Deklarasi Indonesia Go Open Source! (IGOS) dan Implikasinya di bidang Pendidikan

Posted on December 16, 2008. Filed under: Coretan Intelektual, The Techno-power | Tags: , , , , , , , , , , , , , , , |

Indonesia Go Open Source! (IGOS) adalah keputusan strategis di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari pemerintah Republik Indonesia melalui lembaga-lembaga terkait. IGOS dideklarasikan pada tanggal 30 Juni 2004 yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. IGOS adalah sebuah gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source di lingkungan pemerintah. Meskipun hanya ditandatangani oleh lima kementrian dan departemen, namun implementasinya didukung luas oleh lembaga-lembaga dan departemen lain misalnya Departemen Tenaga Kerja, Depdiknas dan Presiden sendiri, dengan membentuk Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) sebagai penasihat presiden dalam urusan dan keputusan terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia.

Salah satu poin penting deklarasi tersebut adalah pada poin ketiga, yaitu melakukan langkah-langkah aksi yang diantaranya Mendorong terbentuknya pusat-pusat pelatihan, competency center dan pusat-pusat inkubator bisnis berbasis open source di Indonesia. Deklarasi IGOS bertujuan agar bangsa Indonesia dapat membangun aplikasi peranti lunak komputer yang berkode sumber terbuka, membuat bangsa Indonesia dapat dengan mudah merancang, membuat, merekayasa dan menjual produk intelektual dengan mudah, murah dan tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu yang sewaktu-waktu dapat memaksakan kepentingan terkait dengan kebutuhan dukungan (support) terhadap produk.

Anak negeri bisa menghasilkan produk-produk karya sendiri, bebas, terbuka dan dapat disempurnakan oleh siapa saja dikarenakan konsep kode sumber yang terbuka sehingga dengan mudah dapat dilihat, dimodifikasi dan disempurnakan oleh siapa-saja. Pemilihan teknologi open source oleh pemerintah RI sendiri telah menjadikan sistem operasi (OS) berbasis Open Source, yaitu GNU-Linux (selanjutnya disingkat Linux) menjadi populer. Hal ini disebabkan banyaknya keunggulan Linux dibanding sistem operasi Open Source lainnya bahkan mengungguli raksasa sistem operasi proprietary yang saat ini, yaitu Microsoft Windows.

Open source sendiri dapat dimaknai sebagai sistem operasi komputer dan program-program komputer berlisensi Free (Bebas) dan Open Source (Berkode sumber terbuka. FOSS (Free & Open Source Software) Secara sederhana berarti kode program dapat dilihat, dimodifikasi, disebarluaskan secara bebas, halal, baik berbayar maupun gratis. Contoh konkretnya adalah Linux, sebuah sistem operasi penantang Microsoft Window$. Efeknya adalah pengguna dapat melakukan pembuatan aplikasi yang justru lebih canggih dan menyempurnakan aplikasi yang sebelumnya ada, tanpa perlu menunggu dari si pembuat. Bebas untuk berkreasi, membuat program komputer dan meneruskan program yang sudah dibuat oleh orang lain. Bebas, dan untuk tujuan kemanusiaan maupun komersial. Bebas saja.

Ada dua implikasi dari deklarasi IGOS ini bagi dunia pendidikan. Pertama, dilihat dari ditandatanganinya Deklarasi oleh Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu, secara internal menjadikan Open Source (baca : Linux) menjadi pilihan bagi departemen terkait. Sedangkan secara eksternal, memberikan perintah tidak langsung bahwa dunia pendidikan sudah menerima Open Source menjadi pilihan sistem operasi maupun aplikasi sehar-hari. Kedua, sektor pendidikan yang sudah stabil mendorong aktivitas pembelajaran, riset dan kemungkinan untuk melakukan migrasi ke Linux. Mulai dari kurikulum perguruan tinggi, mulai dirombak dan didasari oleh dasar kurikulum TIK yang open source, kalau tidak dapat disebut bebas dari pengaruh sistem operasi tertentu. Hingga kegeliat sektor swasta dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM TIK berbasis Linux/FOSS. Muncul dan kian berkembang lembaga-lembaga training komputer yang memfokuskan diri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang diperlukan dalam rangka pemenuhan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK yang dibutuhkan. Hal ini sejalan dengan amanat Deklarasi IGOS oleh pemerintah pada tahun 2004.

Selain itu, adanya tren SDM berdaya saing tinggi apabila menguasai Linux/FOSS dibandingkan dengan penguasaan sistem operasi lainnya, terutama ditunjukkan oleh adanya riset dari kebutuhan pasar/dunia industri terhadap SDM TIK terutama yang menguasai Linux. Selama kurun waktu hingga 2008 –hingga pada saat tulisan ini dibuat, telah banyak terbentuk komunitas-komunitas Linux dan lembaga training komputer berbasis Linux/FOSS. Selain faktor deklarasi IGOS yang artinya sudah didukung pemerintah, komunitas dan lembaga training merespons adanya pasar dan kebutuhan untuk jasa pelatihan komputer utamanya berbasis Linux/FOSS.
Sebagai lembaga bisnis, kebutuhan masyarakat akan pelatihan Linux dan pemrograman under Linux membuat lembaga pelatihan dan pendidikan berbasis Linux/FOSS memiliki pangsa pasar tersendiri. Diantara lembaga-lembaga yang ada, di daerah jabotabek dikenal beberapa lembaga training Linux yaitu Inixindo (www.inixindo.com), Nurul Fikri (www.nurulfikri.com), Linuxindo (www.linuxindo.com), Ardelindo Aples 1991 (www.ardelindo.com), Bajau (www.bajau.com), Indolinux (www.indolinux.com), selain training-training Linux lain yang dibuka oleh komunitas-komunitas Linux di Indonesia. Lembaga-lembaga ini selain bergerak dibidang training dan pendidikan profesional Linux/FOSS, juga beberapa menyediakan jasa inhouse training untuk kalangan korporat dan paket khusus pendidikan, termasuk dukungan produk pendidikan sekolah.

Pada dunia pendidikan, sudah banyak sekolah-sekolah memiliki ekstrakurikuler Kelompok Studi Linux (KSL) dan atau Kelompok studi IT lainnya yang mempelajari Linux/FOSS sejak dini. Dan ini terus berkembang. Di lingkungan masyarakat, komunitas pengguna Linux membentuk regional-regional komunitas dengan label KPLI yang tersebar di seluruh Indonesia, hingga mencapai limapuluhan KPLI terbentuk, dari sabang sampai merauke. Pusat koordinasi sosialisasi Linux ada pada Yayasan Penggerak Linux Indonesia (YPLI) dan dalam menunjang perkerabatan dan jaringan, tak pelak Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) yang baru berdiri menjadi tulang punggung komunikasi.

Bagaimana dengan sekolah yang belum mengenal Linux/FOSS (alih-alih menggunakan Linux)? Jangan-jangan siswa-siswa sudah lebih dahulu mengenal Linux melalui kelompok studi Linux atau TIK yang digelutinya. Sebagai institusi formal yang mendukung ketrampilan TIK demi masa depan siswa-siswinya, sudah tidak ada alasan bagi sekolah untuk menjadikan Linux sahabat dalam teknologi informasi. Linux/FOSS akrab dengan dunia pendidikan. Sebuah solusi sistem operasi dan aplikasi yang bebas, murah (bahkan lebih sering disebut “gratis”) dan bersahabat dengan anggaran sekolah. Cita-cita untuk memajukan intelektual siswa-siswi tentu ada, dan lebih baik apabila sesegera mungkin menggunakan sistem operasi ini. Kalau sudah mengenalkan kepada sekolah dan melakukan ujicoba, selanjutnya, terserah Anda..

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

12 Mahasiswa PTN Terancam Drop Out.. Ya Sutralah..So what gitu loh?

Posted on October 22, 2008. Filed under: Jurnal Intelektual, The Human-power, The Hybrid-theory | Tags: , , , , , , , , , , , |

Hmm judulnya kok sadis sih.. Mahasiswa terancam DO, bukan dibantu malah “ya sutralah, so what gitu loh”.. lah emang mau apa?

Ini awalnya Info dari milis, saya mendapatkan informasi permintaan donasi. Klub santri peduli menginformasikan mengenai kesulitan “12 Mahasiswa UPI Bandung” yang terancam dikeluarkan.Dari sini lah diskusi berawal.

Bagi yang belum tau, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) adalah IKIP Bandung yang berubah nama. Ya, artinya NEGERI. nah, dulu, PTN menjadi tempat mahasiswa miskin utk berharap bisa kuliah. Namun sekarang, wuih sama mahalnya dengan swasta, bahkan lebih mahal. Nah, kembali ke informasi, berikut informasinya :

12 Mahasiswa Baru UPI Bandung Terancam Dikeluarkan
19 Oktober 2008 » Jurnal

Klab Santri Peduli : Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan aset penting untuk dijadikan senjata pengokoh bangsa ini. Namun, pada kenyataannya banyak elemen di negara ini yang mengabaikan hal tersebut dan tak mempedulikannya. Termasuk birokrat-birokrat pemerintah atau lembaga-lembaga yang diamanahi mengurus kependidikan, nampak seperti tidak pro terhadap majunya kependidikan di negara ini.

Banyak pemuda-pemudi potensial di negara ini yang mempunyai harapan tinggi dapat meneguk manisnya ilmu di bangku-bangku pendidikan, namun harus rela menggugurkan harapan-harapannya karena berbenturan dengan biaya yang melangit dan rumitnya kebijakan yang mengaturnya. Sehingga sangat sulit untuk mendapatkan keringanan biaya, bahkan untuk dapat biaya pendidikan gratis. Seolah ada anggapan bahwa pendidikan hanya untuk orang kaya saja.

Salah satu masalah yang terjadi sekarang adalah permasalahan 12 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mereka belum membayar biaya registrasi masuk Universitas. Satu alasan mereka, miskin, dan kondisi itu tidaklah mereka inginkan. Pada awalnya, mereka berjumlah sekitar 50 orang. Namun, sebagian besar telah putus harapan. Sekarang yang tersisa tinggal 12 orang.

Mahasiswa baru yang berjumlah 12 orang ini belum mempunyai status resmi sebagai mahasiswa karena masih berstatus penangguhan. Selain itu, tenggat waktu pembayaran yang diberikan oleh pihak kampus ialah sampai tanggal 30 Oktober 2008. Namun, permasalahan timbul saat mahasiswa tidak mampu melunasi itu karena kondisi ekonomi tidak memungkinkan.

***

1. Asep Rahmat. Mahasiswa baru asal Cianjur ini tidak mengikuti perkuliahan semenjak memasuki awal perkuliahan 2008/2009 karena belum memiliki Nomor Induk Mahasiswa (NIM) disebabkan belum melunasi biaya registrasi dan tidak menandatangani kesepakatan dengan rektorat untuk melunasi bayaran pada tanggal 30 oktober 2008. Di Bandung tidak memiliki rumah dan tinggal menumpang di rumah saudaranya. Orangtuanya kurang menyanggupi untuk memberikan uang saku. Asep sehari-harinya mencari penghidupan dengan “bantu-bantu” saudaranya di tempat ia menumpang dan di DKM masjid sekitar. Terkadang mencari kerja sampingan pula. Penghasilan orangtuanya Rp. 20.000,-/hari. Salah satu prestasi Asep ialah ikut serta sebagai peserta kegiatan Olimpiade Fisika Indonesia tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur pada tanggal 18 April 2006. Asep masuk UPI melalui jalur PMDK dan mengambil jurusan Teknik Elektro. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.350.000,-.

2. Abdul Kalim. Mahasiswa baru asal Indramayu. Untuk mencukupi kebutuhan pangan selama awal perkuliahan yang tepat pada bulan Ramadhan, Abdul hanya melakukannya pada saat sahur dan buka puasa gratis di sebuah masjid karena tidak memiliki cukup uang untuk makan. Selama masa perkuliahan, Asep menumpang di kost-an kakak kelas se-SMA-nya karena tidak memiliki cukup biaya untuk menyewa kost. Ayahnya sudah tidak membiayai hidup sehari-harinya lagi karena penghasilan yang pas-pasan, yaitu Rp. 200.000,-/bulan sebagai buruh tani. Salah satu prestasinya ialah sebagai juara III anggota tim bina vokal SMAN 1 Anjatan dalam lomba karya cipta lagu dan menyanyikan lagu hymne dan mars Indramayu remaja pada bulan Juli 2008. Abdul masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Musik. Biaya yang dibutuhkan Rp. 6.038.000,-.

3. Citra Maulida Fitriyani. Mahasiswi baru asal Bandung. Prestasinya yaitu lulus ujian dengan mendapatkan nilai tinggi dengan hasil 24, 27 dari 3 mata pelajaran. Citra masuk UPI melalui jalur UM dan mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.408.000,-.

4. Mira Komalasari. Mahasiswi baru berasal dari Bandung. Ayahnya bekerja sebagai sopir di rumah makan Wibisana Bandung. Penghasilan orangtuanya Rp. 600.000,-/bulan. Mira masuk UPI melalui jalur PMDK dan mengambil jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.888.000,-.

5. Kaehan Fatimah Azhariyah. Mahasiswi baru yang beralamat di Cihampelas Bandung. Orangtuanya bekerja sebagai pedagang kecil dengan penghasilan Rp. 1.000.000,-/bulan. Kaehan adalah anak kedua dari sembilan bersaudara. Kaehan mendapat uang saku perhari dari orangtua sebesar Rp. 5000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Cihampeas – UPI. Kaehan masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Manajemen Bisnis. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

6. Siti Syabibah Nurul Amalina. Mahasiswi baru yang beralamat di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bubur dengan penghasilan Rp. 1.000.000,-/bulan. Siti adalah anak pertama dari empat bersaudara. Uang saku perhari dari orangtuanya sebesar Rp. 10.000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Lembang – UPI. Siti masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Bimbingan dan Konseling. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

7. Anita Komala Dewi. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Rancaekek Bandung. Ayahnya sebagai pegawai swasta namun sudah putus kerja. Ibunya sebagai guru SD. Anita masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.780.000,-.

8. Faizal Nurkarim. Mahasiswa baru yang berasal dari Garut. Sejak memasuki masa perkuliahan, Faizal menumpang tinggal di rumah saudaranya di daerah Ciwastra Bandung karena tidak sanggup untuk menyewa kost-an. Orangtua Faizal bekerja sebagai pegawai yayasan. Faizal adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Penghasilan orangtua Faizal yaitu Rp. 1.000.000,-/bulan. Faizal masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Teknik Mesin. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.888.000,-.

9. Astri Mustikawati. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Garut. Ayahnya seorang wiraswasta dengan penghasilan Rp. 800.000,-/bulan. Untuk memenuhi segala macam kebutuhannya saat ini, Astri harus mengoptimalkan uang saku yang berjumlah Rp. 50.000,-/bulan. Astri masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Jasmani dan Keolahragaan. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.778.000,-.

10. Rini Wulandari. Mahasiswi baru yang berasal daerah Kiaracondong Bandung. Ayahnya bekerja sebagai pedagang bakso keliling dengan penghasilan Rp. 600.000,-/bulan. Rini adalah anak pertama dari empat bersaudara. Perharinya Rini mendapat uang saku Rp. 8.000,- dan hanya cukup untuk ongkos pergi pulang Cicaheum – Ledeng. Rini masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi Koperasi. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

11. Lalitya Dwi Rahmani. Mahasiswi baru yang berasal dari daerah Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Ayahnya bekerja sebagai wiraswasta (kadang-kadang narik ojek) dengan penghasilan Rp. 30.000,-/hari. Lalitya masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Rupa. Biaya yang dibutuhkan Rp. 6.038.000,-.

12. Andi Sopandi. Pria asal Ciamis ini sudah tidak disubsidi lagi oleh orangtuanya sejak SMA. Hidupnya terkatung-katung, ia tidak memiliki rumah, baik di Ciamis maupun di Bandung. Sosok pekerja keras ini, mengumpulkan uang dari aktivitasnya sehari-hari mengajar les Matematika. Andi Sopandi hanyalah anak buruh tani biasa, dan ia tidak sanggup melunasi biaya kuliahnya. Andi masuk UPI melalui jalur SNMPTN dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Sunda. Biaya yang dibutuhkan Rp. 5.538.000,-.

***

12 mahasiswa baru di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tidak sanggup membayar biaya registrasi, membuat surat perjanjian di atas materai Rp. 6000,- dengan pihak kampus untuk penangguhan biaya. Isi surat itu adalah, “… Apabila pada tanggal yang telah disepakati (30 Oktober 2008) tidak dapat melunasi biaya pendidikan tersebut, kami siap menanggung resiko sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia.” Hal ini sudah tidak bisa diganggu gugat, dan sudah harga mati bagi mahasiswa baru.

Melihat realitas, kondisi ekonomi mahasiswa baru dan orangtuanya, tidak memungkinkan untuk memenuhi pelunasan dalam tenggat waktu yang diberikan kampus. Lalu, apakah harapan-harapan mereka akan pupus? Lantas apa kita akan berdiam diri saja melihat itu? Masih adakah elemen-elemen di bangsa ini yang peduli pendidikan?

***

Transfer Donasi

* Bank Syariah Mandiri – No. Rek. 0070176318 – A.N. Klab Santri Peduli
* Bank Central Asia (BCA) – No. Rek. 4381168624 – A.N. Dudung Kurnia Sundana
* Bank Mandiri – No. Rek. 132-00-0473817-6 – A.N. Dudung Kurnia Sundana
* Bank Muamalat Indonesia – No. Rek. : 103.02635.20 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* Bank Permata Syariah – No. Rek. : 377.000.637.5 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* BNI Syariah – No. Rek. : 0092531159 – A.N. : Dudung Kurnia Sundana
* E-Gold – http://3872071.e-gold.com/ – KotaSantri.com)
* Money Gram / Western Union – Bagi yang tinggal di luar Indonesia dan ingin turut berpartisipasi, silahkan transfer melalui Money Gram / Western Union. Untuk info lengkap, silahkan hubungi KotaSantri.com.

Bagi donatur yang telah mentransfer donasinya, agar konfirmasi melalui e-mail : ksp [at] kotasantri [dot] org atau SMS ke 0817434686. Tuliskan subjek e-mail atau awal kalimat SMS dengan kode KSP -spasi- Prestatif -spasi- Nama -spasi- Alamat/Kota -spasi- Jumlah Donasi -spasi- Nama Bank Tujuan.

Jika tidak ingin konfirmasi, maka untuk mempermudah proses pengecekan dana yang ditransfer, dimohon agar melebihkan Rp. 10,- (mencantumkan angka 10 di belakang jumlah nominal) dari jumlah dana yang ditransfer.

***

Oke, setelah membaca, apa yang Anda lakukan? Miris dan mau nyumbang? Miris, geleng-geleng kepala dan tidak menyumbang? atau yang ketiga, mencoba menganalisis dari sudut pandang lain, kecuali sudut pandang getir yg dialami 12 orang ini.

Saya memilih yang ketiga. Pertanyaan saya pertama, loh, memangnya dengan membayar 5 jutaan itu, masalah beres? tidak. Anda butuh duit untuk semester2 berikutnya. Anda butuh duit transport, kos, fotokopi. Anda kuliah S1 lima tahun dan bisa lebih. Ngga cukup 5 juta itu. Lalu, dibalas, oke kerja. Ya kerja banting tulang, akhirnya kuliah terbengkalai. Ya minimal tidak bisa top at the class lah. belum kalau akhirnya nyasar jadi “aktivis” ya susah.

Lalu, mengapa harus ngotot di PTN ? Kalau dibaca, 12 orang ini hanya dua orang kira2 mengambil jurusan yg aplikatif. Sisanya idealis, mengambil jurusan2 yang kurang diserap pasar, dengan mengorbankan realita. Kekurangan uang tersebut juga sudah hitam diatas putih akan dikeluarkan. Itu juga disetujui sama si mahasiswa. Ya, dengan harapan akan ada bantuan. Moksoin diri buat masuk UPI, dengan berharap bantuan dana nantinya.

FYI, teman2 saya beberapa drop out dari UI dan IPB. NO problemo. Bisa kul sambil kerja, bisa bantu ortu. Bukan malah pusing buat bayar kuliah. Lalu, apakah mereka tidak intelek? No no.. intelektualitas bisa dilihat dari hasil kerja, cara kerja, cara berkomunikasi, berbicara, menganalisis masalah dan menghasilak sesuatu dengan indah dan inovatif. Banyak cara, selain dengan menunjukkan Ijazah PTN Favorit. Ada-ada aja.

Ekstremnya, saya nggak akan mau nyumbang dana. mengapa? Sebab dengan menyumbang maka seperti memberikan papan untuk melintasi saluran air, sedangkan didepan saluran air ada sungai yang dalam. Artinya, ini lubang kecil, nanti jurang yang dihadapi. Butuh dana besar. Sangat baik apabila “dana untuk pendidikan” disumbangkan ke Pendidikan Dasar dan Menengah. Ya minimal untuk siswa SMK yang kurang mampu. Sebab SMK mendidik untuk memiliki kompetensi. Adakah kompetensi dicapai hanya dengan meraih gelar sarjana? Hari ini, di negara yang miskin ini, kita harus introspeksi, sadar bahwa beginilah perjuangan.

Kalau judulnya, 12 Siswa terancam Drop Out karena belum bayar Uang Sekolah/SPP, prioritas dibantunya tentu lebih tinggi. Sekolah hingga tamat itu WAJIB tapi kuliah apalagi buat ngejar S1, itu OPTIONAL.

Btw, kalau memang mau kul, ada temen merekomendasikan kuliah murah di websitenya. Ini nih. Silakan dicek-cek deh, baru putuskan mau kuliah. Saya pikir, UPI juga udah ngasih tau kan biaya2 kuliah itu berapa? Masih mau ngotot SNMPTN, UM dan atau apa namanya untuk kuliah negeri? Apa karena ikut2an, hehe.. ini seperti saya dulu, ikut2an SPMB tapi ya diterima dan orangtua Alhamdulillah sih mampu, kemudian kejar beasiswa sana sini dan lulus deh..ini aja masih nyesel soalnya kenapa ga sambil kerja dulu atau kerja dulu karena liat itungan waktu (tahun) rugi waktu banget deh..

Silakan direnungkan, Wassalam.

Read Full Post | Make a Comment ( 1 so far )

Sekolah Kejuruan dan Kompetensi TI

Posted on June 6, 2007. Filed under: Jurnal Intelektual, The Hybrid-theory, The Techno-power | Tags: , , , , , , |

“Saya juga dulu sekolahnya di SMK”, ucap seorang manajer atau direktur sebuah instansi pemerintahan populer di bidang telekomunikasi, mengakhiri sebuah iklan dari pemerintah mengenai program pendidikan dengan ketrampilan yang diselenggarakan sekolah kejuruan (SMK).

Pemerintah dan Sekolah Kejuruan
Ingat iklan di televisi yang dikutip diatas? Memang pemerintah saat ini mendukung sekolah kejuruan atau vokasi (vocational school). Jika kamu sekolah di SMK, sekarang jangan lagi minder. Sebaliknya, kalau pun bukan berasal dari SMK, alias SMA atau malah Madrasah dan Pesantren, yok sama-sama berkaca pada diri sendiri apakah punya bekal berupa ketrampilan (lifeskill) yang cukup untuk masa depan, dengan jerih payah sendiri, tidak merepotkan orang tua? Tapi Ironis memang, kebanyakan sekolah kejuruan justru kekurangan sarana dan prasarana untuk mendukung visi dan misi sekolahnya. Kadang kendala ini sedikit-banyak mempengaruhi kualitas alumninya. Belum lagi masalah biaya. Sudah menjadi prinsip ekonomi dimana fasilitas yang bagus memerlukan biaya yang tidak sedikit. Nah, jika dibebankan semua ke siswa, berapa besar bayaran yang harus disetor ke sekolah? Begitulah, akhirnya mau tidak mau, sekolah kejuruan berkompromi dengan tingkat kualitas. Terutama sekolah swasta yang notabene sangat bergantung kepada yayasan pendirinya.
Disisi lain, pemerintah juga terkesan kurang serius mengelola sistem dan kurikulum pendidikan nasional, setengah hati dalam memberikan yang terbaik. Negeri maupun swasta, dua-duanya merasa kurang perhatian. Kebijakan berubah-ubah seiring pergantian pemerintahan.

Proyeksi 2020 : Kompetensi Bidang TI
Namun stop mengeluh! Keluhan selalu kita alamatkan ke Pemerintah mengenai kurangnya perhatian dalam membangun pendidikan yang berkurikulum teknologi jangan sampai membuat putus asa. Sekarang kondisinya (mulai) membaik. SMK dewasa ini sudah ada jurusan teknologi komputer dan jaringan, mulai dirajut slogan bahwa pendidikan vokasi (pendidikan keahlian) yang didapatkan di bangku sekolah merupakan bekal berharga dalam merajut masa depan yang cerah. SMK didorong pertumbuhannya, sementara SMA dikurangi, bahkan di beberapa daerah di stop demi merangsang pertumbuhan Sekolah kejuruan yang lebih masif lagi.
Diproyeksikan Sekolah kejuruan menjadi inkubator bagi SDM-SDM terampil untuk siap pakai. Berbeda halnya dengan SMA yang lulusannya disiapkan untuk mengikuti jenjang perguruan tinggi. Ini ada beritanya loh. Menurut Dirjen Dikmenjur Depdiknas (Panjang banget kan hehe.. ) Pak Gatot Hari Priowirjanto (panjang juga namanya..) pemerintah sudah menganggarkan dana perangsang minimal Rp 100 juta untuk tiap kelompok sekolah kejuruan (5-7 sekolah) yang layak menerima bantuan untuk membuka program keahlian baru, utamanya bidang teknologi informasi. Oh, ternyata yang diperlukan adalah bidang TI!

Program Keahlian berdaya serap tinggi
Upaya tersebut sesuai dengan program reposisi pendidikan kejuruan hingga 2020, dimana jumlah program yang “jenuh” di kejuruan akan berangsur dikurangi. Misalnya program keahlian sekretaris, dari 2192 SMK pada tahun 2000 diproyeksikan menjadi 923 SMK pada tahun 2020. Sebaliknya, jumlah program keahlian yang dinilai prospektif dan berdaya serap pasar tinggi, seperti pertanian, pariwisata dan kelautan, serta teknologi informasi akan ditingkatkan. Hmm.. jadi kamu tinggal memilih sesuai keinginan, dan lulusnya kamu punya skill diatas rata-rata sebaya kamu. Tentunya di bidang yang digeluti ketika sekolah di SMK. Sekilas jelas kan? diantara beberapa program di atas, mana yang langsung bisa kamu pakai untuk bersaing di lapangan kerja.
Namun jika tidak ingin hanya bekerja sebagai tenaga magang maupun teknis dan klerikal tingkat bawah, alumi SMK harus bisa meng-upgrade diri sendiri. Sebab, untuk menapak karier dengan sukses memerlukan lebih dari skill yang sudah ada. Kompetensi harus ditingkatkan, gelar dan karier mau tidak mau menjadi dua mata rantai yang bertautan.

Peluang kerja TI

Lalu, keahlian apa yang memiliki prospek cerah? Dari beberapa paragraf sebelumnya jelas, Salah satunya dan yang paling utama adalah dibidang Teknologi Informasi (dan Komunikasi). Selain membutuhkan pure kompetensi, artinya tidak sembarangan orang bisa berkarier dan berkarya di bidang tersebut –beda dengan marketing misalnya- memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus, bidang TI memiliki perkembangan paling pesat saat ini. Betapa tidak, teknologi nirkabel (wireless), teknologi telekomunikasi (3G, 3.5G, Wimax dst) makin lama makin canggih. Lalu dibidang hardware, siapa yang bisa menjamin dalam dua atau tiga bulan ke depan Intel tidak mengeluarkan prosessor terbaru? Atau peluang besar di balik gencarnya penegakan HaKI dimana sofware-software bajakan mulai berkurang sehingga perusahaan banyak beralih sistem operasi komputer (migrasi) dan memerlukan SDM terampil untuk melaksanakannya. Perusahaan, dengan demikian juga membutuhkan solusi TI misalnya dengan software buatan anak negeri yang murah namun berkualitas.
Perlu data? Aizirman Djusan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan SDM Departemen Komunikasi dan Informatika merilis informasi yang menakjubkan mengenai kebutuhan dan ketersediaan SDM di bidang TI di Indonesia seperti di tabel berikut :

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008
Kebutuhan 24,6 juta orang 26,4 juta orang 28,2 juta orang 30,3 juta orang 32,6 juta orang
Ketersediaan 8,2 juta orang 10,7 juta orang 13,4 juta orang 16,4 juta orang 19,8 juta orang
Jml Penduduk 225,0 juta jiwa 236,2 juta jiwa 248,1 juta jiwa 260,5 juta jiwa 273,5 juta jiwa
(Sumber: Aizirman Djusan dalam Tata Sutabri, Peluang Kerja TI, www.kabarindonesia.com)
Lebih dari itu, selain mengalami kekurangan, ternyata sebagian SDM yang sudah mengisi pos-pos yang tersedia adalah berasal dari background pendidikan non-TI ! Wuih! Peluang besar bagi yang ingin menapak karier di bidang TI. Gaji yang menggiurkan di depan mata, sebab bidang TI menjanjikan range salary yang diatas rata-rata jenis pekerjaan lain. Selain itu, di bidang TI kamu bisa bekerja sekaligus berkarya. Bisa mendirikan perusahaan sendiri, bisa berbisnis dan bekerja di rumah, dan bisa memanfaatkan skill dan kompetensi untuk menghasilkan karya nyata.

Menambah kompetensi agar pede
Lalu, peluang seperti apa yang bisa dimanfaatkan? Padahal, biaya berkuliah dan mendapatkan ilmu di bidang teknologi informasi pasti tersangkut masalah klasik: biaya. Sudah pasti ilmu eksakta dan komputer membutuhkan praktik yang banyak sehingga menaikkan biaya penyelenggaraan pendidikan. Bagi kelas masyarakat menengah ke bawah, sulit untuk mendapatkan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi yang “merakyat”. Kalaupun ada, kualitasnya dipertanyakan. Padahal pendidikan penting sekali untuk mencapai karier dan masa depan yang cerah.
Berbahagialah jika kamu termasuk yang sejak SMK mendapatkan ketrampilan. Jika tidak, perlu sekali untuk mendapatkan ketrampilan tersebut. Atau, jika sudah masuk jurusan Teknik, Komputer, dan Akuntansi di SMK, namun masih belum Pede, perlu dong menambah kepedean dan sekaligus menautkan embel-embel kompetensi di diri agar kamu nantinya bisa leluasa memilih. Bisa bekerja, berwirausaha maupun ke jenjang perguruan tinggi selanjutnya dengan usaha, kemauan, dan bahkan biaya sendiri!

Mencari Ilmu TI secara optimal
Jika demikian masalahnya, perlu dipikirkan strategi mendapatkan ilmu di bidang IT. Carilah informasi lembaga pendidikan dengan range biaya tidak mahal-tapi juga tidak murah dan mengorbankan kualitas. Misalnya cari antara Rp.5 – Rp.10 juta pertahun (bukan persemester!). Kedua, selain biaya terjangkau, dapat diselesaikan dengan cepat, tidak menyita waktu. Apa perlu hingga lima tahun atau hanya perlu satu tahun dan dua tahun dahulu, setelah bekerja baru melanjutkan? Atau jika kamu punya masalah keuangan, apa ada jaminan setelah lulus, uang kamu “tidak sia-sia” di investasikan? Perlu banyak dipikirkan mengenai masalah ini. Lalu, ketika masa pendidikan nanti, apa yang kamu peroleh. Kalau bisa, kamu yang sudah bekerja dan berkegiatan lain misal wirausaha dapat mengambil kelas di sesi waktu khusus (kelas karyawan). Jika tidak begini, bagaimana kita dapat mengambil manfaat ilmu teknologi informasi yang berharga?
Cari lembaga dengan kadar kualitas, kualifikasi dan kompetensi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan terpercaya. Yang memberikan kurikulum dan fasilitas terbaik. Lalu yang memiliki jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi terakreditasi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Kamu tentu tidak mau berpuas diri dengan mendapatkan pengetahuan yang jumlahnya “sedikit” sedangkan belajar itu adalah “seumur hidup” kan? Apalagi jika berguna untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Iya kan?

Kompetensi versus biaya

Kompetensi itu penting, namun gelar yang dicapai juga menentukan posisi kamu diperusahaan tempat bekerja. Selain itu, standard kompetensi perlu juga loh di ukur oleh sertifikasi baik nasional maupun internasional. Selanjutnya, targetnya adalah sertifikasi alias “pengakuan” atas skill dan kompetensi kita. Jadi, tidak ada kata STOP untuk belajar. Kata pepatah, Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat. Atau kata Rasulullah, sampai ke negeri Cina. Setuju ya?
Namun yang kamu perlu ingat, belajar perlu biaya. Pendidikan formal -sayangnya- masih berpanglimakan uang. Cari yang sesuai untuk kamu, dengan manfaat semaksimal mungkin yang bisa dicapai. Kadar maksimal dapat kamu dapatkan pada kurikulum tdi sebuah perguruan tinggi. Silakan cari, lihat, pelajari dan bandingkan.

Lifeskill dan Kesuksesan
Perkuliahan dengan teori saja tidak akan sama hasilnya dengan mempraktikannya. Beri perhatian penuh terhadap kurilum sebuah insitusi pendidikan. Kurikulum yang baik merupakan jalinan mata rantai dalam menciptakan kompetensi pribadi Anda. Cari lembaga atau perguruan tinggi yang menawarkan kurikulum terbaik dalam sistem pendidikannya. Ini akan menentukan kamu lulus dengan bekal (lifeskill) yang bisa membuat kamu bersaing dan memenangkan persaingan di dunia kerja dan usaha.
Selain pengajar berkualitas, fasilitas memadai, lingkungan yang kondusif, beberapa sudut pandang lain perlu dipertimbangkan. Misalnya lifeskill yang diberikan oleh perguruan tinggi semisal kewirausahaan, pengembangan diri dan kepribadian, ekstrakurikuler, kurikulum agama yang menjaga ruhiyah kamu, teman-teman yang menyenangkan, dan seterusnya. Aspek psikologis perlu pula mendapatkan perhatian, jangan sampai kamu tidak kerasan dalam belajar, walaupun se-sempurna mungkin kurikulum dan fasilitas yang kamu dapatkan.
Tips terakhir, jangan segan bertanya kepada rekan-rekan yang “sukses” dengan biaya yang minimum sehingga tidak memberatkan siapa saja. Success is our right, jadi dimana ada kemauan di situ ada jalan. Selamat mencari pengetahuan, Semoga kamu menjadi bagian dari dunia TI yang selalu berkembang pesat, yang selalu membutuhkan jiwa-jiwa muda dan potensial sebagai roda penggeraknya sekaligus mendulang kesuksesan pribadi. Kesuksesan materi dan imateri, duniawi dan moral-spiritual!

Read Full Post | Make a Comment ( 5 so far )

    About

    Just Another “Cerdik Cendikia” Center wannabe like The Habibie Center, Mega Center, Amien Rais Center, Nurcholis Madjid Institute, Akbar Tanjung Institute, Wahid Institute, Syafii Maarif Institute dan seterusnya..

    RSS

    Subscribe Via RSS

    • Subscribe with Bloglines
    • Add your feed to Newsburst from CNET News.com
    • Subscribe in Google Reader
    • Add to My Yahoo!
    • Subscribe in NewsGator Online
    • The latest comments to all posts in RSS

    Meta

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...