2009 Kembali ke Laptop!

Posted on January 19, 2009. Filed under: The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Kembali ke Laptop! Itu kata tukul arwana. Kalimat populer ini tidaklah usang apabila kita melihat tahun 2009. Sebab, bukan masalah laptopnya, tapi katro-nya orang Indonesia ini apakah semakin berkurang sejak Tukul dkk memperkenalkan laptop sebagai media komunikasi, sekaligus memantapkan peran laptop atau notebook ke dalam lifestyle masyarakat modern. Tukul dkk. Ya, dan kawan-kawan. Siapa kawan-kawan tukul? Ya teman-teman Anda, pembaca, yang sudah menjinjing laptop kemana-mana, menikmati sajian Hotspot selain sajian menu istimewa di sebuah kafe, atau ngobrol bareng temen-temen di taman kampus sembari browsing mencari data untuk tugas kuliah di om Google.

Siapa lagi temannya Tukul? Adalah produsen laptop yang semakin hari semakin kompetitif, menelurkan produk laptop yang ramah kantong. Selain terjangkau, jenis lain dari laptop, biasanya subnotebook sudah mulai banyak pemainnya di pasaran. Laptop mungil dengan harga murah, berkisar 2 juta hingga 4.5 juta ini dapat dengan mudah Anda peroleh. Tak kurang Asus, Axioo, Zyrex, MSI mendominasi pasar subnotebook dengan produknya. Oh, ada lagi teman tukul, yaitu toko-toko yang memberikan fasilitas kredit Laptop. Sekarang Anda yang berkantong pas-pasan bahkan bisa mencicil laptop yg mahal sekalipun.

Fenomena kembali ke laptop disinyalir di tahun 2009 ini akan semakin semarak. Kita tunggu saja produsen barang elektronik ini melakukan berbagai inovasi produk dan meningkatkan pangsa pasar masing-masing. Saya tidak dapat memprediksi apakah acara “Empat Mata” yang sekarang menjadi “Bukan Empat Mata” akan berevolusi lagi atau bahkan tamat riwayatnya. Namun yang bisa diprediksi adalah, laptopnya tukul, bisa jadi, semakin canggih, semakin bermerk (tergantung sponsor acara) dan semakin mengecil mengikuti tren ukuran laptop yang kecil (kecuali Tukul matanya rabun dan sulit melihat huruf yang kecil-kecil). Jadi, kalau Anda tidak mau ndeso, katrok, dan bahkan lebih norak dan katrok dari tukul, silakan berkenalan dengan laptop, berkenalan dengan dunia IT. Apabila ternyata asik, tidak ada salahnya, pembaca sekalian mendalami IT dengan belajar serius di berbagai lembaga training IT, kuliah di perguruan tinggi IT dst. Sama halnya dengan tidak ada kata katro dan telat bagi yang berminat di dunia lawak, dimana ‘Ki Daus dan pak bendot (Alm) telah membuktikan tua-tua keladi di dunia lawak. Dunia IT juga sama. Tidak ada kata terlambat. Semakin kita berdiam diri dan bergeming tanpa tersentuh teknologi, maka kita akan terasing. Dan akhirnya hanya ikut menertawakan tukul dengan laptopnya, tanpa sadar, kok kita sendiri belum coba menggunakan laptop. Yang katro itu siapa ya? Nah, 2009, makin banyak perlombaan menarik minat konsumen dari produsen laptop. Manfaatkan teman-teman Anda, teman-teman Tukul tadi. Jadi, 2009 adalah wajar apabila kita teriakkan “Kembali ke Laptop!”

[ulo],

Advertisements
Read Full Post | Make a Comment ( 3 so far )

Seminar Kriptografi 2008 : Relasinya dengan Matematika, IT dan Elektronik

Posted on December 17, 2008. Filed under: Acara Intelektual | Tags: , , , , , , , |

Informasi Seminar menarik, tentang Kriptografi. Hanya saja, dari biaya investasi, saya tidak menemukan fasilitas apa yang bisa didapatkan.

Seminar of Cryptography 2008

Seminar of Cryptography 2008 adalah seminar yang mengangkat tema
tentang The Relation beetwen Cryptography and Other Sciences
(Mathematics, Information Technology, and Electronics) . Dalam seminar
ini akan dibahas mengenai kriptografi dan keterkaitannya dengan ilmu
lain, seperti Matematika, Teknologi Informasi, dan Elektronika. Dengan
adanya kegiatan ini, diharapkan para pelajar, mahasiswa, dosen,
peneliti, praktisi, serta masyarakat umum dapat lebih mengenal
kriptografi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari serta dapat
melihat keterkaitan antara kriptografi dengan ilmu lainnya agar dapat
bermanfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Seminar ini diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi
Negara bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Departemen Matematika
Universitas Indonesia. Sebelum seminar ini direncanakan, telah
terselenggara dua buah seminar kriptografi serupa secara
berturut-turut, yaitu Seminar of Cryptography and Wireless Security
pada tahun 2006 dan Seminar of Cryptography and Internet Security pada
tahun 2007 oleh Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara. Pada tahun
ini Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara bekerja sama dengan
Himpunan Mahasiswa Departemen Matematika Universitas Indonesia
menyelenggarakan kegiatan seminar kriptografi dengan cara
pengorganisasian yang berbeda.

Pembicara
1. Ir. Budi Rahardjo, M.Sc.,PhD. – Pentingnya Kriptografi dalam Pengamanan Informasi
2. Simulasi oleh Echo Community
3. Simulasi oleh Andi Yusuf, ST. (Lemsaneg RI)

Waktu dan Tempat
Sabtu, 12 Juli 2008, Balai Sidang Universitas Indonesia, Depok

Committee
1. Pelindung : Brigjen. TNI Ferdinand Immanuel, S.E.
2. Penasehat : Kolonel (Sus) Tuhu Trimurnianto, S.E.
3. Ketua : Fetty Amelia
4. Sekretaris : Aprita Danang Permana
5. Bendahara : Galylia Aryanita D.

Pendaftaran
HTM : Rp. 40.000,- untuk mahasiswa dan Rp. 60.000,- untuk umum

* Pendaftar dapat mendaftar dengan menyetorkan uang pendaftaran ke Rekening Seminar of Cryptography 2008:
Nomor Rekening : 157-00-0088496- 6 Atas nama : Luvisa Kusuma Bank Mandiri KCP KCP Depok Bukit Sawangan

Bukti penyetoran beserta fotocopy tanda pengenal dapat dikirimkan kepada Panitia melalui email semcrypt08@yahoo. com atau Fax : 0251 541720

* Dapat mendaftar langsung ke panitia seksi Humas di STSN atau di Departemen Matematika FMIPA UI

* Mendaftar pada hari saat seminar diadakan (ticket box).

Sekretariat
Seminar of Cryptography 2008
Kampus Bumi Sanapati
Sekolah Tinggi Sandi Negara
Jalan Raya H.Usa Putat Nutug, Ciseeng, Bogor
Tel/Fax : 0251-541 742 / 0251-541 754
Email : semcrypt08@yahoo. com
URL : http://freewebs. com/semcrypt08

Contact person :

Deni Liansyah, HP 0813 8295 4864
Alvin Devara, HP 0856 9751 1115
Claudia Dwi Amanda, HP 0856 196 7744
Bekti, HP 0856 9182 7773
Mella, HP 0815 8449 6477
Indah, HP 0813 1149 2141

Sponsorship

Bagi pihak-pihak yang berminat menjadi sponsor, silahkan menghubungi
Luvisa : 081321654214
Budi : 085692052632

Read Full Post | Make a Comment ( None so far )

Deklarasi Indonesia Go Open Source! (IGOS) dan Implikasinya di bidang Pendidikan

Posted on December 16, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , |

Indonesia Go Open Source! (IGOS) adalah keputusan strategis di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari pemerintah Republik Indonesia melalui lembaga-lembaga terkait. IGOS dideklarasikan pada tanggal 30 Juni 2004 yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. IGOS adalah sebuah gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source di lingkungan pemerintah. Meskipun hanya ditandatangani oleh lima kementrian dan departemen, namun implementasinya didukung luas oleh lembaga-lembaga dan departemen lain misalnya Departemen Tenaga Kerja, Depdiknas dan Presiden sendiri, dengan membentuk Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) sebagai penasihat presiden dalam urusan dan keputusan terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia.

Salah satu poin penting deklarasi tersebut adalah pada poin ketiga, yaitu melakukan langkah-langkah aksi yang diantaranya Mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusat-pusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia. Deklarasi IGOS bertujuan agar bangsa Indonesia dapat membangun aplikasi peranti lunak komputer yang berkode sumber terbuka, membuat bangsa Indonesia dapat dengan mudah merancang, membuat, merekayasa dan menjual produk intelektual dengan mudah, murah dan tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu yang sewaktu-waktu dapat memaksakan kepentingan terkait dengan kebutuhan dukungan (support) terhadap produk.

Anak negeri bisa menghasilkan produk-produk karya sendiri, bebas, terbuka dan dapat disempurnakan oleh siapa saja dikarenakan konsep kode sumber yang terbuka sehingga dengan mudah dapat dilihat, dimodifikasi dan disempurnakan oleh siapa-saja. Pemilihan teknologi open source oleh pemerintah RI sendiri telah menjadikan sistem operasi (OS) berbasis Open Source, yaitu GNU-Linux (selanjutnya disingkat Linux) menjadi populer. Hal ini disebabkan banyaknya keunggulan Linux dibanding sistem operasi Open Source lainnya bahkan mengungguli raksasa sistem operasi proprietary yang saat ini, yaitu Microsoft Windows.

Open source sendiri dapat dimaknai sebagai sistem operasi komputer dan program-program komputer berlisensi Free (Bebas) dan Open Source (Berkode sumber terbuka. FOSS (Free & Open Source Software) Secara sederhana berarti kode program dapat dilihat, dimodifikasi, disebarluaskan secara bebas, halal, baik berbayar maupun gratis. Contoh konkretnya adalah Linux, sebuah sistem operasi penantang Microsoft Window$. Efeknya adalah pengguna dapat melakukan pembuatan aplikasi yang justru lebih canggih dan menyempurnakan aplikasi yang sebelumnya ada, tanpa perlu menunggu dari si pembuat. Bebas untuk berkreasi, membuat program komputer dan meneruskan program yang sudah dibuat oleh orang lain. Bebas, dan untuk tujuan kemanusiaan maupun komersial. Bebas saja.

Ada dua implikasi dari deklarasi IGOS ini bagi dunia pendidikan. Pertama, dilihat dari ditandatanganinya Deklarasi oleh Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu, secara internal menjadikan Open Source (baca : Linux) menjadi pilihan bagi departemen terkait. Sedangkan secara eksternal, memberikan perintah tidak langsung bahwa dunia pendidikan sudah menerima Open Source menjadi pilihan sistem operasi maupun aplikasi sehar-hari. Kedua, sektor pendidikan yang sudah stabil mendorong aktivitas pembelajaran, riset dan kemungkinan untuk melakukan migrasi ke Linux. Mulai dari kurikulum perguruan tinggi, mulai dirombak dan didasari oleh dasar kurikulum TIK yang open source, kalau tidak dapat disebut bebas dari pengaruh sistem operasi tertentu. Hingga kegeliat sektor swasta dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM TIK berbasis Linux/FOSS. Muncul dan kian berkembang lembaga-lembaga training komputer yang memfokuskan diri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang diperlukan dalam rangka pemenuhan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK yang dibutuhkan. Hal ini sejalan dengan amanat Deklarasi IGOS oleh pemerintah pada tahun 2004.

Selain itu, adanya tren SDM berdaya saing tinggi apabila menguasai Linux/FOSS dibandingkan dengan penguasaan sistem operasi lainnya, terutama ditunjukkan oleh adanya riset dari kebutuhan pasar/dunia industri terhadap SDM TIK terutama yang menguasai Linux. Selama kurun waktu hingga 2008 –hingga pada saat tulisan ini dibuat, telah banyak terbentuk komunitas-komunitas Linux dan lembaga training komputer berbasis Linux/FOSS. Selain faktor deklarasi IGOS yang artinya sudah didukung pemerintah, komunitas dan lembaga training merespons adanya pasar dan kebutuhan untuk jasa pelatihan komputer utamanya berbasis Linux/FOSS.
Sebagai lembaga bisnis, kebutuhan masyarakat akan pelatihan Linux dan pemrograman under Linux membuat lembaga pelatihan dan pendidikan berbasis Linux/FOSS memiliki pangsa pasar tersendiri. Diantara lembaga-lembaga yang ada, di daerah jabotabek dikenal beberapa lembaga training Linux yaitu Inixindo (www.inixindo.com), Nurul Fikri (www.nurulfikri.com), Linuxindo (www.linuxindo.com), Ardelindo Aples 1991 (www.ardelindo.com), Bajau (www.bajau.com), Indolinux (www.indolinux.com), selain training-training Linux lain yang dibuka oleh komunitas-komunitas Linux di Indonesia. Lembaga-lembaga ini selain bergerak dibidang training dan pendidikan profesional Linux/FOSS, juga beberapa menyediakan jasa inhouse training untuk kalangan korporat dan paket khusus pendidikan, termasuk dukungan produk pendidikan sekolah.

Pada dunia pendidikan, sudah banyak sekolah-sekolah memiliki ekstrakurikuler Kelompok Studi Linux (KSL) dan atau Kelompok studi IT lainnya yang mempelajari Linux/FOSS sejak dini. Dan ini terus berkembang. Di lingkungan masyarakat, komunitas pengguna Linux membentuk regional-regional komunitas dengan label KPLI yang tersebar di seluruh Indonesia, hingga mencapai limapuluhan KPLI terbentuk, dari sabang sampai merauke. Pusat koordinasi sosialisasi Linux ada pada Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan dalam menunjang perkerabatan dan jaringan, tak pelak Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang baru berdiri menjadi tulang punggung komunikasi.

Bagaimana dengan sekolah yang belum mengenal Linux/FOSS (alih-alih menggunakan Linux)? Jangan-jangan siswa-siswa sudah lebih dahulu mengenal Linux melalui kelompok studi Linux atau TIK yang digelutinya. Sebagai institusi formal yang mendukung ketrampilan TIK demi masa depan siswa-siswinya, sudah tidak ada alasan bagi sekolah untuk menjadikan Linux sahabat dalam teknologi informasi. Linux/FOSS akrab dengan dunia pendidikan. Sebuah solusi sistem operasi dan aplikasi yang bebas, murah (bahkan lebih sering disebut “gratis”) dan bersahabat dengan anggaran sekolah. Cita-cita untuk memajukan intelektual siswa-siswi tentu ada, dan lebih baik apabila sesegera mungkin menggunakan sistem operasi ini. Kalau sudah mengenalkan kepada sekolah dan melakukan ujicoba, selanjutnya, terserah Anda..

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Seminar E-Learning 2008 di UAI.. Don’t Miss it!

Posted on March 10, 2008. Filed under: Acara Intelektual | Tags: , , , , |

SEMINAR & DEMO
PEMANFAATAN E-LEARNING
SEBAGAI ALAT BANTU PEMBELAJARAN.
E-learning untuk semua kalangan Academic, Business & Government (ABG)

Pembicara
Romi Satria Wahono (Ilmukomputer.com, Pakar e-learning)
Rusmanto* (Pemred Infolinux)
Prihantoosa (Praktisi e-Learning berbasis Opensource)

Waktu dan Tempat
Sabtu, 29 Maret 2008, Pukul 09.00 – 15.00
Auditorium Arifin Panigoro, Univ Al Azhar Indonesia Lt 3
Jl Sisingamangaraja No.1 Kebayoran Baru, Jaksel.

Investasi
Rp 150.000 (early bird)
Rp 100.000 (Apabila Daftar lebih dari 1 orang)
Rp 200.000 (H-3)

Fasilitas
Seminar Kit, Sertifikat, CD Edubuntu (Untuk Pendidikan), Lunch dan Doorprize.

Materi pokok
Memahami e-Learning, bagaimana membangun e-learning, demo aplikasi e-learning dengan CMS MOODLE

Seminar juga dimeriahkan oleh Bazar pendidikan dan teknologi oleh Univ Al Azhar Indonesia. Jadi bagi para intelektual yang mampir, monggo mampir deh ke seminar diatas.. dijamin ga nyesel deehhh

Ohya form dan informasi lengkap ada di http://www.nurulfikri.com

Read Full Post | Make a Comment ( 2 so far )

Sekolah Kejuruan dan Kompetensi TI

Posted on June 6, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Hybrid-theory, The Techno-power | Tags: , , , , , , |

“Saya juga dulu sekolahnya di SMK”, ucap seorang manajer atau direktur sebuah instansi pemerintahan populer di bidang telekomunikasi, mengakhiri sebuah iklan dari pemerintah mengenai program pendidikan dengan ketrampilan yang diselenggarakan sekolah kejuruan (SMK).

Pemerintah dan Sekolah Kejuruan
Ingat iklan di televisi yang dikutip diatas? Memang pemerintah saat ini mendukung sekolah kejuruan atau vokasi (vocational school). Jika kamu sekolah di SMK, sekarang jangan lagi minder. Sebaliknya, kalau pun bukan berasal dari SMK, alias SMA atau malah Madrasah dan Pesantren, yok sama-sama berkaca pada diri sendiri apakah punya bekal berupa ketrampilan (lifeskill) yang cukup untuk masa depan, dengan jerih payah sendiri, tidak merepotkan orang tua? Tapi Ironis memang, kebanyakan sekolah kejuruan justru kekurangan sarana dan prasarana untuk mendukung visi dan misi sekolahnya. Kadang kendala ini sedikit-banyak mempengaruhi kualitas alumninya. Belum lagi masalah biaya. Sudah menjadi prinsip ekonomi dimana fasilitas yang bagus memerlukan biaya yang tidak sedikit. Nah, jika dibebankan semua ke siswa, berapa besar bayaran yang harus disetor ke sekolah? Begitulah, akhirnya mau tidak mau, sekolah kejuruan berkompromi dengan tingkat kualitas. Terutama sekolah swasta yang notabene sangat bergantung kepada yayasan pendirinya.
Disisi lain, pemerintah juga terkesan kurang serius mengelola sistem dan kurikulum pendidikan nasional, setengah hati dalam memberikan yang terbaik. Negeri maupun swasta, dua-duanya merasa kurang perhatian. Kebijakan berubah-ubah seiring pergantian pemerintahan.

Proyeksi 2020 : Kompetensi Bidang TI
Namun stop mengeluh! Keluhan selalu kita alamatkan ke Pemerintah mengenai kurangnya perhatian dalam membangun pendidikan yang berkurikulum teknologi jangan sampai membuat putus asa. Sekarang kondisinya (mulai) membaik. SMK dewasa ini sudah ada jurusan teknologi komputer dan jaringan, mulai dirajut slogan bahwa pendidikan vokasi (pendidikan keahlian) yang didapatkan di bangku sekolah merupakan bekal berharga dalam merajut masa depan yang cerah. SMK didorong pertumbuhannya, sementara SMA dikurangi, bahkan di beberapa daerah di stop demi merangsang pertumbuhan Sekolah kejuruan yang lebih masif lagi.
Diproyeksikan Sekolah kejuruan menjadi inkubator bagi SDM-SDM terampil untuk siap pakai. Berbeda halnya dengan SMA yang lulusannya disiapkan untuk mengikuti jenjang perguruan tinggi. Ini ada beritanya loh. Menurut Dirjen Dikmenjur Depdiknas (Panjang banget kan hehe.. ) Pak Gatot Hari Priowirjanto (panjang juga namanya..) pemerintah sudah menganggarkan dana perangsang minimal Rp 100 juta untuk tiap kelompok sekolah kejuruan (5-7 sekolah) yang layak menerima bantuan untuk membuka program keahlian baru, utamanya bidang teknologi informasi. Oh, ternyata yang diperlukan adalah bidang TI!

Program Keahlian berdaya serap tinggi
Upaya tersebut sesuai dengan program reposisi pendidikan kejuruan hingga 2020, dimana jumlah program yang “jenuh” di kejuruan akan berangsur dikurangi. Misalnya program keahlian sekretaris, dari 2192 SMK pada tahun 2000 diproyeksikan menjadi 923 SMK pada tahun 2020. Sebaliknya, jumlah program keahlian yang dinilai prospektif dan berdaya serap pasar tinggi, seperti pertanian, pariwisata dan kelautan, serta teknologi informasi akan ditingkatkan. Hmm.. jadi kamu tinggal memilih sesuai keinginan, dan lulusnya kamu punya skill diatas rata-rata sebaya kamu. Tentunya di bidang yang digeluti ketika sekolah di SMK. Sekilas jelas kan? diantara beberapa program di atas, mana yang langsung bisa kamu pakai untuk bersaing di lapangan kerja.
Namun jika tidak ingin hanya bekerja sebagai tenaga magang maupun teknis dan klerikal tingkat bawah, alumi SMK harus bisa meng-upgrade diri sendiri. Sebab, untuk menapak karier dengan sukses memerlukan lebih dari skill yang sudah ada. Kompetensi harus ditingkatkan, gelar dan karier mau tidak mau menjadi dua mata rantai yang bertautan.

Peluang kerja TI

Lalu, keahlian apa yang memiliki prospek cerah? Dari beberapa paragraf sebelumnya jelas, Salah satunya dan yang paling utama adalah dibidang Teknologi Informasi (dan Komunikasi). Selain membutuhkan pure kompetensi, artinya tidak sembarangan orang bisa berkarier dan berkarya di bidang tersebut –beda dengan marketing misalnya- memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus, bidang TI memiliki perkembangan paling pesat saat ini. Betapa tidak, teknologi nirkabel (wireless), teknologi telekomunikasi (3G, 3.5G, Wimax dst) makin lama makin canggih. Lalu dibidang hardware, siapa yang bisa menjamin dalam dua atau tiga bulan ke depan Intel tidak mengeluarkan prosessor terbaru? Atau peluang besar di balik gencarnya penegakan HaKI dimana sofware-software bajakan mulai berkurang sehingga perusahaan banyak beralih sistem operasi komputer (migrasi) dan memerlukan SDM terampil untuk melaksanakannya. Perusahaan, dengan demikian juga membutuhkan solusi TI misalnya dengan software buatan anak negeri yang murah namun berkualitas.
Perlu data? Aizirman Djusan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Departemen Komunikasi dan Informatika merilis informasi yang menakjubkan mengenai kebutuhan dan ketersediaan SDM di bidang TI di Indonesia seperti di tabel berikut :

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008
Kebutuhan 24,6 juta orang 26,4 juta orang 28,2 juta orang 30,3 juta orang 32,6 juta orang
Ketersediaan 8,2 juta orang 10,7 juta orang 13,4 juta orang 16,4 juta orang 19,8 juta orang
Jml Penduduk 225,0 juta jiwa 236,2 juta jiwa 248,1 juta jiwa 260,5 juta jiwa 273,5 juta jiwa
(Sumber: Aizirman Djusan dalam Tata Sutabri, Peluang Kerja TI, www.kabarindonesia.com)
Lebih dari itu, selain mengalami kekurangan, ternyata sebagian SDM yang sudah mengisi pos-pos yang tersedia adalah berasal dari background pendidikan non-TI ! Wuih! Peluang besar bagi yang ingin menapak karier di bidang TI. Gaji yang menggiurkan di depan mata, sebab bidang TI menjanjikan range salary yang diatas rata-rata jenis pekerjaan lain. Selain itu, di bidang TI kamu bisa bekerja sekaligus berkarya. Bisa mendirikan perusahaan sendiri, bisa berbisnis dan bekerja di rumah, dan bisa memanfaatkan skill dan kompetensi untuk menghasilkan karya nyata.

Menambah kompetensi agar pede
Lalu, peluang seperti apa yang bisa dimanfaatkan? Padahal, biaya berkuliah dan mendapatkan ilmu di bidang teknologi informasi pasti tersangkut masalah klasik: biaya. Sudah pasti ilmu eksakta dan komputer membutuhkan praktik yang banyak sehingga menaikkan biaya penyelenggaraan pendidikan. Bagi kelas masyarakat menengah ke bawah, sulit untuk mendapatkan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi yang “merakyat”. Kalaupun ada, kualitasnya dipertanyakan. Padahal pendidikan penting sekali untuk mencapai karier dan masa depan yang cerah.
Berbahagialah jika kamu termasuk yang sejak SMK mendapatkan ketrampilan. Jika tidak, perlu sekali untuk mendapatkan ketrampilan tersebut. Atau, jika sudah masuk jurusan Teknik, Komputer, dan Akuntansi di SMK, namun masih belum Pede, perlu dong menambah kepedean dan sekaligus menautkan embel-embel kompetensi di diri agar kamu nantinya bisa leluasa memilih. Bisa bekerja, berwirausaha maupun ke jenjang perguruan tinggi selanjutnya dengan usaha, kemauan, dan bahkan biaya sendiri!

Mencari Ilmu TI secara optimal
Jika demikian masalahnya, perlu dipikirkan strategi mendapatkan ilmu di bidang IT. Carilah informasi lembaga pendidikan dengan range biaya tidak mahal-tapi juga tidak murah dan mengorbankan kualitas. Misalnya cari antara Rp.5 – Rp.10 juta pertahun (bukan persemester!). Kedua, selain biaya terjangkau, dapat diselesaikan dengan cepat, tidak menyita waktu. Apa perlu hingga lima tahun atau hanya perlu satu tahun dan dua tahun dahulu, setelah bekerja baru melanjutkan? Atau jika kamu punya masalah keuangan, apa ada jaminan setelah lulus, uang kamu “tidak sia-sia” di investasikan? Perlu banyak dipikirkan mengenai masalah ini. Lalu, ketika masa pendidikan nanti, apa yang kamu peroleh. Kalau bisa, kamu yang sudah bekerja dan berkegiatan lain misal wirausaha dapat mengambil kelas di sesi waktu khusus (kelas karyawan). Jika tidak begini, bagaimana kita dapat mengambil manfaat ilmu teknologi informasi yang berharga?
Cari lembaga dengan kadar kualitas, kualifikasi dan kompetensi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan terpercaya. Yang memberikan kurikulum dan fasilitas terbaik. Lalu yang memiliki jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi terakreditasi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Kamu tentu tidak mau berpuas diri dengan mendapatkan pengetahuan yang jumlahnya “sedikit” sedangkan belajar itu adalah “seumur hidup” kan? Apalagi jika berguna untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Iya kan?

Kompetensi versus biaya

Kompetensi itu penting, namun gelar yang dicapai juga menentukan posisi kamu diperusahaan tempat bekerja. Selain itu, standard kompetensi perlu juga loh di ukur oleh sertifikasi baik nasional maupun internasional. Selanjutnya, targetnya adalah sertifikasi alias “pengakuan” atas skill dan kompetensi kita. Jadi, tidak ada kata STOP untuk belajar. Kata pepatah, Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat. Atau kata Rasulullah, sampai ke negeri Cina. Setuju ya?
Namun yang kamu perlu ingat, belajar perlu biaya. Pendidikan formal -sayangnya- masih berpanglimakan uang. Cari yang sesuai untuk kamu, dengan manfaat semaksimal mungkin yang bisa dicapai. Kadar maksimal dapat kamu dapatkan pada kurikulum tdi sebuah perguruan tinggi. Silakan cari, lihat, pelajari dan bandingkan.

Lifeskill dan Kesuksesan
Perkuliahan dengan teori saja tidak akan sama hasilnya dengan mempraktikannya. Beri perhatian penuh terhadap kurilum sebuah insitusi pendidikan. Kurikulum yang baik merupakan jalinan mata rantai dalam menciptakan kompetensi pribadi Anda. Cari lembaga atau perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum terbaik dalam sistem pendidikannya. Ini akan menentukan kamu lulus dengan bekal (lifeskill) yang bisa membuat kamu bersaing dan memenangkan persaingan di dunia kerja dan usaha.
Selain pengajar berkualitas, fasilitas memadai, lingkungan yang kondusif, beberapa sudut pandang lain perlu dipertimbangkan. Misalnya lifeskill yang diberikan oleh perguruan tinggi semisal kewirausahaan, pengembangan diri dan kepribadian, ekstrakurikuler, kurikulum agama yang menjaga ruhiyah kamu, teman-teman yang menyenangkan, dan seterusnya. Aspek psikologis perlu pula mendapatkan perhatian, jangan sampai kamu tidak kerasan dalam belajar, walaupun se-sempurna mungkin kurikulum dan fasilitas yang kamu dapatkan.
Tips terakhir, jangan segan bertanya kepada rekan-rekan yang “sukses” dengan biaya yang minimum sehingga tidak memberatkan siapa saja. Success is our right, jadi dimana ada kemauan di situ ada jalan. Selamat mencari pengetahuan, Semoga kamu menjadi bagian dari dunia TI yang selalu berkembang pesat, yang selalu membutuhkan jiwa-jiwa muda dan potensial sebagai roda penggeraknya sekaligus mendulang kesuksesan pribadi. Kesuksesan materi dan imateri, duniawi dan moral-spiritual!

Read Full Post | Make a Comment ( 5 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...