..

Lilin Pada Mi Instan

Beritanya menyatakan bahwa mi instan mengandung lapisan lilin.
Sempat juga masuk ke koran PR 2 Nov 2006. (yang katanya : Dan, pada hari kamis (9/11) tulisan yang memperbaiki tulisan sebelumnya sudah terbit dalam halaman kampus.)

Tanggapan saya:
To: kampus_pr@yahoo.com
Cc: redaksi@pikiran-rakyat.com

Yth. Bpk.Agus Rakasiwi & redaksi ‘PR’

Menanggapi artikel yang ditulis oleh Bpk.Agus Rakasiwi, ‘Hindari Makan Mi Instan Setiap Hari’ di ‘PR’ hari Kamis, 2 November 2006 halaman 21 (’Kampus’). Ada beberapa kesalahan yang fatal dimuat di artikel tersebut yang dibaca oleh sangat banyak orang.

Saya tahu kalau artikel tersebut bertujuan baik, namun banyak isi artikel tersebut yang dikutip dari sumber-sumber yang tidak jelas, termasuk e-mail yang di-forward dari milis ke milis yang isinya sebagian besar adalah bohong & penulisnya tidak jelas (tergolong ’spam’), misalnya soal isu mi instan yang dilapisi lilin, padahal setahu saya, itu sama sekali tidak benar.
Kalau betul begitu, maka di air rebusan mi instan ketika dimasak akan ‘mengapung’ lilin cair. Juga, di daftar komposisi mi tidak dicantumkan apapun yang berkaitan dengan lilin.

Hal ini dapat menimbulkan masalah hukum berupa tuntutan dari para produsen mi instan terhadap ‘PR’ & penulis artikel (Bpk. Agus). Atau, jika tuduhan itu berdasar (ada hasil analisis dari lab), maka dapat diajukan tuntutan pada para produsen mi instan karena membuat label yang tidak benar.

Hal lain yaitu tulisan Bpk.Agus yang di paragraf 3 yang menyebutkan ‘namun, informasi kedokteran menyebutkan terdapat kandungan zat-zat adiktif’. Saya sebagai dokter ingin bertanya, informasi kedokteran dari mana? Dari jurnal apa atau textbook mana? Harap disebutkan, karena saya belum pernah membaca hal semacam itu. Juga, ada kesalahan fatal ketika penulis tidak bisa membedakan bedanya ‘aditif’ dengan ‘adiktif’, 2 hal yang sangat berbeda.

Kalau garam, gula, cabai merah, dst (yang disebutkan Bpk.Agus) itu termasuk ‘zat adiktif’, maka ’sembako’ bisa disamakan dengan ‘narkoba’ yang memang berbahaya bagi kesehatan, otomatis pula kita akan sulit makan dengan rasa yang enak karena semua itu adalah bumbu dapur & sebagian besar adalah ‘bahan alami’ yang justru disarankan digunakan oleh Bpk.Agus.
Juga harus disebutkan mendapat data/hasil penelitian dari mana kalau tubuh membutuhkan waktu lebih dari 2 hari untuk membersihkan lilin & perilaku makan ‘yang demikian’ meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker (paragraf 4).

Yang justru lebih penting tapi tidak dibahas oleh Bpk.Agus adalah kandungan pewarna kuning (tartrazin) yang justru lebih berbahaya bagi kesehatan dibandingkan hal-hal di atas. Pewarna tersebut setahu saya bisa membuat kekambuhan pada penderita penyakit asthma & efek-efek negatif lainnya pada kesehatan.

Yang harus dilakukan justru adalah advokasi supaya produsen mi menghentikan penggunaan pewarna tartrazin pada produk-produk mi instan sehingga mi instan berwarna putih saja atau menggantinya dengan pewarna lain yang lebih aman, seperti beta karoten untuk warna kuning. Juga, membuatproduk khusus mi instan untuk anak-anak yang tidak menggunakan MSG & pewarna buatan.

Baiknya, segera dibuat klarifikasi atau tulisan lain yang meralat tulisan Bpk.Agus tersebut & diharapkan lebih berhati-hati di masa depan untuk memuat tulisan-tulisan semacam ini.

Terima kasih.
salam
Billy N.

Dokter & mahasiswa pascasarjana hukum kesehatan Unika Soegijapranata
Semarang, tinggal di Bandung

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( 7 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...